Archive for July 2008
The Kooks sounds good…
Flamboyan. Kayaknya semua orang dah pada tahu nama itu. Kalee ini mo post sesuatu tentang nama itu. Yup. Flamboyan. Tapi kali ini yang ingin gw bahas bukan Flamboyan as a flower. Yup bukan tentang bunga yang banyak warna itu. Bukan tentang bunga yang hidupnya suka di tempat yang terbuka dan panas itu. Yup bukan tentang Delonix regia itu. Ini tentang sebuah rumah makan yang bernama seperti itu. Flamboyan. Rumah makan itu terletak di jalan Flamboyan daerah Karangasem (utara Selokan Mataram). Konsepnya sih warung prasmanan gitu. Terakhir kali kesini (sebelum tadi siang) kira-kira, uhmmmm sebulanan yang lalu. Bersama sodara.
Tadi siang dapat kesempatan kesana lagi. Kali ini bersama temen-temen gang kuliah dulu. Berlima. Jarang-jarang kami bisa ngumpul ketemu lagi.
Oke. Gini ceritanya. Hari ini tadi kan ada ujian masuk salah satu departemen di tanah air kita ini. Maklum as unemployment kesempatan seperti itu pasti dijabanin. Jam sepuluh selese. Lha kebetulan gw juga bertemu temen-temen kuliah dulu. Halah ternyata masih sama nasib kita ya, bro. Rapopo, keep fight!!! Setelah itu berkumpulah di kost-an gw. Ket biyen ratau ganti bascamp to dab? Kost-an gw ngangeni po? Hoek cuih… Emang sih dari dulu anak-anak kalo ngumpul-ngumpul pasti selalu di kost-an gw. Cuma sekedar iseng-iseng nongkrong ga ada kerjaan or kalo pengen kemana pasti kost-an gw juga yang selalu dfijadiin tempat mangkal pertama. Padahal ga ada bagus-bagusnya kost-an itu. Strategis kalee yak?
Sebenernya sih pengen pergi kemana gitu mumpung ngumpul bareng. Karena beberapa hal –males yang utama, and paling utama lagi males biaya- batal. Akhirnya cuma sekedar cerita-cerita di kost-an setelah sekian lama tidak bertemu. Setelah ber chit chat ria (halah) laper juga. Dan kami pun mule mbahas lunch. Maklum sudah kebiasaan dari dulu kalo mo nentuin tempat lunch pada bingung dan saling manut dan ujung-ujungnya gw yang jadiin sasaran akhir. Yach akhirnya gw bawa mereka ke Flamboyan, secara dah cukup lama gw ga makan di situ. Emang, ga pernah sepi tuh tempat. Dan kali ini pun iya. Tambah rame malahan. Apalagi tadi ada acara promosi dari salah satu provider telekomunikasi di tempat itu. Ada bintang tamunya pulak. Meski gw ga tahu siapa tuh bintang tamu. Soalnya artis lokal sih (artis yang gw kenal kan semacam Ian Kasela, Saipul Jamil dan Kangen Band. Hoek hoek…) Dari para bintang tamu itu yang gw kenal cuman si Thomas-nya Geronimo doank sebagai host.
Menu gw tadi siang adalah, as usual, fried nodles + sayur brokoli yang uijo-uijo seger + this my fave, bakwan jagung (the delicious). Dan tentunya dengan segelas jus jambu (the delicious too). Komplit sudah. Setelah milih-milih menu kami pun menikmati makan siang itu. Apalagi ada hiburan gratis. Accoustic-an pulak, wew, getting comfort to lunch. Pas makan jadi inget beberapa orang (cuma dua sih tepatnya) yang pernah makan ma gw di situ. Kapan-kapan kesini lagi yuk. Lumayan juga sih tu band, bisa menghibur. Tapi sayang lagu-lagunya standar banget. Tadi denger SO7, Lobow, d’Masiv (huh ini lagi ini lagi) and satu lagu barat yang ge lupa penyanyinya “Juz Love the Way Tou Are”. Tapi semuanya sounds goog sih soalnya dibawain accoustic-an. Jadi berbeda ma yang biasa-biasanya. Sebenernya mo request lagu. Soalnya mereka juga nawarin siapa yang mo request. Niat dah ada. Tapi ga jadi. Takut mereka ga bisa. Soalnya yang gw request sih semacem Morrisey, The Kooks, or The Deadman Theory. Halah…sok sok-an (ben, coz they’re good). Suasana menjadi lebih asik ketika salah satu SPG mendatangi kami menawarkan produknya. Kesempatan. Dasar. Tapi sayang mbak-mbak itu kurang hot dalam merayu kami.
Yup 30an menit kami disana. Setelah kenyang dan senang kami balik lagi ke kost-an gw. Emang, selalu enak dan penak (jawa:nyaman) kalo makan di Flamboyan. Dan pastiya masih banyak lagi tempat-tempat seperti ini di Jogja. Dan itu kadang tempat-tempat seperti itu yang membuat orang-orang yang pernah ke Jogja -at least pernah stay berapa lama- sulit buat ninggalin Jogja or kalo udah perrrgi, jadi pengen lagi maen ke Jogja.
ATTENTION: This is not an add of Flamboyan. Please, NO.
