Dik
Dik,
Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?
Di sawah, dik
Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang
menghubungkan ke-dua desa kita
Masih ingatkah kamu, dik?
Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu
Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu
dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri
Ingatkah, dik?
Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore
Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku
setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme
Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus
Kamu pun lewat dihadapanku, dik
Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu
Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan
Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang
beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin
Menutupi rona wajahmu yang bersemi
Ooh…
Dan aku pun terpesona, dik
Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna
membuatmu tampak lebih anggun
Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang
Lalu, kedua mata kita saling bertemu
Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam
Untung saja aku masih bisa berdiri tegap
Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan
Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis
Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik
Oh, Gusti…
Nyatakah ini?
Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya
Dan benar saja, dik
Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok
Mbok pun hanya bilang:
“Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”
Ah, si mbok…
Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok
Ingin membantahnya pun tak daya
beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?
Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?
Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?
Sejak saat itu aku selalu teringat mu
Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu
Asal-usulmu, bahkan namamu
Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi
Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore
Tak pernah lagi…
Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme
Tak pernah lagi…
Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti
untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu
Dan doaku pun akhirnya terjawab
Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku
Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik
Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan
Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya
Namun kondisi tak lagi sama, dik
Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati
Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup
Kulitmu yang segar kini layu
Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya
Senyummu pun berat
Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku
Sudah, dik
Sudah..
Jangan kau teruskan lagi ceritamu
Tak kuasa hati ini merasa
Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati
Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik
Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah
Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu
telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya
Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat
tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya
Benar lelaki bajingan dia, dik
Ah, menyesal aku, dik
Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme
Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya
jika aku harus mendapati dirimu seperti ini
Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini
Malah semakin biadab saja
Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?
Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo
Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…
Dan sekarang,
setelah kita menghabiskan waktu ini bersama
Dengan jiwa yang kelu
kugenggam tanganmu dingin di pembaringan
Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku
Tipis…
Tapi tulus…
persis saat pertama kali kita berjumpa dulu
Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu
apa ini?!?
*melotot*
duniafannie
March 22, 2009 at 3:46 am
Bkn ap2, hanya sampah yg berserakan di parkiranku.
dian diam
March 22, 2009 at 8:03 am
very nice…tapi panjang ya…:p
Pandu
March 24, 2009 at 1:15 am
mas..
kemaren sore adik pergi ke sawah
adik menunggu mas sampai lama
tapi kenapa mas gak kunjung datang??
adik sedih..
kan adik mau nagih utang.. hahahaha..
btw, lu kenape pak??
nanzzzcy
March 24, 2009 at 7:44 am
@ Nanzz : iya, kemaren sore mas udah dtg ko. Adik pke baju ap? Baju merah? Oo..itu adik to? Mas kr it cm boneka sawah, ya mas pergi lg no. Laen kali dandan yg bnr y…
Nothing.. Biasa, lg nyampah aj bu.
dian diam
March 24, 2009 at 8:04 am
indah ikhlasmu
indah sikapmu
dik
tahukah kau siapa yang ada di blog ini
datanglah kembali padanya
achoey
March 24, 2009 at 9:39 am
mbul nang mbulak
wathon
March 24, 2009 at 10:48 pm
Judul postinganya mengingatkanku pada lagunya Wali.
Tuyi
March 25, 2009 at 1:38 pm