Posts Tagged ‘dearest’
Dik
Dik,
Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?
Di sawah, dik
Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang
menghubungkan ke-dua desa kita
Masih ingatkah kamu, dik?
Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu
Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu
dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri
Ingatkah, dik?
Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore
Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku
setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme
Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus
Kamu pun lewat dihadapanku, dik
Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu
Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan
Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang
beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin
Menutupi rona wajahmu yang bersemi
Ooh…
Dan aku pun terpesona, dik
Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna
membuatmu tampak lebih anggun
Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang
Lalu, kedua mata kita saling bertemu
Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam
Untung saja aku masih bisa berdiri tegap
Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan
Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis
Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik
Oh, Gusti…
Nyatakah ini?
Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya
Dan benar saja, dik
Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok
Mbok pun hanya bilang:
“Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”
Ah, si mbok…
Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok
Ingin membantahnya pun tak daya
beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?
Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?
Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?
Sejak saat itu aku selalu teringat mu
Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu
Asal-usulmu, bahkan namamu
Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi
Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore
Tak pernah lagi…
Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme
Tak pernah lagi…
Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti
untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu
Dan doaku pun akhirnya terjawab
Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku
Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik
Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan
Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya
Namun kondisi tak lagi sama, dik
Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati
Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup
Kulitmu yang segar kini layu
Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya
Senyummu pun berat
Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku
Sudah, dik
Sudah..
Jangan kau teruskan lagi ceritamu
Tak kuasa hati ini merasa
Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati
Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik
Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah
Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu
telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya
Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat
tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya
Benar lelaki bajingan dia, dik
Ah, menyesal aku, dik
Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme
Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya
jika aku harus mendapati dirimu seperti ini
Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini
Malah semakin biadab saja
Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?
Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo
Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…
Dan sekarang,
setelah kita menghabiskan waktu ini bersama
Dengan jiwa yang kelu
kugenggam tanganmu dingin di pembaringan
Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku
Tipis…
Tapi tulus…
persis saat pertama kali kita berjumpa dulu
Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu
The Wishingchair
Kini aku sedang duduk
di sebuah kursi dalam fakta
Tempat terakhir kali kita duduk bersama
tempat kita berpagut, tangis dan tawa
tempat melukis mimpi masa depan
Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan
Ternyata hanya kosong, tak ada kamu
Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh
duduk dalam harap
Melengkapi warna lukisan masa depan -kita
Cerita Dalam Bilangan 6
Ya, sudah lebih dari 2190 hari
kita telah saling tahu
meski sekarang belum benar-benar tahu
Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon
kita telah bersama
meski sekarang tak jua bersama
Sebentar,
benarkah sudah selama itu?
Tak terasa
sudah banyak cerita, banyak jalan
telah terlewati
Pernah kita satu jalan
Pernah juga tidak
kamu ke timur dan aku ke barat
Dan sekarang,
kita telah satu jalan -lagi
meski belum satu sepeda
Tak apa lah
Teruslah kita mengayuh saja
hingga sampai tujuan
Jangan tanya sampai kapan itu
Terus saja lihat saja ke depan
dan perhatikan kanan-kiri
Jangan lupa pula
lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’
agar kita tetap satu jalan
Karena jalan dan juga waktu di depan
kadang selayak fatamorgana
Aku Tahu
Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,
Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah
Lihatlah ke depan,
aku ada untuk melindungimu
Lihatlah ke kanan ke kiri,
aku ada untuk menjagamu
Dan lihatlah kebelakang,
aku akan selalu ada mendukungmu
Karena aku tahu kau percaya untuk aku
Chapter Two
Malam ini seharusnya dia sudah berada di rumah. Setiap wiken dia biasanya memang pulang. Tapi sejak dia tiba di kost-an tadi sore hujan deras masih saja mendera. Gila, lebat sekali hujan kali ini. Mana angin juga kenceng banget. Fuuh… Tapi dia cuma bisa tersenyum saja. Dan dia tidak ingin menghabiskan satu jam penuh berada di atas motor bututnya di jalan dalam keadaan basah dan kedinginan. Meski dia suka dengan hujan, dengan air, tapi otaknya masih bisa berpikir untuk tidak cukup bodoh untuk melakukannya. Lagipula jalanan pasti juga licin. ‘Yowis Le, rasah bali wae yen udan. Kene yo udan deres…’ kalimat yang terbaca di layar hp-nya, balasan dari Sang Ibu atas pemberitahuannya kalau wiken kali ini tidak bisa pulang.
