Archive for August 2008
Hemat Di Jalanan
Di jaman serba mahal (bagiku) sekarang ini, hidup hemat merupakan salah satu alternatif mengatasinya. Prinsip ekonomi pun mulai benar-benar dipraktikkan, dengan pengeluaran sekecil-kecilnya berusaha untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Yeah, sebenarnya gue tidak terlalu setuju dengan ‘semboyan’ itu. Karena menurut gue high risk high return. Semboyan ‘pengeluaran sekecil-kecilnya berusaha untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya’ malah menurut gue tidak benar-benar amat, karena untuk melakukan ‘pengeluaran sekecil-kecilnya’ itu pasti ada opportunity cost yang hilang yang siapa tahu dengan opportunity cost itu akan diperoleh tingkat keuntungan yang lebih, dengan marginal cost se-efisien mungkin dengan marginal revenue semaksimal mungkin (Halah wis wis cah bagus tangi tangi, ngomong opo to?). Yup, bener gue tidak akan membahasnya, bisa tambah pusing, karena gue bukan ahli ekonomi yang pandai berteori dengan hipotesa-hipotesa beserta angka dan chart sebagai temannya (cuma orang pusing yang lagi ngelantur karena kebanyakan minum pil dan kapsul yang segaban-gaban beberapa hari terakhir. Fuuuhh…).
Gue disini akan berbagi beberapa tips tentang bagaimana perilaku berkendara yang hemat. Maklum dengan kenaikan harga BBM menuntut kita untuk menata kembali anggaran pendapatan belanja kita, tak ketinggalan dalam alokasi pengeluaran BBM untuk kendaraan (bagi yang berkendara). Lebih lanjut, dalam alokasi tersebut, sebenarnya banyak sedikitnya biaya yang keluar tergantung juga dengan perilaku kita dalam berkendara di jalan. Berikut beberapa diantaranya agar bisa menghemat BBM:
-
Jangan buka gas secara tiba-tiba, terutama dalam rpm (putaran mesin) yang masih rendah, karena dengan rpm rendah BBM yang masuk dalam jumlah yang banyak tidak semua terpakai dan akan terbuang sia-sia. Pertahankan bukaan gas selalu stabil, jangan terlalu sering buka tutup (mendadak).
-
Sesuaikan (pindahkan) gigi persnelling dengan kecepatan dan rpm yang pas. Maksudnya, dengan gigi persnelling yang tinggi jangan digunakan pada waktu kecepatan masih rendah, begitu pula sebaliknya. Sesuaikanlah, gunakan gigi persnelling yang tinggi hanya pada saat kendaraan memerlukan daya dan kecepatan lebih, dan kurangilah gigi persnelling ke yang lebih rendah saat mengurangi kecepatan. Masing-masing kendaraan mempunyai standar yang berbeda-beda dalam hal kesesuaian ini. Contoh mudahnya: jangan gunakan gigi tiga atau empat pada saat kecepatan sekitar 20 km/h dan sekitar. Hal ini biasanya sering gue lihat dilakukan oleh (maap bukan maksud ingin racism) para cewek terutama ibu-ibu, biasanya beliau-beliau dalam kecepatan berapapun sering bertahan dalam gigi tiga bahkan sampe kendaraan berhenti pun masih saja begitu. Kalau sudah berhenti baru injak mundur gigi persnelling tiga kali, klik klik klik. Jangan dibiasakan ya, Bu. Selain boros bisa merusak mesin juga.
-
Jangan pernah mau dibonceng. Maksudnya perhatikan beban angkut kendaraan. Semakin berat beban yang diangkut semakin banyak konsumsi BBM yang dibutuhkan. So, jika ada ada yang mau nebeng jangan pernah mau. Pulanglah dari kantor, kampus, atau sekolahan secara sembunyi-sembunyi. Jangan pernah lewat pula jalur 3 in 1, atau buatlah saja kendaraan anda menjadi kendaraan single seater. Dan yang paling penting, jagalah selalu berat badan anda.
-
Matikan mesin saat berada dilampu merah yang dirasa lampu merah itu sangat lama nyalanya. Sekarang kan banyak lampu merah-lampu merah yang ada timer-nya jadi bisa tahu lama tidaknya berhenti dan kapan harus di hidupkan kembali. Tapi ini gue saranin jika hanya berhentinya lebih dari 50 detik-an saja karena jika tidak percuma saja, karena hidup-matikan mesin dalam rentang waktu yang sedikit malah akan membuat semakin boros. Dan juga dilakukan jika hanya ada timernya (atau sudah hapal ‘perilaku’ lampu merah tersebut) saja agar bisa tahu kapan harus dihidupkan lagi supaya tidak mengganggu kelancaran lalu lintas. Jika telat hidupkan mesin sebentar saja bisa menimbulkan kebisingan di tempat itu karena kendaraan-kendaraan dibelakang berlomba-lomba ngebunyikan klakson buat anda. Mematikan mesin di lampu merah juga bisa membantu mengurangi polusi.
-
Hindari perilaku agresif alias injak gas dan rem semaunya sendiri. Hal ini menyebabkan kecepatan anda tidak konstan, tahu-tahu ngebut kenceng tiba-tiba rem mendadak, tahu-tahu ngebut lagi, rem lagi dst. Itu bisa menyebabkan konsumsi BBM juga boros (lihat poin 1 dan 2).
