dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Archive for the ‘trip’ Category

Reunion II

with 13 comments

Berikut adalah foto-foto yang diambil dari reunian kecil geng kuliah gue dulu. Gambar diambil di Objek Wisata Gunung Merapi-Merbabu, Ketep, Magelang saat kabut dan gerimis sudah mulai turun, 30 Desember 2008. Meski pas bukan malam tahun baru, tapi bisa dibilang juga acara year end 2008. Huff, tapi sayang beberapa agenda reunian kecil itu banyak yang tidak terwujud. Selain karena hujan (gagal liat pemandangan dua gunung dan bakar-bakar jagung), juga karena sudah menjadi kebiasaan kita seperti itu. Makane jangan banyak planning, dab! Heuheu… Ok tapi it was fun. Bisa ngakak-ngakak koplak bareng lagi setelah sekian lama. Well, gud lak and sukses saja untuk kalian, my brothas. Mari teruskan perjuangan kita… God bless you all.


Oiya kawan, dari sekian banyak foto, hanya ini yang bisa lolos masuk postingan gue, yang lain narsis semua dan tidak lulus sensor.Hhe… Dan setelah sekian lama, untuk pertama kalinya wujud gue nongol di parkiran ini.

01

Yang mana saia?

02

The greatest ass, lady. Which one? Buahuahuahua....

03

Two choices, yang mana saia??

saia

Yak, inilah saia... :)

Written by dian diam

January 1, 2009 at 3:15 am

Posted in trip

Tagged with

Salam Dari ‘Umbrella Boys’

with 18 comments

0111Itu adalah gambar yang gue ambil di salah satu mall yang belum lama ini gue kunjungi, di Bandung. Waktu itu gue sedang duduk-duduk menyaksikan pertunjukan musik (gratis) nya Ponky dkk yang di gelar di mall itu. Tiba-tiba segerombolan anak-anak yang asyik bercanda dan bermain, lewat dan duduk di kursi depan gue. Dilihat dari mukanya mereka sepertinya anak-anak umuran SD (SMP awal paling tidak). Entah kenapa kehadiran mereka membuat gue sejenak mengalihkan perhatian gue dari menikmati pertunjukan yang ada, mungkin gara-gara gue sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di daerah udik nan ndeso di Klaten. Cukup lama gue memperhatikan mereka. Dari cara berpakaian, gaya bicara, tingkah laku sampai dengan gadget-gadget yang mereka bawa. Menyita perhatian gue. Sejenak. Dulu waktu gue seumuran mereka yang ada mainnya adalah gundu, layang-layang, sepakbola di lapangan berlumpur sampe belepotan, paling modern adalah console game semacam PS atau Nintendo. Kenapa gue jadi ngiri yak? Jawabannya sih kira-kira cuma satu: perkembangan jaman dan teknologi (self defense yang amat klise dari seorang udik ^_^).


Tapi bukan itu main point gue nulis ini. Setelah beberapa lama berada di dalam mall nikmatin pertunjukan gratis itu, gue keluar dari mall tersebut. Dan ternyata diluar sedang hujan dengan sangat derasnya. Gue tidak bisa ngapa-ngapain selain mau tak mau cuma nungguin dan berdoa segera reda. Dasarnya gue suka suasana saat itu, gue nyaman-nyaman saja. Dan akhirnya gue malah mendapat beberapa gambar, salah satunya yang di samping. Sebut saja mereka 02umbrella boys. Jumlah mereka lumayan banyak. Dan karena halaman plus parking lot di depan mall itu sangat guede, kelihatan sekali mereka berlarian kesana-kemari menyambut dan menjemput para pengunjung untuk keluar masuk mall dari dan ke kendaraan masing-masing. Gue yang dalam posisi duduk menyaksikan mereka berlarian kesana kemari untuk mendapat rupiah dari si pengguna jasa. Kadang-kadang mereka lewat di depan gue, beberapa terlihat masih mengenakan seragam sekolah. Entah kenapa juga, pikiran gue kembali ke anak-anak yang di dalam tadi. Sungguh amat sangat berbeda. Yang satu sepulang sekolah seneng-seneng di mall, yang satu sepulang sekolah berusaha untuk menyambung hidup. That’s a reality of life.


Setelah gue merasa cukup lama nunggu tapi hujan tidak reda juga, akhirnya gue memanggil salah satu dari mereka dan menggunakan jasa mereka. Dia mengantar gue dari depan mall sampai ke jalan raya. Bahkan sampai nyariin angkot buat gue. “Terima kasih, Kak” kata yang keluar saat gue memberi beberapa rupiah kepadanya.

Written by dian diam

November 19, 2008 at 4:52 am

Posted in trip

Tagged with ,

Deras. Dan Deras.

with 10 comments

Peringatan: jangan baca cerita ini jika anda tidak benar-benar punya waktu luang, tapi baca cerita ini jika anda benar-benar sudah tidak punya bacaan lain, dan bahkan jangan baca cerita ini jika anda belum merasa koran bekas yang jadi bungkus nasi kucing dan tempe pun sudah anda baca, karena cerita ini sungguh tidak penting.

Jumat kemarin, sore hari tepatnya, Yogyakarta hujan dengan lebatnya yang disertai dengan angin ribut. Bukan pertama kalinya. Yapi kali ini UGM yang jadi sasaran utamanya. Dan kali gue menjadi saksinya, bahkan terlibat dalam kejadian-kejadian di dalamnya. Sore itu Jogja gelap, pekat, hawa panas mendera. Angin bertiup kencang seenaknya sendiri tanpa arah. Tapi hujan belum juga menyambangi. Dan orang-orang di luar, di jalanan, kelihatan sekali mereka panik terburu-buru untuk cepat sampai tujuan, takut didahului si hujan.

Saat itu gue hendak pulang ke kota gue. Sehabis Ashar gue lepas dari kost-an –yang sangat dekat dengan komplek tuh kampus, belum ada semenit menaiki motor gerimis sudah terasa. Gue masih ragu apa berhenti berteduh sejenak atau meneruskan perjalanan. Karena tidak konsen dan sedikit bingung gue cuma berkendara pelan-pelan. Tolol! Dan angin pun mengikuti gerimis, dan semakin tak karuan saja. Tepat di depan gue terlihat sekumpulan daun, kertas dan sampah-sampah kecil beterbangan membentuk lingkaran yang berpola kira-kira hampir setinggi rumah. Makin lama-makin gede dan semakin tidak jelas arahnya kemana. Sungguh indah sebenarnya. Jarang-jarang gue melihat seperti itu secara langsung. Tapi berengsek! Tiba-tiba pusaran itu sudah didepan gue. Gue refleks langsung injak rem. Meski memakai helm dan tertutup rapat gue juga langsung menundukkan kepala. Selain suara berisik angin, sekilas terdengar juga beberapa jeritan di belakang. Untung saja di cuma lewat disamping saya. Tapi cukup membuat kaget dan membuat kotor jaket gue. Gerimis semakin cepat, dan bau khas menyengat aspal jalanan panas yang terkena rintik gerimis semakin menusuk hidung.

