Reunion II
Berikut adalah foto-foto yang diambil dari reunian kecil geng kuliah gue dulu. Gambar diambil di Objek Wisata Gunung Merapi-Merbabu, Ketep, Magelang saat kabut dan gerimis sudah mulai turun, 30 Desember 2008. Meski pas bukan malam tahun baru, tapi bisa dibilang juga acara year end 2008. Huff, tapi sayang beberapa agenda reunian kecil itu banyak yang tidak terwujud. Selain karena hujan (gagal liat pemandangan dua gunung dan bakar-bakar jagung), juga karena sudah menjadi kebiasaan kita seperti itu. Makane jangan banyak planning, dab! Heuheu… Ok tapi it was fun. Bisa ngakak-ngakak koplak bareng lagi setelah sekian lama. Well, gud lak and sukses saja untuk kalian, my brothas. Mari teruskan perjuangan kita… God bless you all.
Oiya kawan, dari sekian banyak foto, hanya ini yang bisa lolos masuk postingan gue, yang lain narsis semua dan tidak lulus sensor.Hhe… Dan setelah sekian lama, untuk pertama kalinya wujud gue nongol di parkiran ini.

Yang mana saia?

The greatest ass, lady. Which one? Buahuahuahua....

Two choices, yang mana saia??

Yak, inilah saia...
Call to Arms
There’s a little black, dark scar, tired divide.
This is it, can you hear me?
Have you ever felt a sad heart buried alive?
You can do almost anything.
There’s a little red bridge with a view of the sunwith a lake,
I recommend such a setting site.
And the thousands of stars, come out thousands of times.
And we can go only if you believe, only if you believe.
Do you feel like you’ve lost everything you can lose?
This is it can you hear me?
When you cry do your tears ever chill up the room?
Calling out in a moment of need.
Do you ever lay awake with a look in the eye?
Asking god if a wish is too big to deny?
I will offer a line, and it’s ready for use.
Let me know are you ready for me?
I’d like to say, that your my only fear.
And when I dream, it slowly disappears.
And when I wake, I’m right here by your side…
To feel your heart, beat in and out of time.
When the storm brings rain, snow, fate of all kinds
you can feel most anything.
When the day seems to melt, fall flat into night
you can feel most anything.
When you can’t go on, you got to get up and try.
This is it, can you feel me?
And when the bombs come down, we will make it alive.
But only if you want to believe.
(Call to Arms – AVA, 2007)
Sh*t, sebelumnya gue anti untuk posting liri-lirik lagu. Pernah sih, tapi itu tidak sepenuhnya, cuma penggalan-penggalannya saja. Dan juga, sebetulnya ini belum waktunya posting. Hmm, posting kok dijadwal yach? But, that it was. So ada apa hingga gue sampe nglanggar aturan yang gue buat sendiri? Againts my own rules. Biasanya orang yang pada tahap itu adalah orang sudah merasa hampir depresi. Bueheuheuhue… Atau kalau tidak, orang itu sudah merasa bosan dengan sekelilingnya. Hmmpf… Atau juga cuma iseng saja. Ya ya, tapi semua itu salah, tidak dengan gue saat ini. Alasan yang terakhir mungkin paling mendekati. Yang kedua, sedikit. Yang pertama, nyerempet-nyerempet. Buahuahuahua… Tidak. Tidak benar. Alasan yang utama hanya benar-benar pengen melakukan itu saja. Sedikit breaking the rules. Cuma pengen nulis dan dibaca orang lain.
Secara lagu itu juga yang sering nongol di playlist gue beberapa waktu terakhir. Musiknya, fu**ing great creaky sounds of Tom Delonge. Dan liriknya, sedikit-sedikit representative untuk keadaan gue saat ini. So, the conclusion is, that song is so brilliant (gak nyambung), mantap untuk didenger kenceng-kenceng sambil merem dalam kamar yang gelap with my old Simbadda CST 6800.
Cerita Dalam Bilangan 6
Ya, sudah lebih dari 2190 hari
kita telah saling tahu
meski sekarang belum benar-benar tahu
Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon
kita telah bersama
meski sekarang tak jua bersama
Sebentar,
benarkah sudah selama itu?
