Archive for November 2008
(Some) Lovers Are losing*
Sudah pagi, jangan bermimpi lagi
Lihatlah ke jendela
Kamu sudah salah jalan
Sudah keterlalulan, sudah kejauhan
Putar lah kembali
Tidak kah kamu sadar?
Kamu cuma seonggok mainan
Yang dicari saat dia susah
Dan yang dia tinggalkan saat sudah senang
Kenapa pula mau menjadi layang-layangnya?
Yang seenaknya sendiri di tarik ulur
Turun, turunlah dari situ
Turun dari anganmu
Beloklah dari dari jalurmu ini
Tidak kah kamu merasa?
Kamu tidak paantas untuknya
Eh, bukan
Dia lah yang tidak pantas untukmu
Hei, Bodoh! Kenapa cuma diam saja?
>> “..tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang tak rupawan. Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya..”
Lagu itu terdengar sampai 5 kali di Radio selama perjalanan gue dari Klaten ke Jogja pagi ini. Huuh… Lagi Top Request kali ya? Well, but I like the song. Nice One from Dee. And dasarnya gue aja yang lagi Mello!!! Sotoy!!!
*) A song by Keane, dan sepertinya tidak nyambung dengan puisi bodoh itu.
Deras. Dan Deras II.
Senin, 24 November 2008. Ya itu adalah kemarin. I feel that was not my day. Dimulai di pagi hari sudah disambut dengan pemadaman listrik oleh PLN. Dan karena listrik mati itu berarti aliran air di rumah gue juga ikut terganggu. Kenapa harus pas pagi-pagi? Kenapa pas di saat orang lagi sibuk siap-siap untuk beraktivitas? Dan sampai kapan mereka melakukan itu terus (hampir tiap minggu daerah gue dapat jatah, giliran)? Damn it. Dengan begitu karena persediaan air terbatas maka terpaksa harus irit air dan mandi pun tidak bisa puas. Tidak berasa seger. Dan yang lebih menyebalkan lagi, terpaksa BAB pagi itu tidak gue lakukan. Dan itu membuat sepanjang hari tidak berasa nyaman untuk beraktivitas, karena hal itu sudah biasa gue lakukan tiap pagi hari. Akhirnya berangkat ke Jogja dengan perasaan diri yang ‘aneh’.
Sepanjang hari itu kegiatan di Jogja sebenarnya lancar-lancar saja, tapi tidak sampai saat mau balik ke Klaten lagi. Saat itu sekitar pukul dua siang. Jogja yang cukup bersinar (sebentar, bukankah yang bersinar itu Klaten? Jogja Berhati Nyaman? Sleman Sembada? Halah…) tiba-tiba menjadi gelap oleh awan hitam. Tidak lama langsung turun hujan dengan sangat lebatnya. Akhirnya gue terdampar di Kantor Pos Bulaksumur UGM. Sekitar setengah jam lebih disana. Dan hujan sudah tidak lebat lagi, cuma gerimis. Berhubung badan gue sudah berasa gak mau diajak kompromi, dan berteduh di kantor pos itu tidak berasa nyaman plus sudah kepikiran tempat yang nyaman dirumah maka gue niatin pulang pake jas hujan. Apalagi di langit sebelah timur kelihatan cerah. Baru beberapa meter beranjak dari tempat berteduh itu, tiba-tiba hujan langsung menyerbu dengan derasnya lagi. Sial! Dan kalau sudah begini paling males untuk berhenti lagi. Sialnya lagi gue yang berencana lewat jalur utara,lewat Ring Road Utara, tiba-tiba saja berubah haluan. Gue ambil rute biasanya lewat Jalan Solo yang mana pasti banyak macet dan banjir. Gubluk! Benar saja, baru sampai perempatan Sagan tiba-tiba sudah disambut oleh kolam air dadakan. Hujan masih semakin deras. Angin juga semakin kenceng.
Sampai depan GOR UNY, kelihatan di depan air sudah kelihatan menggenang dan banyak antrian mobil yang berjalan melambat. Beberapa orang terlihat menuntun sepeda motornya. Pasti biang keroknya di depan UNY. Mau balik susah karena banyak mobil di belakang, belok ke utara lewat Karangmalang alamak ternyata lebih parah daripada di depan. Terpaksa akhirnya muter lewat selatan ambil Samirono-Jalan Urip Sumoharjo-Klitren-Sapen-UIN dan Jalan Solo. Tapi baru nyampe Klitren (dan tidak kuduga sebelumnya) di depan Balai Yasa PT. KAI air tiba-tiba saja sudah hampir separo motor gue, mesin motor gue sudah kelep, ujung kaki sampai pinggang basah. Berengsek! Tapi untungnya mesin tidak mati. Kontan langsung saja gue potong ke kiri masuk ke halaman rumah orang yang agak tinggian. Berhenti sebentar. Gak mungkin gue terus ke depan. Akhirnya setelah minta maap sama yang punya halaman rumah –yang kebetulan pas gue nyelonong ke halamannya, Bapak itu ada di luar sedang ngliat banjir- gue ambil ke utara lagi. Dan kali ini bener menuju Ring Road Utara meski harus nempuh jalur yang lumayan jauh daripada harus terkena macet plus mati mesin ditengah guyuran hujan dengan kondisi badan yang yang sudah kedinginan dan berasa mau teputus-putus. Baru nyampe demangan tiba-tiba sudah kena banjir lagi.