*) Terus kok judulnya The Kook sounds good? Hubungannya apa? Ga ada. Emang sengaja…
Ternyata
Ternyata,
sudah cukup lama hati tidak menyapa
Dan untuk kesekian kalinya
Semalam,
bersama bulan ku coba mendatangimu
Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”
Uhmmm…
meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,
tapi itu kubawakan khusus untuk kamu
Ternyata,
sudah lama juga kamu ingin datang
juga hanya sekedar ingin menyapa
Bersama bulan juga kah?
Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya
Jika boleh meminta,
cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja
biar bisa kulihat dan kudengar lagi
Dan dengan diterangi sinar bulan,
hmmm…sungguh pemandangan yang cantik
Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja
Ternyata,
kita juga sama-sama ingin saling menyapa
Di saat-saat hal semacam ini,
kenapa selalu bisa bersamaan ya?
Kamu bilang sih kita masih soulmate
Hah, kamu ini
Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?
Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui
sebenar-benarnya
Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,
menyesal juga
Sudah jangan diingat-ingat
Meski kadang, aku juga masih sering teringat
mengingatmu
Dan ternyata,
Sekarang kamu sendiri lagi ya?
Uhmmm…
Ah sudahlah…
*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.
Malu Aku
Ga tahu kenapa ni lagu sangat menohok gw pas pertama kali ngedengerinnya. Denger pertama kali di acara newbuzz-nya Prambors. Ini band dari kota Paris van Java. Secara musikalitas ini band standar-standar aja. Rada-rada idealis emang. Tapi bener-bener easy listening. Tp yang bikin gw salut adalah liriknya. Simpel. Tapi sangat sangat dalem. Terutama bagi common people who put a great respect in a meaning of relationship. Di bait pertama langsung dibuka dengan: Dulu kita sahabat… Dengan begitu hangat… Mengalahkan sinar mentari… What the ****! Sungguh kata-kata yang pas. Kemudian dilanjut di bait kedua dengan: Dulu kita sahabat… Berteman bagai ulat… Berharap jadi kupu-kupu… Hmmm coba deh artiin sendiri.
Tapi secara keseluruhan lagu ini menceritakan tentang seseorang yang berharap ‘lebih’ terhadap sahabatnya. Dan itu akhirnya membuat hubungan persahabtan itu berubah. Memang sih kadang sulit melihat batas-batas antara persahabatan dengan cinta. Apalagi antara dua orang a girl and a boy. Meski pada awal dasarnya adalah really pure commit juz to build a frenship, tapi seiring waktu tidak bisa ada yang tahu. Moreover, involve a compassion. Dan otomatis ngaruh terhadap hubungan yang telah mereka bangun. Untuk kelanjutannya pun tergantung ‘pilihan’ dan ‘kesempatan’ masing-masing mereka (jane ki ngomong opo to iki?).
Tapi yang jelas persahabatan itu sungguh hal yang sangat-sangat berarti bagi gw. Entah apa definisi persahabatan. Gw yakin masing-masing oang punya definisi sendiri-sendiri. Dan seharusnya di hormati dan di jaga. Jadi malu gw, apa lagi pas denger lagu ini. Ah tapi gw juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati. Loh… (Jangan jadi alasan, justru dengan punya rasa punya hati harusnya lo nyadar). Halah opo to iki…
OK dah, daripada kemana-mana mari kita nyanyi saja: Sindentosca (Kepompong), yang menurut gw mencoba mendefinisikan or memaknai salah satu definisi persahabatan. I guess, it’s unique. Simple. Deep. Yes.
Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong
Buku Sekolah Elek-tronik
Dulu ketika masih sekolah, sekitar masih SD-SMP setiap memasuki tahun ajaran baru adalah masa-masa yang selalu meyenangkan buatku. Yup, it was time to went to the bookstore. It was time to shopping, for the books of course. Selain buku-buku pelajaran pasti selalu nebeng di beliin buku-buku cerita dan buku-buku scientist, mule tentang antariksa, alam dunia, buku sejarah para ilmuwan sampe buku percobaan-percobaan gitu (sekarang sudah tidak bisa diketahui keberadaan mereka). Secara aku termasuk orang yang paling suka baca buku. Meski belum sampai dijuluki kutu buku. Ketika teman sebaya asik main outdoor, diriku asik sendiri ngamar di rumah sekedar baca. Ngelonin tuh buku-buku. (Gitu kok bukan kutu buku, iya ga sih?)
Tapi kebiasaan beli buku sudah tidak lagi nampak sesering itu semenjak akhir SMP an. Terutama buku untuk pelajaran sekolah. Selain harga-harga sudah melonjak naek, sekolah juga sudah meminjamkan buku-buku paket. Tapi sayang buku-buku paket tersebut jarang yang bisa menimbulkan minat baca dan yang paling bikin males buku-buku paket tersebut gedhenya bukan maen sehingga jarang tak bawa pulang dan selalu nginep di laci meja di kelas. He… Kalo ada guru yang recommended makai buku selain buku paket itu juga males beli, karena pada saat itu sudah mulai mengenal apa yang namanya mesin fotocopy (hwehehe…), itupun memfotocopy-nya tidak langsung satu buku tapi per-bab ato topik apa saja yang lagi dibahas di kelas. Maklum aku berasal dari keluarga yang tidak begitu mampu dan cuma bisa gigit jari ketika ada yang bisa beli buku. Mesakke banget. Kebiasaan ini berlanjut hingga kuliah.