Tak terasa
sudah banyak cerita, banyak jalan
telah terlewati
Pernah kita satu jalan
Pernah juga tidak
kamu ke timur dan aku ke barat
Dan sekarang,
kita telah satu jalan -lagi
meski belum satu sepeda
Tak apa lah
Teruslah kita mengayuh saja
hingga sampai tujuan
Jangan tanya sampai kapan itu
Terus saja lihat saja ke depan
dan perhatikan kanan-kiri
Jangan lupa pula
lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’
agar kita tetap satu jalan
Karena jalan dan juga waktu di depan
kadang selayak fatamorgana
Morning Glory
Sudah bukan rahasia lagi kalau gue adalah penyuka musik. ‘Dengarlah, di hembusan angin, di udara, di cahaya, musik ada di sekitar kita. Yang harus kau lakukan hanyalah membuka dirimu. Yang harus kau lakukan hanyalah mendengarkan’. Kira-kira seperti itulah kata August Rush* tentang musik. Tapi ada definisi laen tentang musik buat gue. Musik bisa membawa kita kepada sesuatu atau seseorang kemasa tertentu. Di sini bukan berarti melulu soal lirik-liriknya. Tapi cenderung ke nada-nada yang dihasilkan yang repetitif. Nada-nada yang nyenthel di otak kita yang bebarengan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu. Sekali lagi bukan karena lirik-liriknya tapi karena m – e – m – o – r – y –nya. Kadang ketika mendengar sebuah lagu maka seakan-akan gue seperti melihat lagi ‘video klip-video klip’ lagu tersebut dengan gue sebagai salah satu tokohnya dan peristiwa-peristiwa diseputar lagu itu yang menjadi backgroundnya. Oleh karena itu gue mengatakan kalau musik bisa membawa kita kepada sesuatu atau seseorang kemasa tertentu. Dan kalau ngomongin selera musik, selera gue adalah Brit. Mulai dari musik jaman-jamannya The Beatles, The Who sampe jamannya Arctic Monkeys atau The Kooks. Semua musik-musik mereka adalah bagus. Entah kenapa yang jelas ini hanya kesukaan saja tidak ada alasan khusus selain subjektifitas.
Dan kalau Indonesia punya Indonesia Raya, Padamu Negeri dkk, Jowo punya Gambang Suling, Gundul-Gundul Pacul lan sak liyan-liyane, maka gue punya Oasis sebagai national anthem. Musik dari Oasis lah yang kebanyakan bisa membuat gue melihat video klip-video klip gue sejak gue masih dekil hingga sampai seperti sekarang ini. Kenapa Oasis? Entah kenapa lagi-lagi ini masalah subjektifitas, tapi ada satu alasan yang jelas: dua dari anggota pendiri band tersebut adalah bersaudara, kakak adik, Liam dan Noel Gallagher dan gue sangat suka dengan itu, a brotherhood. Meski hubungan persaudaraan mereka tak ubahnya seperti minyak dan air, dua orang itulah nyawa dan otak dari band itu. Sampai sejauh ini, sejak gue mengenal (belum menyukai –red) mereka 13 tahun lalu, lagu-lagu mereka sudah bisa dibilang national anthem gue. Setiap mereka mengeluarkan lagu-lagu baru, lagu-lagu itu selalu mengiringi peristiwa-peristiwa yang gue alami di masa-masa itu. Tapi sayang, gue agak sedikit terlambat menyukai mereka. Album fenomenal pertama mereka (Definitely Maybe -1994) terlewat begitu saja. Selain karena gue masih kecil sehingga tidak ngeh dengan lagu-lagu barat juga dikarenakan saat itu di Indonesia lagi heboh lagu-lagu dari Amy Search, Slam, Nafa Urbach dkk. Dan album kedua mereka, What’s The Story Morning Glory? -1995 yang membuat gue mengenal mereka -belum sempat suka- dengan Wonderwall, Don’t Look Back In Anger dan Champagne Supernova-nya. Saat itu masih kelas lima/enam SD. Gue masih inget pertama kali ngeliat video klip mereka Woderwall, yang backgroundnya yang item putih dan sephia. Waktu itu pagi-pagi setelah selesai jalan-jalan pagi di hari pertama puasa bersama brotherhood yang lain, gue dan kakak adek gue. Kalau tidak salah diacara salah satu tv swasta, Delta kalau gak salah nama acaranya. Ada yang inget acara itu mungkin?
Gue mulai bener-bener suka mereka dimulai dari album ketiga mereka, Be Here Now -1997, dengan Stand by Me, Don’t Go Away, All Around The World-nya. Gue inget betul ketika Lady Diana meninggal, lagu Stand by Me dan Don’t Go Away yang lagi nge-hits kerap diputar menjadi background song liputan beritanya. Saat itu kira-kira gue masih duduk di bangku kelas satu SMP dan yang lain asik dengan Malaysia-nan gue sudah sok british padahal bahasa Inggris saja masih nol besar alias masih menganggap arti ‘fuck-off’ tidak jauh beda dengan arti ‘yes’ atau ‘no’. Album pertama mereka ini memang menjadi pengingat masa-masa lugu gue. Masa transisi dari seorang anak kecil beranjak remaja. Betapa bodonya gue, ditaksir, dideketin bahkan mpe dikejar-kejar cewek cakep malah lari menghindar terus, takut. Memang, merasa nyesel itu datangnya belakangan. Heuheu…
Tapi berkebalikan dengan saat album keempat mereka, Standing On The Shoulders of Giant -2000 keluar, gue yang lugu, culun dan dekil sudah berubah 180 derajat. Saat itu pertengahan pertama kelas tiga SMP. Saat itu benar-benar telah menjadi seorang ABG yang suka bertindak dulu baru mikir belakangan; bolos pelajaran, ikut tawuran pelajar dan tindakan bodoh lainnya. Go Let It Out, Sunday Morning Call dan lagu lainnya yang agak psychedellic dari album tersebut sering gue puter kenceng-kenceng di kamar sambil merem saat berasa down karena usaha gue ngedeketin cewek ternyata bertepuk sebelah tangan. Kualat kali.
