dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Archive for September 2008

Sayonara, Ramadhan…

with 5 comments

“…berpuasa akan jauh lebih baik bagimu kalau kamu sekalian mengetahui” (QS: 2:184)

 

Ramadhan, what’s the most favourite things in Ramadhan for you? Setiap kali Ramadhan kebanyakan yang paling ditunggu-tunggu adalah akhirnya –its end, yaitu nunggu-nunggu lebaran-nya; gathering with (big) family, liburan –rehat sejenak dari rutinitas, mudik, bisa ngumpul-ngumpul dengan teman, sahabat, orang-orang tersayang –terutama yang sudah berjauhan dengan kita- dengan bejibun makanan di suatu tempat, terima parcel, bagi anak-anak bisa menerima angpau, dan lain sebagainya. Itulah yang (pernah)  saia rasakan.

Tapi seandainya gue adalah orang yang permohonannya selalu dikabulkan oleh Gusti Alloh (tapi sayang sekali tidak selalu begitu), maka gue akan memohon dalam setahun agar di buat 12 bulan Ramadhan penuh –tanpa henti, seandainya. Karena, kebanyakan dari kita selepas Ramadhan nyadar atau tidak nyadar kita kembali ke habit semula sebagai seorang ‘manusia biasa’ yang di bulan Ramadhan sebenarnya sudah bisa ‘naik kelas’. Kita gampang lose control lagi, mudah emosian, tidak sabaran, pola keseharian kita jadi tidak teratur lagi. Tapi sekali lagi tidak semua orang, hanya sebagian besar orang, termasuk gue ini. Makanya gue minta permohonan di atas (???).

Coba kita lihat lagi, kebayang rasanya setelah seharian nahan lapar dan haus kemudian setelah maghrib tiba kita minum seteguk air? Begitu nikmatnya. Malam-malam bisa sholat tarawih bareng. Dari sore buka sampe tiba saatnya sahur, terlihat begitu teraturnya pola makan kita. Begitu juga pola keseharian kita. Karena segala sesuatunya terlihat seperti telah ‘diatur’ dengan jatah waktunya sendiri-sendiri yang bisa membuat kita mengkontrol diri kita dengan baik, ‘sesuai waktunya’. Kemudian ketika ingin marah-marah kita ingat kita sedang berpuasa, lalu tidak jadi marah. Ketika kita sedang di suatu jalan melihat cewek dengan body yang bohay, langsung seketika kita mengalihkan pandangan. Ketika yang biasanya cuek-cuek lalu sedikit saja melihat orang sedang butuh bantuan kita tiba-tiba saja terenyuh untuk membantunya –entah terlaksana atau tidak, tapi sudah ada niat dalam hati- dengan mengharap pahala di bulan penuh berkah ini. Ketika di jalanan ada orang yang berkendara dengan seudelnya sendiri dan hampir menabrak kita, kita tidak langsung uring-uringan kepadanya. Sang perokok pun bisa berlatih dengan mudah untuk berhenti. Dengan berpuasa kita serasa didisiplinkan terhadap perilaku kita. Bukankah itu membuat kita menjadi terasa lebih berkualitas?