-
Dalam istilah dunia balapan, pilihlah racing line yang paling tepat, yaitu jalur dimana bisa menjaga kecepatan yang konstan dengan waktu paling cepat dan BBM paling efisien. Kalau di jalanan ini emang sulit dilakukan. Tapi jika sudah sering lewat rute itu secara gak nyadar akan hapal sendiri racing line anda dan manfaatkanlah itu. Tips: contohlah F. Alonso atau M. Schumacher dalam gaya memilih racing line: praktis, efisien dan manjur, jangan V. Rossi atau L. Hamilton: meski hebat tapi terlalu agresif dan boros.
-
Hindari kemacetan. Karena sudah pasti buang-buang BBM. Sering berhenti sementara mesin di haruskan hidup terus. Pokoknya gak banget untuk yang satu ini. Dari segi mana pun gak ada baiknya konsumsi BBM.
-
Pilihlah rute yang paling pendek tapi tidak macet (kalau bisa).
-
Jika ada ide lain silahkan isi di poin ini.
Itulah beberapa perilaku berkendara yang hemat. Tentu saja untuk bisa berhemat tidak hanya itu saja yang diperlukan, misalkan saja perawatan yang baik dan teratur terhadap kendaraan serta pemilihan jenis kendaraan dan BBM yang tepat. Tapi jika semuanya itu sudah dilakukan maka berkendara secara bijak anda lah selanjutnya yang menentukan. Dan sekali lagi untuk melakukan itu perlu beberapa konsekuensi atau pengorbanan seperti anda akan semakin kehilangan teman, ditinggal klien bisnis (terkait poin 3), bakal sering disuruh nganter istri, ibu, cewek anda, even kakak atau adik perempuan anda kemana-mana (poin 2), bisa merasa bosen (poin 8). So, sedikit banyak membuktikan juga kalau prinsip ekonomi tadi tidak benar-benar amat.
*) Mata masih berkunang-kunang dan kadang masih sedikit blackout, masih saja maksa posting. So, maap saja jika ada bahasa yang kurang bisa dipahami dan ada pihak-pihak yang kurang setujuh dan dirugikan. ?????? ^_^
Only God Knows Why
Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.
Dalam per-poli-tikus-an mungkin ungkapan itu benar adanya, tidak hanya sekedar kata-kata saja. Karena memerlukan pengalaman-pengalaman untuk bisa menyusunnya. Perlu pengorbanan dan perjuangan yang keras untuk melakukannya. Memerlukan beberapa orang untuk membuktikannya. Dan salah satunya adalah ZM, seorang poli-tikus dari negeri tetangga –Negeri Ibu Pertiwi (NIP), negeri yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta democrazy tahun depan. ZM adalah mantan wakil ketua lembaga legislatif di negeri NIP itu, pelaku sekaligus korban dalam kerasnya dunia itu.
Iya mantan, dia diberhentikan karena tersandung masalah pencemaran nama baik kepala negara NIP itu. Masih ingat kan sekitar setahun yang lalu ada berita ramai-ramai tentang kepala negara NIP yang digosipkan telah nikah duluan sebelum nikah dengan ibu negara yang sekarang. Nha, itu dia si ZM yang menggosipkannya. Entah gosip itu bener apa tidak, gue tidak akan bahas itu. Tidak tahu kenapa sehingga tiba-tiba saja dia bergosip ria dengan itu. Mungkin berusaha merebut popularitas, kepentingan. Gara-gara itu dia ditendang keluar dari legislatif. Setelah setahun menghilang dari dunia per-poli-tikus-an, kini si ZM itu berusaha kembali lagi. Untuk bisa masuk lagi sudah tentu harus memakai alat, memakai kendaraan, alat itu di negeri NIP biasa disebut parpol. Yang bikin gue make no sense dan berasa geli sendiri sama tuh bapak adalah kendaraan yang dia pakai adalah kendaraan yang dibina, yang dirawat oleh si kepala negara yang dulu pernah digosipkannya, pernah ingin dijatuhkannya itu, bahkan kendaraan yang dulu mengantarkan korban gosip itu menjadi kepala negara. Uoke, deh. Dualisme. Kontradiktif. Lagi-lagi kepentingan.
Semalem pas dalam wawancara di salah satu stasiun swasta negeri NIP, dengan muka mesam mesem seperti anak kecil ketahuan bo’ong dan mata yang kedap kedip kriyip kriyip (oalah Pak,mbok wibawa sitik gitu) dia memberitahukan sedikit banyak mengapa dia melakukan itu (alasan menggosipkan kepala negara dan alasan dia masuk kembali ke legislatif dengan kendaraan itu). Yang bikin gue ketawa (selain tingkah kalunya yang menggelikan) adalah alasannya bahwa si bapak itu mendapat mimpi dari alm ibunya. Dalam mimpinya si ibu melambai-lambaikan tangan kepadanya yang berada di barisan belakangnya si kepala negara. Hah, hubungannya apa? Jaman gini masih percaya superstition? Oke tidak apa-apa gue bisa toleran karena mimpi alm ibunya, tapi mbok ya nyari alasan yang lebih cerdas intelek.
Gue jadi mikir ungkapan di atas tadi menjadi sangat benar. Dan karena semakin banyaknya kepentingan semakin ketat pula persaingan. Lawan jadi kawan, kawan jadi lawan. Tapi caranya itu lho, mbok yo yang keren, yang intelek, logis. Yang kemampuannya di bawah rata-rata sulit untuk bertahan sehingga bisa melakukan berbagai macam alasan, seperti mencari-cari alasan superstition tadi, no intelek anymore, even rediculous dan seperti orang pesakitan dari rumah sakit jiwa. Maap menyebut rumah sakit jiwa, lha wong ketawa-ketawa, senyam-senyum sendiri atas tindakan-tindakan konyol dan tak logis mereka, tapi masih tetep saja dilakukannya dengan bangga. Tapi sayang gagal. Total pulak.