Tapi tidak berlaku untuk album kelima mereka, Heathen Chemistry -2002 dimana gue dengan sangat sukses berhasil mendekati seorang cewek dan menjadikannya soundtrack ‘perjalanan’ itu. Juga menjadi pengiring terbentuknya persahabatan tiga orang yang sampai sekarang masih terjaga. Musik-musik di album ini benar-benar menjadi pengiring suka duka gue. So much unforgetable moments. Menjadi pengingat saat gue sudah beranjak dewasa. Menjadi pengiring kejadian-kejadian penting dalam hidup gue sehingga membuat gue mulai memandang hidup dengan cara yang berbeda. Bahwa hidup itu perlu diperjuangkan. Bahwa kejadian-kejadian hidup itu pilihan yang tidak serta merta datang ‘blek’ begitu saja. Bahwa keberuntungan itu bisa diperjuangkan. Bahwa memberi dengan ikhlas itu ternyata sesuatu yang sangat memuaskan hati. Bahwa menyia-nyiakan dan membuat sakit makhluk Tuhan yang bernama ‘perempuan’ (terutama oleh para lelaki seperti gue) adalah tindakan pengecut, banci, berengsek bin biadab! Dan juga menyadarai bahwa Tuhan itu sangatlah adil. I miss this era, sooooo much! Ketika mendengar Little by Little, Stop Crying Your Heart Out, Born On Different Clouds, Songbird dan She is Love di album ini, maka gue masih dengan sangat jelas bisa menyaksikan video klip-video klip itu lagi. That was one of my morning glories!!!
Setelah cukup lama jeda, album keenam mereka, Don’t Believe The Truth -2005 keluar juga. Sangat 70’s rock song. Genius one from Noel. Tidak ada video klip serius di era ini. Gue udah masuk masa kuliah. Hanya saja ketika mendengar The Importance of Being Idle dan Turn Up The Sun keinget masa-masa masukin beberapa proposal penelitian ke beberapa perusahaan tour and travel di Jogja tapi ditolak semua. Setelah usaha yang ketujuh kalinya (kalau tidak salah, lupa-lupa ingat) baru bisa lolos. Masa-masa album ini juga adalah masa-masa gue menikmati kesendirian, benar-benar males kalau mendengar kata komitmen. Heuheu…
Dan yang terakhir, mereka baru saja mengeluarkan album ketujuh mereka, Dig Out Your Soul. A brilliant album. F***ing great songs. Sangat psychedellic. Majestic. Dan karena album baru belum banyak yang bisa diceritakan dengan video klip-video klip yang terjadi. Gue masih struggling untuk menyutradara-i-nya. And hoping it will be nice and unforgetable clips video.
Dan beberapa tahun lagi ketika membuka diri dan mendengarkan lagu-lagu tersebut, maka dengan nada-nada repetitif yang dihasilkan dan telah nyenthel di otak gue, maka gue bakal senyum-senyum sendiri ketika menyaksikan video klip-nya.
“All your dreams are made
When you’re chained to the mirror with the razor blade
Today’s the day that all the world will see.
Another sunny afternoon
Walking to the sound of my favorite tune
Tomorrow never knows what it doesn’t know too soon “
Morning Glory (Oasis – 1995)
*) Tokoh utama film yang berjudul sama dengan namanya: “August Rush”, yang menceritakan bahwa musik adalah hal yang tak terpisahkan dalam hidup. Bahkan mempunyai arti penting dalam kehidupan.
Kryptonite Attacks*
Harusnya Sabtu sore kemarin itu gue menuruti perintah Emak untuk pergi ke dokter gue**. Dasar gubluk, gue hanya mengacuhkan Beliau dan malah menganggap kalau gue cuma kena flu biasa saja. Dan emang biasanya cuma benar flu biasa saja. Dan sampai Sabtu malam, hipotesis bahwa cuma flu biasa sementara masih terbukti, gue masih bisa nonton City vs Everton sampai jam 24 meski dengan kepala sedikit nyut-nyutan, sedikit batuk-batuk dan idung sentlap sentlup (sialnya City kalah oleh sebiji gol di detik-detik akhir oleh f***ing Ausie boy, Cahill! Damn it!). Dan entah gara-gara begadang itu atau emang sudah saatnya sampai titik culmination-nya –gue sudah merasakan gejala-gejala ini seminggu sebelumnya- Minggu pagi gue bangun dengan kepala serasa di injek-injek, idung mampet kanan kiri secara bergantian. At that time, dengan bermodalkan minum vitamin, masih bisa diajak kompromi karena masih bisa bersih-bersih kamar, nonton kartun Minggu pagi dengan santai dan bahkan sempat pergi keluar ke kota. Tapi selepas sholat dzhuhur, tragedi itu pun dimulai, flu itu pun seperti menjadi kryptonite bagi Superman. Kepala gue benar-benar berat, entah dari mana datangnya batu kripton keparat itu. Lebih gak menyenangkannya lagi, suhu badan gue naek almost 39 degrees Celcius! It’s freaking me out! Gue sempet khawatir berpikir kalau penyakit gue yang dulu kambuh lagi. Memang dengan kondisi lemah ditambah suhu badan tinggi kadang membuat pikiran bisa meracau. Tapi untungnya pikiran gue masih bisa berpikiran sedikit lebih kalem, sehingga gue tidak sempat berpolah seperti Lia Eden yang ngaku-ngaku sebagai Jibril untuk Bangsa Indonesia Tercinta ataupun ngomyang semau sendiri seperti M. Lauren, Ki Gendheng P dkk yang (bakal) sering muncul di infotainment setiap menjelang akhir tahun atau nyambut awal tahun (I reckon it! Na’udzubillah…). Dan kekhawatiran itu memang hanya sebatas pikiran yang nyleneh akibat panas tinggi saja, soalnya jika penyakit yang dulu kambuh harusnya ada beberapa gejala lagi: badan lemes pegel-pegel dan susah tidur. Tapi kali ini tidak, badan gue tidak berasa lemes dan pegel-pegel, setelah banyak minum air putih dan vitamin pun gue bisa tidur dengan lumayan lelap siang hingga sore itu.