Sebenarnya meskipun mahal tapi pada saat itu buku-buku pelajaran masih banyak bisa ditemukan di bookstore-bookstore. Sedikit berbeda dengan sekarang. Buku-buku sekolah sudah cukup sulit ditemukan di bokstore-bookstore (Kompas, 19 Juli 2008). Hal ini terkait dengan dibelinya hak cipta buku-buku tersebut oleh Diknas, dan mengatasnamakan demi kemudahan dan ke-murah-an untuk mendapatkan buku-buku itu dengan nama program BSE (Buku Sekolah Elektronik). I mean, karena terkait dengan kebijakan pemerintah untuk menekan harga buku-buku sekolah. ). Oleh karena itu bos-bos di Diknas membuatllah apa yang namanya Buku Sekolah Elektronik itu. Dengan maksud buku-buku itu tinggal di donlot oleh para user (siswa dan guru ato sekolah).
Tapi program tinggal program, konsep-konsep yang dikira bisa dengan mudah dilaksanakan ternyata tidak semudah kenyataannya. Para pengonsep tidak banyak melihat fakta di lapangan. Banyak para pengguna yang belum mendapat fasilitas yang tepat untuk mendapatkannya. Masih banyak sekolahan yang belum terkomputerisasi. Apalagi terhubung dengan Internet. Para guru pun belum banyak yang pada tahu gimana ngunduh tu BSE. Dan juga bukakankah if they want to use that books they must print it out disik, lagi iso gampang di woco (terutama bagi para siswa yang belum punya komputer dirumah). Lha itu kan pasti juga butuh biaya lagi to? Dan kalo biaya itu tidak jauh beda dengan ketika beli buku hard copy-nya, ya sami mawon. Trus para guru-guru itu untuk menutupi kekurangan bahan panduan belajar harus membuat semacam modul untuk siswanya. Nambah kerjaan lagi. Murid-murid juga harus berkutat lagi dengan buku-buku lama ato buku-buku paket sekolah (yang kemungkinan sudah lama pulak) yang sudah kucel karena sudah di pake beberapa lama.
Masalah juga tidak hanya di situ saja, untuk jangka panjang bagi para penerbit (produksi) buku juga bakal kehilangan profitnya (entah seberapa besar belum ketahuan). Yang jelas bisa loosing the profit karena quantity yang mereka produksi menurun dengan jumlah biaya tetap –not the variables one- yang tetap. Dan bagi beberapa penerbit mereka yang masih menerbitkan buku harus rela jemput bola, seperti langsung mendatangi user agar bukunya bisa laku terjual. It means they needs new cost. Hmmm demi alasan eksistensi perusahaan untuk penmghematan bisa-bisa saingan ku bakal bertambah neh, the unemployment maksude. Hahaha…
Fyuuh…
Yach semoga ini menjadikan suatu proses pembelajaran (halah klise banget) untuk yang selanjut-selanjutnya.
Hanya Ingin Diam
Lelah
Dan sejenak ku diam
Tak ingin melihat
Tak ingin mendengar
Tak ingin memperhatikan
Maaf,
Ku tak ingin di ganggu
dan ku tak ingin mengganggu
Ku tak ingin sakit
dan tak ingin menyakiti
Biar kan ku sendiri
dengan dunia yang ku punya
Maaf,
bukan salahmu
bukan salah siapa-siapa
Aku hanya lelah
karena telah berjalan kejauhan
hingga ku semakin jauh
Lelah…
Ku hanya ingin diam
sejenak
Two Creatures, Two Perceptions, Two Definitions, and the others of two…
Ada seorang laki-laki dan perempuan sedang berjalan-jalan menikmati perjalanan mereka menuju suatu negeri, yes, the land of happiness. Disana hanya ada beberapa penduduk saja, hanya orang-orang ‘tertentu’ yang bisa tinggal disana. Sepertinya dua orang tersebut adalah sepasang kekasih, suami istri mungkin. Yang jelas mereka saling mencintai. Dan mempunyai KOMITMEN untuk saling berjalan berdampingan. Salah satu pihak tidak ingin berjalan di depan maupun berjalan di belakang. Hanya ingin berjalan berdampingan. Sejajar. Ya. Sejajar.
Di tengah-tengah perjalanan mereka banyak hal-hal mereka alami. Suka. Duka. Suatu saat perjalanan mereka memasuki suatu hutan. Hutan yang sangat luas dan sangat beresiko. Kadang sangat gelap hutan itu. Sehingga mereka sampai saling berpegangan erat ketakutan dan hampir tidak ingin melangkahan kaki ke depan. Dan kadang sangat terang hingga menyilaukan mereka. Membuat kedua mata mereka sakit dan berair. Hutan itu juga penuh dengan tanaman dan binatang. Ada berbagai jenis tanaman yang sangat indah sampai berbagai jenis tanaman yang sangat jelek dan berbahaya. Begitu juga dengan binatang-binatangnya. Ada yang lucu-lucu sampai yang buas. Tapi semuanya tidak jelas. Mungkin hanya seperti sebatas fatamorgana hidup. Jebakan-jebakan alam. Tapi mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Untuk menuju their land of happiness itu.
Ketika sedang melewati suatu daerah di hutan itu, sang perempuan melihat sesuatu yang bergerak-gerak dan bersuara di balik semak-semak.
“Lihat ada seekor ayam yang sangat cantik” kata sang perempuan sambil menunjuk ke arah semak.
“Bukan, itu adalah seekor angsa, sayang” jawab si laki-laki. Dan tiba-tiba sudah tidak ada apa-apa lagi di balik semak itu.