Kenapa ya orang-orang semacam Soekarno, Tan Malaka, Hatta dan Natsir hidup seangkatan? Tidak disisakan untuk generasi sekarang. Only God knows why.
The Girl In The Dirty Shirt
Sudah jadi kebiasaan bagi gue untuk pergi ke bookstore. Entah emang niat pengen beli buku ato cuma sekedar baca saja. Di Jogja ini, bookstore yang paling sering gue kunjungi adalah Toga Mas and Gramedia. Tapi recently the most visited adalah Toga Mas. Selain ‘enak’ dan ‘nyaman’ buat baca, bookstore ini juga memberikan diskon yang lumayan. Terima kasih dah buat Toga Mas, kalau tidak ada kamu pasti gue tidak akan punya banyak koleksi buku ^_^. Tetapi beberapa hari yang lalu setelah sekian lama tidak berkunjung –ceileh berkunjung, bahasamu dab- ke Gramedia akhirnya gue nyempatin diri maen ke Gramedia Jogja, yang di Jalan Sudirman. Entah tidak jelas kenapa tiba-tiba saja pengen ke Gramed, mungkin karena beberapa pertimbangan berikut: satu, karena gue pengen ke toko buku, itu sudah absolutely pastiii, siapa tahu Detective Conan terbaru sudah terbit. Dua, gue ke toko buku-nya tidak ingin beli tapi cuma baca saja. Ketiga dan yang terpenting, gue tidak ingin ke Toga Mas karena sudah keseringan kesana dan itu sudah pasti di apalin sama mbak-mbak dan mas-mas di sana sebagai pelanggan setia, pelanggan setia numpang baca-baca doang. Harga diri gue bisa jatoh! Akhirnya pergi ke Gramed. Tapi ini gue tidak akan menceritakan ngapain saja gue di Gramed, tidak penting banget.
Sudah tidak inget kapan terakhir kali kesini. Tapi setiap gue ke Gramed Jogja yang di Jalan Sudirman ini, gue selalu inget bahwa di depan pintu masuk, tepatnya disebelah atas tempat penitipan tas dan jaket ada seorang gadis kecil usia kelas lima SD (semoga saja bener bisa kelas lima, kenapa gue bisa tahu? Hmm..) yang berjualan koran. Gue pertama kali nyadar dan memperhatikan keberadaan tuh gadis cilik selalu disitu sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, pas gue masih sering berkutat dengan literatur-literatur dan referensi bikin tugas akhir, cukup lumayan sering juga pergi ke Gramed ini. Pas abis gue selese baca-baca di dalam gue hendak pulang. Dan ternyata hujan, tapi waktu itu sudah agak reda tinggal tersisa gerimis kecil-kecil. Tapi kalau nekat pulang sampai di kost-an bisa basah kuyup juga. Apalagi gue paling males pake jas hujan, kecuali dalam situasi darurat, kalo sudah di jalan mending basah kuyup sekalian apa nyari tempat berteduh. Akhirnya gue niatin nunggu sampai bener-bener reda. Gue nunggu celingak celinguk (jawa:liat sana liat sini tanpa tujuan yang jelas dengan tampang bingung) di emperan pinggir tangga naik depan pintu masuk. Akhirnya gue ngeliat seorang gadis kecil bertampang kucel: berkaos kotor, celana pendek dari celana panjang yang di potong sehingga tampak sliwir-sliwirnya, memakai topi dengan sebotol air minum di sampingnya sedang duduk tepat disamping tangga sedang menawarkan koran, majalah dan tabloid kepada orang-orang yang lewat di depannya. Karena dasarnya gue orang yang gampang mello atau apa, gue pas melihat dia berasa sedih terharu empati atau apalah namanya itu. Di saat masih jam sekolah kenapa dia malah jualan koran di sini. Dengan tampang kucelnya dia begitu bersemangat menjajakan koran dan majalahnya, pas hujan-hujan pulak. Pun dengan muka ramah, senyum dan kata terima kasih yang ceria bagi orang yang telah melariskan dagangannya itu.
Sumpah deh, gue waktu itu bener-bener salut ma dia. Gue melihatnya beda ma anak-anak jalanan lainnya (if I may called her like that) yang bisanya cuma bermodalkan tangan menengadah plus tampang sok melas di perempatan lampu merah atau malah para ibu-ibu bermodalkan gendhongan plus kerudung, even balita, dengan muka disusah-susahin yang beroperasi di keramaian-keramaian, kampus-kampus dan juga lampu merah-lampu merah. Dammit, gue lebih respect sama gadis kecil tadi itu. Dan mungkin gue bakal lebih ikhlas ngasihnya. Masalah ikhlas sih sebenernya tergantung niat. Entah yang di kasih itu gembel, anak fakir, yatim, atau siapapun kalo niatnya ngasih tanpa mikir macem-macem bakalan berasa enak ngasihnya. Bakalan berasa ikhlas. Tapi gue pribadi (gue yakin juga bagi kebanyakan orang) jika mau ngasih kepada orang-orang yang sebenarnya mereka mampu untuk menghasilkan tapi males untuk mengusahakannya hanya bermodalkan tampang yang disusah-susahin, bikin gue il-fil untuk ngasihnya. Gue lebih seneng ke Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa.
