Titik atau… koma,
Hiatus dulu, entah kenapa males banget untuk apdet (nulis –red) di blog ini. Bukan berarti gue berhenti nulis alias nyampah, sekarang hobi nulis-nulis gue tuangin di note fesbuk gue. Hmmm… mungkin yang sekalian log-in kali gitu ya. (dasar pemalas) Pokoknya saat ini blog ini gue STOP dulu, mungkin suatu saat bakal balik lagi. Semoga lah…
Cheese…
Senin Sore, Dab!
Senin sore dab! Fuuuh, finally…
Yop. Gue bisa apdet blog lagi setelah sekian lama hiatus. Hiyyah, lambemu…sok artis kowe dab!!!
Dan seperti biasanya sore-sore jam segini hanya bengong memanfaatkan fasilitas bandwith kantor (parasit!!!) dan (kali ini) ditemani beberapa koleksi Secondhand Serenade.
But what would I say? Banyak sebenarnya. Sampe-sampe bingung harus mulai darimana. Halah… Yang jelas salah satu tujuan gue apdet ini parkiran lagi adalah gue pengen mencoba mulai menuangkan uneg-uneg gue lagi di parkiran ini lagi. Setelah beberapa bulan terakhir pikiran ini sempit dan hanya memandang banyak hal sebatas arah kacamata kuda. Sigh!!! Mari kita mulai nongkrong lagi!!! (semoga saja bisa begitu, amin dah)
A Little Simple Whisper
Di temani secangkir kopi di atas di sebuah balkon, weekend itu dia duduk-duduk bermalasan menikmati pagi hari. Tapi semua tampak tak biasa. Pertama bukan karakternya pagi-pagi dia nikmati dengan bermalasan dengan tatapan nanar. Kedua, senyum mukanya berat ketika beberapa orang yang sedang jalan-jalan menyapanya dari bawah, tidak seramah ketika menghadapi seorang klien. Yang tampak biasa hanyalah beberapa kertas putih berserakan di meja dihadapannya, yang bercetakkan beberapa list company profile nasabahnya. Plus sebuah blackberry yang beberapa kali berbunyi, tapi tak sekalipun dia perhatikan. Yang dilakukannya saat itu hanyalah sekedar mencoba menikmati pagi itu, menghirup udara pagi sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari kompleks perumahan itu. Tapi sekali lagi dengan tatapan nanar.
Beberapa tahun yang lalu, sudah melebihi angka sepuluh tepatnya, sebuah idealisme dan mimpi masa depan tertanam mengakar dalam pikirannya.
Tidak, sudah nyampai dasar hatinya mungkin. Ya, mimpi seorang gadis-gadis kecil desa yang terbiasa mendengar cerita-cerita tentang orang urban yang berhasil mewujudkan mimpi di kota besar, cerita-cerita roman fiksional dari novel, sinetron ataupun film metropop yang didapatinya bersama teman-teman seumuran lainnya.
Dan saat itu, sebagai seorang yang baru saja lulus kuliah dan mendapat sebuah pekerjaan yang diimpikannya, di ranah ibukota apalagi, mimpi itu tidak hanya sebatas mimpi utopis masa kecil saja. Mimpi itu akhirnya perlahan tumbuh berkembang menjadi tujuan dan idealisme masa depan yang sudah ter-planing dan ter-sketsa dengan jelas.
Namun kini hatinya berbisik lain. Bertanya. Bertanya kepada dirinya sendiri, bahwa apakah semua yang telah, sedang dan akan dilakukakannya saat itu benar-benar sebuah idealisme hidup yang bisa membuatnya merasa bahagia? Hufff, bahagia. Apalah definisi kata itu? Sudahkah aku bahagia dengan keadaan saat ini? Bisiknya lagi.
Semua yang dialaminya terasa membosankan. Hedonis. Serba extravaganza. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Terjebak. Capek.