Wiseman dari James Blunt mulai terdengar dari speaker komputernya dalam ruang 3 x 4 meter itu. Suara hujan –yang deras- di luar bergerilnya masuk ke ruangan sehingga cukup menimbulkan noise. Tidak banyak yang bisa dilakukannya dalam ruangan itu. Dia mencoba keluar dari kamarnya di lantai dua, turun kebawah mencari sepenampakan batang hidung untuk sekedar diajak ngobrol. Tapi tidak ada nyawa juga. Di kost-an itu cuma ada empat orang anak kost. Entah pada kemana hujan-hujan begini, malam-malam begini. Di ruang tengah hanya terlihat bapak kost yang menonton televisi. Malas dia untuk nimbrung dengan bapak itu. Paling-paling nanti cuma diajak ngobrol ala Gus Dur ngomentari politikus-politikus yang di tontonnya di tv itu. Sebenarnya lucu juga kalau bapak itu lagi ngomongin mereka, cukup bisa untuk melemaskan otot pipi dan sejenak bisa untuk melepas penat. Tapi kali ini dia lebih tertarik untuk kembali ke kamarnya bersama James Blunt dan kawan-kawannya. Dalam menuju kamarnya dia berpapasan dengan anak perempuan bapak kost yang basah kuyup baru pulang entah dari mana.
Setiba dalam kamar dia langsung berada di depan komputernya. So far, komputer adalah teman terbaiknya dalam kondisi seperti ini. Dia berpikiran untuk menyelesaikan perhitungan estimasi struktur biaya transportasi yang dibebankan padanya, yang juga belum kelar-kelar. Tapi wiken sebisa mungkin tidak dilakukannya untuk melakukan pekerjaan semacam itu. For him, wiken is a so stupid damn thing if he can’t set him free. Apalagi dengan seabrek detil angka-angka. Mual rasanya. Lalu dia mencoba memulai menulis sesuatu untuk up-date blognya. Lagi-lagi pikirannya stuck. Beralih hanya baca-baca berita di internet. Stone Roses kali ini yang playing di playlist-nya. Tapi noise suara hujan dari luar masih saja dengan enaknya mengganggu dia menikmati lagu-lagu itu.
Tiba-tiba dia teringat kalau tadi siang dia dapat paketan dari sahabatnya (lebih tepatnya: mantan kekasih, dia sekarang lebih suka menyebut sahabat ketimbang mantan) yang -sudah- di Jakarta. Setelah tiga tahun lebih mereka di-harus-kan tidak melanjutkan hubungan itu, masing-masing dari mereka masih saling komunikasi satu sama lain. Dan sudah dua bulan lebih ini malah semakin intens. Setelah mengalami peristiwa itu memang mereka sempat hilang sapa, mereka sejenak diam satu sama lain. Waktu pertama kali bertemu lagi, masing-masing dari mereka sudah tidak sendirian lagi. Tapi sekarang dia sendiri lagi, dan lagi –for the 2nd time. Mungkin karena dia merasa sebagai pihak yang pantas disalahkan atas peristiwa itu atau mungkin perasaan dia yang terlalu kuat dan belum bisa menerima peristiwa itu, dia lah yang memulai membangun kembali komunikasi itu, hubungan persahabatan itu lagi. Pada umumnya jarang yang dari pacar menjadi sahabat, kebanyakan malah sebaliknya dari sahabat menjadi pacar. Tapi dia –mereka- tidak terbawa arus pada umumnya itu. Memang pada awalnya sulit, dia merasa sebagai orang paling bodoh di bumi ini untuk melakukan hal itu, bahkan seperti ada kepalsuan dan keterpaksaan yang dipaksakan yang terselip. Tapi seiring waktu keterpaksaannya itu berubah menjadi ketulusan untuk melakukan semua hal jika harus dihadapkan pada dia. Anyhow, anything, anytime.