Sama seperti gadis kecil bertopi tadi, gue sungguh ingin bisa ngasih sesuatu kepadanya. Tapi yang gue lakuin di situ cuma bengong saja. Dan berasa bodoh sendiri. Apa yang bisa gue lakukan? Membeli korannya untuk ikut melariskannya? Tapi yang ada gue cuma mikir mulu. Dan dodolnya gue, pikiran gue terlalu muluk dan terkesan sok. Gue ingin bisa melakukan lebih, tidak hanya sekedar membeli dagangannya tapi sesuatu dalam jangka panjang sehingga dia tidak harus jualan koran dan bisa membuatnya jam-jam segini bisa berada di sekolahan. Lagi-lagi mikir. Konyol juga. Emang gue siapa? Emang dia siapa? Jangan sok deh. Jangan kejauhan mikirnya. Pikirin dulu diri gue. Beresin TA. Lulus. Dapet kerja. Dan bla bla bla bla…STOP!
Akhirnya gue hentikan pikiran-pikiran itu. Mencoba untuk realistis dengan keadaan saat itu. Dan gue pun mendekati gadis itu ingin mengobati beberapa rasa penasaran gue. Iseng-iseng gue bertanya tentang beberapa hal seperti:kok jam segini tidak berada di sekolah? Kelas berapa? Kalau tidak sekolah kenapa? Orang tua kerja apa? Di mana rumahnya? Dan bla bla bla… Akhirnya setelah bertanya-tanya sedikit, jawaban yang gue dapet sungguh diluar dugaan. Even, make me felt more mello. Ketika gue tanya kenapa jam segini tidak sekolah dia jawab sudah pulang, dipulangkan pagi. I got it. Kenapa jualan koran? Dia jawab buat bantu-bantu ibu. Ibunya cuma jual jajanan kecil di sekolah-sekolah. Apalagi saat itu ibunya lagi sakit tidak bisa jualan. How pity you are, little girl. Dan ini yang bikin gue shock, pas gue tanya tentang bapaknya, bapak kerja apa? Dia jawab bapak tidak kerja apa-apa. Kok tidak bekerja? Dia jawabnya tidak langsung, beberapa detik kemudian (dan mungkin mikir dulu mas ini resek amat nanya-nanya mulu), dengan berat dia jawab kalo bapak nya di penjara. Ooh my Godness, shit…sorry my dear. Gue tidak ngelanjutin nanya-nanya. Gue diam bentar. Dia pun juga diam. Selama gue nanya-nanya ini tidak pernah sekalipun dia melihat gue, takut mungkin sama mas-mas yang sok detektif ini. Pikiran gue bereaksi lagi. Itu bapak melakukan apa sehingga sampai dipenjara? Punya anak begini cantik manis pandai dan seharusnya masa depan baik kenapa bisa berbuat bodo yang pada akhirnya bisa menyebabkan masuk bui? Malah tambah bikin susah keadaan. Tapi itu cuma ada dalam pikiranku saja. Gue juga tidak mau nyalahin bapak itu. Bapak itu juga belum tentu salah. Dan gue ngelanjutin ke pertanyaan lain seperti kemana saja jualannya, dari mana dapet barang dagangannya, dari jam berapa sampai jam berapa jualannya, dst.
Huh ternyata emang –bisa dibilang- kompleks permasalahannya. Memerlukan banyak pihak terkait untuk mengatasi, at least to reduce, bukan aku saja yang sok ini. Dan lagi-lagi gue dodol cuma bengong lagi. Tapi saat itu gue bener-bener pengen berbuat sesuatu untuk dia dan sepertinya yang emang bisa gue lakukan cuma membeli salah satu dagangannya. Gue beli salah satu tabloidnya. Ternyata gue tidak punya uang pas dan dia ternyata juga tidak punya uang kembalian yang pas. Gue bilang “Ambil aja kembaliannya”. Tapi dia ngotot ingin ngasih uang kembaliannya, dia bilang “Sebentar mas saya carikan, ada kok”, sambil nyebar semua uang ke lantai yang ada di dompetnya trus dikumpulkannya beberapa lembar uang seribuan dan recehnya, dihitungnya satu per satu. Damn, sumpeh, tambah salut gue. Tapi ternyata tidak nyukup juga. Gue jongkok didepannya dan sekali lagi bilang “Sudah ambil saja kembaliannya tidak apa-apa”. Gadis itu pun terdiam. Kemudian melihatku (untuk pertama kali) sebentar dan bilang ”Terima kasih, mas” sambil senyum. Setelah itu gue berlalu dari dia trus pulang.
Sejak saat itu tiap kali gue ke Gramed ini dia masih saja ada disitu. Tidak selalu sih, tapi hampir bisa dipastikan sebagian besar. Dan kalo pas dia tahu aku datang dia selalu ngeliatin aku dengan ekspresi datar. Mungkin dia berpikir: “Bukankah ini mas-mas resek kurang kerjaan yang pernah interogasi aku dulu?” Mungkin. Seperti halnya kemaren, pas gue masuk dia kliatan di situ, masih dengan tampang kucel dengan beberapa eksemplar dagangannya dengan topinya dan sebotol air minum di sampingnya. Tapi setelah gue keluar pengen beli salah satu dagangannya dia sudah tidak kelihatan disitu. Mungkin sedang berkeliling terjun di jalanan menjajakan dangangannya.
*) Tulisan ini sungguh dibuat tidak ingin bermaksud sok merendah, sok meninggi, atau merendah untuk meninggi. Murni hanya sebuah cerita.