Kenapa sekarang Jogja banyak banjir kayak gini? Berdasarkan perkiraan gue (alasan yang umum dan klise), banyak disebabkan oleh tidak lancarnya sistem drainase. Salah satunnya gara-gara sampah. Kelihatan sekali. Dari sekian banyak banjir yang gue alami diatas semua airnya bewarna coklat keiteman dan banyak sampah yang terhanyut. Juga semakin padatnya dan terkonsentrasinya kegiatan di kota saja. Semakin banyaknya bangunan baru, kurang resapan. Juga semakin banyaknya pendatang. Semakin padat, terutama para mahasiswa yang suka berpikiran instan. Oleh karena itu semakin banyak konsumsi (permintaan), maka diimbangi lah dengan penawaran oleh para toko-toko baru, fasilitas umum baru, bangunan-bangunan baru itu yang secara logika juga semakin banyak pula sampah yang dihasilkan tapi fasilitas yang per-sampah-an masih-masih saja sama. Diperparah dengan perilaku buang sampah yang kurang dan tata kelola sampah yang tidak sebanding. Penjual semakin banyak terutama para pedagang kaki lima (sumpah, gue pernah nyaksikan dengan mata kepala sendiri sewaktu masih idup di Jogja, sampah-sampah dari mereka langsung dibuang ke sungai!) Sungguh benar-benar alasan yang klise. Tapi bisa saja terlewatkan. Kalau tidak segera mendapat perhatian bisa semakin tinggi nanti air hujan yang menggenang. Eh, tapi lumayan juga, Pak. Yang di depan Ambarukmo sampai pertigaan Janti yang selama ini jadi biang kerok banjir dan macet daerah situ, sudah dibetulkan ‘kan ya? Tapi agak terlambat sedikit, Pak. Benerinnya kok malah pas sudah datang musim hujan? Nambah-nambahin macet saja, Pak. Tidak kemarin-kemarin saat hujan belum datang? Tapi well done aja lah ya, Pak. Keep movin. Yang lain masih banyak yang ngantri. Loh…
Akhirnya sampai juga di Ring Road Utara. Benar-benar bebas banjir dan macet. Dan hujan masih saja deras, dan deras. Musuh gue yang gue kuatirkan adalah mobil-mobil, truk-truk, dan bus-bus yang seenaknya sendiri menyipratkan air dari samping, depan dan bawah sehingga membuat gue basah dan semakin kedinginan. Selain itu adalah badan gue yang semakin lama semakin tidak mau diajak kompromi. Hampir satu setengah jam sejak dari kantor pos nyampai kerumah. Dan itu dibawah guyuran hujan yang deras. Nyampai rumah menjelangr jam empat sore dan ternyata listirk belum nyala juga. PLN sontoloyo! Niat pengen segera nyuci motor, mandi terus nyantai-nyantai harus tertunda. Untung saja Senin itu gue pas puasa jadi masih bisa sabaran nahan emosi. Fuuh… Dan malemnya sumpeh, badan gue kayak hancur lebur + agak demam + batuk mulai menggigil lagi dan sedikit insomnia malahan. Tapi Allah Maha Adil, di malam itu masih ada juga sesuatu yang bisa membuat gue seneng, sedikit melupakan badan yang terasa hancur lebur dan melupakan kesialan hari itu. What is it? Ssst… Dian diam.
My Life? No, It’s Just My Rubic.