Dan tiba-tiba, breess, hujan lebat akhirnya datang. Dan gue masih ditengah perjalanan, kanan kiri tidak ada bangunan untuk berteduh. Beberapa milisekon kemudian akhirnya gue terdampar di kampus lama gue, untuk sekedar berteduh atau singgah sebentar memakai alat tempur di medan hujan. Dengan keadaan setengah basah gue diam sejenak ditempat itu, di salah satu bangunan kampus gue dulu. Sejenak juga kilatan listrik di langit ikut merangsang memori bersama anak-anak di tempat itu, di sekitar itu, hadir kembali. Hanya senyum. Hujan pun semakin deras. Dengan cepat air yang menggenangi jalan dan halaman bangunan itu semakin meninggi. Sekitar setengah jam-an lebih gue ditempat itu. Setelah hujan lebat berganti dengan butiran gerimis yang berjatuhan gue niatkan untuk beranjak pergi dari tempat itu, memakai jas hujan pastinya. Lagi pula keadaan gue saat itu sudah setengah basah. Nanggung. Lagi pula juga gue pengin nikmati butiran gerimis yang berjatuhan di jalanan Jogjakarta.

Sesaat memang seperti yang diharapkan. Tak lama berselang ketika baru sampai di pertigaan Jl Affandi, Demagan gerimis itu berubah menjadi hujan lebat lagi. Sial! Tapi karena sudah nyaman diatas motor butut gue –apa cuma males untuk berhenti lagi, gue tetep niatkan lanjut. Di kanan kiri bahu jalan banyak terlihat orang sedang berteduh, melihat kearah langit yang putih keruh kelabu. Berharap agar segera berubah menjadi biru lagi. Mungkin. Di jalanan teman gue selain air hujan cuma beberapa kendaraan tertutup beroda empat. Ketika sampai di Jl Demangan Baru, samping Kolese DeBrito, air menggenangi jalan semakin ke selatan semakin tinggi. Dan antrian kendaraan semakin padat. Sekilas di depan, di ujung jalan ini, di pertemuan jalan ini dengan Jl. Adi sutjipto, terlihat seorang mbak-mbak menuntun motornya, kemudian terlihat seorang lagi, lagi dan lagi. Macet. Mati. Ternyata mesin motor mereka terendam air yang tinggi dijalanan. Akhirnya gue putuskan untuk balik arah muter lewat Papringan menghindari resiko macet dan mesin mati.

Tak lama kemudian sudah sampai di Jl. Adi Sutjipto. Jalanan segede itu yang biasanya ramai terlihat cukup sepi. Tak lama kemudian di depan terlihat antrian kendaraan, macet! Pasti jalan di depan Ambarukmo yang menjadi biang keroknya. Daerah sekitar situ kalau ada hujan lebat pasti terjadi kemacetan, karena selalu banjir. Dan bisa dipastikan juga banyak kendaraan –terutama motor, yang terjebak didalamnya. Gue pernah mengalami hal itu, untung saja tidak sampai mati mesin. Karena sudah mengetahui hal itu, gue muter haluan lagi dan kali ini cukup jauh, kearah selatan lewat Timoho – Plumbon – JEC – Janti – Jl Solo. Ketika lewat di kompleks UIN sebenarnya hujan sudah berganti butiran gerimis lagi, tapi ketika setelah melewati rel kereta api di Jl Timoho tiba-tiba berubah menjadi hujan deras lagi. Memang seenaknya sendiri mereka. Semakin ke selatan semakin deras. Dan diujung jauh selatan Jogja sana terlihat langit cerah tapi ditemani awan hitam yang bergelayut. Berengsek, sialan! Tiba-tiba mobil dari arah depan berjalan dengan cepat dan menyipratkan air dari bawah. Sontoloyo.

Di depan kampus UJB gue belok kiri. Sepertinya belum lama lewat sini. Sampai daerah Plumbon hujan masih deras. Jalan daerah situ sempit, maklum jalan perkampungan. Di kanan kiri terlihat beberapa pohon tumbang, dipaksa rebahan oleh angin. Akhirnya sampai juga di Gedongkuning, depan JEC. Menemui jalan raya lagi. Hujan semakin deras. Dan gue sudah berasa kedinginan. Sekilas melihat telapak tangan sudah memutih. Genggaman gas sudah terasa kaku. Sesampainya di jalan raya Janti ternyata tidak sesuai banyangan. Ternyata jalanan juga banjir tergenang air. Tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan. Malah sebenarnya bisa bejek gas sepuas mungkin. Dan karena teman gue dijalan tersebut kebanyakan kendaraan gede yang beroda empat atau lebih, jalannya pun kencang, air pun tidak hanya datang dari atas, dari hujan, tapi juga dari samping, depan, dari mana-mana sepertinya, karena tiba-tiba gue merasa basah semua. Lagi-lagi sial, berengsek, sontoloyo! Tapi apa lacur sudah terasa basah dan dingin, dan gue tetep aja lanjut. Sampai di atas jembatan layang Janti, sejenak gue nengok ke kiri, ke barat, kearah kota Jogja. Dari atas, kota Jogja hilang berselimut putih kelabu. Tak terlihat.

Motor gue akhirnya mengarah ke timur melaju di atas Jl Solo. Hujan masih deras. Tetap. Tapi kelamaan semakin ke timur semakin kecil hujannya. Dan gue pun ber-Valentino Rossi wanna be, meski gue sama sekali tidak suka Rossi. Tapi tiba-tiba gue hilang grip, gue hampir sliding. Dan saat itu gue baru nyadar kalau ban belakang motor gue sudah mulai halus. Akhirnya gagal ber-Rossi wanna be, demi keselamatan. Di pertigaan Maguwoharjo hujan sudah berganti gerimis. Sampai di depan Bandara Adi Sutjipto jalan lagi-lagi banjir. Dan gue terjebak di belakang Atoz warna merah yang dibelakangnya bertuliskan nama; Dila*. Dan tidak nyadar kalau sejak terjebak banjir di depan bandara sampai daerah Kalasan gue terus dibelakang Atoz merah itu. Entah karena emang menjaga kecepatan agar tidak ber-Rossi wanna be, atau cuma gara bengong yang disebabkan tulisan nama di belakang Atoz merah itu. Damn it, kenapa sampai sekarang gue masih adaptif sama nama itu? Akhirnya gue menyadari hal itu, menyadari juga bahwa hujan sudah menghilang selepas Kalasan. Tapi di depan jauh di ujung pandangan di timur awan hitam yang bergelantung masih membayangi. Karena jalanan kering gue beranikan diri untuk menambah kecepatan sampai akhirnya kulewati Atoz merah itu, beserta sebuah nama yang bertuliskan di belakangnya. Tapi dia masih saja membayangi, mengikutiku dari belakang. Seperti (pemilik) nama yang bertuliskan di belakangnya itu selama ini, selama hampir 3 tahun belakangan. Selepas Prambanan gue berhenti sejenak untuk melepas jas hujan, meski ada sedikit keraguan karena di depan keadaan belum pasti aman dari hujan. Dan kota gue masih 10 km lagi, rumah gue ndlesep 5 km di belakangnya.

Sepanjang 10 km itu gue benar-benar ber-Rossi wanna be, berkejaran dengan awan putih kelabu karena saat itu awan masih hitam yang menandakan hujan belum tiba. Tinggal 5 km lagi. Tapi apa daya kekuatan alam lah yang menang. Akhirnya di depan RS Tegalyoso, gue berhenti untuk memakai jas hujan lagi. Dengan cepat awan berubah menjadi putih kelabu, dan itu menemani gue selama 5 km terakhir. Sampai di rumah. Hujan masih saja terus deras. Dan bahkan sampai malam harinya ketika beberapa TV dirumah saya berkata: “Yogyakarta, UGM: Terkena Angin Puting Beliung” hujan semakin bertambah saja. Deras. Dan deras.