“Bukan, itu tadi adalah ayam” balas sang perempuan dengan datar.
“Kalo ayam bukan seperti itu wujudnya” si laki-laki menjelaskan.
“Bener, aku yakin itu tadi adalah ayam. Aku yakin” gantian sang perempuan yang menjelaskan.
Dan mereka berhenti sesaat untuk mempermasalahkan hal tersebut.
“Kamu ini ya, dibilangin kalo itu angsa bukan ayam!” tiba-tiba suara si laki-laki naik.
Sang perempuan diam sesaat. Dan matanya mulai kelihatan membasah.
“Aku yakin itu tadi ayam” kata sang perempuan dengan suara lirih.
Melihat ekspresi sang perempuan itu kemudian si laki-laki pun berkata:
“Baiklah, sayang. Iya itu tadi memang bener ayam. Ayam yang sangat cantik” jelas si laki-laki sambil mengacak rambut sang perempuan.
“Sudah jangan bersedih”
Akhirnya sang perempuan kembali tersenyum. Dan kedua orang tersebut berjalan kembali, melangkahkan kembali kaki mereka untuk meneruskan perjalanan mereka. Yang masih panjang dan berliku.
Damnn, apa coba yang telah ku tulis itu? Dunno… It’s juz a lil story about men and women in their relationship. In their journey.
*) Yach, semoga bisa nangkep maksud-maksudnya. Hanya sebatas tulisan.
Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’ ini, membunuhku…
Hari ini tadi lewat lagi di depan warung makan SGPC Bu Wiryo. Warung makan pecel yang berada di sebelah utara Fakultas Peternakan UGM, pinggir Selokan Mataram. Warung itu punya band yang selalu menghibur pendatangnya yang sedang meninkati makanannya dengan beberapa lagu.
Nhha, ini yang aneh, sudah hampir dua bulanan lebih ketika aku selalu lewat depan warung itu (it’s exactly 70%) pasti lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu d’Masiv: Cinta Ini Membenunuhku. Seperti yang terjadi tadi pagi. Damnn, kenapa juga aku memperhatikan dan sempet-sempetnya ngitung! Yach, awalnya sih biasa saja. Tapi lama-kelamaan seperti sudah ngapal dan secara gak sadar pikiran ini mengidentikan dengan sendirinya, seperti tebak-tebakan, jangan-jangan kalo lewat di disitu pasti d’Masiv lagi. And yup, this time it’s right. Like this morning. Again and again. Wew…
Entah kenapa lagu ini juga emang lagi hang around in my head lagi, and ngantri di playlistku lagi…
Kau membuat ku berantakan
Kau membuat ku tak karuan
Kau membuat ku tak berdaya
Kau menolakku acuhkan diriku
Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Ku sadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan
Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku
Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Ku sadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku
Juz another story related with, tadi setelah pulang cetak foto-foto perjalanan ke Lampung (kan ada poto-poto keluarga di situ) mampir dulu ke kost-an temen. Setelah ikut-ikutan ngliat tuh foto temen ku comment gini: “Hah, is this the vocalist of d’Masiv? It’s look like him, you know” sambil nunjuk salah satu anggota keluargaku. “Absolutely, no. He’s my lil bro”. +Sambil ketawa-ketawa aneh+
Nyampe kost-an nyalain tv liat MTV. Acaranya pun pas bahas d’Masiv. Itu lho acara yang seharian ngekorin artist-artist kemana aja. Duh, capek deh…
Perjalanan Ke Barat
Ini kisah perjalanan 4 punggawa kerajaan mengantar seorang tuan putri agar bisa bersatu lagi dengan pangeran ke kerajaan barunya di negeri seberang, di negeri barat. Negeri gajah, kah? Hehe… Goes to Lampung…
Sebelumnya, rombongan adalah termasuk orang-orang yang amat sangat jarang sekali to take travelling for a long distance and for a long time. Jadi banyak hal-hal aneh dan ganjil yang akan terjadi. Seperti mual-mual, pusing, masuk angin dan mabok. Loh… (Ga mutu bangetz… Apalagi aku) +_+
Here it goes…
1st day
Berangkat jam 07.00 wib. Hmmm, belum-belum sudah naik bus, tapi dari empat orang cuma dua orang yang naek bus. Dari rumah menuju bandara sudah naik bus dan sepertinya sang sopir dulunya bercita-cita menjadi pembalap tapi tak kesampaian. Dari gaya drifting, tancap gas kenceng trus rem mendadak sampe zig-zag style pun ada (good acceleration, ha? Damn). Untung ga ada gaya biking freestyler. Fyuuh… Dan semua itu membuat kepala berputar-putar perut teraduk-aduk dan rasanya ingin muntah. Untung ga jadi. Nyampe bandara jam delapan kurang. Kepala masih berputar-putar. Setelah check-in kami nungguin untuk take off. Just sitting down. Look around. More than an hour. ‘Till kademen. ^_^
11.00 we arrived at Soekarno-Hatta, Cengkareng. Next flight to Lampung was on 19.00. Wew…it’s still a long time again. Rencana ingin sekedar hang around Jakarta, maybe Cengkareng – Blok M – PIM – back again to Cengkareng by DAMRI. Semangat ’45 sudah bersemayam dalam dada. Tapi keinginan sebatas keinginan, salah satu anggota terkena –maybe jetlag- badan ga bisa di ajak kompromi to hang around. Dan kami pun tak bisa meninggalkannya sendirian sementara kami malah asik-asik hang around. So, we just stayed at Cengkareng ‘till drop. Till the next flight. Cuma berkeliling Cengkareng mpe pegel-pegel. Jalan sana jalan sini. Muter sana muter sini. Duduk-duduk. Tiduran. It’s about 8 hours. Bener-bener kayak orang terlantar. Kasian. Tapi akhirnya kami nikmatin aja. Tepat jam 19.00 kami meninggalkan Cengkareng. Night flight. How beautifull it was. Melihat keluar lewat jendela pesawat terlihat kerlip deret lampu kemacetan, deret lampu kota terbesar di negeri ini. City light. Unforgetable moment. Seakan-akan tak sia-sia kami nunggu 8 jam itu.