Lalu sesaat sebuah pemikiran tentang pencapaian hidup terlintas dibenaknya. Bahwa manusia tidak akan punya batas kepuasan. Jika terus saja dikejar justru akan menjerumuskan. Kata-kata itu muncul di kepalanya tidak hanya sekedar petuah bijak yang selalu didengarnya dari orang-orang tua, pendeta, ataupun seorang motivator andal, tapi benar-benar keluar dari dirinya sendiri. Atau paling tidak, dia sudah bisa meng-amin-i bahwa kata-kata tersebut benar adanya. Ya, kata-kata itu juga pernah diucapkan oleh sahabat lamanya.
Yap, dia teringat dengan sebuah obrolan bersama sahabat lamanya itu ketika bertemu beberapa tahun yang lalu. Obrolan yang cukup lama di sebuah restoran kecil di kota kecil pula, tempat mereka berdua berasal. Saat itu dia awalnya bertanya kepada sahabatnya kenapa dia melepaskan sebuah tawaran besar untuk bekerja di sebuah perusahaan multinasional di ibukota -sebuah hal yang telah diimpikan mereka berdua, untuk kemudian lebih memilih tinggal di daerah dengan akhirnya menjadi seorang abdi negara dan menjadi anggota sebuah LSM.
Dia mencoba memikirkan kembali jawaban sahabatnya itu. Menjadi orang biasa tapi bisa dekat dan lebih berarti bagi orang-orang yang menyayanginya adalah satu-satunya alasan sahabatnya menolak tawaran itu. Tapi bagi dia saat itu, alasan itu sungguhlah tidak masuk akal. Sebuah pemikiran yang sempit, katanya saat itu.
Tapi kini…
Dia mencoba membangkitkan lagi ingatan setiap obrolan bersama sahabatnya itu. Kata demi kata. Ya, orang yang benar-benar dia sayangi dan menyayangi dia yang jarang ditemukannya kini. Untuk apa semua pencapaian idealisme ini jika orang-orang seperti itu jarang, bahkan hampir tidak ada disekelilingnya. Setiap hubungan yang dijalaninya dengan orang-orang disekitarnya hanyalah sebatas profesionalisme. Jika pun diluar itu, hanyalah sebuah basa-basi yang terkamuflasekan.
Selagi dia mengingat sahabat dan peristiwa yang terjadi sore itu, sebuah bayangan yang tidak biasa muncul di pikirannya kemudian. Ada keinginan suatu saat kembali saja ke daerahnya. Bekerja di sebuah lembaga nirlaba, atau semacam LSM. Dimana goal akhir bukanlah seputar uang dan profit. Ketika kesuksesan tidak lagi melulu diukur dengan jumlah pendapatan yang masuk ke rekening. Sepertinya itu bakal menyenangkan.
Ya, sepertinya bakal menyenangkan jika yang tersisa dalam diri adalah keinginan untuk berbagi, dengan orang-orang tersayang.
Sepertinya menyenangkan jika setiap hari kita menjadi berarti bagi orang lain yang membutuhkan kita, bisa menjadi lebih sosialis.
Sepertinya bakal menyenangkan jika merek sebuah handphone bukan hal yang perlu diributkan.
Sepertinya bakal menyenangkan jika nama yang tertera di baju tidak lagi melulu gucci, versace, jimmy choo ataupun dari seorang desain terkenal lain.
Sepertinya bakal menyenangkan jika sandal dan sepatu tidak lagi berjudul hugo boss, nike dkk tapi sudah berganti menjadi daimatu atau swallow.
Sepertinya bakal lebih menyenagkan jika Jaguar, Mercy ataupun BMW bisa menjadi sebuah mobil angkutan umum yang bisa mengangkut anak-anak desa berangkat sekolah.
Sepertinya menyenangkan jika anak-anak jalanan itu bakalan menjadi orang-orang pandai berkat pengetahuan yang kita kenalkan.
Sepertinya lebih menyenangkan menjadi lebih peka terhadap sesama dan membentuk rasa sukur atas segala nikmat Tuhan.
Sepertinya akan lebih membahagiakan dan menenteramkan hati dengan kesenangan-kesenangan kecil nan sederhana itu.