Rubic. Di postingan gue dulu, gue pernah pengen nyritain tentang rubic. Now it’s the time. Halah… Tentunya semua sudah tahu mainan satu itu. Yup, mainan kubus yang warna-warni itu, yang dimana kita harus menyusun ke-enam sisi warna-nya dengan komplet dan benar. Ada yang
pernah main? Keren, bukan? Itu adalah salah satu mainan favorit gue sejak gue SMA dulu. Gara-garanya pernah ditantang salah satu guru matematika gue dengan iming-iming hadiah untuk dapat menyelesaikan at least dua sisi completely, karena tuh mainan bukan sembarang mainan. Menurut beliau, memainkan rubic harus dengan taktik dan strategi karena ada jurus algoritma, logika dan statistika matematika yang harus dipatuhi (loh!), juga memerlukan kecerdasan dan kesabaran. Tapi meski hadiahnya cuma sebuah pujian di depan kelas (penting gak sih?), hadiah seperti itu waktu itu adalah suatu hal yang prestise dari seorang guru matematika yang sangar dan killer, kebayang kan mendapat pujian dari seorang guru matematika yang killer dikatakan sebagai anak yang cerdas, IQ tinggi, pandai matematika, pintar berstrategi dan penuh kesabaran? Apalagi kalau di kelas ada seorang pujaan hati yang sudah lama jadi incaran (SMA banget ^_^ ). Tapi berhubung gue seorang yang tidak cerdas dengan IQ jongkok (waktu itu) maka gue tidak berani menerima tantangan itu, beruntungnya satu kelas juga tidak ada yang berani (it means that in our class no one was smart, so I still be proud. Gubluk!) Tapi gara-gara itu gue jadi penasaran sama tuh mainan. Gue ma temen-temen langsung beli tuh mainan dan bereksperimen ria. Dan akhirnya gue berhasil juga menyelesaikan susunan dua sisi dengan komplit dan benar. Woohoo… Tapi masih ada empat sisi lagi. Dan lagi, dengan suksesnya sampai sekarang gue gak pernah berhasil menyelesaikan ke-enam sisinya. Pol mentok cuman dua sisi doang. Ternyata dasar memang IQ jongkok (masih!).
Dan ternyata mainan itu juga mempunyai filosofi. Untuk mendapatkan sisi yang komplet kamu harus berani kehilangan sisi yang lain meski sisi itu sudah selesai. Untuk membuat komplet sisi warna hijau yang hanya karena kurang satu-dua kotak saja, kamu harus berani kehilangan atau ngacak sisi warna yang laen meski sisi warna laen itu sudah komplet. Kalau tidak begitu permainan akan mentok, berhenti dan tidak akan pernah selesai. Kadang dalam hidup untuk bisa merasa bermanfaat, especially for the other people, keinginan-keinginan dan planning-lanning yang sudah ada dalam benak harus dikorbankan (dulu). Kadang bisa mengembalikannya lagi in the different time, tapi kadang bener-benar-benar musnah. And what a life! Lucky, gue pernah bisa mengalami yang seperti itu.
Salam Dari ‘Umbrella Boys’
Itu adalah gambar yang gue ambil di salah satu mall yang belum lama ini gue kunjungi, di Bandung. Waktu itu gue sedang duduk-duduk menyaksikan pertunjukan musik (gratis) nya Ponky dkk yang di gelar di mall itu. Tiba-tiba segerombolan anak-anak yang asyik bercanda dan bermain, lewat dan duduk di kursi depan gue. Dilihat dari mukanya mereka sepertinya anak-anak umuran SD (SMP awal paling tidak). Entah kenapa kehadiran mereka membuat gue sejenak mengalihkan perhatian gue dari menikmati pertunjukan yang ada, mungkin gara-gara gue sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di daerah udik nan ndeso di Klaten. Cukup lama gue memperhatikan mereka. Dari cara berpakaian, gaya bicara, tingkah laku sampai dengan gadget-gadget yang mereka bawa. Menyita perhatian gue. Sejenak. Dulu waktu gue seumuran mereka yang ada mainnya adalah gundu, layang-layang, sepakbola di lapangan berlumpur sampe belepotan, paling modern adalah console game semacam PS atau Nintendo. Kenapa gue jadi ngiri yak? Jawabannya sih kira-kira cuma satu: perkembangan jaman dan teknologi (self defense yang amat klise dari seorang udik ^_^).
Tapi bukan itu main point gue nulis ini. Setelah beberapa lama berada di dalam mall nikmatin pertunjukan gratis itu, gue keluar dari mall tersebut. Dan ternyata diluar sedang hujan dengan sangat derasnya. Gue tidak bisa ngapa-ngapain selain mau tak mau cuma nungguin dan berdoa segera reda. Dasarnya gue suka suasana saat itu, gue nyaman-nyaman saja. Dan akhirnya gue malah mendapat beberapa gambar, salah satunya yang di samping. Sebut saja mereka
umbrella boys. Jumlah mereka lumayan banyak. Dan karena halaman plus parking lot di depan mall itu sangat guede, kelihatan sekali mereka berlarian kesana-kemari menyambut dan menjemput para pengunjung untuk keluar masuk mall dari dan ke kendaraan masing-masing. Gue yang dalam posisi duduk menyaksikan mereka berlarian kesana kemari untuk mendapat rupiah dari si pengguna jasa. Kadang-kadang mereka lewat di depan gue, beberapa terlihat masih mengenakan seragam sekolah. Entah kenapa juga, pikiran gue kembali ke anak-anak yang di dalam tadi. Sungguh amat sangat berbeda. Yang satu sepulang sekolah seneng-seneng di mall, yang satu sepulang sekolah berusaha untuk menyambung hidup. That’s a reality of life.