19.30 sudah gantian naik taksi menuju hotel kami di Lampung. Tapi masih sekitar 40an menit lagi dan muka-muka letih sudah mule kliatan. Tempat tidur yang empuk sudah terbayang-bayang saat taksi –hmm lagi-lagi drifting di jalanan (again, good acceleration? Damnn… All I wanted to do was throw up. And possibly pass out..). Hmmmm begini ya kota Lampung…
Jam 20.00 lebih baru nyampe hotel. Dan pangeran negeri seberang sudah menyambut kami di depan hotel (kayaknya ga ada sambutan deh ya… biasa…dan ga ada ekspresi. Dasaar… Apa aku aja yang gak nyadar karena dah gak bisa konsen + ngurusin barang-barang dari taksi? Masih menjadi tanda tanya… )
Setelah selese bebenah kami pun makan malam dengan nasi goreng sea food. Delicious… Andi it’s pretty good to threw up all the headache. And then we took a rest… (Ehmm, akhirnya tuan puteri bisa bersama pangeran lagi… Sementara kami berempat masih di hotel, mereka berdua balik kandang mereka sendiri. Looohhh…)
2nd day
Seperti yang sudah-sudah, for the 1st time meniduri tempat tidur yang tidak biasa bagiku bakalan ga nyenyak tidurnya, and yup it happened at last nite. Jam lima udah bangun liat keluar jendela masih gelap. Ah, ntar aja. Setengah jam kemudian bangun. Masih gelap. Tapi harus bangun untuk sholat subuh. Abis itu ngebo lagi. Setengah tujuh bangun. Liat keluar jendela. Masih gelap. Huh, perasaan udah setengah tujuh, kok masih gelap. Penasaran. Akhirnya turun juga dari tempat tidur. Liat keluar memalui koridor hotel. Jeng jeng jeng…ternyata matahari sudah bersinar dengan terang. Masuk kamar lagi, buka jendela. Ternyata di sebelah ada bangunan tinggi yang menyebabkan keadaan di situ gelap terus. Day or nite! Dasaaar…
Jam setengah sembilan, breakfast. Dengan menu nasi lontong. Kami berlima balik ke kamar lagi (yup berlima, karena tuan puteri bakalan menemani kami selama di Lampung, pagi dah dateng ke hotel kemudian baru malamnya balik lagi dijemput pangerannya).
Nothing to do in that room. So, we walked out to look around the city. Tapi jam dua belas harus sudah sampe lagi di hotel. Karena rencana abis jam dua belas kami akan berkunjung ke tempat diamana tuan puteri dan pangerannya stay. Sebagai orang dari kerajaan Jawa beramah tamah adalah suatu hal yang harus dilakukan. I think it’s juz formalization. Halah…
Kami pergi keliling naik DAMRI yang ternyata sangat banyak di kota itu. The 1st destination adalah mall, yup salah satu mall di kota itu. Sebenarnya lil bit ashamed telling this. Ternyata kami datang terlalu pagi beberapa stan masih tutup. Gubrak, sama beberapa pekerja nya aja duluan kami. Ginilah nasib orang-orang ga ada kerjaan dan ga ada tujuan yang jelas. Hehe… Kami putuskan untuk menunggu. Setelah mule ramai kami pun masuk ke mall itu. Sekedar melihat-lihat. Tapi lebih terkesan seperti sidak KPK saja. Liat sana liat sisni. Cek sana cek sini. Pegang sana pegang sini. Dengan berbagai comment yang keluar dari mulut kami. Bagus. Lumayan. Not bad. Gitu-gitu lah. Masak gitu deh, mulan aja jamilah. Hehe… Ga penting… Jayuuuss…
Setelah selese inspeksi mendadak di mall kami keluar nyari DAMRI lagi, entah kemana tujuannya. DAMRI pun turun depan Ramayana, iseng-iseng masuk. Dan lagi-lagi terkesan sidak dengan berbagai comment yang penting ga penting itu. Yang berasa aneh tuh Ramayana cuma satu lantai, tapi luaaaaas sekali. Dari jenis barang A mpe Z Cuma ada di satu lantai. One way seeing. Itulah mengapa eskalator disana terkesan eksklusif. Loh, ga nyambung…
Selese dari Ramayana kami putuskan balik ke hotel. Juz because it’s seems too short road, we decided to get there dengan naik kaki kami sendiri-sendiri. Jalan kaki. Hah, jalan kaki? Yup suatu keputusan yang pada akhirnya ku sesali hingga ku tak bisa tidur 3 hari 3 malem. No matter. Lagi-lagi emang dasar ga ada kerjaan. But we enjoyed it. In the middle of the road, ketika kaki kami sudah protes karena kerja rodi kami itu, kami mampir ke warung bakso-mie ayam –yang katanya paling enak di kota itu. Bakso Sonny, ya? Correct me if i’m wrong. Sliuuuph…emang sih, uenaks.