Bangun sore hari belum jauh berbeda kondisinya, niat pergi ke dokter gue jelas gak mungkin. Karena hari Minggu, beliau libur pastinya. Tambah nyesel lagi karena tidak menuruti perintah Emak Sabtu sore itu. Akhirnya gue cuma berobat ke dokter mantri tetangga sebelah. Dan malam harinya jam delapan gue sudah berangkat tidur masih bersama dengan kriptonite itu, melewatkan Juve vs Milan yang sebenarnya gue tunggu-tunggu. Sigh!
Senin pagi-pagi gue bangun dan kriptonite itu masih saja ngikutin gue, tapi dengan intensitas kekuatan yang sudah menurun, kepala gue masih sedikit pusing dan idung masih mampet sentlap-sentlup. Tapi Alhamdulillahnya sudah tidak demam lagi, suhu tubuh gue kembali normal. Kalau tidak ada perubahan, Senin sore itu gue nawaitukan benar-benar pergi ke dokter gue. Oiya, paling tidak ada tiga berita bagus dari telivisi yang gue tonton di Senin pagi-pagi itu yang sedikit membantu gue senyum-senyum ditengah serangan kriptonite. Premium turun lagi, not bad. Juve vs Milan : 4 – 2! That’s great! And the last but not least: Al-Zaidi’s couple shoes flies onto Bush face!!! That’s really really really the great ones! Kadang gue berharap kalu gue yang melakukan itu. ^_^
*) Sebenarnya ini postingan basi. Tapi apa daya baru kemaren kuat lama-lama melototin monitor komputer dan baru bisa di aplod sekarang. Ni aja masih sedikit belum ‘seimbang’ menegakkan kepala. Gak penting. Lewat!
**) Yang dimaksud ‘dokter gue’ disini jangan diartikan dokter khusus pribadi gue, hanya saja beliau sudah hafal betul rekam medis tubuh gue sejak lama. Dan kalau kenapa-kenapa gue selalu datang ke beliau dan Alhamdulillah Tuhan Allah selalu memberikan kemudahan lewat beliau. Tapi kali ini tidak jadi ke tempat beliau, cukup lewat mantri saja ternyata kriptonite itu bisa hilang.
Blend Into One
Hampir dua minggu parkiran gue gak ke apdet. Entahlah, sok sibuk sepertinya. Dan bukan itu sepertinya yang menjadi alasan. Selama hampir dua minggu ini sebenarnya banyak hal yang ingin gue posting. Tapi gara-gara satu hal, eh dua (kira-kira), mengacaukan segalanya, mengacaukan planing-planing gue termasuk untuk apdet parkiran kecil gue ini. Exactly, that two things have blown my minds away. Niat ada, materi ada tapi otak yang mengarahkan sulit untuk diajak concerning. Tapi itu sudah lewat. Dan sekarang berusaha untuk memulai lagi, meski tulisan pertama masih tidak tertata. All of things blend into one dan terkesan seperti dipaksakan. Huff… Pertama sebenarnya ingin reporting event di my prev post –Obral Buku dan Pesta Kambing. Kemaren sempat dua kali berkunjung kesana, yang pertama pas hari pembukaan (but I missed the opening ceremony). Tapi yang pertama tidak bisa puas menikmatinya, karena cuman sebentar sekali. Cuma muter satu hall di Balai Shinta –itu pun cuma setengahnya- melihat beberapa koleksi dan liat-liat koleksi sepeda antik. Abis itu ‘dipaksa’ balik oleh seorang teman. The second coming lumayan mendingan daripada yang pertama. Bisa masuk seluruh hall, masuk stand-stand diluar liat pameran foto, liat lomba menyanyi, modelling ABG-ABG, dan poto-poto (termasuk sama kambing). Uhmm…apalagi? Ah sepertinya hanya itu saja. Oiya, gue datangnya sama my sista –duniafannie. Gimana Mariagable-nya? Menarik kah? If so, I’ll wait for it. Hehe
Berikutnya gue pengen ngerjain PeEr yang telah di-award-kan ke gue. Sejak pertama kali dapat sebenarnya ingin segera mengerjakannya. Tapi gara-gara kebiasaan dari sejak gue masih menjadi anak-anak yang duduk di bangku SD, yang selalu mbandel untuk mengerjakan PR maka PeEr itu sampai sekarang belum juga selesai-selesai. Kalau tidak salah PeEr itu ada tiga atau empat soal ya? Tentang memilih nama blog dan tema warnanya, gue memilih sejenakdiam, dari pertama kali gue bikin, blog ini sebenarnya bertujuan untuk parkiran kecil gue bermellow-mellow ria when I get some problems (lihat postingan pertama kali gue di blog ini). Karena sudah menjadi kebiasaan gue kalau sudah mencapai klimaks kena masalah dan belum ketemu juga solusinya dan malah stuck biasanya gue malah diam, sebentar. Nothing to do, nothing to say, in a while. Benar-benar diam and thinks everythings gonna be allrite again. Yup, and the way is opened in my mind and it was done, of course succeeded with a lil bit struggle! Just like what I had lately. ^_^ And gue milih tema warnanya hitam dan putih hanya karena gue suka keduanya saja, tidak ada alasan khusus.