*) Bukan nama sebenarnya. Hanya kebetulan mirip saja dan entah kenapa gue suka nama itu. Bukan begitu, Dila? ^_^

Written by dian diam

November 8, 2008 at 5:50 am

Posted in trip

Tagged with ,

Ada Cerita Dari Orang Sampah

with 7 comments

Tukang sampah. Di daerah sekitar kost-kostan saia ada tempat sejenis tempat pembuangan akhir sampah untuk beberapa wilayah disitu. Karena tempat itu penuh sampah pastinya banyak tukang sampah yang bergumul di tempat itu. Biasanya waktu pagi hari menjelang siang mereka berada disitu, untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Mereka masing-masing menampung ‘pungutan’ mereka dari hasil berkeliling di setiap daerah-daerah. Jumlah mereka cukup banyak. Sekitar hampir sepuluh-an orang. Dari mereka ada berprofesi ganda –lebih tepatnya sambil menyelam minum air- yaitu sebagai pemulung, karena mereka juga mengumpulkan dan memilih-milih beberapa barang untuk dijual kembali. Beberapa yang sudah selesai bertugas mereka pun ada yang beristirahat sebentar dan berbincang-bincang, memarkir gerobak kesayangan mereka dan tidak sedikit pula ada yang mencucinya sekalian, karena disamping tempat pembuangan akhir itu mengalir kali yang orang-orang biasa menyebutnya Selokan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat (gue masih bingung, segitu besarnya kok disebut selokan?).

Dan persis disamping situ ada sebuah jalan yang mana jalan tersebut adalah jalan penting untuk mahasiswa berlalu-lalang –maklum daerah itu adalah kawasan kampus dan kost-kostan mahasiswa. Ketika para tukang sampah sedang beraktifitas disitu kebanyang sendiri gimana suasana disitu, becek dan bau. Dan ketika banyak orang yang sedang berlalu-lalang disitu –kebanyakan para mahasiswa- pastinya mereka akan menutupi hidung mereka, mungkin menggerutu, -tak mau tahu apa yang terjadi disitu, lewat dengan cueknya. Hal yang wajar.

Di suatu tempat dan waktu yang berbeda –sudah cukup lama, saia pernah punya pengalaman tentang seorang tukang sampah. Waktu itu saya lewat sebuah jalan di perkampungan. Jalan tersebut juga salah satu jalan kampus di Ngayogyakarto Hadiningrat yang lalu lintasnya lumayan padat. Saya naik motor berjalan lambat sekali, maklum pas rame-ramenya kampus. Belum lama berkendara tiba-tiba jalan macet. Di depan ada sebuah mobil yang berhenti. Mobil terpaksa berhenti karena ada gerobak sampah yang sedang di isi muatan –sampah tentunya, oleh sopirnya. Karena jalan sempit dan dari arah berlawanan juga ada mobil yang mau lewat maka mau tak mau harus nunggu gerobak itu jalan lagi. Dan terjadilah kemacetan dan antrian, ditambah bau yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah tersebut, keadaan menjadi semakin gak nyaman (kebayang pastinya). Bunyi klakson dan beberapa teriakan dan omelan saling bermunculan, “pim pim pim…”, “oey, cepet. Bau neeh…” dan lain-lain. Seperti pengendara yang disamping saya, dia menggerutu dan menuduh si tukang sampah tersebut sebagai biang kerok keadaan tersebut. Hhmmm, saia hampir ikut-ikutan, tapi saia tetep mencoba tenang, tetep diam di dalam situasi yang sebenarnya memang tidak mengenakkan tersebut.

Tapi yang saia lihat si tukang sampah malahan tetep tenang, cuek aja dengan semua itu. Entah karena sudah terbiasa dan sudah merasa antipati terhadap keadaan seperti itu atau karena sebab lain. Yang jelas kemudian saia malah merasa simpati terhadap si tukang sampah tersebut. I think, he was doing a great job. Selain dia berusaha mencari sesuap nasi dengan pekerjaan kotor tersebut –kotor beneran bukan kotornya para buruan KPK itu- banyak hal yang harus di korbankan (banyak orang merasa jijik, kadang diomeli dll). Bayangkan jika tidak ada orang-orang seperti dia., sampah berada di mana-mana, menumpuk dan bau ada di sekitar kita.

Walaupun nasib orang berbeda-beda dan itu sudah menjadi nasibnya, namun kita juga harus respect karena sudah ada orang seperti dia. Tidak usah berpikir bau dan jijik karena memang begitulah adanya mereka. At least, berterimakasih lah dan bersukur lah karena bukan kita yang ada si posisi dia.

Written by dian diam

October 22, 2008 at 3:27 am

The Girl In The Dirty Shirt

with 2 comments

Sudah jadi kebiasaan bagi gue untuk pergi ke bookstore. Entah emang niat pengen beli buku ato cuma sekedar baca saja. Di Jogja ini, bookstore yang paling sering gue kunjungi adalah Toga Mas and Gramedia. Tapi recently the most visited adalah Toga Mas. Selain ‘enak’ dan ‘nyaman’ buat baca, bookstore ini juga memberikan diskon yang lumayan. Terima kasih dah buat Toga Mas, kalau tidak ada kamu pasti gue tidak akan punya banyak koleksi buku ^_^. Tetapi beberapa hari yang lalu setelah sekian lama tidak berkunjung –ceileh berkunjung, bahasamu dab- ke Gramedia akhirnya gue nyempatin diri maen ke Gramedia Jogja, yang di Jalan Sudirman. Entah tidak jelas kenapa tiba-tiba saja pengen ke Gramed, mungkin karena beberapa pertimbangan berikut: satu, karena gue pengen ke toko buku, itu sudah absolutely pastiii, siapa tahu Detective Conan terbaru sudah terbit. Dua, gue ke toko buku-nya tidak ingin beli tapi cuma baca saja. Ketiga dan yang terpenting, gue tidak ingin ke Toga Mas karena sudah keseringan kesana dan itu sudah pasti di apalin sama mbak-mbak dan mas-mas di sana sebagai pelanggan setia, pelanggan setia numpang baca-baca doang. Harga diri gue bisa jatoh! Akhirnya pergi ke Gramed. Tapi ini gue tidak akan menceritakan ngapain saja gue di Gramed, tidak penting banget.

Sudah tidak inget kapan terakhir kali kesini. Tapi setiap gue ke Gramed Jogja yang di Jalan Sudirman ini, gue selalu inget bahwa di depan pintu masuk, tepatnya disebelah atas tempat penitipan tas dan jaket ada seorang gadis kecil usia kelas lima SD (semoga saja bener bisa kelas lima, kenapa gue bisa tahu? Hmm..) yang berjualan koran. Gue pertama kali nyadar dan memperhatikan keberadaan tuh gadis cilik selalu disitu sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, pas gue masih sering berkutat dengan literatur-literatur dan referensi bikin tugas akhir, cukup lumayan sering juga pergi ke Gramed ini. Pas abis gue selese baca-baca di dalam gue hendak pulang. Dan ternyata hujan, tapi waktu itu sudah agak reda tinggal tersisa gerimis kecil-kecil. Tapi kalau nekat pulang sampai di kost-an bisa basah kuyup juga. Apalagi gue paling males pake jas hujan, kecuali dalam situasi darurat, kalo sudah di jalan mending basah kuyup sekalian apa nyari tempat berteduh. Akhirnya gue niatin nunggu sampai bener-bener reda. Gue nunggu celingak celinguk (jawa:liat sana liat sini tanpa tujuan yang jelas dengan tampang bingung) di emperan pinggir tangga naik depan pintu masuk. Akhirnya gue ngeliat seorang gadis kecil bertampang kucel: berkaos kotor, celana pendek dari celana panjang yang di potong sehingga tampak sliwir-sliwirnya, memakai topi dengan sebotol air minum di sampingnya sedang duduk tepat disamping tangga sedang menawarkan koran, majalah dan tabloid kepada orang-orang yang lewat di depannya. Karena dasarnya gue orang yang gampang mello atau apa, gue pas melihat dia berasa sedih terharu empati atau apalah namanya itu. Di saat masih jam sekolah kenapa dia malah jualan koran di sini. Dengan tampang kucelnya dia begitu bersemangat menjajakan koran dan majalahnya, pas hujan-hujan pulak. Pun dengan muka ramah, senyum dan kata terima kasih yang ceria bagi orang yang telah melariskan dagangannya itu.