Aha…
Hufffff…
Tapi itu hanya sebatas bayangan dipikirannya saja. Benarkah seperti itu?
???
Tapi paling tidak hal itu bisa membuatnya tersenyum tipis, manis, disela-sela raut mukanya yang nanar di pagi itu. Dan hal itu juga, setidaknya bisa mempresentasikan secercah asa tujuan baru ketika sebuah idealismenya sudah berada pada ujung titik, dimana seorang manusia bisa menjadi picik dan hilang akal sehatnya.
…
Akhirnya tertujulah kedua matanya di jalanan di bawah, pada seorang manusia mungil lucu dan tergelak tawa di dalam sebuah kereta kecil yang didorong seorang wanita yang biasa dipanggil Ibu.
Oh, Tuhan… Sekali lagi dia berbisik pada dirinya sendiri
Dik
Dik,
Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?
Di sawah, dik
Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang
menghubungkan ke-dua desa kita
Masih ingatkah kamu, dik?
Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu
Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu
dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri
Ingatkah, dik?
Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore
Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku
setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme
Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus
Kamu pun lewat dihadapanku, dik
Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu
Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan
Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang
beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin
Menutupi rona wajahmu yang bersemi
Ooh…
Dan aku pun terpesona, dik
Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna
membuatmu tampak lebih anggun
Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang
Lalu, kedua mata kita saling bertemu
Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam
Untung saja aku masih bisa berdiri tegap
Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan
Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis
Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik
Oh, Gusti…
Nyatakah ini?
Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya
Dan benar saja, dik
Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok
Mbok pun hanya bilang:
“Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”
Ah, si mbok…
Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok
Ingin membantahnya pun tak daya
beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?
Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?
Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?
Sejak saat itu aku selalu teringat mu
Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu
Asal-usulmu, bahkan namamu
Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi
Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore
Tak pernah lagi…
Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme
Tak pernah lagi…
Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti
untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu
Dan doaku pun akhirnya terjawab
Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku
Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik
Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan
Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya
Namun kondisi tak lagi sama, dik
Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati
Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup
Kulitmu yang segar kini layu
Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya
Senyummu pun berat
Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku
Sudah, dik
Sudah..
Jangan kau teruskan lagi ceritamu
Tak kuasa hati ini merasa
Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati
Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik
Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah
Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu
telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya
Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat
tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya
Benar lelaki bajingan dia, dik
Ah, menyesal aku, dik
Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme
Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya
jika aku harus mendapati dirimu seperti ini
Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini
Malah semakin biadab saja
Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?
Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo
Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…
Dan sekarang,
setelah kita menghabiskan waktu ini bersama
Dengan jiwa yang kelu
kugenggam tanganmu dingin di pembaringan
Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku
Tipis…
Tapi tulus…
persis saat pertama kali kita berjumpa dulu
Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu
Setelah Cukup Lama (Ora Misuh!)