Keluar dari bakso Sonny –yang ternyata mahal euy, tapi kalo standar disini ga tahu itu mahal pa kagak, yang jelas dibandingin di Jawa especially Jogja 2 kali lipat lebih euy- kami lanjutkan perjalanan ke hotel. Tapi mampir dulu ke Gramedia. Nyari-nyari buku buat gift. Karena dalam perjalanan pulang dari negeri ini ingin mampir main ke suatu tempat dulu (ada ceritanya sendiri nanti). Adzan dhuhur berkumandang pas kami nyampe hotel lagi. Dan ternyata acara beramah tamah diundur menjadi abis ashar. So we had a time to relax. To rest our leg. Hehe…
Selese sholat ashar kami langsung meluncur ke tempat pangeran tinggal dengan sebuah taksi. Hmmm gara nyari taksi itu dapet kenalan nih. Sopir taksi!!! Yang bakalan menemani perjalanan-perjanan kami berikutnya. Wkwkwkwk
Menjelang isya’ kami baru nyampe lagi di hotel. Tuan puteri dan pangeran menyusul kami tidak lama berselang. Setelah bersih-bersih kami makan malem bareng. Dilanjut ngobrol-ngobrol hingga akhirnya kantuk dan lelah menyapa. Nice moment. Hampir jam sebelasan malem kami mule rehat. Tuan puteri dan pangeran sudah kembali lagi ke kediamannya…
Wait for the next day…
3rd day
It was Thursday. Pagi-pagi sudah disambut hujan. Jam 08 lebih kami baru mule ke lantai empat hotel untuk breakfast. Hmmm kali ini telat, menu makanan sudah habis. Maklum pas lagi rame hotelnya, ada beberapa instansi yang menginap di situ beberapa hari untuk diklat. Akhirnya kami hanya bisa menunggu para koki prepared the next menus sambil nge-teh dan ngobrol-ngobrol. Setelah selese sarapan kami balik kamar dan ready to started the next journey. Yup. Tapi kali ini lumayan terencana and had a definitely destination. Kampoeng Wisata Tabek Indah! Sebuah taman wisata seperti bumi perkemahan yang dilengkapi dengan penginapan, area out-bond (uhmm, the flying fox? yummy), kolam renang dan waterboom, wew…
20-30 minutes we get there by taxi. Setelah nyampe di sana pertama kami cuma jalan-jalan dulu, juz look around karena, lagi-lagi, masih kepagian dan masih sepi. Tapi setelah lama kok tidak juga tidak ramai. Akhirnya kami beraksi sendiri. Bermain-main (foto-foto tepatnya dengan gaya sok action sok hebat gitu. Hehe…) di area outbond. Yang paling bikin kecewa adalah tidak bisa menikmati flyingfox-nya. Setelah cape sendiri kami pun rehatan sebentar di sebuah gubuk sebelum melakukan aksi-aksi yang sebetulnya sih memalukan bagi yang tidak bisa seperti diriku ini. He… Ssssst… Yup setelah itu kami pun bermain air di kolam renang dan waterboom. I don’t wanna tell you much bout this activity in that swimmingpool. It was so ashamed for us. Hehe… Hampir dua jam-an kami di situ. And our body was getting chilled. After we get dressed, we enjoyed some cups of hot tea near the pool juz to warmed our body up. And then, tepat jam 12 siang kami semua meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke hotel. Sebelumnya poto-poto dulu sama gajah. Hehe..
Kami putuskan kembali ke hotel dengan naik DAMRI tapi harus ke terminal Radjabasa dulu. Ke terminalnya harus naek angkot dulu dan naek angkotnya harus kejalan raya. Berhubung lokasi wisata ke jalan raya sekitar 300an meters harus naek kaki kami sendiri lagi dulu. Hehe… Fyuhh.. Sepuluhan menit berjalan akhirnya nyampe jalan raya dan langsung dapat angkot. Sebelumnya, juz FYI, angkot di kota Lampung ini kalo boleh saya bilang ada dua kategori angkot. Yang pertama angkot konvensional dan angkot gaul. Yang angkot konvensional, standarlah, seperti angkot-angkot pada umumnya. Tidak macem-macem. Berbalik 180 derajat dengan angkot kedua, yaitu angkot gaul. Dari segi body saja full modif. Bemper gede, dashboard cihuy, knalpot wow, suara menggelegar plus audio mobil super keren (apa norak ya…) dengan speaker bikin seperti konser keliling (dan ternyata lagu-lagu yang diputar cuma lagu-lagu K.A.N.G.E.N. B.A.N.D. dan lagu-kontroversial-karena-cewek-yang-menyanyikan-bunuh-diri-setelah-menciptakan-lagu-itu-untuk-menyusul-pacarnya-yang-mati-duluan-yang-saya-tidak-tahu-judul-dan-nama-penyanyinya. Hehe panjang sekali judulnya… Pokoknya itu lah…) Capek deh…
And the most aggravating me was the driver. Again and again, they drive like an drunken. Tapi kadang salut juga dengan skill mereka itu, apalagi jika mendapat fasilitas dan tempat yang tepat. Pasti bakal mengungguli Lewis Hamilton bahkan M. Schumacher! Bisa mengahrumkan nama Indonesia. Damnn…
Back to the story. Setelah naek angkot, kebetulan angkot konvensional yang cukup nyaman itu, 10 menit kemudian kami nyampe di Terminal Radjabasa. Niatnya ingin naik DAMRI tapi entah karena apa –yang jelas aku menyesalinya kemudian- kami tiba-tiba saja sudah ada di dalam angkot lagi, angkot gaul pulak. Shit.. Dari terminal ke kota butuh sekitar 20an menit. Selama itu pula kami (mungkin khususnya aku) di ajak ber drifting ria oleh angkot tersebut. Again, all I wanted to do was throw up. And possibly pass out with this headache and this sickening stomach. Yang bikin menjengkelakan lagi kami tidak nyampai pada tempat tujuan yang semula ditawarkan. Yach apa daya, karena belum tahu juga tentang jalur-jalur angkot disini. Akhirnya Cuma mpe depan Ramayana. Dari Ramayana kami cuma bisa naek DAMRI. Dan DAMRInya pun sudah oldish abis, mesin sudah agak ngadat, panas, penuh sesak dan bau. Oh, my Godness. I won’t do it again.