Dan kini sudah 3 tahun setelah mereka memulai hubungan baru itu. Dia lebih merasa enjoy dan berkualitas dengan hubungan persahabatan yang mereka jalani sekarang. Bisa pure apa adanya, nothing to lose dan tidak berpikiran jauh-jauh. Ketika Crazy ‘Bout You dari Ten2Five terdengar dia sudah berada di atas tempat tidur meraih tas yang tergeletak di atasnya. Diambilnya sebuah kotak pipih berbalut kertas coklat dari dalam tas. Cukup ringan. Dila, Cipulir V, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tertulis di bagian belakang. Dilepasnya dengan teratur balutan kertas itu, lalu nampak sebuah kotak pipih bening di dalamnya tertulis: Oasis: Befinitely Maybe. Original DVD. Super Deluxe! Sumpah. Seketika dia kaget. Tapi seperti biasa, dia cuma tersenyum, tanpa ekspresi. Gadis bodoh, batinnya, but thanx. Tapi lalu dia jadi penasaran. Kenapa Dila bisa tahu bahwa DVD itu yang selama ini dia cari-cari, dan belum ketemu juga, dan juga gimana cara mendapatkannya? Itu adalah koleksi langka di Indonesia dan mahal pulak! Di bagian belakang DVD itu tertempel secarik kertas putih dan bertuliskan tangan dengan tinta warna hijau: “Pak, minggu lalu pas gue jalan ke mall tak sengaja lihat barang yang kamu cari-cari pas kita muter-muter Jogja waktu liburan kemarin. Kalau tahu disini ada tak usah capek-capek muter kayak kemaren, Pak. Pake kehujanan pulak. Huu… Semoga barangnya sesuai yang dimaksud soalnya gue belum pernah lihat langsung sih. Tapi gue tak akan lupa ciri-cirinya, maklum sudah ribuan kali kamu sebut, kamu tanyakan ke seluruh pelayan musicstore yang cantik-cuantik itu di Jogja kemarin. Hahaha… Kalau ada sesuatu seperti itu lagi bilang aja, Pak. Jakarta lebih unggul daripada Jogja. Percaya deh, sudah terbukti kan? Tapi lain kali tidak gratis lho ya. He… Oiya, itu juga itung-itung sebagai ganti kamu mau gue tebengin muter-muter Jogja dan sepasang ogre kecil Shrek dan Fiona yang kamu kasih kemarin. Though they’re ogre and ugly I love them. Thanx. PS: Kapan-kapan lagi ya, keliling Jogja denganmu was so nice, Pak! ^_^”
Lagi, dia cuma senyum datar. Dia rebahan diatas tempat tidur. Dan hujan diluar sudah tidak sederas sebelumnya, sehingga Drew dengan Unromantic cukup terdengar cukup nyaman karena noise dari luar sudah mulai berkurang. Dibacanya sekali lagi tulisan itu. Kemudian dia ingatannya terbawa ke peristiwa dua bulan yang lalu itu. Ketika itu tiba-tiba dia mendapat telepon teror.
“Pak, 3 hari libur nasional kan? Mau kemana?”
“Tidak, rencana cuma mau hunting suatu benda yang penting gak penting, DVD… Ah, gue kasih tahu kamu juga gak bakal tahu. Tumben nanya gitu, Bu?”
“Hehe, nggak kok. Gue ikut ya besok, Pak? Gue sekarang lagi dirumah. Semalem nyampe. Pengen muter-muter Jogja. Mau ya? Awas kalau gak mau. Terserah deh kemana. Pokoknya gue ngikut. Ok, bos?”
“Hah ma gue? Nggak salah? Gue sih ndak pa pa. Tapi sudah ijin sama si Mas? Ntar bisa berabe belakangan”
“Ah tidak usah dipikir. Pokoknya gue nebeng ya. Kalau ke Jogja I prefer to choose you than him. Haha…”
“Dasar. Kamu kalau sudah pakai pokoknya begitu, susah. Ok lah. Let’s see besok. Tapi kalau ada apa-apa gue gak ingin jadi tersangka. Jamnya besok gue kabarin lagi.”