Sumpah deh, gue waktu itu bener-bener salut ma dia. Gue melihatnya beda ma anak-anak jalanan lainnya (if I may called her like that) yang bisanya cuma bermodalkan tangan menengadah plus tampang sok melas di perempatan lampu merah atau malah para ibu-ibu bermodalkan gendhongan plus kerudung, even balita, dengan muka disusah-susahin yang beroperasi di keramaian-keramaian, kampus-kampus dan juga lampu merah-lampu merah. Dammit, gue lebih respect sama gadis kecil tadi itu. Dan mungkin gue bakal lebih ikhlas ngasihnya. Masalah ikhlas sih sebenernya tergantung niat. Entah yang di kasih itu gembel, anak fakir, yatim, atau siapapun kalo niatnya ngasih tanpa mikir macem-macem bakalan berasa enak ngasihnya. Bakalan berasa ikhlas. Tapi gue pribadi (gue yakin juga bagi kebanyakan orang) jika mau ngasih kepada orang-orang yang sebenarnya mereka mampu untuk menghasilkan tapi males untuk mengusahakannya hanya bermodalkan tampang yang disusah-susahin, bikin gue il-fil untuk ngasihnya. Gue lebih seneng ke Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa.

Sama seperti gadis kecil bertopi tadi, gue sungguh ingin bisa ngasih sesuatu kepadanya. Tapi yang gue lakuin di situ cuma bengong saja. Dan berasa bodoh sendiri. Apa yang bisa gue lakukan? Membeli korannya untuk ikut melariskannya? Tapi yang ada gue cuma mikir mulu. Dan dodolnya gue, pikiran gue terlalu muluk dan terkesan sok. Gue ingin bisa melakukan lebih, tidak hanya sekedar membeli dagangannya tapi sesuatu dalam jangka panjang sehingga dia tidak harus jualan koran dan bisa membuatnya jam-jam segini bisa berada di sekolahan. Lagi-lagi mikir. Konyol juga. Emang gue siapa? Emang dia siapa? Jangan sok deh. Jangan kejauhan mikirnya. Pikirin dulu diri gue. Beresin TA. Lulus. Dapet kerja. Dan bla bla bla bla…STOP!

Akhirnya gue hentikan pikiran-pikiran itu. Mencoba untuk realistis dengan keadaan saat itu. Dan gue pun mendekati gadis itu ingin mengobati beberapa rasa penasaran gue. Iseng-iseng gue bertanya tentang beberapa hal seperti:kok jam segini tidak berada di sekolah? Kelas berapa? Kalau tidak sekolah kenapa? Orang tua kerja apa? Di mana rumahnya? Dan bla bla bla… Akhirnya setelah bertanya-tanya sedikit, jawaban yang gue dapet sungguh diluar dugaan. Even, make me felt more mello. Ketika gue tanya kenapa jam segini tidak sekolah dia jawab sudah pulang, dipulangkan pagi. I got it. Kenapa jualan koran? Dia jawab buat bantu-bantu ibu. Ibunya cuma jual jajanan kecil di sekolah-sekolah. Apalagi saat itu ibunya lagi sakit tidak bisa jualan. How pity you are, little girl. Dan ini yang bikin gue shock, pas gue tanya tentang bapaknya, bapak kerja apa? Dia jawab bapak tidak kerja apa-apa. Kok tidak bekerja? Dia jawabnya tidak langsung, beberapa detik kemudian (dan mungkin mikir dulu mas ini resek amat nanya-nanya mulu), dengan berat dia jawab kalo bapak nya di penjara. Ooh my Godness, shit…sorry my dear. Gue tidak ngelanjutin nanya-nanya. Gue diam bentar. Dia pun juga diam. Selama gue nanya-nanya ini tidak pernah sekalipun dia melihat gue, takut mungkin sama mas-mas yang sok detektif ini. Pikiran gue bereaksi lagi. Itu bapak melakukan apa sehingga sampai dipenjara? Punya anak begini cantik manis pandai dan seharusnya masa depan baik kenapa bisa berbuat bodo yang pada akhirnya bisa menyebabkan masuk bui? Malah tambah bikin susah keadaan. Tapi itu cuma ada dalam pikiranku saja. Gue juga tidak mau nyalahin bapak itu. Bapak itu juga belum tentu salah. Dan gue ngelanjutin ke pertanyaan lain seperti kemana saja jualannya, dari mana dapet barang dagangannya, dari jam berapa sampai jam berapa jualannya, dst.

Huh ternyata emang –bisa dibilang- kompleks permasalahannya. Memerlukan banyak pihak terkait untuk mengatasi, at least to reduce, bukan aku saja yang sok ini. Dan lagi-lagi gue dodol cuma bengong lagi. Tapi saat itu gue bener-bener pengen berbuat sesuatu untuk dia dan sepertinya yang emang bisa gue lakukan cuma membeli salah satu dagangannya. Gue beli salah satu tabloidnya. Ternyata gue tidak punya uang pas dan dia ternyata juga tidak punya uang kembalian yang pas. Gue bilang “Ambil aja kembaliannya”. Tapi dia ngotot ingin ngasih uang kembaliannya, dia bilang “Sebentar mas saya carikan, ada kok”, sambil nyebar semua uang ke lantai yang ada di dompetnya trus dikumpulkannya beberapa lembar uang seribuan dan recehnya, dihitungnya satu per satu. Damn, sumpeh, tambah salut gue. Tapi ternyata tidak nyukup juga. Gue jongkok didepannya dan sekali lagi bilang “Sudah ambil saja kembaliannya tidak apa-apa”. Gadis itu pun terdiam. Kemudian melihatku (untuk pertama kali) sebentar dan bilang ”Terima kasih, mas” sambil senyum. Setelah itu gue berlalu dari dia trus pulang.

Sejak saat itu tiap kali gue ke Gramed ini dia masih saja ada disitu. Tidak selalu sih, tapi hampir bisa dipastikan sebagian besar. Dan kalo pas dia tahu aku datang dia selalu ngeliatin aku dengan ekspresi datar. Mungkin dia berpikir: “Bukankah ini mas-mas resek kurang kerjaan yang pernah interogasi aku dulu?” Mungkin. Seperti halnya kemaren, pas gue masuk dia kliatan di situ, masih dengan tampang kucel dengan beberapa eksemplar dagangannya dengan topinya dan sebotol air minum di sampingnya. Tapi setelah gue keluar pengen beli salah satu dagangannya dia sudah tidak kelihatan disitu. Mungkin sedang berkeliling terjun di jalanan menjajakan dangangannya.

*) Tulisan ini sungguh dibuat tidak ingin bermaksud sok merendah, sok meninggi, atau merendah untuk meninggi. Murni hanya sebuah cerita.

