dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Archive for the ‘poem’ Category

Dik

with 8 comments

 

Dik,

Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?

Di sawah, dik

Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang

menghubungkan ke-dua desa kita

 

Masih ingatkah kamu, dik?

 

Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu

Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu

dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri

Ingatkah, dik?

Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore

Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku

setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme

 

Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus

Kamu pun lewat dihadapanku, dik

Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu

Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan

Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang

beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin

Menutupi rona wajahmu yang bersemi

Ooh…

Dan aku pun terpesona, dik

 

Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna

membuatmu tampak lebih anggun

Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang

Lalu, kedua mata kita saling bertemu

Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam

Untung saja aku masih bisa berdiri tegap

Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan

Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis

Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik

Oh, Gusti…

Nyatakah ini?

Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya

 

Dan benar saja, dik

Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok

Mbok pun hanya bilang:

Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”

Ah, si mbok

Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok

Ingin membantahnya pun tak daya

beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?

 

Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?

Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?

Sejak saat itu aku selalu teringat mu

Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu

Asal-usulmu, bahkan namamu

Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi

Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore

Tak pernah lagi…

Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme

Tak pernah lagi…

 

Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti

untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu

 

Dan doaku pun akhirnya terjawab

Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku

Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik

Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan

Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya

 

Namun kondisi tak lagi sama, dik

Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati

Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup

Kulitmu yang segar kini layu

Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya

Senyummu pun berat

 

Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku

 

Sudah, dik

Sudah..

Jangan kau teruskan lagi ceritamu

Tak kuasa hati ini merasa

Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati

Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik

Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah

Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu

telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya

Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat

tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya

Benar lelaki bajingan dia, dik

 

Ah, menyesal aku, dik

Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme

Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya

jika aku harus mendapati dirimu seperti ini

Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini

Malah semakin biadab saja

Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?

Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo

Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…

 

Dan sekarang,

setelah kita menghabiskan waktu ini bersama

Dengan jiwa yang kelu

kugenggam tanganmu dingin di pembaringan

Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku

Tipis…

Tapi tulus…

persis saat pertama kali kita berjumpa dulu

 

Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu

Written by dian diam

March 19, 2009 at 12:05 pm

Posted in poem, setorie

Tagged with , ,

The Wishingchair

with 7 comments

Kini aku sedang duduk

di sebuah kursi dalam fakta

Tempat terakhir kali kita duduk bersama

tempat kita berpagut, tangis dan tawa

tempat melukis mimpi masa depan

 

Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan

Ternyata hanya kosong, tak ada kamu

Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh

duduk dalam harap

Melengkapi warna lukisan masa depan -kita

Written by dian diam

January 6, 2009 at 3:28 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Cerita Dalam Bilangan 6

with 12 comments

Ya, sudah lebih dari 2190 hari

kita telah saling tahu

meski sekarang belum benar-benar tahu


Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon

kita telah bersama

meski sekarang tak jua bersama


Sebentar,

benarkah sudah selama itu?


Tak terasa

sudah banyak cerita, banyak jalan

telah terlewati


Pernah kita satu jalan

Pernah juga tidak

kamu ke timur dan aku ke barat


Dan sekarang,

kita telah satu jalan -lagi

meski belum satu sepeda


Tak apa lah

Teruslah kita mengayuh saja

hingga sampai tujuan


Jangan tanya sampai kapan itu

Terus saja lihat saja ke depan

dan perhatikan kanan-kiri


Jangan lupa pula

lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’

agar kita tetap satu jalan


Karena jalan dan juga waktu di depan

kadang selayak fatamorgana

Written by dian diam

December 25, 2008 at 3:58 am

Posted in poem

Tagged with ,

Aku Tahu

with 10 comments

Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,

Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah


Lihatlah ke depan,

aku ada untuk melindungimu

Lihatlah ke kanan ke kiri,

aku ada untuk menjagamu

Dan lihatlah kebelakang,

aku akan selalu ada mendukungmu


Karena aku tahu kau percaya untuk aku


Written by dian diam

November 14, 2008 at 4:08 am

Posted in poem

Tagged with ,

Lelapmu

with 12 comments

Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.

Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.

Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…

Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.

Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.

 

Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…

Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.

Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.

Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.

Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.

 

Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.

Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…

Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.

Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.

 

Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.

Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,

terbangun karena kebelet ingin ke toilet,

ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.

 

Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…

Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,

ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,

ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…

 

Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,

ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,

dan ketika suara masih parau setengah-setengah…

kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,

“Selamat pagiii…”

 

Written by dian diam

October 11, 2008 at 2:16 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Gambarmu

with 3 comments

Kucoba ku cari lagi

beberapa gambarmu,

gambar-gambar kecil itu

saat kamu aku tersenyum,

tersenyum tersipu malu

Bersama

Ah, tak peduli…

gambar siapapun,

kamu sendiri atau bersamaku

yang penting ada kamu di situ

Biar bisa kulihat kamu lagi

Namun sudah kucari di mana-mana

tidak ketemu jua

Ternyata aku baru ingat,

beberapa sudah ku kembalikan padamu,

beberapa sudah kubuang

Arrgghhh…

…………………….!!!

Fuuh…

Boleh aku minta lagi?

Written by dian diam

August 11, 2008 at 7:02 am

Posted in poem, setorie

Tagged with ,

Lagi dan lagi

without comments

Ketika aku harus kembali

dan mengobati

kenapa itu selalu kamu?

Lagi, lagi dan lagi…

Written by dian diam

August 4, 2008 at 7:45 am

Posted in poem

Tagged with ,

Ternyata

with 3 comments

Ternyata,

sudah cukup lama hati tidak menyapa

Dan untuk kesekian kalinya

Semalam,

bersama bulan ku coba mendatangimu

Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”

Uhmmm…

meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,

tapi itu kubawakan khusus untuk kamu

Ternyata,

sudah lama juga kamu ingin datang

juga hanya sekedar ingin menyapa

Bersama bulan juga kah?

Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya

Jika boleh meminta,

cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja

biar bisa kulihat dan kudengar lagi

Dan dengan diterangi sinar bulan,

hmmm…sungguh pemandangan yang cantik

Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja

Ternyata,

kita juga sama-sama ingin saling menyapa

Di saat-saat hal semacam ini,

kenapa selalu bisa bersamaan ya?

Kamu bilang sih kita masih soulmate

Hah, kamu ini

Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?

Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui

sebenar-benarnya

Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,

menyesal juga

Sudah jangan diingat-ingat

Meski kadang, aku juga masih sering teringat

mengingatmu

Dan ternyata,

Sekarang kamu sendiri lagi ya?

Uhmmm…

Ah sudahlah…

*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.

Written by dian diam

July 29, 2008 at 11:32 am

Posted in poem

Tagged with ,

Hanya Ingin Diam

without comments

Lelah

Dan sejenak ku diam

Tak ingin melihat

Tak ingin mendengar

Tak ingin memperhatikan

Maaf,

Ku tak ingin di ganggu

dan ku tak ingin mengganggu

Ku tak ingin sakit

dan tak ingin menyakiti

Biar kan ku sendiri

dengan dunia yang ku punya

Maaf,

bukan salahmu

bukan salah siapa-siapa

Aku hanya lelah

karena telah berjalan kejauhan

hingga ku semakin jauh

Lelah…

Ku hanya ingin diam

sejenak

Written by dian diam

July 24, 2008 at 6:10 am

Posted in poem

Tagged with