Thursday I’m Shouting: Life and Love
…You’re my sunshine you’re my rain
In and out my brain, runnin’ through my veins…
(Courtessy from The Hindu Times – Oasis, Heathen Chemistry: 2002)
Here’s a thought for every man
Who tries to understand what is in his hands
He walks along the open road of Love & Life surviving if he can
Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places that he never wished to say
Bound with all the weight of all the words he tried to say
and as faced the sun he cast no shadow
(Courtessy from Cast No Shadow-What’s The Story Morning Glory: 1995)
We the people fight for our existence
We don’t claim to be perfect but we’re free
We dream our dreams alone with no resistance
Faded like the stars we wish to be
(Courtessy from Little by Little – Oasis, Heathen Chemistry:2002)
Pict taken froem: picassa.google.com, frieze.com, millcovegallery.com
Dodol Basi
Dulu pas gue masih SD masih ada pelajaran PMP atau P4, makna demokrasi adalah sesuatu (dalam hal ini bentuk pemerintahan) dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Semoga sampai saat ini masih iya. Tapi secara umum, saat ini demokrasi lebih dekat kepada sesuatu yang bebas, kebebasan. Dan kata itu acap kali dijadikan suatu kunci “kebolehan”. Selepas reformasi sepuluh tahun lalu, kata itu juga semakin ampuh saja menjadi kunci “kebolehan” itu, dan semakin meluas saja tidak hanya dalam konteks politik, dan bahkan cenderung rediculous. Ketika ada sekelompok orang yang-katanya-beralmamater berteriak-teriak di jalanan sambil membakar apapun yang ada di depannya, nyebutnya demokrasi. Ketika ada beberapa orang komentar macem-macem di banyak media saling kritik saling tuduh tanpa ngasih solusi dan bisanya cuma ngedumel nggambleh melulu (mungkin salah satunya gue yang nulis ini di blog bodo ini), nyebutnya demokrasi. Dan yang paling deket dan gencar-gencarnya dengan pede jaya banyak orang berbondong-bondong mencalonkan diri jadi pemimpin di negeri ini dan wakil raklyat di negeri ini, nyebutnya juga demokrasi. Mereka beramai-ramai seperti mendapat ijin kebolehan untuk mengekspresikan nafsu, tidak peduli latar belakang dan rekam jejak mereka, keahlian skill mereka, terlebih lagi tanggung jawab dan amanah yang akan mereka emban kelak. Dan sepertinya hanya semakin membuat arti pemimpin (apalagi di tingkat negara) semakin menjadi basi saja, make no sense, bukan sebagai figur yang patut diteladani, dianut dan didukung lagi, even in the last: bakal dimaki, dihujat malah. Apa lagi dengan seabrek permasalahan di negeri Indonesia tercinta ini. Emang enak po?
Sudah pada tahu sendiri kan beberapa orang yang dengan pedenya bak seorang aktor dan aktris nampang keren dengan melambai-lambaikan tangan, senyum pepsodent, berpidato dengan suara seanggun mungkin di berbagai stasiun tv, media cetak dan billboard-billboard yang segaban dengan slogan masing-masing. Ada yang membawa nama perubahan, wong cilik, hati nurani, peduli rakyat kecil yang petani, there’s a will there’s a way dkk dan sepertinya hanya kata-kata manis yang utopis, abstrak. Mereka berlomba-lomba tampil semenarik mungkin seperti ikut dalam kontest reality show berebut pooling sms yang masuk. Ada yang kemaren baru saja kalah dari ‘persaingan’ ingin maju bertempur kembali. Ada yang merasa keturunan dari founding fathers sehingga hatinya berontak jika tidak ikut (lagi). Ada lagi yang sudah pernah menjabat kini pengen ngerasaain lagi, ngarep lagi. Kurang puwaass, bu? Ini lagi para artis ikut heboh. Ramai-ramai nyalon jadi pemimpin dan atau wakil (yang katanya) rakyat. Sudah yakin? Sudah siap? Jangan hanya merasa tertantang dan dengan pede jaya maju nyalon pengen membuktikan bahwa ‘gue’ juga bisa memainkan peran itu. Jangan main-main, ini bukan akting kayak di sinetron-sinetron kamu itu, this is real world. Mereka pun juga beralasan demokrasi. Mengaku sebagai anak daerah (hanya karena tiap lebaran pulang kampung -red) merasa terpanggil dan punya hak untuk berpartisi-sapi. Sure?
Yah meski tidak semua dari beliau-beliau yang nyalon seperti itu (syemoga), tapi jika itu adalah atas nama demokrasi maka semua itu menurut gue belum sesuai, I mean the truly meaning of democration, makna yang dipahami anak-anak SD itu. Dan jika ada yang nyalon karena bener-bener alesan demokrasi tapi niat dan caranya masih saja seperti yang sudah-sudah itu, maka menurut gue: dodol. Basi pulak. Eh, perasaan gue beberapa waktu yang lalu abis makan dodol, tapi tidak basi, enak malah. Di mana ya?
*) Tulisan ini murni pendapat pribadi yang sungguh amat sangat subjektif sekali yang disebabkan oleh penulis yang merasa geli dengan para bapak-bapak dan ibu-ibu yang pede jaya nampang keren di TV, media cetak dan billboard-billboard itu, plus fenomena artis yang ingin memerankan tokoh politisi, dan juga gara-gara dodol yang abis gue makan beberapa waktu yang lalu itu T_T. Terakhir, mari kita doakan supaya Dewi Persik segera bertobat. Amin.
