Archive for the ‘poem’ Category
Dik
Dik,
Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?
Di sawah, dik
Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang
menghubungkan ke-dua desa kita
Masih ingatkah kamu, dik?
Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu
Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu
dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri
Ingatkah, dik?
Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore
Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku
setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme
Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus
Kamu pun lewat dihadapanku, dik
Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu
Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan
Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang
beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin
Menutupi rona wajahmu yang bersemi
Ooh…
Dan aku pun terpesona, dik
Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna
membuatmu tampak lebih anggun
Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang
Lalu, kedua mata kita saling bertemu
Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam
Untung saja aku masih bisa berdiri tegap
Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan
Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis
Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik
Oh, Gusti…
Nyatakah ini?
Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya
Dan benar saja, dik
Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok
Mbok pun hanya bilang:
“Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”
Ah, si mbok…
Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok
Ingin membantahnya pun tak daya
beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?
Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?
Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?
Sejak saat itu aku selalu teringat mu
Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu
Asal-usulmu, bahkan namamu
Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi
Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore
Tak pernah lagi…
Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme
Tak pernah lagi…
Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti
untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu
Dan doaku pun akhirnya terjawab
Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku
Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik
Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan
Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya
Namun kondisi tak lagi sama, dik
Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati
Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup
Kulitmu yang segar kini layu
Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya
Senyummu pun berat
Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku
Sudah, dik
Sudah..
Jangan kau teruskan lagi ceritamu
Tak kuasa hati ini merasa
Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati
Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik
Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah
Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu
telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya
Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat
tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya
Benar lelaki bajingan dia, dik
Ah, menyesal aku, dik
Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme
Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya
jika aku harus mendapati dirimu seperti ini
Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini
Malah semakin biadab saja
Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?
Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo
Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…
Dan sekarang,
setelah kita menghabiskan waktu ini bersama
Dengan jiwa yang kelu
kugenggam tanganmu dingin di pembaringan
Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku
Tipis…
Tapi tulus…
persis saat pertama kali kita berjumpa dulu
Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu
The Wishingchair
Kini aku sedang duduk
di sebuah kursi dalam fakta
Tempat terakhir kali kita duduk bersama
tempat kita berpagut, tangis dan tawa
tempat melukis mimpi masa depan
Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan
Ternyata hanya kosong, tak ada kamu
Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh
duduk dalam harap
Melengkapi warna lukisan masa depan -kita
Cerita Dalam Bilangan 6
Ya, sudah lebih dari 2190 hari
kita telah saling tahu
meski sekarang belum benar-benar tahu
Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon
kita telah bersama
meski sekarang tak jua bersama
Sebentar,
benarkah sudah selama itu?
Tak terasa
sudah banyak cerita, banyak jalan
telah terlewati
Pernah kita satu jalan
Pernah juga tidak
kamu ke timur dan aku ke barat
Dan sekarang,
kita telah satu jalan -lagi
meski belum satu sepeda
Tak apa lah
Teruslah kita mengayuh saja
hingga sampai tujuan
Jangan tanya sampai kapan itu
Terus saja lihat saja ke depan
dan perhatikan kanan-kiri
Jangan lupa pula
lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’
agar kita tetap satu jalan
Karena jalan dan juga waktu di depan
kadang selayak fatamorgana
Aku Tahu
Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,
Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah
Lihatlah ke depan,
aku ada untuk melindungimu
Lihatlah ke kanan ke kiri,
aku ada untuk menjagamu
Dan lihatlah kebelakang,
aku akan selalu ada mendukungmu
Karena aku tahu kau percaya untuk aku
Lelapmu
Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.
Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.
Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…
Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.
Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.
Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…
Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.
Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.
Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.
Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.
Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.
Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…
Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.
Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.
Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.
Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,
terbangun karena kebelet ingin ke toilet,
ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.
Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…
Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,
ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,
ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…
Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,
ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,
dan ketika suara masih parau setengah-setengah…
kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,
“Selamat pagiii…”
Gambarmu
Kucoba ku cari lagi
beberapa gambarmu,
gambar-gambar kecil itu
saat kamu aku tersenyum,
tersenyum tersipu malu
Bersama
Ah, tak peduli…
gambar siapapun,
kamu sendiri atau bersamaku
yang penting ada kamu di situ
Biar bisa kulihat kamu lagi
Namun sudah kucari di mana-mana
tidak ketemu jua
Ternyata aku baru ingat,
beberapa sudah ku kembalikan padamu,
beberapa sudah kubuang
Arrgghhh…
…………………….!!!
Fuuh…
Boleh aku minta lagi?
Lagi dan lagi
Ketika aku harus kembali
dan mengobati
kenapa itu selalu kamu?
Lagi, lagi dan lagi…
Ternyata
Ternyata,
sudah cukup lama hati tidak menyapa
Dan untuk kesekian kalinya
Semalam,
bersama bulan ku coba mendatangimu
Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”
Uhmmm…
meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,
tapi itu kubawakan khusus untuk kamu
Ternyata,
sudah lama juga kamu ingin datang
juga hanya sekedar ingin menyapa
Bersama bulan juga kah?
Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya
Jika boleh meminta,
cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja
biar bisa kulihat dan kudengar lagi
Dan dengan diterangi sinar bulan,
hmmm…sungguh pemandangan yang cantik
Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja
Ternyata,
kita juga sama-sama ingin saling menyapa
Di saat-saat hal semacam ini,
kenapa selalu bisa bersamaan ya?
Kamu bilang sih kita masih soulmate
Hah, kamu ini
Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?
Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui
sebenar-benarnya
Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,
menyesal juga
Sudah jangan diingat-ingat
Meski kadang, aku juga masih sering teringat
mengingatmu
Dan ternyata,
Sekarang kamu sendiri lagi ya?
Uhmmm…
Ah sudahlah…
*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.
Hanya Ingin Diam
Lelah
Dan sejenak ku diam
Tak ingin melihat
Tak ingin mendengar
Tak ingin memperhatikan
Maaf,
Ku tak ingin di ganggu
dan ku tak ingin mengganggu
Ku tak ingin sakit
dan tak ingin menyakiti
Biar kan ku sendiri
dengan dunia yang ku punya
Maaf,
bukan salahmu
bukan salah siapa-siapa
Aku hanya lelah
karena telah berjalan kejauhan
hingga ku semakin jauh
Lelah…
Ku hanya ingin diam
sejenak