“Yup, jangan kuatir, no matter. And manut lah pokoke. Thanx, Ar.”
Sebenarnya dia sudah punya rencana sendiri untuk hunting DVD itu. Dia ingin mengajak temannya sendiri. Tapi diurungkannya niat itu demi menyenangkan hati sahabatnya yang sudah tidak bertemu muka semenjak merantau ke Ibu Kota hampir setahun yang lalu.
Dan ketika No Fruits For Today-nya Sore full the room dia mulai terbangun kembali turun ke dunia lagi setelah beberapa saat terbang pergi ke peristiwa dua bulan lalu; pergi ke saat pertama kali melihat Dila yang belum banyak berubah setelah setahun tidak ketemu, kecuali wajah ayu nan lucu di balik kacamatanya dan kedewasaannya yang bertambah, selain itu semua masih sama hingga dia bisa merasakan kembali hal yang sama saat mereka pertama kali bertemu enam tahun yang lalu, when they were just seventeen; pergi ke saat mengunjungi hampir semua musicstore di Jogja sampai kehujanan dan akhirnya terdampar di warung bakso di Gejayan; dan juga pergi ke saat memenangkan suatu game –yang dia tidak tahu apa namanya- di Timezone dan mendapatkan hadiah sepasang miniatur makhluk ogre Shrek dan Fiona. Dan sejak saat itu sebenarnya perasaan terhadap Dila yang telah disudutkannya bertahun-tahun di suatu titik di hatinya mulai bergerak keluar menyusur meyelimuti semua sisi hati. Ketika dia mulai terbangun hujan deras sepertinya telah berubah menjadi gerimis kecil yang tak berpola.
Dari tempat tidur dia membuka jendela kamarnya. Angin langsung bertiup masuk menampar wajahnya membawa aroma jalan dan halaman yang basah karena hujan. Di luar gelap, hanya segelintir orang yang lewat di jalan dibawahnya. Dia lalu menyapu pandangannya ke sekeliling, di kejauhan butiran gerimis yang tak berpola terlihat oleh temaram sinar lampu bewarna kuning di ujung jalan. Suara yang dibuat oleh tukang bakso dan penjual sate keliling mulai terdengar bergantian bertautan. Seorang laki-laki dan perempuan terlihat sedang berjalan berdampingan, si laki-laki menuntun sepeda motornya yang mungkin mogok karena derasnya hujan dan si perempuan berjalan disampingnya masih mengenakan jas hujan. Tidak lama jalan mulai dijejaki beberapa orang dan kendaraan. Dia lalu melihat ke arah kaca jendela kamarnya dan di kaca jendela terlihat wajahnya yang berpendar karena pantulan cahaya dari dalam kamar. Dia sejenak diam mengamati wajah itu. Memikirkan apa yang telah terjadi dengan pemilik wajah itu, dengan perasaan orang itu. Memikirkan apa yang terjadi antara dia dan Dila since the last three years, terutama dua bulan terakhir. Lalu dibuangnya pikiran itu itu jauh-jauh. It’s different now, everything’s changing. Kemudian dia hanya tersenyum.
Sesaat dia meraih handphone-nya, kembali meyandarkan punggung dan kepalanya di atas kasur. Bersamaan dengan message report di hp nya: “It’s surprised me. Thanx, Bu. Delivered to Dila, October 17th, 2008. 9:27 PM” , I’m Outta Time dari Oasis terdengar:
“If I’m to fall
Would you be there to applaud
Or would you hide behind them all
‘Cause If I have to go
In my heart you’ll grow
And that’s where you belong
I’m out of time…”
*) Kisah ini hanya fiktif belaka. Sungguh, jangan terlalu dipercaya. Dibaca saja. Jika ada kesamaan nama, waktu dan tempat itu adalah memang disengaja.