Gambarmu
Kucoba ku cari lagi
beberapa gambarmu,
gambar-gambar kecil itu
saat kamu aku tersenyum,
tersenyum tersipu malu
Bersama
Ah, tak peduli…
gambar siapapun,
kamu sendiri atau bersamaku
yang penting ada kamu di situ
Biar bisa kulihat kamu lagi
Namun sudah kucari di mana-mana
tidak ketemu jua
Ternyata aku baru ingat,
beberapa sudah ku kembalikan padamu,
beberapa sudah kubuang
Arrgghhh…
…………………….!!!
Fuuh…
Boleh aku minta lagi?
Lost In Direction: Penting Ga Penting!
Setiap kali -especially untuk kali pertama dan lebih especially lagi buat para cewek- temen-temen gue maen ke kost-an, kesan pertama mereka adalah bahwa kamar gue rapi dan bersih. Hmmm, apakah persepsi mereka bahwa kamar laki-laki itu selalu harus yang acak-acakan, banyak barang-barang yang bertumpukan di sana-sini, gantung sana gantung sini, tempel sana tempel sini, banyak barang yang tidak pada tempat yang seharusnya dan bagai kapal pecah? Dan lebih parah lagi, bau!? I don’t think so. Dan kayaknya banyak laki-laki yang tidak setuju juga. Tapi emang bener banget mereka, kamar kost-an gue emang rapi dan bersih (uhuk uhuk…) karena pada dasarnya gue orangnya emang personifikasi dari dua sifat tadi, rapi dan bersih (narsis mode ON). Tapi betul kok. Sumpah. Bener, untuk urusan dua hal tersebut gue emang perfeksionis banget, tidak bisa kompromi.
Selain hal itu, yang membuat kamar gue selalu tampak rapi dan bersih adalah bahwa kamar gue itu tidak banyak perabotannya. Jadinya terlihat simpel, mudah dibersihkan mudah dirapiikan dan mudah dalam penataannya. Dulu hampir tiap bulan ganti posisi, ganti fengshui, tapi sekarang sudah mulai males. Di kamar itu cuma ada dua meja kecil, dua rak, dua matras tipis, satu karpet, satu lemari kecil, satu ember buat nampung baju kotor dan dua hiasan dinding bergambar mobil F1 (terima kasih sekali buat my big bro atas warisannya, especially the Ferrari one). Dan perabot-perabot itu berfungsi dengan efektif dan efisien sekali. Kalo masalah entertain juga sangat simpel, no computer bersama supporting equipment-nya sehingga banyak kabel-kabel yang bertebaran (salah satu peralatan yang membuat orang-orang kesulitan dalam hal penataan, pembersihan dan inovasi kamar), no colour TV, no aquarium, and no for the other of entertainment tools. Payah emang. Tidak juga. I had some reasons.
Dulu sempet pengen di kamar ada komputernya. Tapi setelah dipertimbangkan manfaat dan mudharatnya tidak jadi. Bagi gue fungsi computer cuma ada dua: kerja dan entertain. Dulu, kalau ada tugas-tugas biasa bisa nebeng di kamar temen atau pulang ke rumah, kan deket. Dan kalau dapat tugas berat bin urgent bisa nyulik laptop bokap di kantor T_T. Selesai sudah masalah fungsi computer pertama, gampang. Masalah entertain paling computer kan cuma buat nge-game, musik dan nonton. Alhamdulillah-nya gue bukan tipe orang yang game mania di komputer. Kalau sekali-sekali pengen nge-game, nebeng lagi di kamar temen, begitu pula dengan nonton (ini gue tulis buat Den Mas Danank, thanx bro tebengan komputernya). Dan masalah nonton sebenarnya gue lebih seneng nonton kalau pas pulang di rumah. Kalau pengen dengar musik sudah punya pemecahannya sendiri.
TV, dikamar tengah (baca:kamar bersama) dah ada tv warna cukup gede, tapi dah jadul. Sebenernya di kamar gue ada, tapi ukurannya cuma kecil, 6 inchi-nan. Warnanya juga cuma item ma putih. Dan itu lumayan kalo lagi pengen nonton sendirian tanpa gangguan ‘nyamuk-nyamuk’. Lagian tv yang gue tonton seringnya cuma berita-berita yang kadang malah kayak dengerin radio saja. Kecuali pas ada bola tengah malem plus –dulu- kartun Avatar Aang di pagi hari atau tiba-tiba ada Luna Maya and Marsha Timothy nongol, gue harus pasang mata seriously mpe merah-merah. Mungkin gara-gara itu gue paling suka sama wortel with its beta carotheine. Loh…
Soal aquarium sebenarnya juga sempat pengen. Tapi dulu pernah punya pengalaman ada aquarium, waktu masih satu kamar sama kakak gue. Waktu kami mudik, lha ternyata ikannya mati tidak ada yang ngurusi. Kasian. Maka dari itu keinginan untuk melihara ikan tidak menjadi kenyataan. Soalnya gue orangnya juga tidak jelas, kadang-kadang ngilang dari kost-an untuk jangka waktu yang relatif cukup lama. Lha kalo jadi memelihara ikan trus gue tiba-tiba ngilang dan ikannya loncat keluar trus tiba-tiba ga bisa balik ke aquarium sendiri lagi (baca aja tidak ada yang ngurus trus mati, repot amat) gimana? Bisa-bisa gue bisa dicap orang tidak ber-peri-kehewanan dan dikecam oleh LSM Pecinta Binatang atau KOMNASHAN –Komite Nasional Hak Asasi Hewan (ho oh to, Fan? Piss, yak!).