Fiiuuhh..akhirnya mpe hotel. Setelah sholat dan rehatan bentar kami –kali ini kami sekeluarga, berlima, keluar lagi untuk makan. Tapi cuma di warung deket hotel. Selese makan kami bertiga, yang dua kembali ke hotel, pergi Gramedia -yang lagi-lagi deket hotel juga, untuk beli sebuah buku. Akhirnya dapet sebuah buku. Divortiare-nya Ika Natasha. Nice book to read. Renacananya sih ni buku buat gift, tapi gak jadi. Someday I’ll tell you about this book. Sesampainya dari Gramedia hari telah ashar. Setelah sholat rehatan bentar. Tapi gak bisa. Di hotel sendirian. Iseng-iseng keluar cari warnet. Ee malah ketahuan seseorang dari Jogja (eh kowe neng Jogja po isih neng Gombong po negendi to, Fan? Hehe…) dan seseorang di Bandung. Akhire malah chating dah, mpe menjelang maghrib.
Setelah maghrib. Lagi-lagi kami berenam –pangeran selalu menyusul kami ke hotel setelah selese beraktivitas, kembali ngumpul. Kemudian kami berempat aku, adek, tuan puteri dan pangerannya keluar untuk makan. Di plaza Lotus (bener ga itu namanya?) samping hotel juga, di sebuah semacem foodcourt gitu, di lantai paling atas. Tempatnya open door. Keren. Bisa nikmatin pemandangan di bawahnya. Menunya ada udang goreng, nila bakar, capcay, nasi goreng sozzis. Plus kalo aku minumnya juz jambu (ngingetin suatu tempat makan di Jogja).
Slese makan kembali lagi ke hotel. Ngumpul-ngumpul lagi, ngobrol-ngobrol lagi. Setelah itu rehat. Menunggu esok hari dengan petualangan seru selanjutnya. (Kali ini aku sedikit terkena insomnia, padahal badan sudah pegel-pegel… Dunno why… Lill’ bit mellow….)
4th Day
Petualangan hari keempat ini lebih tepatnya diberi judul “Looking for the Elephants…”. Yup, Petualangan Mencari Gajah. Hehe…
Hari di mulai dengan cuaca yang cerah. After we got breakfast, we went to the Bumi Kedhaton Park. Semacam kebun binatang + konservasi flora fauna gitu lah. Tapi petualangan kali ini bakalan cuma sebentar, selain karena hari Jumat yang kata orang hari pendek, tapi juga karena abis Jumatan kami sudah harus check out dari hotel untuk gantian menginap di tempat sang pangeran.
Setelah diantar taksi kami nyampe juga ke Bumi Kedhaton Park. 15 menit perjalanan. Lagi-lagi kami masih terlalu pagi tiap kali berkunjung ke tempat wisata untuk memulai petualangan. Sesampainya disana kami langsung masuk ke area. Pertama-tama kami berkeliling-keliling dan take some pictures bersama biawak, kera, hariamau, berbagai jenis ayam, harimau, beruang, and the beautifull peacock. Setelah itu kami menuruni lembah. Untuk mencari gajah. Karena kurang lengkapnya informasi dan ketidaktahuan kami maka pencarian gajah itupun benar-benar menjadi pencarian gajah yang melelahkan. Tapi dengan lingkungan dan poemandangan yang indah dan asri itu tidak kami lewatkan untuk poto-poto. Teuteup… Hehe…
Akhirnya ketemu juga area gajah itu, setelah berjalan naik turun bukit dan lembah. Tapi kecewa, setelah capek-capek mencari, gajah-gajah itu tidak ada di tempatnya. Kami pun masih berusaha mencari-cari. Tengok sana tengok sini. Intip sana intip sini, sapa tahu gajahnya sembunyi di lubang (emangnya lubang apa sampe gajah bisa sembunyi di dalemnya?) dan hasilnya cuma capek. Kami berpikir bahwa sang gajah terkena flu, pilek tiada henti-hentinya… Loh kok malah nyanyi lagu Crayon Sinchan… Selang berapa lama ada salah satu petugas taman nongol, kami pun bertanya dimana gerangan para gajah-gajah itu. Ternyata sedang diangon, di lepas untuk mencari makan. Tidak lama kemudian gajah-gajah itu muncul. Dmm…ddung..ddmm.. bumi bergetar. Wuihh guedenya… setelah nyampe area gajah kami di beri kesempatan foto bersama Seno dan Melly itu (nama-nama gajah tersebut).
