dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Archive for October 2008

Kau Datang Kembali? Woohoo…

with 6 comments

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu sekarang ini –banyak yang bilang pengaruh pemanasan global, sepertinya hujan sudah mulai mendatangi daerah ku, itu pertanda musimmu perlahan menyapa. (Beberapa daerah laen mungkin sudah duluan, mungkin juga ada yang belum).

Setelah lama pergi kamu mulai hadir lagi, pertama kali kamu menyapa sebetulnya sudah agak lama –selepas lebaran kemarin, tapi sepertinya kamu masih malu-malu karena setelah itu kamu tidak menyapa cukup lama. Jika pun iya, cuma sebentar saja. Itu pun kamu juga cuma mengintip saja. Dan tak kusangka tiga hari terakhir kamu selalu hadir terus tidak pernah absen. Dan entah kenapa kali ini aku berharap setalah ini kamu tidak malu-malu lagi untuk menyapa.

Eh, masih ingat pertama kali kamu hadir? Yang sangat tiba-tiba itu. Kamu tiba-tiba hadir dengan diantar oleh deru angin, kilatan cahaya yang bertautan dan suara yang bergemuruh di sore itu. Sial, harusnya sore itu bisa kunikmati senja yang biasanya merekah memerah, tapi tak bisa karena tiba-tiba sore itu berubah menghitam, menyambut kehadiranmu itu. Kenapa harus tiba-tiba?

Dan tiga hari terakhir tak bisa kulihat, tak bisa kunikmati senja yang biasanya selalu telanjang yang berkulit jingga itu –sungguh indah sebenarnya, karena senja sekarang selalu berselimut mendung. Hitam. Tapi tak apalah, karena dengan itu musimmu telah datang, dan aku suka kamu. Sungguh. Hmm, sebenarnya sejak dulu aku lebih menyukamu daripada dia yang menggerahkan itu. Entahlah. Masih belum terdefinisikan dengan jelas mengapa saya suka kamu daripada dia, memang kadang perasaan tak bisa didukung dengan premis-premis logika. Jadi jangan tanya! Tapi pada dasarnya aku emang suka unsur-unsur dan senyawamu. Dan aku butuh itu. Air.

Tapi aku masih punya keraguan denganmu. Are you coming back now? Melihat kembali matapelajaran Geografi yang kudapat di SMP dulu sih, sekarang memang sudah saatnya kamu datang kembali. Ayolah. Tidak kah kau lihat mentari sudah bergerak ke selatan cakrawala. Tidak kah kau lihat aku disini sangat membutuhkanmu. Jangan takut ada bencana. Jikapun ada itu bukan salahmu. Itu salah para penjarah hutan. Para penambang liar. Juga salah orang-orang yang berpikiran dangkal itu. Mungkin aku juga ikut terlibat. Tapi kan tidak sebanyak dan sesignifikan dari orang-orang sontoloyo itu. Biarkanlah saja mereka.

Sekali lagi yang jelas aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Masih bisa kuingat jelas sawah dan pepohonan mulai menghijau kembali. Masih kuingat jelas bau aspal, bau tanah, bau halaman berumput yang basah karena airmu. Woohoo…

Written by dian diam

October 28, 2008 at 4:12 am

Posted in setorie

Tagged with ,

Ada Cerita Dari Orang Sampah

with 7 comments

Tukang sampah. Di daerah sekitar kost-kostan saia ada tempat sejenis tempat pembuangan akhir sampah untuk beberapa wilayah disitu. Karena tempat itu penuh sampah pastinya banyak tukang sampah yang bergumul di tempat itu. Biasanya waktu pagi hari menjelang siang mereka berada disitu, untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Mereka masing-masing menampung ‘pungutan’ mereka dari hasil berkeliling di setiap daerah-daerah. Jumlah mereka cukup banyak. Sekitar hampir sepuluh-an orang. Dari mereka ada berprofesi ganda –lebih tepatnya sambil menyelam minum air- yaitu sebagai pemulung, karena mereka juga mengumpulkan dan memilih-milih beberapa barang untuk dijual kembali. Beberapa yang sudah selesai bertugas mereka pun ada yang beristirahat sebentar dan berbincang-bincang, memarkir gerobak kesayangan mereka dan tidak sedikit pula ada yang mencucinya sekalian, karena disamping tempat pembuangan akhir itu mengalir kali yang orang-orang biasa menyebutnya Selokan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat (gue masih bingung, segitu besarnya kok disebut selokan?).