Itulah sebabnya kamar gue tidak ada benda-benda itu, benda-benda yang biasanya ada di kamar anak kost-an, especially here, in Wandali, in Klebengan, in Jogja. Tapi jangan salah kalau di kamar gue tidak ada entertainment tools sama sekali. At least, enterteinment tools menurut standar gue lah. Dikamar gue ada sebuah radio-tape jadul (lagi-lagi peninggalan kakak gue), mp4 plus Simbadda-nya. It’s enough for me. Apalagi pas gue had Insomnus. They’re very usefull at that moment. Dan karena gue hobi baca ada juga beberapa Sherlock Homes-nya Conan Doyle (my fave one), ada juga Divortiare-nya Ika Natasha (the good one), Filosofi Kopi-nya Dee (the nice one), buku-buku religi (yang sebagian belum selese-selese bacanya) dan masih banyak lagi. Ada juga tumpukan majalah, tabloid dan koran bekas yang menggunung yang sudah siap di-kilo-kan tapi masih saja kadang-kadang gue bolak-balik lagi (ga tahu maksud dan tujuannya apa, aneh, nyari gambar-gambar Luna Maya plus Marsha Timothy kalee ^_^).
Tapi yang paling gue suka diantara semuanya, terutama pas gue butuh pelarian disaat-saat bete dan tidak mau diganggu, adalah sebuah buku permainan sudoku dan sebuah rubic. Is everyone knows both of them? Yup, sudoku adalah permainan yang berasal dari negerinya Detektif Conan, Doraemon, Kotaro Minami dan Soichiro Honda (Miyabi juga, kan? Upss…). Tuh permainan berisi gambar satu kotak gedhe, dalam kotak gedhe tersebut ada lagi sembilan kotak sedengan, di dalam kotak sedengan ada lagi sembilan kotak kecil. Jadi di sisi kotak gedhe itu ada 9 kotak kecil (keseluruhan ada 81 kotak kecil, 9 kumpulan kotak kecil berjajar vertikal dan 9 kumpulan kotak kecil berjajar horisontal). Satu kotak kecil diisi satu angka. Dan cara mainnya dengan ngisi angka 1 sampe 9 dalam 1 kotak sedengan sekaligus dalam 9 kumpulan kotak-kotak kecil yang vertikal dan horisontal, dan tidak boleh ada angka yang dobel dalam satu kotak sedengan dan 9 kumpulan kotak kecil yang vertikal maupun yang horisontal itu (mudeng ra, to?). Tapi gue punyanya cuma yang masih tingkat dasar aja, tu aja masih banyak yang belum beres alias belum komplet alias belum berhasil.
Sedangkan rubic pastinya juga dah pada tahu. Yup, adalah sebuah puzzle kubus yang sisi-sisi nya berwana-warni itu. Yang cara mainnya harus bisa membuat keenam sisinya utuh bewarna satu warna doang. Dan ini juga cuma bisa ngompletin dua sisi aja, belum sampe enam sisi. Fuuhh…
Yah itulah benda-benda in my lovely, ceileh, hoek hoek uhuk uhuk. Benda-benda yang simpel, gampang ditata dan di rapiin. Tidak banyak dan tidak heran jika kamar gue terkesan rapi dan bersih (kadang kalau bosen terkesan garing). Tapi, walaupun simpel dan tidak banyak benda-benda ‘heboh’, kalau tidak ada orang yang (me) rapi (kan) dan (me) rajin (kan) tetep aja juga tidak akan rapi dan rajin, dan bersih. Teuteup…
*) Ini sebenarnya pengen nulis tentang rubic, my life my rubic, tapi karena kepanjangan akhirnya canceled dah (maybe next time). Maka dari itu pula kenapa titelnya Lost Direction. Jane penting ra sih? T_T
**) Bila ada kesamaan nama, tokoh, tempat dan peristiwa adalah memang disengaja dan begitu benarnya. Kalau mau ada yang complain silaken. Please.