**) Damn it, kenapa gue bisa nulis sedangdut itu ya? Mungkin gara-gara otak gue yang sedikit korslet gara-gara kecapean nempuh rute Klaten-Semarang-Jogja-Klaten beberapa waktu yang lalu. Dan ide untuk menulis ini dengan seenaknya sendiri nongol di otak gue.
***) Ini adalah penjelasan dari Chapter 1. Tapi hanya sebagian kecilnya saja. Ntar kalau otak gue korslet lagi, ada bagian yang lainnya. Dan lagu-lagu Ten2Five, Sore, Dee (Rectoverso) serta album NuBuzz 1.1 yang juga semakin membuat otak gue korslet untuk nulis ini. ^_^
Lelapmu
Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.
Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.
Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…
Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.
Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.
Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…
Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.
Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.
Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.
Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.
Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.
Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…
Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.
Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.
Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.
Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,
terbangun karena kebelet ingin ke toilet,
ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.
Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…
Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,
ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,
ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…
Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,
ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,
dan ketika suara masih parau setengah-setengah…
kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,
“Selamat pagiii…”
Chapter One
This time is useless, these conditions aren’t kind to us
The days have come and gone
Raise and drown our hopes but so fast
And I’m still here standing on the Promised Land,
the place where we used to starts to laughed at 17
watching you there in the Noman’s Land
act as a ‘dramaqueen’, too far away but so close
I faintly saw your laugh were fading out
Heard so many thunder of your weeping
Felt the rains of your tears
Haunted by your fears
—
I’ve given a lot of thoughts to the conversation last night
And those message you wrote me I keep them all
I read it over and over in every single part,
with your ‘P.S. I Love You’ in its every bottom line
you talked about all of your role, even until your mom and dad
And I’ll give a lot of thoughts how to write you back
In every single letter in every single word
But, are you gonna be OK if I don’t know what to say?
Will you sleep well tonight if I come too late?
I know you just pretend its all OK with your white pills
Me either, just pretend that there’ll be someone will take care of you more
But both of you and I just keep walking on this dark cave alone
Deeper and deeper
—
But I know it will end
We know it gettin’ closer but still so far
And we know it should be like the part of our favourite movie
When the boy and the girl walk hand in hand
When the girl grabs the the boy and reach his hand
And says: “Take me away from this pain, our new life’s waiting to begin”
Gambarmu
Kucoba ku cari lagi
beberapa gambarmu,
gambar-gambar kecil itu
saat kamu aku tersenyum,
tersenyum tersipu malu
Bersama
Ah, tak peduli…
gambar siapapun,
kamu sendiri atau bersamaku
yang penting ada kamu di situ
Biar bisa kulihat kamu lagi
Namun sudah kucari di mana-mana
tidak ketemu jua
Ternyata aku baru ingat,
beberapa sudah ku kembalikan padamu,
beberapa sudah kubuang
Arrgghhh…
…………………….!!!
Fuuh…
Boleh aku minta lagi?
Lagi dan lagi
Ketika aku harus kembali
dan mengobati
kenapa itu selalu kamu?
Lagi, lagi dan lagi…
Ternyata
Ternyata,
sudah cukup lama hati tidak menyapa
Dan untuk kesekian kalinya
Semalam,
bersama bulan ku coba mendatangimu
Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”
Uhmmm…
meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,
tapi itu kubawakan khusus untuk kamu
Ternyata,
sudah lama juga kamu ingin datang
juga hanya sekedar ingin menyapa
Bersama bulan juga kah?
Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya
Jika boleh meminta,
cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja
biar bisa kulihat dan kudengar lagi
Dan dengan diterangi sinar bulan,
hmmm…sungguh pemandangan yang cantik
Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja
Ternyata,
kita juga sama-sama ingin saling menyapa
Di saat-saat hal semacam ini,
kenapa selalu bisa bersamaan ya?
Kamu bilang sih kita masih soulmate
Hah, kamu ini
Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?
Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui
sebenar-benarnya
Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,
menyesal juga
Sudah jangan diingat-ingat
Meski kadang, aku juga masih sering teringat
mengingatmu
Dan ternyata,
Sekarang kamu sendiri lagi ya?
Uhmmm…
Ah sudahlah…
*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.