Setelah gue merasa cukup lama nunggu tapi hujan tidak reda juga, akhirnya gue memanggil salah satu dari mereka dan menggunakan jasa mereka. Dia mengantar gue dari depan mall sampai ke jalan raya. Bahkan sampai nyariin angkot buat gue. “Terima kasih, Kak” kata yang keluar saat gue memberi beberapa rupiah kepadanya.
Aku Tahu
Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,
Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah
Lihatlah ke depan,
aku ada untuk melindungimu
Lihatlah ke kanan ke kiri,
aku ada untuk menjagamu
Dan lihatlah kebelakang,
aku akan selalu ada mendukungmu
Karena aku tahu kau percaya untuk aku
Deras. Dan Deras.
Peringatan: jangan baca cerita ini jika anda tidak benar-benar punya waktu luang, tapi baca cerita ini jika anda benar-benar sudah tidak punya bacaan lain, dan bahkan jangan baca cerita ini jika anda belum merasa koran bekas yang jadi bungkus nasi kucing dan tempe pun sudah anda baca, karena cerita ini sungguh tidak penting.
Jumat kemarin, sore hari tepatnya, Yogyakarta hujan dengan lebatnya yang disertai dengan angin ribut. Bukan pertama kalinya. Yapi kali ini UGM yang jadi sasaran utamanya. Dan kali gue menjadi saksinya, bahkan terlibat dalam kejadian-kejadian di dalamnya. Sore itu Jogja gelap, pekat, hawa panas mendera. Angin bertiup kencang seenaknya sendiri tanpa arah. Tapi hujan belum juga menyambangi. Dan orang-orang di luar, di jalanan, kelihatan sekali mereka panik terburu-buru untuk cepat sampai tujuan, takut didahului si hujan.
Saat itu gue hendak pulang ke kota gue. Sehabis Ashar gue lepas dari kost-an –yang sangat dekat dengan komplek tuh kampus, belum ada semenit menaiki motor gerimis sudah terasa. Gue masih ragu apa berhenti berteduh sejenak atau meneruskan perjalanan. Karena tidak konsen dan sedikit bingung gue cuma berkendara pelan-pelan. Tolol! Dan angin pun mengikuti gerimis, dan semakin tak karuan saja. Tepat di depan gue terlihat sekumpulan daun, kertas dan sampah-sampah kecil beterbangan membentuk lingkaran yang berpola kira-kira hampir setinggi rumah. Makin lama-makin gede dan semakin tidak jelas arahnya kemana. Sungguh indah sebenarnya. Jarang-jarang gue melihat seperti itu secara langsung. Tapi berengsek! Tiba-tiba pusaran itu sudah didepan gue. Gue refleks langsung injak rem. Meski memakai helm dan tertutup rapat gue juga langsung menundukkan kepala. Selain suara berisik angin, sekilas terdengar juga beberapa jeritan di belakang. Untung saja di cuma lewat disamping saya. Tapi cukup membuat kaget dan membuat kotor jaket gue. Gerimis semakin cepat, dan bau khas menyengat aspal jalanan panas yang terkena rintik gerimis semakin menusuk hidung.
Dan tiba-tiba, breess, hujan lebat akhirnya datang. Dan gue masih ditengah perjalanan, kanan kiri tidak ada bangunan untuk berteduh. Beberapa milisekon kemudian akhirnya gue terdampar di kampus lama gue, untuk sekedar berteduh atau singgah sebentar memakai alat tempur di medan hujan. Dengan keadaan setengah basah gue diam sejenak ditempat itu, di salah satu bangunan kampus gue dulu. Sejenak juga kilatan listrik di langit ikut merangsang memori bersama anak-anak di tempat itu, di sekitar itu, hadir kembali. Hanya senyum. Hujan pun semakin deras. Dengan cepat air yang menggenangi jalan dan halaman bangunan itu semakin meninggi. Sekitar setengah jam-an lebih gue ditempat itu. Setelah hujan lebat berganti dengan butiran gerimis yang berjatuhan gue niatkan untuk beranjak pergi dari tempat itu, memakai jas hujan pastinya. Lagi pula keadaan gue saat itu sudah setengah basah. Nanggung. Lagi pula juga gue pengin nikmati butiran gerimis yang berjatuhan di jalanan Jogjakarta.
Sesaat memang seperti yang diharapkan. Tak lama berselang ketika baru sampai di pertigaan Jl Affandi, Demagan gerimis itu berubah menjadi hujan lebat lagi. Sial! Tapi karena sudah nyaman diatas motor butut gue –apa cuma males untuk berhenti lagi, gue tetep niatkan lanjut. Di kanan kiri bahu jalan banyak terlihat orang sedang berteduh, melihat kearah langit yang putih keruh kelabu. Berharap agar segera berubah menjadi biru lagi. Mungkin. Di jalanan teman gue selain air hujan cuma beberapa kendaraan tertutup beroda empat. Ketika sampai di Jl Demangan Baru, samping Kolese DeBrito, air menggenangi jalan semakin ke selatan semakin tinggi. Dan antrian kendaraan semakin padat. Sekilas di depan, di ujung jalan ini, di pertemuan jalan ini dengan Jl. Adi sutjipto, terlihat seorang mbak-mbak menuntun motornya, kemudian terlihat seorang lagi, lagi dan lagi. Macet. Mati. Ternyata mesin motor mereka terendam air yang tinggi dijalanan. Akhirnya gue putuskan untuk balik arah muter lewat Papringan menghindari resiko macet dan mesin mati.