Written by dian diam

August 19, 2008 at 4:22 am

Posted in trip

Tagged with , , ,

The Kooks sounds good…

with 3 comments

Flamboyan. Kayaknya semua orang dah pada tahu nama itu. Kalee ini mo post sesuatu tentang nama itu. Yup. Flamboyan. Tapi kali ini yang ingin gw bahas bukan Flamboyan as a flower. Yup bukan tentang bunga yang banyak warna itu. Bukan tentang bunga yang hidupnya suka di tempat yang terbuka dan panas itu. Yup bukan tentang Delonix regia itu. Ini tentang sebuah rumah makan yang bernama seperti itu. Flamboyan. Rumah makan itu terletak di jalan Flamboyan daerah Karangasem (utara Selokan Mataram). Konsepnya sih warung prasmanan gitu. Terakhir kali kesini (sebelum tadi siang) kira-kira, uhmmmm sebulanan yang lalu. Bersama sodara.

Tadi siang dapat kesempatan kesana lagi. Kali ini bersama temen-temen gang kuliah dulu. Berlima. Jarang-jarang kami bisa ngumpul ketemu lagi.

Oke. Gini ceritanya. Hari ini tadi kan ada ujian masuk salah satu departemen di tanah air kita ini. Maklum as unemployment kesempatan seperti itu pasti dijabanin. Jam sepuluh selese. Lha kebetulan gw juga bertemu temen-temen kuliah dulu. Halah ternyata masih sama nasib kita ya, bro. Rapopo, keep fight!!! Setelah itu berkumpulah di kost-an gw. Ket biyen ratau ganti bascamp to dab? Kost-an gw ngangeni po? Hoek cuih… Emang sih dari dulu anak-anak kalo ngumpul-ngumpul pasti selalu di kost-an gw. Cuma sekedar iseng-iseng nongkrong ga ada kerjaan or kalo pengen kemana pasti kost-an gw juga yang selalu dfijadiin tempat mangkal pertama. Padahal ga ada bagus-bagusnya kost-an itu. Strategis kalee yak?

Sebenernya sih pengen pergi kemana gitu mumpung ngumpul bareng. Karena beberapa hal –males yang utama, and paling utama lagi males biaya- batal. Akhirnya cuma sekedar cerita-cerita di kost-an setelah sekian lama tidak bertemu. Setelah ber chit chat ria (halah) laper juga. Dan kami pun mule mbahas lunch. Maklum sudah kebiasaan dari dulu kalo mo nentuin tempat lunch pada bingung dan saling manut dan ujung-ujungnya gw yang jadiin sasaran akhir. Yach akhirnya gw bawa mereka ke Flamboyan, secara dah cukup lama gw ga makan di situ. Emang, ga pernah sepi tuh tempat. Dan kali ini pun iya. Tambah rame malahan. Apalagi tadi ada acara promosi dari salah satu provider telekomunikasi di tempat itu. Ada bintang tamunya pulak. Meski gw ga tahu siapa tuh bintang tamu. Soalnya artis lokal sih (artis yang gw kenal kan semacam Ian Kasela, Saipul Jamil dan Kangen Band. Hoek hoek…) Dari para bintang tamu itu yang gw kenal cuman si Thomas-nya Geronimo doank sebagai host.

Menu gw tadi siang adalah, as usual, fried nodles + sayur brokoli yang uijo-uijo seger + this my fave, bakwan jagung (the delicious). Dan tentunya dengan segelas jus jambu (the delicious too). Komplit sudah. Setelah milih-milih menu kami pun menikmati makan siang itu. Apalagi ada hiburan gratis. Accoustic-an pulak, wew, getting comfort to lunch. Pas makan jadi inget beberapa orang (cuma dua sih tepatnya) yang pernah makan ma gw di situ. Kapan-kapan kesini lagi yuk. Lumayan juga sih tu band, bisa menghibur. Tapi sayang lagu-lagunya standar banget. Tadi denger SO7, Lobow, d’Masiv (huh ini lagi ini lagi) and satu lagu barat yang ge lupa penyanyinya “Juz Love the Way Tou Are”. Tapi semuanya sounds goog sih soalnya dibawain accoustic-an. Jadi berbeda ma yang biasa-biasanya. Sebenernya mo request lagu. Soalnya mereka juga nawarin siapa yang mo request. Niat dah ada. Tapi ga jadi. Takut mereka ga bisa. Soalnya yang gw request sih semacem Morrisey, The Kooks, or The Deadman Theory. Halah…sok sok-an (ben, coz they’re good). Suasana menjadi lebih asik ketika salah satu SPG mendatangi kami menawarkan produknya. Kesempatan. Dasar. Tapi sayang mbak-mbak itu kurang hot dalam merayu kami.

Yup 30an menit kami disana. Setelah kenyang dan senang kami balik lagi ke kost-an gw. Emang, selalu enak dan penak (jawa:nyaman) kalo makan di Flamboyan. Dan pastiya masih banyak lagi tempat-tempat seperti ini di Jogja. Dan itu kadang tempat-tempat seperti itu yang membuat orang-orang yang pernah ke Jogja -at least pernah stay berapa lama- sulit buat ninggalin Jogja or kalo udah perrrgi, jadi pengen lagi maen ke Jogja.

ATTENTION: This is not an add of Flamboyan. Please, NO.

*) Terus kok judulnya The Kook sounds good? Hubungannya apa? Ga ada. Emang sengaja…

Written by dian diam

July 30, 2008 at 1:32 pm

Posted in trip

Tagged with ,

Lagu ‘Cinta Ini Membunuhku’ ini, membunuhku…

without comments

Hari ini tadi lewat lagi di depan warung makan SGPC Bu Wiryo. Warung makan pecel yang berada di sebelah utara Fakultas Peternakan UGM, pinggir Selokan Mataram. Warung itu punya band yang selalu menghibur pendatangnya yang sedang meninkati makanannya dengan beberapa lagu.

Nhha, ini yang aneh, sudah hampir dua bulanan lebih ketika aku selalu lewat depan warung itu (it’s exactly 70%) pasti lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu d’Masiv: Cinta Ini Membenunuhku. Seperti yang terjadi tadi pagi. Damnn, kenapa juga aku memperhatikan dan sempet-sempetnya ngitung! Yach, awalnya sih biasa saja. Tapi lama-kelamaan seperti sudah ngapal dan secara gak sadar pikiran ini mengidentikan dengan sendirinya, seperti tebak-tebakan, jangan-jangan kalo lewat di disitu pasti d’Masiv lagi. And yup, this time it’s right. Like this morning. Again and again. Wew…

Entah kenapa lagu ini juga emang lagi hang around in my head lagi, and ngantri di playlistku lagi…

Kau membuat ku berantakan
Kau membuat ku tak karuan
Kau membuat ku tak berdaya
Kau menolakku acuhkan diriku

Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Ku sadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan

Kau hancurkan aku dengan sikapmu
Tak sadarkah kau telah menyakitiku
Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku

Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Ku sadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan

Lelah hati ini meyakinkanmu
Cinta ini membunuhku

Juz another story related with, tadi setelah pulang cetak foto-foto perjalanan ke Lampung (kan ada poto-poto keluarga di situ) mampir dulu ke kost-an temen. Setelah ikut-ikutan ngliat tuh foto temen ku comment gini: “Hah, is this the vocalist of d’Masiv? It’s look like him, you know” sambil nunjuk salah satu anggota keluargaku. “Absolutely, no. He’s my lil bro”. +Sambil ketawa-ketawa aneh+

Nyampe kost-an nyalain tv liat MTV. Acaranya pun pas bahas d’Masiv. Itu lho acara yang seharian ngekorin artist-artist kemana aja. Duh, capek deh…