And then, lima kegokilan yang pernah dilakukan. Sebenarnya tidak cukup banyak kegokilan yang gue lakukan dari sejak gue masih umbelen sampai berubah menjadi seperti sekarang ini (tapi pas SMA pernah gue di uber-uber Pak Polisi gara-gara ketahuan menghindari rasia Lantas, waktu SMP pernah juga beradu sama teman makan cabe rawit tanpa penawar apa-apa, dan yang belum lama ini gue juga pernah ‘nggelandang’ di Senen dan Bandung with less of money!). Tapi sebenernya yang pengen gue tulis justru kegokilan yang pengen gue lakukan. Yup, that’s gue pengen pergi ke suatu pulau di entah barantah dimana belum terjangkau listrik beserta alat-alat derivatifnya, no-phone, no money, no transportation, and no one. Juz me, my self and I and my Lord, struggling in the middle of nowhere. It’s sounds exciting, ha? Gue pengen ngalami itu untuk beberapa waktu, mungkin seminggu, dua minggu atau satu bulan (kalau seumur hidup jelas ogah, gue masih berpikiran normal guys). Gimana, ada yang bersedia membantu gue mewujudkannya? At least mencarikan gue pulau itu dan mengantarkan gue kesono. Selebihnya serahkan kepada saia. Loh… Dan soal yang terakhir kalau tidak salah apa isi dompet saia. Not much. Biasanya cuma ada dua lembar uang, 10 ribuan dan atau 50 ribuan, ATM BSM, KTP, SIM dan STNK. Her photograph? Nope! Absolutely nope. I even don’t have any photograph of her in mine. Separated in thousand miles i think it’s sounds pitty, ha? Sigh! Oiya, ada satu lagi, satu koin bertuliskan 100 Lira Italia tahun 1974. Dan koin itu selalu ada di dompet gue sejak delapan taon yang lalu.
Pengen nulis juga liputan kunjungan Tom Delonge with his AVA ke Jakarta kemaren (tapi ini bo’ong cuma ngimpi saja, selain jauh karena gue di Jogja juga karena gue gak mampu beli tiketnya!). Denger-denger sukses ya pertunjukannya? Tidak ada isu bomb lagi seperti kasus Rihanna sebelumnya. Well done, lah. I’ll wait yer next visitting to Indonesia. Indonesia is a tremendous country, isn’t it? At all. No doubt!
But, all of that just messed up. Not worked properly. Yaa, sejak kejadian itu pikiran gue susah diajak berpaling. Sulit untuk concerning every lil thing in front of me. Makanya gue cuma diem saja, barang sejenak. Sebenarnya apa sih masalah gue? That two things? Kejadian itu? Kalau boleh dibilang sebenarnya bukan suatu masalah. Gue sendiri lah masalahnya. Kalau gue tidak mikir masalah maka seharusnya bukan masalah. Dan gue dengan sangat sukses berhasil membuktikan bahwa Superman itu tidak ada (loh!). Spiderman hanya ada dalam komik dan film belaka. Both of them just a man, an ordinary man, who don’t wanna be like them sometimes. However, there’s a great -uhmm, I don’t know what it called, but people may called it a power- beyond them, beyond us. Dan itu yang lagi gue concern banget-banget. Dan gue juga yakin Tuhan Allah tidak ngasih sesuatu diluar kapasitas, kapabilitas dan tanggung jawab gue. Dan itu pasti, definitely and absolutely different bagi masing-masing orang. Syukuri dan just struggling for it, from now! So, get up, man! Wake up!
Shut up!
I do now, don’t you see, ha? My mind, my spirit is back. Lil bit. And now, I need something, some people or someone who could makes me smile, makes me laugh. Bueheuheuheuhe…
And great, the only person that I wish, was there.
Not here.
Separated miles away.
Damn it, eh!?
Wait, but she’s not the only one. Nope.
In fact, so many here. And thank God for it. I realized that.
And sorry, my dear, don’t you worry. OK? But then, just a some from Jason Mraz I sing for you.