Dan persis disamping situ ada sebuah jalan yang mana jalan tersebut adalah jalan penting untuk mahasiswa berlalu-lalang –maklum daerah itu adalah kawasan kampus dan kost-kostan mahasiswa. Ketika para tukang sampah sedang beraktifitas disitu kebanyang sendiri gimana suasana disitu, becek dan bau. Dan ketika banyak orang yang sedang berlalu-lalang disitu –kebanyakan para mahasiswa- pastinya mereka akan menutupi hidung mereka, mungkin menggerutu, -tak mau tahu apa yang terjadi disitu, lewat dengan cueknya. Hal yang wajar.

Di suatu tempat dan waktu yang berbeda –sudah cukup lama, saia pernah punya pengalaman tentang seorang tukang sampah. Waktu itu saya lewat sebuah jalan di perkampungan. Jalan tersebut juga salah satu jalan kampus di Ngayogyakarto Hadiningrat yang lalu lintasnya lumayan padat. Saya naik motor berjalan lambat sekali, maklum pas rame-ramenya kampus. Belum lama berkendara tiba-tiba jalan macet. Di depan ada sebuah mobil yang berhenti. Mobil terpaksa berhenti karena ada gerobak sampah yang sedang di isi muatan –sampah tentunya, oleh sopirnya. Karena jalan sempit dan dari arah berlawanan juga ada mobil yang mau lewat maka mau tak mau harus nunggu gerobak itu jalan lagi. Dan terjadilah kemacetan dan antrian, ditambah bau yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah tersebut, keadaan menjadi semakin gak nyaman (kebayang pastinya). Bunyi klakson dan beberapa teriakan dan omelan saling bermunculan, “pim pim pim…”, “oey, cepet. Bau neeh…” dan lain-lain. Seperti pengendara yang disamping saya, dia menggerutu dan menuduh si tukang sampah tersebut sebagai biang kerok keadaan tersebut. Hhmmm, saia hampir ikut-ikutan, tapi saia tetep mencoba tenang, tetep diam di dalam situasi yang sebenarnya memang tidak mengenakkan tersebut.

Tapi yang saia lihat si tukang sampah malahan tetep tenang, cuek aja dengan semua itu. Entah karena sudah terbiasa dan sudah merasa antipati terhadap keadaan seperti itu atau karena sebab lain. Yang jelas kemudian saia malah merasa simpati terhadap si tukang sampah tersebut. I think, he was doing a great job. Selain dia berusaha mencari sesuap nasi dengan pekerjaan kotor tersebut –kotor beneran bukan kotornya para buruan KPK itu- banyak hal yang harus di korbankan (banyak orang merasa jijik, kadang diomeli dll). Bayangkan jika tidak ada orang-orang seperti dia., sampah berada di mana-mana, menumpuk dan bau ada di sekitar kita.

Walaupun nasib orang berbeda-beda dan itu sudah menjadi nasibnya, namun kita juga harus respect karena sudah ada orang seperti dia. Tidak usah berpikir bau dan jijik karena memang begitulah adanya mereka. At least, berterimakasih lah dan bersukur lah karena bukan kita yang ada si posisi dia.