Rasanya bener-bener pengen misuh-misuh! Sudah seminggu terakhir cuaca Jogja benar-benar panas, terik! Tapi bukan itu yang bikin gue misuh-misuh, hanya saja itu membantu untuk melancarkan kata-kata tersebut keluar dari cangkem ini. Siang itu adalah gue naek motor dalam kondisi keburu dari arah eks-Studio Musik Alamanda* bermaksud menyeberang Jl Affandi (dulunya Gejayan), tapi dasar nasib, biasanya yang jam-jam segitu belum terlalu ramai kenapa sudah crowded banget sehingga amat sangat susah untuk menyeberangnya. Tak ada traffic lite, tak ada pula petugas polisi ataupun seorang ‘petugas penyeberangan’ seperti yang biasa ada di depan Quality Hotel dan di pertigaan Jalan Solo arah dari dan ke Seturan, yang membantu menyeberangkan orang-orang yang ingin meyeberang (gue masih penasaran petugas itu benar-benar suka rela membantu apa ada yang membayar ya? Salut pokoknya). Oleh karena itu hanya bermodalkan keberanian sambil berharap akan kesadaran para pengendara agar memberi kesempatan untuk bisa berhasil menyeberang. Sebenarnya gue bisa saja cari amannya dengan ambil ke kiri trus ngikutin kesemrawutan dengan pelan-pelan ambil sisi kanan kemudian di depan Iga Bakar Gejayan baru putar balik. Tapi lacur di sisi kiri gue sudah dipepet oleh sebuah mobil box dan di belakang gue juga sudah banyak yang ngantri untuk menyeberang sehingga mau tak mau harus maju terus. Fuuhh benar kondisi yang tidak menyenangkan ditengah-tengah panas seperti itu. Setelah lama menunggu kesemrawutan agak mereda kami yang sudah hampir LIMA menitan ngantri memberanikan atau lebih tepatnya nekat menyeberang. Dan tiba-tiba cyiiiiiiiiitttt…. dari selatan ada sebuah motor yang ikut-ikutan beradu nekat. Tapi Tuhan masih memberinya kebaikan hati dan kesadaran untuk memberi jalan kami untuk menyeberang dengan segera menginjak pedal rem-nya. Udah tahu banyak orang yang menyeberang di depannya masih saja nekat…
Tidak lama setelah menyeberang lagi-lagi suasana jalanan membikin suhu otak mendidih. Di setiap tepian badan jalan Affandi sebagian besar sudah beralih fungsi jadi lahan parkir sehingga mempersempit jalan dan menambah kesemrawutan, kemacetan, ketidaknyamanan dkk. Maklum di sepanjag jalan Affandi dari ujung utara sampai ujung selatan banyak berdiri Rumah Makan, butik-butik, counter handphone, dan kampus yang mana pasti banyak motor dan mobil yang dengan sok anggun serta sok rapi berhenti berjajar di depannya a.k.a markir. Belum lagi bus-bus kota yang seenaknya saja berhenti dan tancap gas. Setelah dipepet secara halus oleh mobil box dan hampir tertabrak orang yang sama-sama nekat, giliran tepat didepan Studio One gue dipepet paksa oleh sebuah bus kota yang tiba-tiba ambil kiri rem mendadak untuk ambil penumpang. DANCUK, BRENGSEK MATANE ASU! Benar-benar kombinasi yang MENYENANGKAN antara semakin ‘mungilya’ kondisi jalan, semakin banyaknya kendaraan dan psikologi para pengendara yang menjunjung tinggi ‘kebebasan’ sak udele dewe** plus kondisi cuaca yang cepat bikin panas (baik fisik maupun emosi) .
Tidak sepenuhnya salah sopir bus yang seenaknya sendiri bejek rem mendadak cos mereka ingin segera mengangkut penumpang yang ada sebelum dibajak oleh bus lain, mereka harus kejar setoran dan mereka juga punya anak dan istri di rumah, tapi juga dikarenakan oleh para penumpang yang seenaknya sendiri milih tempat untuk mencegat bus, padahal juga sudah disediakan beberapa buah pemberhentian bus. Tapi mereka lebih memilih seperti di keramaian seperti depan toko-toko yang sudah penuh sesak oleh parkiran didepannya, di perpotongan gang dengan jalan utama (Affandi) yang mana juga pastinya sering banyak kendaraan menumpuk ngantri untuk menyeberang. Buwwaahh… Anehnya, diantara mereka-mereka kebanyakan orang-orang muda dan sebagian besar mahasiswa. Tidak bermaksud nge-judge menyalahkan siapa-siapa, karena gue tahu gue tidak di posisi mereka. Ini sebenarnya masalah klasik, terutama bagi kota-kota besar. Dan kalau ngebahasnya bisa mbulet kemana-mana sok nggambleh berpidato ria ala caleg berkampanye. Ah, malah malah bisa tambah bikin gue misuh lagi. Gue disini hanyalah salah korban dari ketidaknyamanan tersebut. Dan kadang juga salah satu yang punya andil dalam ketidaknyamanan tersebut (bagi orang lain). Kadang ^^
Itu adalah beberapa peristiwa yang (semakin) sering terjadi disepanjang Jalan Affandi sekarang-sekarang ini. Benar atau salahnya gue gak bisa menjamin karena gue ngomong tidak berdasar penelitian ilmiah yang disertai dengan perhitungan-perhitungan statistika. Tapi hanya berdasar pengalaman pribadi saja yang sudah lebih dari lima tahun wara-wiri di jalan tersebut, juga beberapa jalan lain di Jogja yang bernasib sama. Eh, bernasib sama juga???