“…And it’s okay if you have to go away. Oh just remember the telephone works both ways. And if I never ever hear them ring, If nothing else I’ll think the bells inside have finally found you someone else, and that’s okay. Cause I’ll remember everything you sang. Cause you and I both loved…” *
(Wooo, lah dalah jebule yo lagi bar nganggo mello-mello to kowe le!? *plak!!!)
*) Courtessy from “You and I Both” by J. Mraz
Obral Buku, Pesta Kambing di Jogja
Ini dia event yang sepertinya paling menarik menjelang akhir tahun 2008 ini. Pameran buku alias cuci gudang buku di Jogja. Ya, dilihat dari judul event-nya sepertinya memang biasa-biasa saja, tidak jauh beda dengan yang dulu. But it doesn’t matter, yang jelas event seperti ini sedari dulu selalu menarik perhatian gue. Maklum sebagai seseorang pengoleksi, penggila dan penyayang buku namun minim dana untuk investasi, acara seperti itu wajib untuk tidak terlewatkan (kebiasaan ketika masih jadi mahasiswa!). Meskipun rata-rata harga buku yang dijual tidak terlalu relatif jauh berbeda alias sama dengan yang di bookstores biasanya, namun jika kita jeli dan sedikit sabar kita akan bisa menemukan sesuatu buku yang lumayan ‘berharga’. Maksudnya bisa menemukan buku yang sudah jarang beredar di pasaran tapi kita bisa membelinya dengan harga yang lumayan miring. Tapi berharga atau tidaknya juga tergantung preferensi individu terhadap buku itu, juga tergantung seberapa pentingnya bagi kita (halah ngomong opo to le!). Dulu ketika gue sudah muter-muter memasuki seluruh bookstores di Jogja mencari buku “Kepada Putra dan Putriku” dari At-Thonthowi yang sudah tidak naik cetak gue nemunya malah di suatu pameran buku. Begitu pula dengan “Burung-Burung Manyar”-nya Mangunwijaya (sekarang ternyata sudah bisa ditemui lagi di bookstore-bookstore) dan beberapa koleksi buku gue yang lain. Buku-buku itu gue dapat dengan harga yang cukup murah dan sebenarnya menurut gue pribadi (yang begitu menginginkannya) malah gue anggap terlalu murah. Maka dari itu gue sangat antusias ketika ada pameran buku. What a luck, what a pleasure…
Dan pameran buku kali ini cukup lumayan unik temanya. Temanya adalah Kambing, usut punya usut ternyata berhubungan dengan bulan ini Bulan Kambing karena menyambut Lebaran Haji yang mana identik dengan kambing. Seperti acara-acara sebelumnya pasti tidak hanya sebatas memamerkan atau sekedar menjual buku, tapi ada juga acara-acara tambahan lainnya seperti talkshow, bedah buku (kabarnya akan menjadi bedah buku terbanyak yang pernah ada), fashion show, festival band, aneka lomba, kuliner dan demo masak (semoga saja tidak hanya kambing menunya) serta pentas seni tradisonal. Dan juga karena bertema Kambing, salah satu bintang tamunya adalah si empunya Kambing itu sendiri, maksudnya Si Kambing Jantan atau yang bernama asli Raditya Dika. Acara ini akan diadakan lima hari berturut-turut di Mandala Bhakti Wanita Tama (ada yang tahu arti nama itu? What a wonderfull and greatfull name, ha?) dimulai tanggal 4 Desember dan akan berakhir pas di hari ketika Kambing-Kambing itu disembelih. Hiii… Ada yang mau ikut?
*) Oiya, kenapa milih Kambing ya temanya? Kan lebaran haji tidak cuma kambing saja, masih banyak yang lainnya seperti kerbau, unta atau sapi? (Pertanyaan bodoh!)
(Some) Lovers Are losing*
Sudah pagi, jangan bermimpi lagi
Lihatlah ke jendela
Kamu sudah salah jalan
Sudah keterlalulan, sudah kejauhan
Putar lah kembali
Tidak kah kamu sadar?
Kamu cuma seonggok mainan
Yang dicari saat dia susah
Dan yang dia tinggalkan saat sudah senang
Kenapa pula mau menjadi layang-layangnya?
Yang seenaknya sendiri di tarik ulur
Turun, turunlah dari situ
Turun dari anganmu
Beloklah dari dari jalurmu ini
Tidak kah kamu merasa?
Kamu tidak paantas untuknya
Eh, bukan
Dia lah yang tidak pantas untukmu
Hei, Bodoh! Kenapa cuma diam saja?
>> “..tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang tak rupawan. Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya..”
Lagu itu terdengar sampai 5 kali di Radio selama perjalanan gue dari Klaten ke Jogja pagi ini. Huuh… Lagi Top Request kali ya? Well, but I like the song. Nice One from Dee. And dasarnya gue aja yang lagi Mello!!! Sotoy!!!
*) A song by Keane, dan sepertinya tidak nyambung dengan puisi bodoh itu.
Deras. Dan Deras II.
