Archive for January 2009
Bukan Siapa, Tapi Apa
Sebentar lagi pemilihan presiden akan berlangsung. Permasalahan utamanya bukan siapa yang jadi pemenang tapi apa yang akan dilakukannya. Program dan sistem yang bagaimana yang bisa membawa keadaan yang lebih baik dari sekarang. Bukannya tidak mau bersukur dengan kondisi sekarang, tapi bisa lihat dan ngerasain sendiri gimana kondisi negeri ini saat ini. Sehebat apapun seorang presiden (jika bisa memenangkan pemilihan itu) dia tidak bisa menjalankan pemerintahannya sendiri, dia musti butuh pembantu-pembantu dan bekerjasama dengan pihak lain untuk itu. Kalau di negeri tetangga biasa disebut eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga tinggi lainnya. Nha, bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengurusi tetek bengek itu biasa sering disebut poli-tikus (sebenarnya gue lebih seneng nyebutnya negarawan, tapi sayang di negeri ini saat ini rasanya hanya amat sedikit sekali layak disebut seperti itu, lebih pantas politikus2 –jangan salah baca:red). Bisa dilihat, jikalau seorang presiden mempunyai kemampuan sehebat apapun tapi tidak dengan para politikus lainnya, gue setengah tidak yakin negeri ini akan lebih baik lagi. Pol mentok ya segini-segini aja. Untuk itu kalo boleh ngarep dan mengkhayal, gue harap the next president bisa membuat program atau membentuk sebuah lembaga tinggi baru langsung dibawah naungan presiden, mulai dari plan-plan yang bakal dibuat hingga memilih orang-orang di dalamnya presiden sendiri yang nentuin.
Saking hebatnya Belanda dan Jepang jaman dulu, sehingga Soekarno, Syahrir, Hatta, Natsir, Salim and the gang dihidupkan Tuhan dalam waktu yang hampir bersamaan untuk meladeni penjajahan Londo and co dan tidak disisakan untuk kehidupan sekarang. Lembaga yang dibentuk presiden tadi itu bertugas untuk membangkitkan semangat-semangat mereka yang sudah di alam baka itu kepada anak-anak. Karena, anak adalah sumber menghimpun kekuatan masa depan yang sungguh ampuh (itulah mengapa Israel membom Palestine, salah satunya karena ingin memusnahkan anak-anak yang sudah hafidz Al-Quran, mereka kuatir terhadap kekuatan anak-anak itu di masa depan. Naudzubillah… Faktap for it). Pertama mereka menjalankan program cuci otak sehingga anak-anak tidak melulu minded dengan x-Box, PS etc, tidak melulu nggathok termakan tontonan cheeklit, cookies dsb dari Punjabi cs, dan tidak hanya bisa memenangkan olimpiade-olimpiade sains yang hanya sekedar teori tapi dengan eksperimental dan penemuan-penemuan yang down to earth yang jarang terlihat (rasanya dari dulu negeri ini selalu bangga dan bisa unjuk gigi tiap kali ada olimpiade sains, tapi sedikit sekali ketika harus dihadapkan dengan yang experimental dengan penemuan-penemuannya). Kemudian jejali dada mereka dengan kebanggaan akan negeri ini yang pernah mempunyai Teuku Umar, Diponegoro, Soekarno and co, jejali dengan pengetahuan akan negeri ini yang memiliki banyak kelebihan (kekayaan alam, budaya, falsafah dan kepribadian) sehingga mereka bisa merasa ‘sombong’ terhadap Malaysia yang suka memakan milik kita, pun demikian dengan Singapura serta negara-negara lainnya, pertahankan itu meski harus fight ’till death end. Jejali sampai sumpek dada mereka hingga mereka bisa melampiaskannya dengan penuh gairah. Hingga nantinya bisa orgasme dengan perasaan itu.
Tapi ini adalah plan jangka panjang, mereka baru bisa unjuk gigi belasan sampai duapuluhan tahun lagi. Tapi dengan spare waktu yang relatif lama itu diharapkan bisa ada Soekarno angkatan ke-2, Syahrir angkatan ke-2 sehingga bisa terlahir kembali sebagai negarawan sejati bukan hanya seorang poli-tikus sontoloyo yang saling berebut kepentingan untuk dirinya sendiri dan koloninya dengan jiwa nasionalisme yang sempit mereka, bukan nasionalisme yang nasionalis. Dengan demikian beliau-beliau yang sudah di alam baka itu tidak lagi meringis sedih, even menangis, melihat penerusnya yang suka bertingkah aneh dan lucu-lucu seperti sekarang ini. Dengan spare waktu selama itu pula diharapkan para poli-tikus2 itu lah yang menjadi korban seperti di Wanokwari, terkena longsor ketika sedang berlibur ke villa-villa mereka di puncak, tergulung ombak ketika sedang pelesir dipantai, kelelep banjir dadakan (bukannya rakyat biasa yang terkena) dan bahkan kalau perlu dipaksa mati seperti JFK. Meski terdengar SADIS dan TIDAK MUNGKIN, at least 20 tahun lagi negeri ini bisa diharapkan bersih dari hama tikus. Dan setelah ‘lulus program itu’, anak-anak itu besok bisa berperan dengan baik. ^_^
*) Oalah le cah bagus, ngomong opo to iki?? Nggambleh wae, tangi-tangi….
Sebuah Video Dalam Sebuah Laptop