*) Studio musik itu sekarang kemana ya??? Tutup? Relokasi????
**) Semaunya sendiri.
Postulat Ngawur dan Too Young To Get Married?
Hmmm, lagi-lagi tema yang gue angkat kali ini tidak jauh-jauh dari relationship lagi. Ya ya, tapi karena baru dua kali terjadi itu berarti hanya ketidak-se-nga-ja-an saja. Untuk suatu kejadian kalau baru pertama kali terjadi namanya kebetulan, dan kalau sudah ketiga kali atau lebih, it means ada batu di depan udang alias ada maksud tertentu dari kejadian itu –postulat ngawurrrrr!!! Tapi bener kok, misalkan saja begini: jika lo sewaktu jalan-jalan lalu terantuk batu itu adalah sebuah kecelakan dengan kata lain kebetulan yang tidak mengenakkan. Lalu dilanjut jalannya, kemudian terantuk batu lagi, hmmmpf ok, ketidak sengajaan yang bodoh. Tapi jika masih terantuk batu sekali lagi berarti ada maksud dari bosnya semua bos-bos untuk kejadian itu, yaitu ada yang tidak beres dengan mata lo! He…
Sudah sudah, jadi begini kondisinya kenapa bisa seperti itu, kenapa tiba-tiba saja tema in a relationship akhir-akhir ini muncul di postingan gue, sudah beberapa waktu terakhir ini, periode akhir tahun kemaren dan awal tahun ini, beberapa orang-orang sekeliling gue, temen-temen deket gue mengalami beberapa peningkatan dalam relationship mereka. Hummm, lebih spesifiknya dalam hal hubungan antara dua makhluk dengan beda jenis kelamin beserta atribut yang melekat daripadanya. Dari yang dari yang hanya teman tapi mesra kini sudah naek jadi ‘resmi mesra-mesraan’ alias officially in a relationship. Dari yang sudah relationship gak kalah ada yang naek jadi engage, bahkan ada yang langsung tancap gas getting merrit (selamat bro). Dan yang sudah merit gak kalah pulak, langsung bobol gawang dan akhirnya resmi menang berstatus sebagai orang tua a.k.a they already has a babbyyyy (selamat..selamat lagi bro and sist…)
Dan yang bikin gue angkat kepala sama mereka-mereka itu, especially buat yang sudah merit dan punya anak, mereka semua menjalaninya diusia dibawah 23 tahun. Ya, memang relatif sih kalau ngomongin masalah umur karena merupakan masalah waktu. Tapi bagi gue pribadi usia tersebut masih tergolong amat muda untuk mengambil sebuah keputusan yang amat penting dalam hidup, NIKAH MUDA. Ya, memutuskan untuk nikah muda. Dan gue salut dengan orang-orang yang berani memutuskan untuk nikah di u s i a m u d a (penekanan di kata-kata terakhir) dan bahkan jika kemudian menjadi parents. (untuk gue pribadi belum bisa membayangkan jika sudah ada ‘Ardian kecil’. Hmmpf…)
Banyak orang menunda atau tidak berani nikah di usia muda karena beberapa alasan. Terlepas faktor X, tapi dari faktor diri sendiri, ada yang belum merasa mapan karena belum nerusin sekolah dan bisa dapat karir yang tinggi lah, belum puas-puasin yang melajang lah, masih ingin bebas lah, masih terlalu kecil belum dewasa lah, atau yang paling klise belum siap dan belum yakin. Untuk alasan pertama mungkin benar walau pada kenyataannya tidak benar dan tidak masuk akal. Lha emang yang ngasih rejeki dan kemapanan itu sekolah S1, S2, S3, S4, S5 (S4 dan S5 apaan ya?) kita? Karir kita? Melihat