Senin, 24 November 2008. Ya itu adalah kemarin. I feel that was not my day. Dimulai di pagi hari sudah disambut dengan pemadaman listrik oleh PLN. Dan karena listrik mati itu berarti aliran air di rumah gue juga ikut terganggu. Kenapa harus pas pagi-pagi? Kenapa pas di saat orang lagi sibuk siap-siap untuk beraktivitas? Dan sampai kapan mereka melakukan itu terus (hampir tiap minggu daerah gue dapat jatah, giliran)? Damn it. Dengan begitu karena persediaan air terbatas maka terpaksa harus irit air dan mandi pun tidak bisa puas. Tidak berasa seger. Dan yang lebih menyebalkan lagi, terpaksa BAB pagi itu tidak gue lakukan. Dan itu membuat sepanjang hari tidak berasa nyaman untuk beraktivitas, karena hal itu sudah biasa gue lakukan tiap pagi hari. Akhirnya berangkat ke Jogja dengan perasaan diri yang ‘aneh’.
Sepanjang hari itu kegiatan di Jogja sebenarnya lancar-lancar saja, tapi tidak sampai saat mau balik ke Klaten lagi. Saat itu sekitar pukul dua siang. Jogja yang cukup bersinar (sebentar, bukankah yang bersinar itu Klaten? Jogja Berhati Nyaman? Sleman Sembada? Halah…) tiba-tiba menjadi gelap oleh awan hitam. Tidak lama langsung turun hujan dengan sangat lebatnya. Akhirnya gue terdampar di Kantor Pos Bulaksumur UGM. Sekitar setengah jam lebih disana. Dan hujan sudah tidak lebat lagi, cuma gerimis. Berhubung badan gue sudah berasa gak mau diajak kompromi, dan berteduh di kantor pos itu tidak berasa nyaman plus sudah kepikiran tempat yang nyaman dirumah maka gue niatin pulang pake jas hujan. Apalagi di langit sebelah timur kelihatan cerah. Baru beberapa meter beranjak dari tempat berteduh itu, tiba-tiba hujan langsung menyerbu dengan derasnya lagi. Sial! Dan kalau sudah begini paling males untuk berhenti lagi. Sialnya lagi gue yang berencana lewat jalur utara,lewat Ring Road Utara, tiba-tiba saja berubah haluan. Gue ambil rute biasanya lewat Jalan Solo yang mana pasti banyak macet dan banjir. Gubluk! Benar saja, baru sampai perempatan Sagan tiba-tiba sudah disambut oleh kolam air dadakan. Hujan masih semakin deras. Angin juga semakin kenceng.
Sampai depan GOR UNY, kelihatan di depan air sudah kelihatan menggenang dan banyak antrian mobil yang berjalan melambat. Beberapa orang terlihat menuntun sepeda motornya. Pasti biang keroknya di depan UNY. Mau balik susah karena banyak mobil di belakang, belok ke utara lewat Karangmalang alamak ternyata lebih parah daripada di depan. Terpaksa akhirnya muter lewat selatan ambil Samirono-Jalan Urip Sumoharjo-Klitren-Sapen-UIN dan Jalan Solo. Tapi baru nyampe Klitren (dan tidak kuduga sebelumnya) di depan Balai Yasa PT. KAI air tiba-tiba saja sudah hampir separo motor gue, mesin motor gue sudah kelep, ujung kaki sampai pinggang basah. Berengsek! Tapi untungnya mesin tidak mati. Kontan langsung saja gue potong ke kiri masuk ke halaman rumah orang yang agak tinggian. Berhenti sebentar. Gak mungkin gue terus ke depan. Akhirnya setelah minta maap sama yang punya halaman rumah –yang kebetulan pas gue nyelonong ke halamannya, Bapak itu ada di luar sedang ngliat banjir- gue ambil ke utara lagi. Dan kali ini bener menuju Ring Road Utara meski harus nempuh jalur yang lumayan jauh daripada harus terkena macet plus mati mesin ditengah guyuran hujan dengan kondisi badan yang yang sudah kedinginan dan berasa mau teputus-putus. Baru nyampe demangan tiba-tiba sudah kena banjir lagi.