Written by dian diam

July 19, 2008 at 9:03 am

Posted in trip

Perjalanan Ke Barat

without comments

Ini kisah perjalanan 4 punggawa kerajaan mengantar seorang tuan putri agar bisa bersatu lagi dengan pangeran ke kerajaan barunya di negeri seberang, di negeri barat. Negeri gajah, kah? Hehe… Goes to Lampung…

Sebelumnya, rombongan adalah termasuk orang-orang yang amat sangat jarang sekali to take travelling for a long distance and for a long time. Jadi banyak hal-hal aneh dan ganjil yang akan terjadi. Seperti mual-mual, pusing, masuk angin dan mabok. Loh… (Ga mutu bangetz… Apalagi aku) +_+

Here it goes…

1st day

Berangkat jam 07.00 wib. Hmmm, belum-belum sudah naik bus, tapi dari empat orang cuma dua orang yang naek bus. Dari rumah menuju bandara sudah naik bus dan sepertinya sang sopir dulunya bercita-cita menjadi pembalap tapi tak kesampaian. Dari gaya drifting, tancap gas kenceng trus rem mendadak sampe zig-zag style pun ada (good acceleration, ha? Damn). Untung ga ada gaya biking freestyler. Fyuuh… Dan semua itu membuat kepala berputar-putar perut teraduk-aduk dan rasanya ingin muntah. Untung ga jadi. Nyampe bandara jam delapan kurang. Kepala masih berputar-putar. Setelah check-in kami nungguin untuk take off. Just sitting down. Look around. More than an hour. ‘Till kademen. ^_^

11.00 we arrived at Soekarno-Hatta, Cengkareng. Next flight to Lampung was on 19.00. Wew…it’s still a long time again. Rencana ingin sekedar hang around Jakarta, maybe Cengkareng – Blok M – PIM – back again to Cengkareng by DAMRI. Semangat ’45 sudah bersemayam dalam dada. Tapi keinginan sebatas keinginan, salah satu anggota terkena –maybe jetlag- badan ga bisa di ajak kompromi to hang around. Dan kami pun tak bisa meninggalkannya sendirian sementara kami malah asik-asik hang around. So, we just stayed at Cengkareng ‘till drop. Till the next flight. Cuma berkeliling Cengkareng mpe pegel-pegel. Jalan sana jalan sini. Muter sana muter sini. Duduk-duduk. Tiduran. It’s about 8 hours. Bener-bener kayak orang terlantar. Kasian. Tapi akhirnya kami nikmatin aja. Tepat jam 19.00 kami meninggalkan Cengkareng. Night flight. How beautifull it was. Melihat keluar lewat jendela pesawat terlihat kerlip deret lampu kemacetan, deret lampu kota terbesar di negeri ini. City light. Unforgetable moment. Seakan-akan tak sia-sia kami nunggu 8 jam itu.

19.30 sudah gantian naik taksi menuju hotel kami di Lampung. Tapi masih sekitar 40an menit lagi dan muka-muka letih sudah mule kliatan. Tempat tidur yang empuk sudah terbayang-bayang saat taksi –hmm lagi-lagi drifting di jalanan (again, good acceleration? Damnn… All I wanted to do was throw up. And possibly pass out..). Hmmmm begini ya kota Lampung…

Jam 20.00 lebih baru nyampe hotel. Dan pangeran negeri seberang sudah menyambut kami di depan hotel (kayaknya ga ada sambutan deh ya… biasa…dan ga ada ekspresi. Dasaar… Apa aku aja yang gak nyadar karena dah gak bisa konsen + ngurusin barang-barang dari taksi? Masih menjadi tanda tanya… )

Setelah selese bebenah kami pun makan malam dengan nasi goreng sea food. Delicious… Andi it’s pretty good to threw up all the headache. And then we took a rest… (Ehmm, akhirnya tuan puteri bisa bersama pangeran lagi… Sementara kami berempat masih di hotel, mereka berdua balik kandang mereka sendiri. Looohhh…)

2nd day

Seperti yang sudah-sudah, for the 1st time meniduri tempat tidur yang tidak biasa bagiku bakalan ga nyenyak tidurnya, and yup it happened at last nite. Jam lima udah bangun liat keluar jendela masih gelap. Ah, ntar aja. Setengah jam kemudian bangun. Masih gelap. Tapi harus bangun untuk sholat subuh. Abis itu ngebo lagi. Setengah tujuh bangun. Liat keluar jendela. Masih gelap. Huh, perasaan udah setengah tujuh, kok masih gelap. Penasaran. Akhirnya turun juga dari tempat tidur. Liat keluar memalui koridor hotel. Jeng jeng jeng…ternyata matahari sudah bersinar dengan terang. Masuk kamar lagi, buka jendela. Ternyata di sebelah ada bangunan tinggi yang menyebabkan keadaan di situ gelap terus. Day or nite! Dasaaar…

Jam setengah sembilan, breakfast. Dengan menu nasi lontong. Kami berlima balik ke kamar lagi (yup berlima, karena tuan puteri bakalan menemani kami selama di Lampung, pagi dah dateng ke hotel kemudian baru malamnya balik lagi dijemput pangerannya).

Nothing to do in that room. So, we walked out to look around the city. Tapi jam dua belas harus sudah sampe lagi di hotel. Karena rencana abis jam dua belas kami akan berkunjung ke tempat diamana tuan puteri dan pangerannya stay. Sebagai orang dari kerajaan Jawa beramah tamah adalah suatu hal yang harus dilakukan. I think it’s juz formalization. Halah… :-)

Kami pergi keliling naik DAMRI yang ternyata sangat banyak di kota itu. The 1st destination adalah mall, yup salah satu mall di kota itu. Sebenarnya lil bit ashamed telling this. Ternyata kami datang terlalu pagi beberapa stan masih tutup. Gubrak, sama beberapa pekerja nya aja duluan kami. Ginilah nasib orang-orang ga ada kerjaan dan ga ada tujuan yang jelas. Hehe… Kami putuskan untuk menunggu. Setelah mule ramai kami pun masuk ke mall itu. Sekedar melihat-lihat. Tapi lebih terkesan seperti sidak KPK saja. Liat sana liat sisni. Cek sana cek sini. Pegang sana pegang sini. Dengan berbagai comment yang keluar dari mulut kami. Bagus. Lumayan. Not bad. Gitu-gitu lah. Masak gitu deh, mulan aja jamilah. Hehe… Ga penting… Jayuuuss…

Setelah selese inspeksi mendadak di mall kami keluar nyari DAMRI lagi, entah kemana tujuannya. DAMRI pun turun depan Ramayana, iseng-iseng masuk. Dan lagi-lagi terkesan sidak dengan berbagai comment yang penting ga penting itu. Yang berasa aneh tuh Ramayana cuma satu lantai, tapi luaaaaas sekali. Dari jenis barang A mpe Z Cuma ada di satu lantai. One way seeing. Itulah mengapa eskalator disana terkesan eksklusif. Loh, ga nyambung…

Selese dari Ramayana kami putuskan balik ke hotel. Juz because it’s seems too short road, we decided to get there dengan naik kaki kami sendiri-sendiri. Jalan kaki. Hah, jalan kaki? Yup suatu keputusan yang pada akhirnya ku sesali hingga ku tak bisa tidur 3 hari 3 malem. No matter. Lagi-lagi emang dasar ga ada kerjaan. But we enjoyed it. In the middle of the road, ketika kaki kami sudah protes karena kerja rodi kami itu, kami mampir ke warung bakso-mie ayam –yang katanya paling enak di kota itu. Bakso Sonny, ya? Correct me if i’m wrong. Sliuuuph…emang sih, uenaks.