Tak lama kemudian sudah sampai di Jl. Adi Sutjipto. Jalanan segede itu yang biasanya ramai terlihat cukup sepi. Tak lama kemudian di depan terlihat antrian kendaraan, macet! Pasti jalan di depan Ambarukmo yang menjadi biang keroknya. Daerah sekitar situ kalau ada hujan lebat pasti terjadi kemacetan, karena selalu banjir. Dan bisa dipastikan juga banyak kendaraan –terutama motor, yang terjebak didalamnya. Gue pernah mengalami hal itu, untung saja tidak sampai mati mesin. Karena sudah mengetahui hal itu, gue muter haluan lagi dan kali ini cukup jauh, kearah selatan lewat Timoho – Plumbon – JEC – Janti – Jl Solo. Ketika lewat di kompleks UIN sebenarnya hujan sudah berganti butiran gerimis lagi, tapi ketika setelah melewati rel kereta api di Jl Timoho tiba-tiba berubah menjadi hujan deras lagi. Memang seenaknya sendiri mereka. Semakin ke selatan semakin deras. Dan diujung jauh selatan Jogja sana terlihat langit cerah tapi ditemani awan hitam yang bergelayut. Berengsek, sialan! Tiba-tiba mobil dari arah depan berjalan dengan cepat dan menyipratkan air dari bawah. Sontoloyo.
Di depan kampus UJB gue belok kiri. Sepertinya belum lama lewat sini. Sampai daerah Plumbon hujan masih deras. Jalan daerah situ sempit, maklum jalan perkampungan. Di kanan kiri terlihat beberapa pohon tumbang, dipaksa rebahan oleh angin. Akhirnya sampai juga di Gedongkuning, depan JEC. Menemui jalan raya lagi. Hujan semakin deras. Dan gue sudah berasa kedinginan. Sekilas melihat telapak tangan sudah memutih. Genggaman gas sudah terasa kaku. Sesampainya di jalan raya Janti ternyata tidak sesuai banyangan. Ternyata jalanan juga banjir tergenang air. Tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan. Malah sebenarnya bisa bejek gas sepuas mungkin. Dan karena teman gue dijalan tersebut kebanyakan kendaraan gede yang beroda empat atau lebih, jalannya pun kencang, air pun tidak hanya datang dari atas, dari hujan, tapi juga dari samping, depan, dari mana-mana sepertinya, karena tiba-tiba gue merasa basah semua. Lagi-lagi sial, berengsek, sontoloyo! Tapi apa lacur sudah terasa basah dan dingin, dan gue tetep aja lanjut. Sampai di atas jembatan layang Janti, sejenak gue nengok ke kiri, ke barat, kearah kota Jogja. Dari atas, kota Jogja hilang berselimut putih kelabu. Tak terlihat.
Motor gue akhirnya mengarah ke timur melaju di atas Jl Solo. Hujan masih deras. Tetap. Tapi kelamaan semakin ke timur semakin kecil hujannya. Dan gue pun ber-Valentino Rossi wanna be, meski gue sama sekali tidak suka Rossi. Tapi tiba-tiba gue hilang grip, gue hampir sliding. Dan saat itu gue baru nyadar kalau ban belakang motor gue sudah mulai halus. Akhirnya gagal ber-Rossi wanna be, demi keselamatan. Di pertigaan Maguwoharjo hujan sudah berganti gerimis. Sampai di depan Bandara Adi Sutjipto jalan lagi-lagi banjir. Dan gue terjebak di belakang Atoz warna merah yang dibelakangnya bertuliskan nama; Dila*. Dan tidak nyadar kalau sejak terjebak banjir di depan bandara sampai daerah Kalasan gue terus dibelakang Atoz merah itu. Entah karena emang menjaga kecepatan agar tidak ber-Rossi wanna be, atau cuma gara bengong yang disebabkan tulisan nama di belakang Atoz merah itu. Damn it, kenapa sampai sekarang gue masih adaptif sama nama itu? Akhirnya gue menyadari hal itu, menyadari juga bahwa hujan sudah menghilang selepas Kalasan. Tapi di depan jauh di ujung pandangan di timur awan hitam yang bergelantung masih membayangi. Karena jalanan kering gue beranikan diri untuk menambah kecepatan sampai akhirnya kulewati Atoz merah itu, beserta sebuah nama yang bertuliskan di belakangnya. Tapi dia masih saja membayangi, mengikutiku dari belakang. Seperti (pemilik) nama yang bertuliskan di belakangnya itu selama ini, selama hampir 3 tahun belakangan. Selepas Prambanan gue berhenti sejenak untuk melepas jas hujan, meski ada sedikit keraguan karena di depan keadaan belum pasti aman dari hujan. Dan kota gue masih 10 km lagi, rumah gue ndlesep 5 km di belakangnya.