Thursday I’m Shouting: Me and You
Your sorry eyes; they cut through bone
They make it hard to leave you alone
Leave you here wearing your wounds
Waving your guns at somebody new
Baby I’m lost
Baby I’m lost
Baby I’m a lost cause
There’s too many people you used to know
They see you coming they see you go
They know your secrets and you know theirs
This town is crazy; nobody cares
Baby I’m lost
Baby I’m lost
Baby I’m a lost cause
I’m tired of fighting
I’m tired of fighting
Fighting for a lost cause
There’s a place where you are going
You ain’t never been before
No one left to watch your back now
No one standing at your door
That’s what you thought love was for
Baby I’m lost
Baby I’m lost
Baby I’m a lost cause
I’m tired of fighting
I’m tired of fighting
Fighting for a lost cause
Beck – Lost Cause : Sea Change, 2002
So lately, I’ve been wonderin
Who will be there to take my place
When I’m gone, you’ll need love
To light the shadows on your face
If a great wave should fall
It would fall upon us all
And between the sand and stone
Could you make it on your own
If I could, then I would
I’ll go wherever you will go
Way up high or down low
I’ll go wherever you will go
And maybe, I’ll find out
The way to make it back someday
To watch you, to guide you
Through the darkest of your days
If a great wave should fall
It would fall upon us all
Well I hope there’s someone out there
Who can bring me back to you
Runaway with my heart
Runaway with my hope
Runaway with my love
I know now, just quite how
My life and love might still go on
In your heart and your mind
I’ll stay with you for all of time
If I could turn back time
I’ll go wherever you will go
If I could make you mine
I’ll go wherever you will go
The Calling – Wherever You Will Go: Camino Palmero, 2001
Mungkin hanya jiwa yang tak terjaga jua
dalam doa
hingga khilaf menyentuh terasa bergetar
ku berlalu
Saat terasa waktu tlah hilang
ku terdiam oh
Saat hanya gundah yang bertentangan
ku bernyanyi
Cinta, cita, harapan
dan ku terbawa dalam kisah yang lama
Cinta, cita, harapan
dan ku terbawa dalam kisah lama
Amarah yang tak terucapkan jua
tak terungkap
Walau diri tlah terbelenggu hasrat
yang bernyanyi
Jingga – Tentang Aku : Tentang Aku, 1996
*) Courtessy Pict taken from: freefoto.com & sister-cities.com
Should be Off The Record
Pertama kali denger rekaman detik-detik terakhir percakapan pilot dan co-pilot Adam Air sempet merinding juga. Sumpah, bener. Apalagi pas kata-kata terakhir “Allahu akbar…Allahu akbar!” kemudian boom!!! Kresek kresekk… Gimana ya perasaannya anggota, kerabat dekat korban jika mendengarnya? So sorry. Mending ga usah dengerin saja. Dengar pertama kali pas di acara breaking news salah satu stasiun tv swasta. Bahkan pembawa acara-nya pun (mbak-mbak –red) sempat speechless pas ngomentari percakapan tersebut. Kelihatan sekali mbak itu. Sehari setelahnya pun salah satu radio swasta di Jogja muter adegan percakapan itu (gue yakin se yakin-yakin nya dapet dari internet, emang internet jaman sekarang ini, apa yang enggak coba?). Dan setelahnya, kebanjiran request untuk diputer lagi. Bukannya muter lagu malah muter adegan itu? Wew… Aneh radio itu, padahal tu radio berasal dari salah satu PT –perguruan tinggi- terbaik di negeri ini yang notabene seharusnya tahu lah baik dan buruknya muter tuh adegan. Radio-radio lainnya gue ga denger ikut heboh-heboh dengan adegan itu. Sebagai radiokers (sombong nemen) gue yakin cuma radio satu itu yang heboh dengan masalah itu di Jogja.
Sebenernya pertama kali mau dengar adegan percakapan itu excited juga, tapi setelah mendengarnya sempat mikir juga gue. What the hell, dari mana bisa dapat rekaman itu? Siapa yang pertama ngedarinnya? Kok bisa? Apa tujuannya? Asli apa nggak rekamannya? Bener apa rekayasa? Om Roy, dimana dirimu? Piye menurut Om?
Secara logika yang bisa ngrekam tuh percakapan berarti dari sesuatu yang ada di dalam pesawat itu yang ikut mengalami kecelakaan itu pula. Dan yang bisa melakukan itu pastinya adalah si blackbox. Kotak hitam pesawat itu, yang merekam segala sesuatu kejadian dalam tuh pesawat. Dan kalau benar berasal dari kotak hitam, pertanyaannya, kok bisa? Bukankah rekaman-rekaman asli dalam blackbox adalah bersifat rahasia (Aturan Konvensi Chicago; Tempo –red). Dan barang siapa yang mengedarkannya berarti melanggar kerahasiaan itu, melanggar aturan dan tanggung jawab organisasi penerbangan sipil dunia itu. Blackbox itu, maksud gue, yang berwenang dengan blackbox itu kan KNKT, jikalau benar lagi berasal dari blackbox, berarti ada orang dalam (maaf, bukan bermaksud su’udzon) yang terlibat. Dan ‘orang’ itu pasti ingin pamer, bangga bisa mengedarkan detik-detik terakhir percakapan dalam kecelakaan ‘terhebat’ dalam sejarah Indonesia. Atau bangga dengan semakin buruknya citra penerbangan Indonesia. Apalagi belum lama ini kan ‘lisensi’ larangan terbang maskapai Indonesia ke Uni Eropa diperpanjang. Baguuss, kapokmu kapan! Dan jika berasal dari orang luar. Berarti ada yang salah dengan sistem, dengan hierarki, dengan penanganan, tata kelola dan pemeliharaan dalam manajemen lembaga tersebut. Mungkin oleh sebab itu lah KNKT dan Dephub ramai-ramai menentang peredaran adegan percakapan itu dan mengatakan percakapan itu palsu.
Tapi bagi gue, terlepas percakapan itu palsu ataukah asli, wether the KNKT or Dephub yang salah dan bermasalah (it’s seems like that, isn’t it?), orang yang sengaja mengedarkannya seharusnya ingat dengan orang-orang anggota, kerabat dekat korban kecelakaan tersebut. Orang-orang yang sedang berjuang melupakan –lebih tepatnya mengikhlaskan- tragedi itu? Gue yang bukan kerabat dekat aja sudah merinding plus aneh ngeri ngebayanginnya. Apalagi anggota dan kerabat dekat yang ngedengerinnya. Bagi orang yang terlibat dalam peredaran itu, ini adalah ‘adegan’ duka cita, dab. Bukan seperti adegan percakapan si Ratu Suap dengan pejabat-pejabat gedung bundar, si Urip, bukan adegan si Amin kepergok ngluyur tengah malem, bukan pula seperti adegan si YZ dengan Eva, yang disebar kema-mana. Bukan.
Lagi dan lagi
Ketika aku harus kembali
dan mengobati
kenapa itu selalu kamu?
Lagi, lagi dan lagi…





