Capek Juga Lama-Lama

Posted: August 6, 2010 in setorie, thought thought and thought

Ternyata berkendara itu capek. Tidak hanya capek fisik. Tapi juga psikis. Apalagi dijaman sekarang ini. Jalanan adalah salah satu tempat yang punya tingkat stressor bagi manusia yang paling tinggi. Gimana tidak coba? Marah, gusar, emosi, bahkan sampai misuh bisa langsung keluar meledak. Pasti sudah kebayang jalanan macet a.k.a menjelang lumpuh yang ada di Jakarta yang sering masuk tipi akhir-akhir ini. Tapi tak usah jauh-jauh kesana. Di Jogja (dan daerah –daerah sekitar kita) pun pasti sudah tak jarang ditemui. Bisa disebabkan karena kondisi di jalan yang memang yang semakin tidak jelas atau juga karena oleh pengguna jalan kurang beretika atau malah kombinasi kedua-duanya. Mulai dari ngebut ditengah kemacetan, orang yang mendahului dengan ekstrem, parkir di bahu jalan seenaknya sendiri, angkutan umum yang seenaknya sendiri njemput atau menurunkan penumpang, dan bahkan sampai orang menyeberang jalan tanpa tengok kanan kiri seolah-olah ingin bunuh diri saja (kalao bener bunuh diri enakan dia kesampaian ketabrak dan mati, lha yang nabrak? Panjang urusan, dab). Seperti kasus yang belum lama ini waktu aku memasuki area jalan di daerah Bogem, Prambanan. Di situ ada jalan dengan 3 jalur. 1 jalur di tengah untuk kendaraan berat seperti mobil, bus dan truk. Dua jalur disampingnya untuk sepeda ataupun sepeda motor. Sudah jelas-jelas hal itu tertulis di rambu yang bertuliskan sebelum masuk memasuki area itu. Waktu itu aku dari arah Klaten menuju Jogja. Berhubung jalur yang ditengah waktu itu lagi padat, dan seringnya begitu karena jalur tengah kurang besar dan satu jalur untuk dua arah, ada bus yang tiba-tiba nyelonong masuk jalur samping. Well, akhirnya sudah kebayang sendiri, bus segede itu seenaknya sendiri masuk lalu njemput-turunkan penumpang di jalan yang notabene diperuntukkan untuk pengendara-pengendara kecil. Jalan jadi sesek, terjadi antrian, klakson saling sahut-sahutan, misuh-sumpah serapah tak lupa ditinggalkan. Sekilas juga terlihat ada juga yang mengacungkan jari tengah. Tapi yang bikin gemes adalah kernet dan sopir bus itu cuma senyum-senyum saja dengan kondisi itu. Demnn..

Ada satu lagi, kejadian ini sering kualami tiap kali pulang ngantor, kadang pas berangkatnya juga. Ini terjadi di jalan yang mana sudah jadi jalan fardu ‘ain-ku. Mau tak mau harus lewat jalan situ. Jalan itu sebenarnya sudah ramai, macet tiap kali jam-jam pulang kantor. Namun sekarang semakin tak karuan saja apalagi setalah kedatangan H*k Ben, Dun*in, dan Pi**a Hut yang segaris yang kalau diukur jaraknya tak nyampai setengah kilo. Padahal jalanan itu kurang lebih panjangnya hanya 1 km (ya Jakal namanya, yang sepanjang dari MM UGM – perempatan Kentungan) dan sepanjang jalan itu sudah banyak terdapat Hotel, berbagai foodcourt keren, supermarket dan tetek bengek laennya. Keadaan itu menyebabkan traffic keluar masuk kendaraan jadi padat. Belum lagi parkiran yang sampai membeludak. Bahu jalan bisa seenaknya saja berubah jadi lahan parkir. Bueehh… Ampun. Waktu itu pulang ngantor, dari arah utara. Dan jalanan dari utara ke selatan masih normal. Tapi yang dari arah selatan, matot. Mobil-mobil nggremet. So, beberapa pengendara motor dari arah tersebut make sisi laen jalan yang dari arah utara karena tidak serame yang dari selatan. Masih cukup tempat buat nylusup-nylusup, dipikiran mereka mungkin seperti itu. Dan aku dari arah utara mau mendahului mobil di depan, tiba-tiba dari depan ada motor gede yang mengahampiriku. Untung saja, sigap mengerem dan langsung kembali sembunyi di balik mobil itu. Motor dari depan pun terus saja melaju ke depan. Pengen muntab. Sigh.