Mungkin permintaan gue tadi terlalu mengada-ada –sounds stupid, rite? Dan gue yakin Allah SWT lebih tahu daripada umat-Nya yang sok ini. Tapi itu ‘kan cuma perumpamaan saja. Well, gini, dalam sebulan penuh Ramadhan itu sebenernya kita digembleng untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, untuk bisa lebih kuat dalam menghadapi sebelas bulan lainnya. Dan boleh dibilang dalam sebulan sebenernya cukup dalam mengubah kita dari ‘ulat’ menjadi ‘kupu-kupu’ untuk dapat terbang menghadapi alam liar dalam sebelas bulan lainnya. Tapi persoalannya adalah kontrol diri, disiplin diri yang sudah dilatih di bulan Ramadhan itu mudah jebol seketika saat harus dihadapkan lagi dengan habit –kebiasaan lingkungan sekitar kita, lingkungan sosial kita (yang tidak Ramadhan lagi). Kita mungkin masih terbawa (mencoba mempertahankan) sikap kendali diri kita yang kita peroleh di bulan Ramadhan, tapi ketika lingkungan sudah tidak Ramadhanis lagi dengan mudah kita akan terbawa arus lingkungan itu. Dan kita seakan mendapat ‘tiket izin’ untuk melakukan segala sesuatunya yang sebenarnya tidak benar untuk dilakukan menjadi benar. Misalkan saja (bagi para cowok, dan kadang saia sendiri) ketika lagi nongkrong bersama teman-teman di mall lalu ada cewek cuakep plus body buohay berbaju minim lewat di depan kita, maka kita melototinya dan bahkan mungkin bersiul, menggodanya. Oke, pada saat pertama lihat gak apa-apa lah, naluri, insting (berkah malah kan?), tapi selanjutnya jika terus-terusan melototi dan bahkan sampai menggodanya sebenarnya kita sadar apa yang kita lakukan itu (jangan bilang naluri lagi, disini pikiran akal sehat kita sudah turut serta). Kita pure sadar terhadap keputusan atas pilihan yang kita lakukan saat itu: terus memandanginya atau segera mengalihkan pandangan. Tapi disitu kita justru mencari pembenaran –mubadzir lah, naluri lah, siapa suruh pake baju minim?, dan yang paling parah mungkin: ‘kan sudah tidak Ramadhan lagi- atas apa kesalahan yang telah kita lakukan itu menjadi hal yang benar meskipun sudah jelas-jelas tidak benar. Nha, disinilah sebenarnya puasa –apalagi bulan Ramadhan (suasana dan lingkunannya :red) berperan. Kita mendapat rem untuk itu dan menghapus segala pembenaran itu.

Itu tadi hanya secuil kejadian saja, masih buanyak kejadian-kejadian yang serupa yang sebenarnya bisa membuat kita terjerumus turun kelas lagi selepas Ramadhan, tidak lagi menjadi ‘kupu-kupu’ seperti diatas.

Dan sekarang suasana Ramadhan telah berangsur menyusut diganti suasana lebaran yang semakin dekat. Masjid-masjid shof-nya sudah semakin maju saja, antrian kasir di mall-mall dan tempat-tempat perbelanjaan menjadi semakin panjang. Terminal bus dan stasiun KA menjadi penuh-sesak.

D**n it (sensor, masih puasa :red), kenapa ini saia malah ber-ustadz wanna be ya? Sok ceramah, sok tahu, sok alim dan sok suci. Tidak. Tidak. Justru sebaliknya, saia adalah orang yang tak tahu diri yang memerlukan gemblengan lebih lanjut, yang merindukan suasana Ramadhan, yang agak tidak rela karena Ramadhan akan segera pergi diantar gema takbir.

Well, semoga semangat bulan Ramadhan akan selalu ada untuk menghadapi bulan-bulan berikut hingga kita (kalau diijinkan) bertemu Ramadhan berikutnya. Amin.  Selamat menyambut datangnya hari Raya Idul Fitri.

 

*) Sebelumnya mohon maap lahir batin ya buat bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang implisitly sering saia sanjung-sanjung di blog ini. Buat yang mudik selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang lagi. Have a good time….

Minal aidzin wal faidzin….

Written by dian diam

September 27, 2008 at 3:50 am

Buka Puasa Kemaren

with 4 comments

Buka puasa kemaren, langsung disuguhi oleh salah satu stasiun tv dengan tontonan ulah dedengkot FPI. Lagi. Dan lagi. Untung saja gue lihatnya pas sudah lewat waktu buka. Kalau tidak bisa-bisa ibadah puasa gue kemaren tidak bisa sempurna (cyeh, sok!). Bikin gue hampir mengumpat sumpah serapah. Entah kenapa… Tuh orang-orang dari dulu tidak ada kerjaan apa ya selain mukulin orang dan ngrusakin apa-apa? Yang ini, di bulan puasa pulak. Siang bolong pulak. Apa salahnya membuka warung makan di siang bolong? Kan penduduk di Indonesia tercintah ini bukan hanya muslim saja. Toleransi sedikit kenapa? Mereka kan juga sedang mencari nafkah. Apakah mereka khawatir akan mempengaruhi dan (sehingga) bisa membuat sesama muslim yang –maaf- kurang mengerti ibadah puasa dan tidak bisa mnjalankan ibadah puasa dan kemudian makan di warung itu (dengan sembunyi-sembunyi dan perlu digeropyok)? Jika begitu persoalannya maka apakah dengan memukuli dan merusak warung makan itu menjadi solusinya? Harusnya mereka bisa berbuat yang lebih baik lagi yang lebih bermanfaat dan menimbulkan kesan bahwa Islam itu benar-benar “rahmatan lil ’alamin” sehingga orang-orang yang –maaf- kurang mengerti tentang ibadah puasa itu tadi bisa termotivasi dan semangat untuk melakukan ibadah puasa dengan benar. Tidak dengan perusakan yang mereka lakukan itu. Bukankah itu hanya akan membuat nama baik Islam tercemar, dengan kekerasan yang mereka lakukan itu? Apa begitu caranya membela Islam?