Sepanjang 10 km itu gue benar-benar ber-Rossi wanna be, berkejaran dengan awan putih kelabu karena saat itu awan masih hitam yang menandakan hujan belum tiba. Tinggal 5 km lagi. Tapi apa daya kekuatan alam lah yang menang. Akhirnya di depan RS Tegalyoso, gue berhenti untuk memakai jas hujan lagi. Dengan cepat awan berubah menjadi putih kelabu, dan itu menemani gue selama 5 km terakhir. Sampai di rumah. Hujan masih saja terus deras. Dan bahkan sampai malam harinya ketika beberapa TV dirumah saya berkata: “Yogyakarta, UGM: Terkena Angin Puting Beliung” hujan semakin bertambah saja. Deras. Dan deras.
*) Bukan nama sebenarnya. Hanya kebetulan mirip saja dan entah kenapa gue suka nama itu. Bukan begitu, Dila? ^_^
Chapter Two
Malam ini seharusnya dia sudah berada di rumah. Setiap wiken dia biasanya memang pulang. Tapi sejak dia tiba di kost-an tadi sore hujan deras masih saja mendera. Gila, lebat sekali hujan kali ini. Mana angin juga kenceng banget. Fuuh… Tapi dia cuma bisa tersenyum saja. Dan dia tidak ingin menghabiskan satu jam penuh berada di atas motor bututnya di jalan dalam keadaan basah dan kedinginan. Meski dia suka dengan hujan, dengan air, tapi otaknya masih bisa berpikir untuk tidak cukup bodoh untuk melakukannya. Lagipula jalanan pasti juga licin. ‘Yowis Le, rasah bali wae yen udan. Kene yo udan deres…’ kalimat yang terbaca di layar hp-nya, balasan dari Sang Ibu atas pemberitahuannya kalau wiken kali ini tidak bisa pulang.
Wiseman dari James Blunt mulai terdengar dari speaker komputernya dalam ruang 3 x 4 meter itu. Suara hujan –yang deras- di luar bergerilnya masuk ke ruangan sehingga cukup menimbulkan noise. Tidak banyak yang bisa dilakukannya dalam ruangan itu. Dia mencoba keluar dari kamarnya di lantai dua, turun kebawah mencari sepenampakan batang hidung untuk sekedar diajak ngobrol. Tapi tidak ada nyawa juga. Di kost-an itu cuma ada empat orang anak kost. Entah pada kemana hujan-hujan begini, malam-malam begini. Di ruang tengah hanya terlihat bapak kost yang menonton televisi. Malas dia untuk nimbrung dengan bapak itu. Paling-paling nanti cuma diajak ngobrol ala Gus Dur ngomentari politikus-politikus yang di tontonnya di tv itu. Sebenarnya lucu juga kalau bapak itu lagi ngomongin mereka, cukup bisa untuk melemaskan otot pipi dan sejenak bisa untuk melepas penat. Tapi kali ini dia lebih tertarik untuk kembali ke kamarnya bersama James Blunt dan kawan-kawannya. Dalam menuju kamarnya dia berpapasan dengan anak perempuan bapak kost yang basah kuyup baru pulang entah dari mana.
Setiba dalam kamar dia langsung berada di depan komputernya. So far, komputer adalah teman terbaiknya dalam kondisi seperti ini. Dia berpikiran untuk menyelesaikan perhitungan estimasi struktur biaya transportasi yang dibebankan padanya, yang juga belum kelar-kelar. Tapi wiken sebisa mungkin tidak dilakukannya untuk melakukan pekerjaan semacam itu. For him, wiken is a so stupid damn thing if he can’t set him free. Apalagi dengan seabrek detil angka-angka. Mual rasanya. Lalu dia mencoba memulai menulis sesuatu untuk up-date blognya. Lagi-lagi pikirannya stuck. Beralih hanya baca-baca berita di internet. Stone Roses kali ini yang playing di playlist-nya. Tapi noise suara hujan dari luar masih saja dengan enaknya mengganggu dia menikmati lagu-lagu itu.