Itu hanya satu-dua kasus saja. Tentu masih banyak contoh-contoh yang laen. Dan tidak munafik juga mungkin kadang aku juga jadi pelaku yang kurang beretika itu.

Well, kenapa kesadaran berkendara masih kurang? Mengapa oh mengapa? Terlalu complicated untuk menjelaskannya. Masalahnya bisa berasal dari pengguna jalan sendiri atau dari pihak luar dan kondisi jalanan a.k.a fasilitas berkendara. Mungkin bisa juga reward dan punishment yang sebatas formalitas saja. Ah, dan ujung-ujungnya bisa saling menyalahkan. Beretika di jalan, kuncinya cuma satu, toleransi. Saling menjaga dan saling mengalah. Soalnya ini berhubungan dengan keselamatan. Taruhannya bisa nyawa, kalau tidak nyawa paling tidak ya patah tulang atau lecet-lecet. Pilih yang mana? Sudahkah anda aku mempraktekkan beretika di jalan?

Advertisement
Comments
  1. papocha says:

    salahkan leasing yang gencar memberikan angsuran ringan utk memiliki kendaraan bermotor..
    salahkan pemerintah karena tidak bisa memberikan sarana transport publik yang layak sehingga pemakaian kendaraan pribadi meningkat..
    salahkan aparat karena kurang bahkab\n tidak tegas..

    tapi sebelum itu semua, salahkan diri kita sendiri karena kita hanya melihat semua itu terjadi.. :D

  2. duniafannie says:

    sayangnya semakin kita hati2, org laen malah semakin nggak mau kalah pake jalan.
    maen nyelonong aja. gimana gak esmosi… errr.
    pfuh. apalagi kalo lwt stlh p4an iain-amplaz yg sdg diperbaiki itu. haduh, pengen rasanya punya sayap. :( *capek*

    • dian diam says:

      biarkan saja mereka, kalo mau teteup kekeuh ambil resiko, ya silakan. tapi taruhannya dah tau sendiri. yg penting kita yg bukan bikin celaka orang lain. setelah ituuu, nasib. bismillah saja lah… :)
      atau mau seperti aku ituu lhooo?
      qiqiqi

  3. irmawati says:

    monjali ngidul, ngetane ngurut selokan, jedhul prapatan em em kari nggeblas ngetan. biar aja pada buka resto, wong ya emang strategis kok… Ndak mau macet ya cari jalan alternatip. Masalah lebih jauh or lebih lama, itu resiko. Ndak mau ambil resiko, ya silahkan macet2an. Done.

  4. dian diam says:

    Monjali ngidul tekan selokan podo wae,bs lebih kacau.jalan lebih sempit plus jd jalan utama pekerja rumah utara yang nge-nafkah di kota.
    Ngalang lwt Ngaglik bs lbh sepi.tapi sebelume di p4an concat ke selatan,huehehe idem ma yg laen macetnya.
    Ambil resiko y paling tidak harus ada prhitungan dan masuk akal dunk:)
    Alternatifnya y pulangna menghindari barengan jam kerja.that’s it…
    Welkom tu jokjaah… :)

  5. irmawati says:

    oh, piye yen lewat jakal, tp sblm hokben belok ngetan mlebu kampung, mengko ujug2 tekan kos. Duh, lali jenenge, tp vidi yg plg utara itulah. Soale mbiyen duwe murid ning kono, heee

  6. nanzzzcy says:

    welcome backkkkkkk… huaaa…senengnyaaaa.. dirimu muncul lagi ^^

  7. klo capek lama2,.. y jgn lama2,.. bentar2 aja,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s