Terus, mukulin orang gara-gara diacungin jari tengah oleh seseorang dari kelompok tertentu? Kalau mereka bener-bener ‘ngaku Islam’ harusnya mereka bisa nahan diri, apalagi di bulan puasa gini. Bukankah hakikat puasa adalah kontrol diri? Pengendalian diri? Jika hanya dengan diacungin jari tengah kemudian mereka malah balas mukulin bukankah mereka lebih b*******k (tiit, sensor, lagi puasa :red) dari yang ngacungin jari tengah itu? Apa begitu caranya membela Islam?

Ah sudahlah, kalau gue terusin membahas mereka, takut menganggu ibadah puasa gue (sok khusyuk lagi!). Dan pastinyah gue yakin sudah banyak blog dan media lainnya yang mambahas masalah ini, si FPI (Front Pencemar Islam??? Eh…?????) ini.

Written by dian diam

September 26, 2008 at 4:01 am

Reunion?

with 5 comments

Ada beberapa orang pernah bilang kepada saia: kadang bertemu kawan lama bisa membangkitkan semangat kita yang suka seenaknya sendiri naik turun itu. Saia tambahkan sedikit catatan: disini kata yang digunakan adalah benar ‘kawan’, bukan ‘orang’, meski kawan itu adalah orang juga (yak sodara-sodara mohon dimaapkan kalau membingungkan). Jadi kawan lama, bukannya orang lama. See? Satu lagi catatan: kawan lama itu juga yang jarang berkomunikasi dengan kita, kalau bisa. Dan saia setuju sekaligus mempercayainya, karena saia telah mengalami dan membuktikannya sendiri. Here’s the story:

Beberapa waktu yang lalu –sudah masuk di bulan Ramadhan, saia secara tak sengaja bertemu dengan teman lama, teman SMA dulu. Siang itu saia pergi ke kantor Pos di kota kecil saia tinggal, of course just to sent applications for some jobs (oh God, when will i stop doing this?). Tiba-tiba di pintu masuk berpapasan dengan wajah yang tak asing, wajah yang saia kenal, tetapi telah mengendap dalam ingatan saia, dan saia berusaha mencoba untuk menggalinya, mencocokkan wajah itu dengan sebuah nama di suatu masa. Saia yakin dia juga begitu kepadaku. Tapi usaha saia percuma saja dan yang keluar dari mulut saia adalah: Hai! Apa kabar? Sama siapa? (tiga pertanyaan pertama berusaha untuk mengakrabkan, maklum setelah lama tidak bertemu tentunya agak sedikit ‘canggung’, cewek pulak, tambah cantik pulak dia) Sedang apa? Mau ngapain? (adalah two questions that sounds stupid sodara-sodara, I think), dan akhirnya pertanyaan paling bodoh dan memalukan (terpaksa) keluar juga: ”Eh, siapa ya? Kok aku lupa.” Jegerrr…

Well, pertama cuma seorang saja, dan tujuannya ke tempat ini sama denganku. Ketemu. Kaget-kagetan (bisa dibayangin sendiri kan suasananya?). Terus ngobrol. Baru beberapa menit ngobrol, datanglah seorang lagi. Loh loh loh, lalu saia tanya teman saia itu: ”Janjian reunian nih, gak ada tempat yang lebih baik selain di kantor Pos apa?” Tapi itu tentunya cuma candaan saja. Dan saia juga yakin itu juga cuma kebetulan saja. Dan dia pun bergabung dengan kami yang sudah duluan ketemu. Pun tujuan dia ke tempat ini juga masih sama dengan saia. Dalam obrolan yang ber-threesome itu, salah satu ada yang bilang that one of our friends is a jobholder in this place. Dua dari kami yang tidak tahu tentu saja kaget. Dan yang lebih mengagetkan kami lagi, dia –si teman kami yang dia bilang itu, si jobholder itu- tiba-tiba muncul dibelakang kami. Tralala… Tapi si jobholder itu tidak bisa lama-lama ikut ber-reunion di kantor Pos itu, maklum she must did her job. It’s just almost took an hour for the conversation, for me. Karena ada yang harus saia kerjakan saia balik duluan, sementara mereka masih ber-reunion sendirian di tempat itu.