Keluar dari bakso Sonny –yang ternyata mahal euy, tapi kalo standar disini ga tahu itu mahal pa kagak, yang jelas dibandingin di Jawa especially Jogja 2 kali lipat lebih euy- kami lanjutkan perjalanan ke hotel. Tapi mampir dulu ke Gramedia. Nyari-nyari buku buat gift. Karena dalam perjalanan pulang dari negeri ini ingin mampir main ke suatu tempat dulu (ada ceritanya sendiri nanti). Adzan dhuhur berkumandang pas kami nyampe hotel lagi. Dan ternyata acara beramah tamah diundur menjadi abis ashar. So we had a time to relax. To rest our leg. Hehe…

Selese sholat ashar kami langsung meluncur ke tempat pangeran tinggal dengan sebuah taksi. Hmmm gara nyari taksi itu dapet kenalan nih. Sopir taksi!!! Yang bakalan menemani perjalanan-perjanan kami berikutnya. Wkwkwkwk

Menjelang isya’ kami baru nyampe lagi di hotel. Tuan puteri dan pangeran menyusul kami tidak lama berselang. Setelah bersih-bersih kami makan malem bareng. Dilanjut ngobrol-ngobrol hingga akhirnya kantuk dan lelah menyapa. Nice moment. Hampir jam sebelasan malem kami mule rehat. Tuan puteri dan pangeran sudah kembali lagi ke kediamannya…

Wait for the next day…

3rd day

It was Thursday. Pagi-pagi sudah disambut hujan. Jam 08 lebih kami baru mule ke lantai empat hotel untuk breakfast. Hmmm kali ini telat, menu makanan sudah habis. Maklum pas lagi rame hotelnya, ada beberapa instansi yang menginap di situ beberapa hari untuk diklat. Akhirnya kami hanya bisa menunggu para koki prepared the next menus sambil nge-teh dan ngobrol-ngobrol. Setelah selese sarapan kami balik kamar dan ready to started the next journey. Yup. Tapi kali ini lumayan terencana and had a definitely destination. Kampoeng Wisata Tabek Indah! Sebuah taman wisata seperti bumi perkemahan yang dilengkapi dengan penginapan, area out-bond (uhmm, the flying fox? yummy), kolam renang dan waterboom, wew…

20-30 minutes we get there by taxi. Setelah nyampe di sana pertama kami cuma jalan-jalan dulu, juz look around karena, lagi-lagi, masih kepagian dan masih sepi. Tapi setelah lama kok tidak juga tidak ramai. Akhirnya kami beraksi sendiri. Bermain-main (foto-foto tepatnya dengan gaya sok action sok hebat gitu. Hehe…) di area outbond. Yang paling bikin kecewa adalah tidak bisa menikmati flyingfox-nya. Setelah cape sendiri kami pun rehatan sebentar di sebuah gubuk sebelum melakukan aksi-aksi yang sebetulnya sih memalukan bagi yang tidak bisa seperti diriku ini. He… Ssssst… Yup setelah itu kami pun bermain air di kolam renang dan waterboom. I don’t wanna tell you much bout this activity in that swimmingpool. It was so ashamed for us. Hehe… Hampir dua jam-an kami di situ. And our body was getting chilled. After we get dressed, we enjoyed some cups of hot tea near the pool juz to warmed our body up. And then, tepat jam 12 siang kami semua meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke hotel. Sebelumnya poto-poto dulu sama gajah. Hehe..

Kami putuskan kembali ke hotel dengan naik DAMRI tapi harus ke terminal Radjabasa dulu. Ke terminalnya harus naek angkot dulu dan naek angkotnya harus kejalan raya. Berhubung lokasi wisata ke jalan raya sekitar 300an meters harus naek kaki kami sendiri lagi dulu. Hehe… Fyuhh.. Sepuluhan menit berjalan akhirnya nyampe jalan raya dan langsung dapat angkot. Sebelumnya, juz FYI, angkot di kota Lampung ini kalo boleh saya bilang ada dua kategori angkot. Yang pertama angkot konvensional dan angkot gaul. Yang angkot konvensional, standarlah, seperti angkot-angkot pada umumnya. Tidak macem-macem. Berbalik 180 derajat dengan angkot kedua, yaitu angkot gaul. Dari segi body saja full modif. Bemper gede, dashboard cihuy, knalpot wow, suara menggelegar plus audio mobil super keren (apa norak ya…) dengan speaker bikin seperti konser keliling (dan ternyata lagu-lagu yang diputar cuma lagu-lagu K.A.N.G.E.N. B.A.N.D. dan lagu-kontroversial-karena-cewek-yang-menyanyikan-bunuh-diri-setelah-menciptakan-lagu-itu-untuk-menyusul-pacarnya-yang-mati-duluan-yang-saya-tidak-tahu-judul-dan-nama-penyanyinya. Hehe panjang sekali judulnya… Pokoknya itu lah…) Capek deh…

And the most aggravating me was the driver. Again and again, they drive like an drunken. Tapi kadang salut juga dengan skill mereka itu, apalagi jika mendapat fasilitas dan tempat yang tepat. Pasti bakal mengungguli Lewis Hamilton bahkan M. Schumacher! Bisa mengahrumkan nama Indonesia. Damnn…

Back to the story. Setelah naek angkot, kebetulan angkot konvensional yang cukup nyaman itu, 10 menit kemudian kami nyampe di Terminal Radjabasa. Niatnya ingin naik DAMRI tapi entah karena apa –yang jelas aku menyesalinya kemudian- kami tiba-tiba saja sudah ada di dalam angkot lagi, angkot gaul pulak. Shit.. Dari terminal ke kota butuh sekitar 20an menit. Selama itu pula kami (mungkin khususnya aku) di ajak ber drifting ria oleh angkot tersebut. Again, all I wanted to do was throw up. And possibly pass out with this headache and this sickening stomach. Yang bikin menjengkelakan lagi kami tidak nyampai pada tempat tujuan yang semula ditawarkan. Yach apa daya, karena belum tahu juga tentang jalur-jalur angkot disini. Akhirnya Cuma mpe depan Ramayana. Dari Ramayana kami cuma bisa naek DAMRI. Dan DAMRInya pun sudah oldish abis, mesin sudah agak ngadat, panas, penuh sesak dan bau. Oh, my Godness. I won’t do it again.

Fiiuuhh..akhirnya mpe hotel. Setelah sholat dan rehatan bentar kami –kali ini kami sekeluarga, berlima, keluar lagi untuk makan. Tapi cuma di warung deket hotel. Selese makan kami bertiga, yang dua kembali ke hotel, pergi Gramedia -yang lagi-lagi deket hotel juga, untuk beli sebuah buku. Akhirnya dapet sebuah buku. Divortiare-nya Ika Natasha. Nice book to read. Renacananya sih ni buku buat gift, tapi gak jadi. Someday I’ll tell you about this book. Sesampainya dari Gramedia hari telah ashar. Setelah sholat rehatan bentar. Tapi gak bisa. Di hotel sendirian. Iseng-iseng keluar cari warnet. Ee malah ketahuan seseorang dari Jogja (eh kowe neng Jogja po isih neng Gombong po negendi to, Fan? Hehe…) dan seseorang di Bandung. Akhire malah chating dah, mpe menjelang maghrib.

Setelah maghrib. Lagi-lagi kami berenam –pangeran selalu menyusul kami ke hotel setelah selese beraktivitas, kembali ngumpul. Kemudian kami berempat aku, adek, tuan puteri dan pangerannya keluar untuk makan. Di plaza Lotus (bener ga itu namanya?) samping hotel juga, di sebuah semacem foodcourt gitu, di lantai paling atas. Tempatnya open door. Keren. Bisa nikmatin pemandangan di bawahnya. Menunya ada udang goreng, nila bakar, capcay, nasi goreng sozzis. Plus kalo aku minumnya juz jambu (ngingetin suatu tempat makan di Jogja).