Kenapa sekarang Jogja banyak banjir kayak gini? Berdasarkan perkiraan gue (alasan yang umum dan klise), banyak disebabkan oleh tidak lancarnya sistem drainase. Salah satunnya gara-gara sampah. Kelihatan sekali. Dari sekian banyak banjir yang gue alami diatas semua airnya bewarna coklat keiteman dan banyak sampah yang terhanyut. Juga semakin padatnya dan terkonsentrasinya kegiatan di kota saja. Semakin banyaknya bangunan baru, kurang resapan. Juga semakin banyaknya pendatang. Semakin padat, terutama para mahasiswa yang suka berpikiran instan. Oleh karena itu semakin banyak konsumsi (permintaan), maka diimbangi lah dengan penawaran oleh para toko-toko baru, fasilitas umum baru, bangunan-bangunan baru itu yang secara logika juga semakin banyak pula sampah yang dihasilkan tapi fasilitas yang per-sampah-an masih-masih saja sama. Diperparah dengan perilaku buang sampah yang kurang dan tata kelola sampah yang tidak sebanding. Penjual semakin banyak terutama para pedagang kaki lima (sumpah, gue pernah nyaksikan dengan mata kepala sendiri sewaktu masih idup di Jogja, sampah-sampah dari mereka langsung dibuang ke sungai!) Sungguh benar-benar alasan yang klise. Tapi bisa saja terlewatkan. Kalau tidak segera mendapat perhatian bisa semakin tinggi nanti air hujan yang menggenang. Eh, tapi lumayan juga, Pak. Yang di depan Ambarukmo sampai pertigaan Janti yang selama ini jadi biang kerok banjir dan macet daerah situ, sudah dibetulkan ‘kan ya? Tapi agak terlambat sedikit, Pak. Benerinnya kok malah pas sudah datang musim hujan? Nambah-nambahin macet saja, Pak. Tidak kemarin-kemarin saat hujan belum datang? Tapi well done aja lah ya, Pak. Keep movin. Yang lain masih banyak yang ngantri. Loh…
Akhirnya sampai juga di Ring Road Utara. Benar-benar bebas banjir dan macet. Dan hujan masih saja deras, dan deras. Musuh gue yang gue kuatirkan adalah mobil-mobil, truk-truk, dan bus-bus yang seenaknya sendiri menyipratkan air dari samping, depan dan bawah sehingga membuat gue basah dan semakin kedinginan. Selain itu adalah badan gue yang semakin lama semakin tidak mau diajak kompromi. Hampir satu setengah jam sejak dari kantor pos nyampai kerumah. Dan itu dibawah guyuran hujan yang deras. Nyampai rumah menjelangr jam empat sore dan ternyata listirk belum nyala juga. PLN sontoloyo! Niat pengen segera nyuci motor, mandi terus nyantai-nyantai harus tertunda. Untung saja Senin itu gue pas puasa jadi masih bisa sabaran nahan emosi. Fuuh… Dan malemnya sumpeh, badan gue kayak hancur lebur + agak demam + batuk mulai menggigil lagi dan sedikit insomnia malahan. Tapi Allah Maha Adil, di malam itu masih ada juga sesuatu yang bisa membuat gue seneng, sedikit melupakan badan yang terasa hancur lebur dan melupakan kesialan hari itu. What is it? Ssst… Dian diam.
My Life? No, It’s Just My Rubic.
Rubic. Di postingan gue dulu, gue pernah pengen nyritain tentang rubic. Now it’s the time. Halah… Tentunya semua sudah tahu mainan satu itu. Yup, mainan kubus yang warna-warni itu, yang dimana kita harus menyusun ke-enam sisi warna-nya dengan komplet dan benar. Ada yang
pernah main? Keren, bukan? Itu adalah salah satu mainan favorit gue sejak gue SMA dulu. Gara-garanya pernah ditantang salah satu guru matematika gue dengan iming-iming hadiah untuk dapat menyelesaikan at least dua sisi completely, karena tuh mainan bukan sembarang mainan. Menurut beliau, memainkan rubic harus dengan taktik dan strategi karena ada jurus algoritma, logika dan statistika matematika yang harus dipatuhi (loh!), juga memerlukan kecerdasan dan kesabaran. Tapi meski hadiahnya cuma sebuah pujian di depan kelas (penting gak sih?), hadiah seperti itu waktu itu adalah suatu hal yang prestise dari seorang guru matematika yang sangar dan killer, kebayang kan mendapat pujian dari seorang guru matematika yang killer dikatakan sebagai anak yang cerdas, IQ tinggi, pandai matematika, pintar berstrategi dan penuh kesabaran? Apalagi kalau di kelas ada seorang pujaan hati yang sudah lama jadi incaran (SMA banget ^_^ ). Tapi berhubung gue seorang yang tidak cerdas dengan IQ jongkok (waktu itu) maka gue tidak berani menerima tantangan itu, beruntungnya satu kelas juga tidak ada yang berani (it means that in our class no one was smart, so I still be proud. Gubluk!) Tapi gara-gara itu gue jadi penasaran sama tuh mainan. Gue ma temen-temen langsung beli tuh mainan dan bereksperimen ria. Dan akhirnya gue berhasil juga menyelesaikan susunan dua sisi dengan komplit dan benar. Woohoo… Tapi masih ada empat sisi lagi. Dan lagi, dengan suksesnya sampai sekarang gue gak pernah berhasil menyelesaikan ke-enam sisinya. Pol mentok cuman dua sisi doang. Ternyata dasar memang IQ jongkok (masih!).
Dan ternyata mainan itu juga mempunyai filosofi. Untuk mendapatkan sisi yang komplet kamu harus berani kehilangan sisi yang lain meski sisi itu sudah selesai. Untuk membuat komplet sisi warna hijau yang hanya karena kurang satu-dua kotak saja, kamu harus berani kehilangan atau ngacak sisi warna yang laen meski sisi warna laen itu sudah komplet. Kalau tidak begitu permainan akan mentok, berhenti dan tidak akan pernah selesai. Kadang dalam hidup untuk bisa merasa bermanfaat, especially for the other people, keinginan-keinginan dan planning-lanning yang sudah ada dalam benak harus dikorbankan (dulu). Kadang bisa mengembalikannya lagi in the different time, tapi kadang bener-benar-benar musnah. And what a life! Lucky, gue pernah bisa mengalami yang seperti itu.