Setelah berpuas-puas dengan gajah kami siap-siap untuk pulang karena jam sudah menunjukkan hampir jam sebelas. Untuk keluar dari tempat gajah menuju tempat menunggu taksi pun harus bekerja keras lagi. Mendaki bukit lagi. Ngoss..ngoss. Fyuh… Tapi tak terasa, semua seneng dan di jalan, teuteup, take some narzis pictures. Huehehe…
Jam setengah dua belas sudah berada di hotel lagi. Rehat bentar. Mandi. Lalu Jumatan. Selepas Jumatan, prepared to check out from the hotel. And then we took a lunch. Lagi-lagi cuma di sekitar hotel.
Satu jam kemudian sudah ada di dalam taksi menuju tempat kediaman sang pangeran. Tapi tidak langsung ke sana. Kami mampir dulu ke pantai. Duta Wisata beach. Juz for a while. Again and again, took some pictures. Teuteup…
Lima belas menit kemudian kami sudah berada di kediaman san pangeran. Semua pada istirahat. Sore-sorean kami bertiga –aku, tuan puteri dan sang raja, keluar jalan-jalan sambil mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang besok pagi. Sepulang dari mencari oleh-oleh aku dan tuan puteri mampir dulu di suatu taman deket situ. Taman Dipangga. Sekedar istirahat. Look around. And pastinyah, poto-poto. Teuteup… Hehe… Bersama gajah dan beruang.
Ditengah perjalanan itu bagi diriku sendiri ada suatu kejadian yang pada akhirnya tidak bisa membuatku nyaman diriku hingga akhir perjalanan ini nanti berakhir. Yang pada akhirnya juga menghabiskan pulsa untuk telepon seseorang juz to make myself felt comfort again. Oh God, why did this happenned in the time like this. Mencoba tuk tetep enjoyed. Die hard juz to make myself enjoyed. Again. No matter.
Malem kami ngumpul-ngumpul lagi, maem-maem lagi. The last one in Lampung.
Setelah cukup lama kami semua istirahat. Di kediaman itu kami semua tidur di dua kamar.
And yes, damn I hardly to slept. Because what? Beside the much annoying mosquitos in that nite also because of the event in the evening before. Shit..
Juz after 1 am i could fell asleep…
5th Day
Pagi-pagi sudah bangun. Yup because our flight was on 9.20. Dengan nyawa masih setengah-setengah aku mencoba untuk bangun. Huh masih ngantuk banget. Gara-gara semalem tidur telat dan tidurnya pun tidak nyenyak.
Akhirnya bangun juga. Keluar kamar. Masuk kamar satunya. Tidur lagi. Hehe…
An hour later i’ve been in the taxi to the airport. It took about 40 minutes. Dan hampir separo perjalanan di taxi itu aku tidur. Bangun-bangun sudah nyampe airport. Tak lama kemudian tuan puteri dan pangerannya menyusul kami, melepas kepulangan kami. Akhirnya semua selese sudah tugas-tugas itu. Tugas mengantar tuan puteri. Tuan puteri telah bersama pangerannya. Semua tampak biasa saja. Ekspresi pun datar. Sudah kebiasaan. Lambaian tangan mereka mengiringi langkah kami memasuki pesawat. See you, princess. See you, Lampung. Nice journey. Nice moments…
Tak lama kemudian kami sudah ada di Cengkareng. Disana saudara kami sudah menunggu, sudah menjemput kami. Akhirnya kami pun langsung menuju rumahnya.
Tiga puluh menit kami sudah nyampe. Rumah saudara kami berada dikawasan Pluit deket Ancol. Untuk mengisi waktu menunggu keberangkatan kami ke Klaten nanti malam, aku dan adeku iseng-iseng jalan-jalan ke Ancol. Juz look around at there. Nothing special to do. Paling-paling cuma poto-poto. Nongkrong di Carnival. Nyelem ke Sea World. And so on yang ga penting-penting gitu. Jam tigaan lebih kami balik ke Pluit. Cukup dua kali naek angkot.
Malam abis Isya’ kami sudah berangkat ke Gambir. Pulang. Lumayang lama untuk nyampe sana. Because at that night Jakarta was so crowded. Sempet kuatir juga kalo ketinggalan kereta.
Menjelang jam sembilan dah nyampe Gambir. Alhamdulilah tidak telat.
Jam 21.30 kereta sudah berjalan. Kami pun meninggakan Jakarta menuju Klaten.
6th Day
We’re home….
Capek…
Sejenak Menyapa…
Ini bukan pertama kalinya punya blog. I mean, this is not my 1st blog. Maybe for the 3rd times I have. Yak, sebelumnya dah ada tapi lewat blogger dan FS: diamdiam.blogs.friendster.com (baca: diamdiam, status:masih aktif). Yang blogger ndak tahu kemana…
“Sejenak diam” mungkin bakalan berbeda dengan blog-blog ku sebelumnya. Kalo blog “diamdiam” berasa sangat mellow yang terdiri dari beberapa kumpulan prosa-prosa yang ga jelas gitu, maka Sejenak Diam bakalan berasa lebih mellow. Hwehehe… Mungkin ada beberapa satu postingan yang sama masuk ke dua blog tersebut (ben kebak…hehe…)
Juz wait my next post…