Dik

Posted: March 19, 2009 in poem, setorie
Tags: , ,

 

Dik,

Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?

Di sawah, dik

Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang

menghubungkan ke-dua desa kita

 

Masih ingatkah kamu, dik?

 

Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu

Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu

dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri

Ingatkah, dik?

Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore

Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku

setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme

 

Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus

Kamu pun lewat dihadapanku, dik

Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu

Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan

Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang

beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin

Menutupi rona wajahmu yang bersemi

Ooh…

Dan aku pun terpesona, dik

 

Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna

membuatmu tampak lebih anggun

Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang

Lalu, kedua mata kita saling bertemu

Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam

Untung saja aku masih bisa berdiri tegap

Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan

Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis

Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik

Oh, Gusti…

Nyatakah ini?

Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya

 

Dan benar saja, dik

Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok

Mbok pun hanya bilang:

Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”

Ah, si mbok

Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok

Ingin membantahnya pun tak daya

beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?

 

Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?

Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?

Sejak saat itu aku selalu teringat mu

Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu

Asal-usulmu, bahkan namamu

Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi

Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore

Tak pernah lagi…

Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme

Tak pernah lagi…

 

Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti

untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu

 

Dan doaku pun akhirnya terjawab

Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku

Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik

Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan

Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya

 

Namun kondisi tak lagi sama, dik

Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati

Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup

Kulitmu yang segar kini layu

Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya

Senyummu pun berat

 

Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku

 

Sudah, dik

Sudah..

Jangan kau teruskan lagi ceritamu

Tak kuasa hati ini merasa

Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati

Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik

Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah

Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu

telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya

Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat

tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya

Benar lelaki bajingan dia, dik

 

Ah, menyesal aku, dik

Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme

Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya

jika aku harus mendapati dirimu seperti ini

Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini

Malah semakin biadab saja

Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?

Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo

Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…

 

Dan sekarang,

setelah kita menghabiskan waktu ini bersama

Dengan jiwa yang kelu

kugenggam tanganmu dingin di pembaringan

Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku

Tipis…

Tapi tulus…

persis saat pertama kali kita berjumpa dulu

 

Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu

Comments
  1. duniafannie says:

    apa ini?!?
    *melotot*

  2. dian diam says:

    Bkn ap2, hanya sampah yg berserakan di parkiranku.

  3. Pandu says:

    very nice…tapi panjang ya…:p

  4. nanzzzcy says:

    mas..
    kemaren sore adik pergi ke sawah
    adik menunggu mas sampai lama
    tapi kenapa mas gak kunjung datang??
    adik sedih..

    kan adik mau nagih utang.. hahahaha..

    btw, lu kenape pak??

  5. dian diam says:

    @ Nanzz : iya, kemaren sore mas udah dtg ko. Adik pke baju ap? Baju merah? Oo..itu adik to? Mas kr it cm boneka sawah, ya mas pergi lg no. Laen kali dandan yg bnr y…

    Nothing.. Biasa, lg nyampah aj bu.

  6. achoey says:

    indah ikhlasmu
    indah sikapmu

    dik
    tahukah kau siapa yang ada di blog ini
    datanglah kembali padanya

  7. wathon says:

    mbul nang mbulak

  8. Tuyi says:

    Judul postinganya mengingatkanku pada lagunya Wali.

  9. khairiaranaa says:

    Lugas & mengena…

    Sip sip… Likes this.
    :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s