Suatu cerita yang terlihat biasa sekali bukan? Bukan suatu hal yang penting (apalagi buat di posting). Dan itu bisa terjadi pada setiap orang. Tapi yang jelas bagi saia, perasaan saat saia berangkat dan keluar dari tempat itu sangat berbeda, perasaan yang saia rasakan has changed one hundreed and eighty degrees! Apalagi saat itu kondisi dan semangat saia lagi gak banget deh (mencoba berbahasa sok gaul ni) dan peristiwa itu sedikit banyak membantu memperbaikinya. Perasaan (yang tiba-tiba) baru sebagai penyela ‘kebosanan’ sebagai akibat rutinitas kita dengan suasana yang mana kita pernah mengalaminya di suatu masa dulu mungkin yang menjadi penyebabnya. Makanya perkataan beberapa orang diatas saia setuju-setuju saja, so far.

Tapi cerita tidak berhenti disitu. Sudah jadi rahasia umum setiap kali bulan Ramadhan sudah pastinya dikenal apa yang namanya ngabuburit, bukber, bubar, ato apalah itu namanya. Beberapa hari setelah peristiwa di kantor Pos itu, temen-temen geng waktu kuliah ngajak saia ngadaain acara bukber itu. Dan pastinyah itu membuat saia jadi tambah semangat jugak. Meski satu dua diantara mereka saia kadang masih ketemu, tapi kebanyakan sudah tidak lama bertemu setelah kami lulus. Acara yang diadakan di salah satu rumah makan di Yogya itu dan dilanjut ke tempat kost-an saia (lagi-lagi kost-an saia, tidak ada tempat lain apa? Heran…) lagi-lagi cukup untuk membuktikan kebenaran kata-kata diatas tadi.

Dan sudah jadi rahasia umum pulak bahwa setiap menjelang Ramadhan berakhir, masjid-masjid semakin sepi dan mall-mall, pasar, tempat perbelanjaan ataupun terminal, stasiun, bandara dan temen-temennya yang malah semakin ramai. It means, mudik is come in, yeah mudik telah tiba, mudik telah tiba, mudik telah tiba (jangan dibaca kayak Sherina lagi nyanyi, dah gak pantes, Sherina sudah tumbuh gedhe). Hubungannya dengan kata-kata diatas? Gini, tidak lama setelah acara bukber itu, saia lagi-lagi mendapat ajakan untuk megadakan bukber lagi. Kali ini oleh sahabat lama saia, a friend that has accompanied me for the last ten years, yang telah merantau. Kami berencana mengumpulkan teman-teman ‘sepermainan’ dulu untuk bukber. Dan itu belum terlaksana pun sudah membuat saia excited. Dari dua peristiwa diatas, honestly this is the great one for me, though it’s not happen yet. So, is it gonna work out? I hope. Ben iso mbuktekke meneh ukara-ukara neng dhuwur kui bener. Bagaimana dengan anda? Ada yang pernah mengalami seperti saia?

Written by dian diam

September 24, 2008 at 6:11 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

Black Flag

with 4 comments

Turut berduka cita untuk Ronny Patinasarany. Sebelumnya turut berduka untuk dua orang korban miras (hmm semoga diampuni dosa-dosanya, dan bisa masuk surga). Sebelumnya lagi turut berduka untuk 21 korban terinjak-injak dalam pembagian zakat di Pasuruan. Sebelumnya lagi turut berduka atas tenggelamnya 6 anak akibat kasus tawuran yang dipicu oleh ribut-ribut mercon di Pamulang. Sebelumnya lagi turut berduka atas meninggalnya 16 orang akibat miras di Cirebon. Sebelumnya lagi turut berduka atas 10 korban dari si banci penjagal. Turut berduka untuk para korban banjir di Gorontalo, Pekanbaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Dan terakhir turut berduka buat Indonesia tercinta yang belum selesai-selesai dirundung masalah. Ujian Ramadhan tahun ini kah? Semoga selepas Ramadhan semua bisa menjadi lebih baik lagi, buat kita, buat, mereka, dan terutama buat Indonesia. Amin…

 

*) Ada tiga definisi Amin disini: Pertama, amin yang benar-benar sangat berharap penuh keikhlasan; Kedua, amin yang skeptis, karena itu suatu hal sangat sulit untuk termujud: dan yang Ketiga, amin anaknya Pak Amat yang sedang mengembala ternak.