Beberapa hari yang lalu maen ke rumah teman di sebuah perkampungan. Tidak disangka lagi ada kumpulan beberapa orang sedang melototi sebuah laptop. Bukan karena laptop-nya, melainkan karena sebuah video yang baru saja di play. Tapi bukan videonya Maria Ozawa, Asia Carrera and the gang (eniwei ternyata Asia Carrera termasuk salah satu orang jenius di dunia ini, heh gak salah tuh?heu…) Video yang sedang mereka saksikan adalah sebuah video ‘iklan’ itu berdurasi kira-kira satu jam-an. Dan sudah beredar banyak di sebuah (mungkin beberapa –red) kampung. Video itu mengiklankan seseorang yang ingin mendapat sebuah kursi dengan menaiki kendaraan merah berlogo binatang yang mirip kerbau. Video dimulai dengan logo kendaraan itu yang muncul dari center screen yang lama-kelamaan semakin terlihat gedhe. Kemudian potongan salah satu lagu nasional pun muncul. Bersamaan dengan itu foto-foto proklamator dan sejarawan hebat bangsa ini pun muncul dan diikuti oleh suara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan. Sampai adegan ini gue masih bisa menikmati dengan khidmatnya, malah sempat merinding juga. Maklum gue salah satu pengagum orang-orang hebat itu –hormat bungkuk buat mereka.
Setelah parade orang-orang hebat itu lewat maka inti dari iklan ini pun gue rasa baru dimulai, dan gue eneg ngeliatnya. Si pengiklan yang mengiklankan dirinya pun dengan pede jaya menghubung-hubungkan dirinya dengan salah satu orang hebat itu untuk merebut simpati dari konsumen. Ya, dia adalah salah satu cucu dari orang hebat itu. Dengan pede jaya menyebut dirinya punya darah proklamator (maksude opo?) dan foto-foto masa lalu ibu dan sang kakek kembali berseliweran di screen. Beberapa petikan lagu klasik dan slow rock pun sempat mengiringi adegan-adegan itu (gue yakin Lars Ulrich bakalan mencak-mencak kalau tahu karena Nothing Else Matter dilibatkan), tapi sayang gue rasa itu malah semakin mengesankan seperti iklan sampah! Tapi tidak bagi beberapa orang disamping saya yang ikut menyaksikannya. Mereka sangat terbawa oleh arus iklan di video itu, serasa menonton sebuah film roman picisan. Dan gue cuma nyengir sendiri melihatnya. Setelah ‘menghebatkan’ dirinya dengan para pendahulunya, adegan berikutnya baru fokus pada dia sendiri. Beberapa cuplikan saat dia berpidato di depan massa dengan lambaian tangan dan cara bicara yang mirip sang ibu pun sering nongol. Raut muka yang berapi-api, mengomentari ketidakadilan, kesengsaraan dan kesusahan rakyat dan menyalahkan pihak sana pihak sini dengan tidak memberikan solusi tapi malah memberikan janji-janji yang sudah basi! Potongan-potongan komentar yang muluk-muluk dari rakyat-rakyat kecil innocent pun tak ketinggalan. Lagi-lagi, semua hanya terkesan meng-agungkan nama besar pendahulunya. Faktap!
Gue masih saja heran, disaat konsumen sudah merasa antipati terhadap ‘bualan’ mereka, kenapa metode seperti itu masih saja digunakan untuk merebut simpati konsumen. Tapi yang lebih mengherankan lagi, kenapa masih saja banyak konsumen yang terjebak di lubang yang sama padahal mereka sudah cukup pandai untuk (maaf) dibodohi! Ini bukan mengiklankan sebuah mobil Honda, jam tangan Rolex ataupun prosesor Intel yang memang sudah terbukti akan merek, sejarah dan orang-orang hebat dibelakangnya. Ini mengiklankan sebuah kepercayaan yang memerlukan bukti dan tindakan yang nyata. Dan, sejarah serta orang-orang hebat pendahulunya seharusnya tidak hanya dijadikan bungkus yang warna-warni saja. Ah eneg rasanya ngeliat video itu, hanya mirip simulasi pelajaran sejarah SD. Sepertinya mending ngeliat Maria Ozawa and the gang (meski gue juga eneg ngeliat yang Jepang-Jepang) eh??? Qiqiq…
The Wishingchair
Kini aku sedang duduk
di sebuah kursi dalam fakta
Tempat terakhir kali kita duduk bersama
tempat kita berpagut, tangis dan tawa
tempat melukis mimpi masa depan
Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan
Ternyata hanya kosong, tak ada kamu
Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh
duduk dalam harap
Melengkapi warna lukisan masa depan -kita
Reunion II
Berikut adalah foto-foto yang diambil dari reunian kecil geng kuliah gue dulu. Gambar diambil di Objek Wisata Gunung Merapi-Merbabu, Ketep, Magelang saat kabut dan gerimis sudah mulai turun, 30 Desember 2008. Meski pas bukan malam tahun baru, tapi bisa dibilang juga acara year end 2008. Huff, tapi sayang beberapa agenda reunian kecil itu banyak yang tidak terwujud. Selain karena hujan (gagal liat pemandangan dua gunung dan bakar-bakar jagung), juga karena sudah menjadi kebiasaan kita seperti itu. Makane jangan banyak planning, dab! Heuheu… Ok tapi it was fun. Bisa ngakak-ngakak koplak bareng lagi setelah sekian lama. Well, gud lak and sukses saja untuk kalian, my brothas. Mari teruskan perjuangan kita… God bless you all.
Oiya kawan, dari sekian banyak foto, hanya ini yang bisa lolos masuk postingan gue, yang lain narsis semua dan tidak lulus sensor.Hhe… Dan setelah sekian lama, untuk pertama kalinya wujud gue nongol di parkiran ini.

Yang mana saia?

The greatest ass, lady. Which one? Buahuahuahua....

Two choices, yang mana saia??

Yak, inilah saia...