Tiba-tiba dia teringat kalau tadi siang dia dapat paketan dari sahabatnya (lebih tepatnya: mantan kekasih, dia sekarang lebih suka menyebut sahabat ketimbang mantan) yang -sudah- di Jakarta. Setelah tiga tahun lebih mereka di-harus-kan tidak melanjutkan hubungan itu, masing-masing dari mereka masih saling komunikasi satu sama lain. Dan sudah dua bulan lebih ini malah semakin intens. Setelah mengalami peristiwa itu memang mereka sempat hilang sapa, mereka sejenak diam satu sama lain. Waktu pertama kali bertemu lagi, masing-masing dari mereka sudah tidak sendirian lagi. Tapi sekarang dia sendiri lagi, dan lagi –for the 2nd time. Mungkin karena dia merasa sebagai pihak yang pantas disalahkan atas peristiwa itu atau mungkin perasaan dia yang terlalu kuat dan belum bisa menerima peristiwa itu, dia lah yang memulai membangun kembali komunikasi itu, hubungan persahabatan itu lagi. Pada umumnya jarang yang dari pacar menjadi sahabat, kebanyakan malah sebaliknya dari sahabat menjadi pacar. Tapi dia –mereka- tidak terbawa arus pada umumnya itu. Memang pada awalnya sulit, dia merasa sebagai orang paling bodoh di bumi ini untuk melakukan hal itu, bahkan seperti ada kepalsuan dan keterpaksaan yang dipaksakan yang terselip. Tapi seiring waktu keterpaksaannya itu berubah menjadi ketulusan untuk melakukan semua hal jika harus dihadapkan pada dia. Anyhow, anything, anytime.
Dan kini sudah 3 tahun setelah mereka memulai hubungan baru itu. Dia lebih merasa enjoy dan berkualitas dengan hubungan persahabatan yang mereka jalani sekarang. Bisa pure apa adanya, nothing to lose dan tidak berpikiran jauh-jauh. Ketika Crazy ‘Bout You dari Ten2Five terdengar dia sudah berada di atas tempat tidur meraih tas yang tergeletak di atasnya. Diambilnya sebuah kotak pipih berbalut kertas coklat dari dalam tas. Cukup ringan. Dila, Cipulir V, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tertulis di bagian belakang. Dilepasnya dengan teratur balutan kertas itu, lalu nampak sebuah kotak pipih bening di dalamnya tertulis: Oasis: Befinitely Maybe. Original DVD. Super Deluxe! Sumpah. Seketika dia kaget. Tapi seperti biasa, dia cuma tersenyum, tanpa ekspresi. Gadis bodoh, batinnya, but thanx. Tapi lalu dia jadi penasaran. Kenapa Dila bisa tahu bahwa DVD itu yang selama ini dia cari-cari, dan belum ketemu juga, dan juga gimana cara mendapatkannya? Itu adalah koleksi langka di Indonesia dan mahal pulak! Di bagian belakang DVD itu tertempel secarik kertas putih dan bertuliskan tangan dengan tinta warna hijau: “Pak, minggu lalu pas gue jalan ke mall tak sengaja lihat barang yang kamu cari-cari pas kita muter-muter Jogja waktu liburan kemarin. Kalau tahu disini ada tak usah capek-capek muter kayak kemaren, Pak. Pake kehujanan pulak. Huu… Semoga barangnya sesuai yang dimaksud soalnya gue belum pernah lihat langsung sih. Tapi gue tak akan lupa ciri-cirinya, maklum sudah ribuan kali kamu sebut, kamu tanyakan ke seluruh pelayan musicstore yang cantik-cuantik itu di Jogja kemarin. Hahaha… Kalau ada sesuatu seperti itu lagi bilang aja, Pak. Jakarta lebih unggul daripada Jogja. Percaya deh, sudah terbukti kan? Tapi lain kali tidak gratis lho ya. He… Oiya, itu juga itung-itung sebagai ganti kamu mau gue tebengin muter-muter Jogja dan sepasang ogre kecil Shrek dan Fiona yang kamu kasih kemarin. Though they’re ogre and ugly I love them. Thanx. PS: Kapan-kapan lagi ya, keliling Jogja denganmu was so nice, Pak! ^_^”
Lagi, dia cuma senyum datar. Dia rebahan diatas tempat tidur. Dan hujan diluar sudah tidak sederas sebelumnya, sehingga Drew dengan Unromantic cukup terdengar cukup nyaman karena noise dari luar sudah mulai berkurang. Dibacanya sekali lagi tulisan itu. Kemudian dia ingatannya terbawa ke peristiwa dua bulan yang lalu itu. Ketika itu tiba-tiba dia mendapat telepon teror.
“Pak, 3 hari libur nasional kan? Mau kemana?”
“Tidak, rencana cuma mau hunting suatu benda yang penting gak penting, DVD… Ah, gue kasih tahu kamu juga gak bakal tahu. Tumben nanya gitu, Bu?”
“Hehe, nggak kok. Gue ikut ya besok, Pak? Gue sekarang lagi dirumah. Semalem nyampe. Pengen muter-muter Jogja. Mau ya? Awas kalau gak mau. Terserah deh kemana. Pokoknya gue ngikut. Ok, bos?”
