Selalu mencoba untuk dinamis, mungkin lebih tepatnya mencoba ikut alur kedinamisan. Dinamis. Salah satu hal yang tak bisa dihindari dan diprediksi dalam hidup. Duh, ujug-ujug wis serius. Laksana waktu yang datang dan tak bisa dihadang. Ya, dinamis selalu ekuivalen dengan dengan waktu. Terus saja melaju dan mendera, tak bisa aku menghadangnya. Ketika aku beranjak melakukan sesuatu -atau tak melakukan sesuatu pun, tiba-tiba saja dihadapkan pada hal tertentu dengan sekejap. Semua terpersepsi tak terduga, atau memang begitulah kenyataannya, tak terduga. Beberapa hal yang sama sekali tak tersusun dalam benak. Jangankan tersusun, bahkan yang sama sekali tak pernah terlintas pun tiba-tiba nongol dan malah bisa menjadi concern utama kita. What a life. Dan hal-hal seperti itu lah yang bisa membuat hidup terasa lebih berwarna. Hmmm, ya, seperti itulah. Tak statis. Jika konteksnya hidup adalah himpunan yang paling besar, maka segala kegiatan dan peristiwa didalamnya adalah himpunan-himpunan kecilnya. Himpunan-himpunan kecil itu pun juga memerlukan –pasti terjadi- kedinamisan.
Dalam ruangan 6 x 7 meter ini, yang hanya diisi tiga orang, dalam sela ke-statis-an keseharian yang (fardu ‘ain-nya) dimulai dari jam 07.30 dan sampai jam 16.00 ini aku mencoba mencari-cari hal lain apa yang bisa dilakukan agar bisa dinamis, meski hanya terlihat duduk statis. Tak peduli apa itu, yang penting biarkanlah pikiranku dinamis. Dalam posisi ini. Kalau sudah seperti itu, biasanya aku hanya menghadap benda 17 inchi ini untuk berusaha menambah dan menggerakkan kedinamisan pikiran. Ah, apa lah itu. Salah satu halnya adalah mencoba memulai lagi kegemaranku saat dulu ini. Ya, ini. Tau kan, ini?
Sudahlah. Setelah cukup lama diam, hampir setahun kayaknya, mencoba lagi untuk memulai. Sudah barang tentu rentang waktu selama itu sebenarnya bisa mencapai beribu-ribu kata yang bisa kususun untuk kubariskan mendeskripsikannya, karena sudah banyak peristiwa yang terjadi, banyak kedinamisan fase yang terjadi yang kualami. Dinamis, bisa dikata begini? Jika menilik waktu saat dihadapkan pada sesuatu yang sudah terjadi, bisa saja kita bilang ‘cepat’. Namun siapa sangka jika kita mencoba merasakan kita kembali ke proses, merunut satu per satu kedinamisan yang terjadi di dalam rentang waktu itu, maka bisa terasa betapa tak secepat itu terlewati.
Dan kini aku mulai menikmati kedinamisanku –lagi.
Ganti tampilan nech ceritanya….
Statis yang dinamis, ada ga ya?
Hohohoho
@ayam,
statis adalah dinamis dg d = 0. ihiiiy..
yang jelas t ≠ 0…
manut wae lah…. Hahahaha
d = dunia
f = fannie
d & f… temukan duniamu… *halah opo to iki….
huks *kangen ngeblog* T.T
ayoooo, tulis2 meneh. corat-coret meneh….
1…
2….
3…….
mulaiiii……