pengalaman sobat-sobat gue diatas, jawabannya adalah sama sekali tidak. Nope! Alasan-alasan berikutnya semakin make no sense dan menggelikan. Tapi untuk beberapa orang justru alasan yang paling klise yang paling terakhir itu yang bisa masuk akal. Belum yakin. (Apalagi untuk usia muda). Bbuuaahhh… Terlalu banyak definisi dari alasan itu, belum yakin itu. Karena, masalah ini bukanlah seperti memilih produk dari sebuah iklan dimana dalam iklannya produk itu terlihat amat sangat menarik dan menggoda kita dengan iming-iming, gambar dan bahasa yang aduhay (apalagi pas keadaan kita juga mengharuskan memakai produk semacam itu) tapi setelah membeli dan memakainya tidak seperti apa yang diiklankan. Kemudian muncul produk substitusi yang sejenis dalam iklan lagi. Tertarik dan memakainya lagi. Tetapi ujung-ujungnya sama lagi. Dan kali ini lebih parah, karena juga menimbulkan efek samping. Yach, untuk memutuskan berani nikah (muda) bukanlah urusan semacam itu. Tidak bisa seperti itu, kalau tidak sesuai dengan harapan langsung diganti dengan yang lain. Tidak. Kita harus menerima apa adanya, bahkan telen bulet-bulet dan perbaiki jika ada efek samping-nya. Karena konteksnya disini adalah we just have ONE chance to order, only one, must be one.
Hmmm…sudah sudah. Gue sudahi saja nggambleh nyangkem ini. Ndak malah ber panjang kali lebar kali tinggi, sok tau dan ngawur yang semata-mata demi menutup-nutupi alasan gue tidak (bisa) nikah muda yang sebenarnya, yaitu adalah hanya urusan belum laku saja. Belum ada yang mau ngajak nikah dan diajak nikah, durung payu! Welkom tu de klab brader and sista ^_^
Bukan Siapa, Tapi Apa
Sebentar lagi pemilihan presiden akan berlangsung. Permasalahan utamanya bukan siapa yang jadi pemenang tapi apa yang akan dilakukannya. Program dan sistem yang bagaimana yang bisa membawa keadaan yang lebih baik dari sekarang. Bukannya tidak mau bersukur dengan kondisi sekarang, tapi bisa lihat dan ngerasain sendiri gimana kondisi negeri ini saat ini. Sehebat apapun seorang presiden (jika bisa memenangkan pemilihan itu) dia tidak bisa menjalankan pemerintahannya sendiri, dia musti butuh pembantu-pembantu dan bekerjasama dengan pihak lain untuk itu. Kalau di negeri tetangga biasa disebut eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga tinggi lainnya. Nha, bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengurusi tetek bengek itu biasa sering disebut poli-tikus (sebenarnya gue lebih seneng nyebutnya negarawan, tapi sayang di negeri ini saat ini rasanya hanya amat sedikit sekali layak disebut seperti itu, lebih pantas politikus2 –jangan salah baca:red). Bisa dilihat, jikalau seorang presiden mempunyai kemampuan sehebat apapun tapi tidak dengan para politikus lainnya, gue setengah tidak yakin negeri ini akan lebih baik lagi. Pol mentok ya segini-segini aja. Untuk itu kalo boleh ngarep dan mengkhayal, gue harap the next president bisa membuat program atau membentuk sebuah lembaga tinggi baru langsung dibawah naungan presiden, mulai dari plan-plan yang bakal dibuat hingga memilih orang-orang di dalamnya presiden sendiri yang nentuin.