“Hah ma gue? Nggak salah? Gue sih ndak pa pa. Tapi sudah ijin sama si Mas? Ntar bisa berabe belakangan”
“Ah tidak usah dipikir. Pokoknya gue nebeng ya. Kalau ke Jogja I prefer to choose you than him. Haha…”
“Dasar. Kamu kalau sudah pakai pokoknya begitu, susah. Ok lah. Let’s see besok. Tapi kalau ada apa-apa gue gak ingin jadi tersangka. Jamnya besok gue kabarin lagi.”
“Yup, jangan kuatir, no matter. And manut lah pokoke. Thanx, Ar.”
Sebenarnya dia sudah punya rencana sendiri untuk hunting DVD itu. Dia ingin mengajak temannya sendiri. Tapi diurungkannya niat itu demi menyenangkan hati sahabatnya yang sudah tidak bertemu muka semenjak merantau ke Ibu Kota hampir setahun yang lalu.
Dan ketika No Fruits For Today-nya Sore full the room dia mulai terbangun kembali turun ke dunia lagi setelah beberapa saat terbang pergi ke peristiwa dua bulan lalu; pergi ke saat pertama kali melihat Dila yang belum banyak berubah setelah setahun tidak ketemu, kecuali wajah ayu nan lucu di balik kacamatanya dan kedewasaannya yang bertambah, selain itu semua masih sama hingga dia bisa merasakan kembali hal yang sama saat mereka pertama kali bertemu enam tahun yang lalu, when they were just seventeen; pergi ke saat mengunjungi hampir semua musicstore di Jogja sampai kehujanan dan akhirnya terdampar di warung bakso di Gejayan; dan juga pergi ke saat memenangkan suatu game –yang dia tidak tahu apa namanya- di Timezone dan mendapatkan hadiah sepasang miniatur makhluk ogre Shrek dan Fiona. Dan sejak saat itu sebenarnya perasaan terhadap Dila yang telah disudutkannya bertahun-tahun di suatu titik di hatinya mulai bergerak keluar menyusur meyelimuti semua sisi hati. Ketika dia mulai terbangun hujan deras sepertinya telah berubah menjadi gerimis kecil yang tak berpola.
Dari tempat tidur dia membuka jendela kamarnya. Angin langsung bertiup masuk menampar wajahnya membawa aroma jalan dan halaman yang basah karena hujan. Di luar gelap, hanya segelintir orang yang lewat di jalan dibawahnya. Dia lalu menyapu pandangannya ke sekeliling, di kejauhan butiran gerimis yang tak berpola terlihat oleh temaram sinar lampu bewarna kuning di ujung jalan. Suara yang dibuat oleh tukang bakso dan penjual sate keliling mulai terdengar bergantian bertautan. Seorang laki-laki dan perempuan terlihat sedang berjalan berdampingan, si laki-laki menuntun sepeda motornya yang mungkin mogok karena derasnya hujan dan si perempuan berjalan disampingnya masih mengenakan jas hujan. Tidak lama jalan mulai dijejaki beberapa orang dan kendaraan. Dia lalu melihat ke arah kaca jendela kamarnya dan di kaca jendela terlihat wajahnya yang berpendar karena pantulan cahaya dari dalam kamar. Dia sejenak diam mengamati wajah itu. Memikirkan apa yang telah terjadi dengan pemilik wajah itu, dengan perasaan orang itu. Memikirkan apa yang terjadi antara dia dan Dila since the last three years, terutama dua bulan terakhir. Lalu dibuangnya pikiran itu itu jauh-jauh. It’s different now, everything’s changing. Kemudian dia hanya tersenyum.
Sesaat dia meraih handphone-nya, kembali meyandarkan punggung dan kepalanya di atas kasur. Bersamaan dengan message report di hp nya: “It’s surprised me. Thanx, Bu. Delivered to Dila, October 17th, 2008. 9:27 PM” , I’m Outta Time dari Oasis terdengar:
“If I’m to fall
Would you be there to applaud
Or would you hide behind them all
‘Cause If I have to go
In my heart you’ll grow
And that’s where you belong
I’m out of time…”
*) Kisah ini hanya fiktif belaka. Sungguh, jangan terlalu dipercaya. Dibaca saja. Jika ada kesamaan nama, waktu dan tempat itu adalah memang disengaja.
**) Damn it, kenapa gue bisa nulis sedangdut itu ya? Mungkin gara-gara otak gue yang sedikit korslet gara-gara kecapean nempuh rute Klaten-Semarang-Jogja-Klaten beberapa waktu yang lalu. Dan ide untuk menulis ini dengan seenaknya sendiri nongol di otak gue.
***) Ini adalah penjelasan dari Chapter 1. Tapi hanya sebagian kecilnya saja. Ntar kalau otak gue korslet lagi, ada bagian yang lainnya. Dan lagu-lagu Ten2Five, Sore, Dee (Rectoverso) serta album NuBuzz 1.1 yang juga semakin membuat otak gue korslet untuk nulis ini. ^_^