Written by dian diam

October 22, 2008 at 3:27 am

Euphoria: Obama Fever

with 2 comments

Beberapa bulan terakhir dia selalu muncul di beberapa media massa tanah air kita. Dia sering dibahas dan diperbincangkan. Banyak yang hebohlah –termasuk gue yang nulis postingan bodoh ini. Fans club, childhood comunity, atao malahan dengan pede jaya di salah satu stasiun TV membuat acara ini: “Dari Anak Menteng Menuju Gedung Putih”. Ya, Obama. Wew… Sebelumnya setiap kali pemilihan presiden AS, negara kita tidak –pernah ikut-ikutan- seheboh ini. OK maklumlah, beliau*-nya ini kan pernah tinggal di Indonesia. Tapi sik, sik, gue kuatirnya kita ikutan segini hebohnya cuma gara-gara beliau-nya pernah tinggal di Indonesia, bukan karena ide, strategi dan kepemimpinan atau aksinya. Miris kalau benar begitu, kasian kita. Dan banyak pula (mungkin semua menurut gue) dari kita berharap beliau yang akan menjadi the next 44th US President. Dan bahkan ber-euphoria jika dia memang bener jadi thext 44th US President, Indonesia akan terkena positive effect dengan romantisme sejarah yang dimiliki sehingga Indonesia – US bisa menjadi lebih deket lagi. Halah…halah… menurut gue sih jika beliau-nya ini yang menang dia pastinya akan sibuk ngurus ‘rumah tangganya’-nya sendiri yang sudah diprediksi bakalan butuh waktu cukup lama untuk memperbaiki kondisi saat ini. So, janganlah terlalu banyak berharap dengan romantisme sejarah itu, dengan euphoria itu. Apalagi beliau-nya itu ‘kan tokoh internasionalis yang sudah tentu mempertimbangkan segala hal terkait ber-hubungan antar negara.** Gue setuju dengan komentar Pak Amin Rais*** di salah satu stasiun TV -menyoroti hubungan AS-Indonesia terkait beberapa hal perusahaan pertambangan AS di Indonesia yang dinilai merugikan, kira-kira begini: ”Jika dia memang benar jadi Presiden AS, jangan terlalu berharap Indonesia-AS menjadi lebih baik karena romantisme sejarah. Kita sendirilah yang harus berjuang. Negosiasikan ulang semua yang dinilai merugikan kita!”. Setuju.

Memperhatikan hal yang lebih luas lagi, benar lah adanya, kita sendiri lah yang harus berjuang. Tidak mengandalkan belas kasihan, dengan alasan apapun seperti hal-hal yang berasal dari romantisme sejarah (tapi sayangnya sejauh ini masih setengah-setengah), untuk membuat Indonesia lebih baik dengan negara-negara lain, baik dalam hubungan antar negara atau dalam pencapaian diri. Jadi baik Obama ataupun bukan (McCain –red) yang menjadi the next 44th US President jangan lah terlalu di buat euphoria yang berlebihan –terutama terhadap beliau Obama. Mengutip komentar Om Budiarto Shambazy-nya Kompas terhadap persaingan Obama vs McCain to the next 44th US President, mengandaikan McCain yang menang: “Oh, yang menang McCain – Palin (bukan Obama –red)? Ah, emang gua pikirin!” Dan yang gue rasa lebih penting lagi sebenarnya: Who’s our president in 2009? Eh, penting gak sih???

 

*) Saia sebut ‘beliau’ karena beberapa hal saia memang menaruh respect kepadanya. Salah satunya yaitu ketika dia, sebelum terpilih jadi capres, dia berkunjung ke salah satu kota di Jepang yang bernama sama dengannya; Obama City, dia disambut meriah oleh penduduk setempat dan dalam pidatonya dengan sangat sederhana dia mengucapkan kalimat yang membuat saia salut: “Kita tak hanya punya kesamaan nama. Tapi kita tinggal di planet yang sama sekaligus mempunyai tanggung jawab yang sama terhadapnya”. What a simple words, but has a great meaning.

 

**) Salah satu kalimat bodo yang pernah dibuat oleh orang yang dulunya ngebet pengen masuk Jurusan Hubungan Internasional a.k.a HI tapi tidak kesampean.

 

***) Apa kabar, Pak? Masih terlihat muda saja dan semoga juga baek-baek saja. Gimana dengan 2009? Apakah anda berminat lagi? Semoga sukses selalu.

 

Written by dian diam

October 19, 2008 at 2:19 am

Posted in thought thought and thought

Tagged with

Lelapmu

with 12 comments

Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.

Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.

Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…

Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.

Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.

 

Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…

Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.

Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.

Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.

Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.

 

Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.

Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…

Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.

Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.

 

Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.

Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,

terbangun karena kebelet ingin ke toilet,

ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.

 

Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…

Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,

ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,

ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…

 

Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,

ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,

dan ketika suara masih parau setengah-setengah…

kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,

“Selamat pagiii…”

 

Written by dian diam

October 11, 2008 at 2:16 am

Posted in poem

Tagged with , ,