Saking hebatnya Belanda dan Jepang jaman dulu, sehingga Soekarno, Syahrir, Hatta, Natsir, Salim and the gang dihidupkan Tuhan dalam waktu yang hampir bersamaan untuk meladeni penjajahan Londo and co dan tidak disisakan untuk kehidupan sekarang. Lembaga yang dibentuk presiden tadi itu bertugas untuk membangkitkan semangat-semangat mereka yang sudah di alam baka itu kepada anak-anak. Karena, anak adalah sumber menghimpun kekuatan masa depan yang sungguh ampuh (itulah mengapa Israel membom Palestine, salah satunya karena ingin memusnahkan anak-anak yang sudah hafidz Al-Quran, mereka kuatir terhadap kekuatan anak-anak itu di masa depan. Naudzubillah… Faktap for it). Pertama mereka menjalankan program cuci otak sehingga anak-anak tidak melulu minded dengan x-Box, PS etc, tidak melulu nggathok termakan tontonan cheeklit, cookies dsb dari Punjabi cs, dan tidak hanya bisa memenangkan olimpiade-olimpiade sains yang hanya sekedar teori tapi dengan eksperimental dan penemuan-penemuan yang down to earth yang jarang terlihat (rasanya dari dulu negeri ini selalu bangga dan bisa unjuk gigi tiap kali ada olimpiade sains, tapi sedikit sekali ketika harus dihadapkan dengan yang experimental dengan penemuan-penemuannya). Kemudian jejali dada mereka dengan kebanggaan akan negeri ini yang pernah mempunyai Teuku Umar, Diponegoro, Soekarno and co, jejali dengan pengetahuan akan negeri ini yang memiliki banyak kelebihan (kekayaan alam, budaya, falsafah dan kepribadian) sehingga mereka bisa merasa ‘sombong’ terhadap Malaysia yang suka memakan milik kita, pun demikian dengan Singapura serta negara-negara lainnya, pertahankan itu meski harus fight ’till death end. Jejali sampai sumpek dada mereka hingga mereka bisa melampiaskannya dengan penuh gairah. Hingga nantinya bisa orgasme dengan perasaan itu.
Tapi ini adalah plan jangka panjang, mereka baru bisa unjuk gigi belasan sampai duapuluhan tahun lagi. Tapi dengan spare waktu yang relatif lama itu diharapkan bisa ada Soekarno angkatan ke-2, Syahrir angkatan ke-2 sehingga bisa terlahir kembali sebagai negarawan sejati bukan hanya seorang poli-tikus sontoloyo yang saling berebut kepentingan untuk dirinya sendiri dan koloninya dengan jiwa nasionalisme yang sempit mereka, bukan nasionalisme yang nasionalis. Dengan demikian beliau-beliau yang sudah di alam baka itu tidak lagi meringis sedih, even menangis, melihat penerusnya yang suka bertingkah aneh dan lucu-lucu seperti sekarang ini. Dengan spare waktu selama itu pula diharapkan para poli-tikus2 itu lah yang menjadi korban seperti di Wanokwari, terkena longsor ketika sedang berlibur ke villa-villa mereka di puncak, tergulung ombak ketika sedang pelesir dipantai, kelelep banjir dadakan (bukannya rakyat biasa yang terkena) dan bahkan kalau perlu dipaksa mati seperti JFK. Meski terdengar SADIS dan TIDAK MUNGKIN, at least 20 tahun lagi negeri ini bisa diharapkan bersih dari hama tikus. Dan setelah ‘lulus program itu’, anak-anak itu besok bisa berperan dengan baik. ^_^
*) Oalah le cah bagus, ngomong opo to iki?? Nggambleh wae, tangi-tangi….