 

**) Selamat jalan untuk eyang putri, jalan baru telah kau tempuh, semoga selamat sampai tujuan. 6 Ramadhan 1429 H.

Written by dian diam

September 20, 2008 at 9:18 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

The Shock of The Lightning

with one comment

Well, finally I could listen the most awaited song in the last an half years, after I heard the news that they will release their newest album in Oct 6th, 2008. D’you know them? Uhmm, their song always be my anthem. Oasis. Yeah, The Shock of The Lightning –their first single in their newest album: Dig Out Your Soul, finally play in some radios. But actually, the song itself will be released in Sept 29th, 2008. The first time I listened the song was two days ago, on the radio. And straightly I got the mp3 yesterday. Hehehe…and play it over and over.

The song is so beat up, very powerfull with the high reached voice of Liam Gallagher. Started with the thundering of drum, and then quickly the sweeping guitar of Noel fill the high speed of the song. Very Oasis-ly, very brit-rock, reminds us to their new appearance along time ago. Two thumbs up, Great song (sekali lagi, hormat bungkuk buat mereka)! Oh, can’t wait for the Oct 6th.

-

The Shock of The Lightning lyrics:

-

I’m all over my heart’s desire,

I feel cold but I’m back in the fire,

Out of control but I’m tied up tight,

Come in, come out tonight..

-

Comin’ up in the early morning,

I feel love in the shock of the lightning,

I fall into the blinding light,

Come in, come out, come in, come out tonight..

-

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

It’s all in my mind,

Love is a litany,

A magical mystery,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..

-

I got my feet on the street but I can’t stop flyin’,

My head is in the clouds but at least I’m tryin’,

I’m out of control but I’m tied up tight,

Come in, come out tonight..

-

There’s a hole in the ground into which I’m fallin’,

So God’s speed to the sound of the poundin’,

I’m all into the blinding light,

Come in, come out, come in, come out tonight..

-

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

It’s all in my mind,

Love is a litany,

A magical mystery,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..

-

It’s all in my mind,

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..”

-

*) Watch the Video:

Written by dian diam

September 12, 2008 at 3:36 am

Chapter One

without comments

This time is useless, these conditions aren’t kind to us

The days have come and gone

Raise and drown our hopes but so fast

And I’m still here standing on the Promised Land,

the place where we used to starts to laughed at 17

watching you there in the Noman’s Land

act as a ‘dramaqueen’, too far away but so close

I faintly saw your laugh were fading out

Heard so many thunder of your weeping

Felt the rains of your tears

Haunted by your fears

I’ve given a lot of thoughts to the conversation last night

And those message you wrote me I keep them all

I read it over and over in every single part,

with your ‘P.S. I Love You’ in its every bottom line

you talked about all of your role, even until your mom and dad

And I’ll give a lot of thoughts how to write you back

In every single letter in every single word

But, are you gonna be OK if I don’t know what to say?

Will you sleep well tonight if I come too late?

I know you just pretend its all OK with your white pills

Me either, just pretend that there’ll be someone will take care of you more

But both of you and I just keep walking on this dark cave alone

Deeper and deeper

But I know it will end

We know it gettin’ closer but still so far

And we know it should be like the part of our favourite movie

When the boy and the girl walk hand in hand

When the girl grabs the the boy and reach his hand

And says: “Take me away from this pain, our new life’s waiting to begin”

Written by dian diam

September 9, 2008 at 7:44 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

Mr. Brightside

with 3 comments

A few years ago, I still could be a Mr. Brightside. No matter happened, although here was a f*cking long dark cave in front of me, I faced it all. But now, it’s something very hard to do.

Health? It’s easier getting worst today.

Mind? ….barely thinking.

Job? None.

Income? Absolute zero.

Girlfriend? None for the last 1,5 years.

Her? I lost in the past stories.

Friends? One by one getting far away from me.

Oh great!

Where’s the story morning glory that I used to have? Where did the Mr. Brightside vanish? Will somebody turn the lights on and then the Mr. Brightside shines on again?

I ain’t claim to be perfect. I ain’t claim the headlight. Just give me a chance or bring me a reason. It’s enough to be a star of which can guide me to the Mr. Brightside. That’s it.

Written by dian diam

September 6, 2008 at 8:50 am

Posted in setorie

Tagged with