Slese makan kembali lagi ke hotel. Ngumpul-ngumpul lagi, ngobrol-ngobrol lagi. Setelah itu rehat. Menunggu esok hari dengan petualangan seru selanjutnya. (Kali ini aku sedikit terkena insomnia, padahal badan sudah pegel-pegel… Dunno why… Lill’ bit mellow….)

4th Day

Petualangan hari keempat ini lebih tepatnya diberi judul “Looking for the Elephants…”. Yup, Petualangan Mencari Gajah. Hehe…

Hari di mulai dengan cuaca yang cerah. After we got breakfast, we went to the Bumi Kedhaton Park. Semacam kebun binatang + konservasi flora fauna gitu lah. Tapi petualangan kali ini bakalan cuma sebentar, selain karena hari Jumat yang kata orang hari pendek, tapi juga karena abis Jumatan kami sudah harus check out dari hotel untuk gantian menginap di tempat sang pangeran.

Setelah diantar taksi kami nyampe juga ke Bumi Kedhaton Park. 15 menit perjalanan. Lagi-lagi kami masih terlalu pagi tiap kali berkunjung ke tempat wisata untuk memulai petualangan. Sesampainya disana kami langsung masuk ke area. Pertama-tama kami berkeliling-keliling dan take some pictures bersama biawak, kera, hariamau, berbagai jenis ayam, harimau, beruang, and the beautifull peacock. Setelah itu kami menuruni lembah. Untuk mencari gajah. Karena kurang lengkapnya informasi dan ketidaktahuan kami maka pencarian gajah itupun benar-benar menjadi pencarian gajah yang melelahkan. Tapi dengan lingkungan dan poemandangan yang indah dan asri itu tidak kami lewatkan untuk poto-poto. Teuteup… Hehe…

Akhirnya ketemu juga area gajah itu, setelah berjalan naik turun bukit dan lembah. Tapi kecewa, setelah capek-capek mencari, gajah-gajah itu tidak ada di tempatnya. Kami pun masih berusaha mencari-cari. Tengok sana tengok sini. Intip sana intip sini, sapa tahu gajahnya sembunyi di lubang (emangnya lubang apa sampe gajah bisa sembunyi di dalemnya?) dan hasilnya cuma capek. Kami berpikir bahwa sang gajah terkena flu, pilek tiada henti-hentinya… Loh kok malah nyanyi lagu Crayon Sinchan… Selang berapa lama ada salah satu petugas taman nongol, kami pun bertanya dimana gerangan para gajah-gajah itu. Ternyata sedang diangon, di lepas untuk mencari makan. Tidak lama kemudian gajah-gajah itu muncul. Dmm…ddung..ddmm.. bumi bergetar. Wuihh guedenya… setelah nyampe area gajah kami di beri kesempatan foto bersama Seno dan Melly itu (nama-nama gajah tersebut).

Setelah berpuas-puas dengan gajah kami siap-siap untuk pulang karena jam sudah menunjukkan hampir jam sebelas. Untuk keluar dari tempat gajah menuju tempat menunggu taksi pun harus bekerja keras lagi. Mendaki bukit lagi. Ngoss..ngoss. Fyuh… Tapi tak terasa, semua seneng dan di jalan, teuteup, take some narzis pictures. Huehehe…

Jam setengah dua belas sudah berada di hotel lagi. Rehat bentar. Mandi. Lalu Jumatan. Selepas Jumatan, prepared to check out from the hotel. And then we took a lunch. Lagi-lagi cuma di sekitar hotel.

Satu jam kemudian sudah ada di dalam taksi menuju tempat kediaman sang pangeran. Tapi tidak langsung ke sana. Kami mampir dulu ke pantai. Duta Wisata beach. Juz for a while. Again and again, took some pictures. Teuteup…

Lima belas menit kemudian kami sudah berada di kediaman san pangeran. Semua pada istirahat. Sore-sorean kami bertiga –aku, tuan puteri dan sang raja, keluar jalan-jalan sambil mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang besok pagi. Sepulang dari mencari oleh-oleh aku dan tuan puteri mampir dulu di suatu taman deket situ. Taman Dipangga. Sekedar istirahat. Look around. And pastinyah, poto-poto. Teuteup… Hehe… Bersama gajah dan beruang.

Ditengah perjalanan itu bagi diriku sendiri ada suatu kejadian yang pada akhirnya tidak bisa membuatku nyaman diriku hingga akhir perjalanan ini nanti berakhir. Yang pada akhirnya juga menghabiskan pulsa untuk telepon seseorang juz to make myself felt comfort again. Oh God, why did this happenned in the time like this. Mencoba tuk tetep enjoyed. Die hard juz to make myself enjoyed. Again. No matter.

Malem kami ngumpul-ngumpul lagi, maem-maem lagi. The last one in Lampung.

Setelah cukup lama kami semua istirahat. Di kediaman itu kami semua tidur di dua kamar.

And yes, damn I hardly to slept. Because what? Beside the much annoying mosquitos in that nite also because of the event in the evening before. Shit..

Juz after 1 am i could fell asleep…

5th Day

Pagi-pagi sudah bangun. Yup because our flight was on 9.20. Dengan nyawa masih setengah-setengah aku mencoba untuk bangun. Huh masih ngantuk banget. Gara-gara semalem tidur telat dan tidurnya pun tidak nyenyak.

Akhirnya bangun juga. Keluar kamar. Masuk kamar satunya. Tidur lagi. Hehe…

An hour later i’ve been in the taxi to the airport. It took about 40 minutes. Dan hampir separo perjalanan di taxi itu aku tidur. Bangun-bangun sudah nyampe airport. Tak lama kemudian tuan puteri dan pangerannya menyusul kami, melepas kepulangan kami. Akhirnya semua selese sudah tugas-tugas itu. Tugas mengantar tuan puteri. Tuan puteri telah bersama pangerannya. Semua tampak biasa saja. Ekspresi pun datar. Sudah kebiasaan. Lambaian tangan mereka mengiringi langkah kami memasuki pesawat. See you, princess. See you, Lampung. Nice journey. Nice moments…

Tak lama kemudian kami sudah ada di Cengkareng. Disana saudara kami sudah menunggu, sudah menjemput kami. Akhirnya kami pun langsung menuju rumahnya.

Tiga puluh menit kami sudah nyampe. Rumah saudara kami berada dikawasan Pluit deket Ancol. Untuk mengisi waktu menunggu keberangkatan kami ke Klaten nanti malam, aku dan adeku iseng-iseng jalan-jalan ke Ancol. Juz look around at there. Nothing special to do. Paling-paling cuma poto-poto. Nongkrong di Carnival. Nyelem ke Sea World. And so on yang ga penting-penting gitu. Jam tigaan lebih kami balik ke Pluit. Cukup dua kali naek angkot.

Malam abis Isya’ kami sudah berangkat ke Gambir. Pulang. Lumayang lama untuk nyampe sana. Because at that night Jakarta was so crowded. Sempet kuatir juga kalo ketinggalan kereta.

Menjelang jam sembilan dah nyampe Gambir. Alhamdulilah tidak telat.

Jam 21.30 kereta sudah berjalan. Kami pun meninggakan Jakarta menuju Klaten.

6th Day

We’re home….

Capek…

Written by dian diam

July 19, 2008 at 6:40 am

Posted in trip