Sebuah Video Dalam Sebuah Laptop
Beberapa hari yang lalu maen ke rumah teman di sebuah perkampungan. Tidak disangka lagi ada kumpulan beberapa orang sedang melototi sebuah laptop. Bukan karena laptop-nya, melainkan karena sebuah video yang baru saja di play. Tapi bukan videonya Maria Ozawa, Asia Carrera and the gang (eniwei ternyata Asia Carrera termasuk salah satu orang jenius di dunia ini, heh gak salah tuh?heu…) Video yang sedang mereka saksikan adalah sebuah video ‘iklan’ itu berdurasi kira-kira satu jam-an. Dan sudah beredar banyak di sebuah (mungkin beberapa –red) kampung. Video itu mengiklankan seseorang yang ingin mendapat sebuah kursi dengan menaiki kendaraan merah berlogo binatang yang mirip kerbau. Video dimulai dengan logo kendaraan itu yang muncul dari center screen yang lama-kelamaan semakin terlihat gedhe. Kemudian potongan salah satu lagu nasional pun muncul. Bersamaan dengan itu foto-foto proklamator dan sejarawan hebat bangsa ini pun muncul dan diikuti oleh suara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan. Sampai adegan ini gue masih bisa menikmati dengan khidmatnya, malah sempat merinding juga. Maklum gue salah satu pengagum orang-orang hebat itu –hormat bungkuk buat mereka.
Setelah parade orang-orang hebat itu lewat maka inti dari iklan ini pun gue rasa baru dimulai, dan gue eneg ngeliatnya. Si pengiklan yang mengiklankan dirinya pun dengan pede jaya menghubung-hubungkan dirinya dengan salah satu orang hebat itu untuk merebut simpati dari konsumen. Ya, dia adalah salah satu cucu dari orang hebat itu. Dengan pede jaya menyebut dirinya punya darah proklamator (maksude opo?) dan foto-foto masa lalu ibu dan sang kakek kembali berseliweran di screen. Beberapa petikan lagu klasik dan slow rock pun sempat mengiringi adegan-adegan itu (gue yakin Lars Ulrich bakalan mencak-mencak kalau tahu karena Nothing Else Matter dilibatkan), tapi sayang gue rasa itu malah semakin mengesankan seperti iklan sampah! Tapi tidak bagi beberapa orang disamping saya yang ikut menyaksikannya. Mereka sangat terbawa oleh arus iklan di video itu, serasa menonton sebuah film roman picisan. Dan gue cuma nyengir sendiri melihatnya. Setelah ‘menghebatkan’ dirinya dengan para pendahulunya, adegan berikutnya baru fokus pada dia sendiri. Beberapa cuplikan saat dia berpidato di depan massa dengan lambaian tangan dan cara bicara yang mirip sang ibu pun sering nongol. Raut muka yang berapi-api, mengomentari ketidakadilan, kesengsaraan dan kesusahan rakyat dan menyalahkan pihak sana pihak sini dengan tidak memberikan solusi tapi malah memberikan janji-janji yang sudah basi! Potongan-potongan komentar yang muluk-muluk dari rakyat-rakyat kecil innocent pun tak ketinggalan. Lagi-lagi, semua hanya terkesan meng-agungkan nama besar pendahulunya. Faktap!
Gue masih saja heran, disaat konsumen sudah merasa antipati terhadap ‘bualan’ mereka, kenapa metode seperti itu masih saja digunakan untuk merebut simpati konsumen. Tapi yang lebih mengherankan lagi, kenapa masih saja banyak konsumen yang terjebak di lubang yang sama padahal mereka sudah cukup pandai untuk (maaf) dibodohi! Ini bukan mengiklankan sebuah mobil Honda, jam tangan Rolex ataupun prosesor Intel yang memang sudah terbukti akan merek, sejarah dan orang-orang hebat dibelakangnya. Ini mengiklankan sebuah kepercayaan yang memerlukan bukti dan tindakan yang nyata. Dan, sejarah serta orang-orang hebat pendahulunya seharusnya tidak hanya dijadikan bungkus yang warna-warni saja. Ah eneg rasanya ngeliat video itu, hanya mirip simulasi pelajaran sejarah SD. Sepertinya mending ngeliat Maria Ozawa and the gang (meski gue juga eneg ngeliat yang Jepang-Jepang) eh??? Qiqiq…
The Wishingchair
Kini aku sedang duduk
di sebuah kursi dalam fakta
Tempat terakhir kali kita duduk bersama
tempat kita berpagut, tangis dan tawa
tempat melukis mimpi masa depan
Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan
Ternyata hanya kosong, tak ada kamu
Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh
duduk dalam harap
Melengkapi warna lukisan masa depan -kita