dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘dearest

Dik

with 8 comments

 

Dik,

Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?

Di sawah, dik

Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang

menghubungkan ke-dua desa kita

 

Masih ingatkah kamu, dik?

 

Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu

Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu

dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri

Ingatkah, dik?

Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore

Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku

setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme

 

Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus

Kamu pun lewat dihadapanku, dik

Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu

Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan

Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang

beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin

Menutupi rona wajahmu yang bersemi

Ooh…

Dan aku pun terpesona, dik

 

Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna

membuatmu tampak lebih anggun

Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang

Lalu, kedua mata kita saling bertemu

Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam

Untung saja aku masih bisa berdiri tegap

Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan

Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis

Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik

Oh, Gusti…

Nyatakah ini?

Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya

 

Dan benar saja, dik

Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok

Mbok pun hanya bilang:

Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”

Ah, si mbok

Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok

Ingin membantahnya pun tak daya

beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?

 

Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?

Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?

Sejak saat itu aku selalu teringat mu

Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu

Asal-usulmu, bahkan namamu

Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi

Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore

Tak pernah lagi…

Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme

Tak pernah lagi…

 

Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti

untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu

 

Dan doaku pun akhirnya terjawab

Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku

Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik

Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan

Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya

 

Namun kondisi tak lagi sama, dik

Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati

Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup

Kulitmu yang segar kini layu

Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya

Senyummu pun berat

 

Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku

 

Sudah, dik

Sudah..

Jangan kau teruskan lagi ceritamu

Tak kuasa hati ini merasa

Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati

Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik

Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah

Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu

telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya

Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat

tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya

Benar lelaki bajingan dia, dik

 

Ah, menyesal aku, dik

Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme

Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya

jika aku harus mendapati dirimu seperti ini

Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini

Malah semakin biadab saja

Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?

Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo

Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…

 

Dan sekarang,

setelah kita menghabiskan waktu ini bersama

Dengan jiwa yang kelu

kugenggam tanganmu dingin di pembaringan

Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku

Tipis…

Tapi tulus…

persis saat pertama kali kita berjumpa dulu

 

Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu

Written by dian diam

March 19, 2009 at 12:05 pm

Posted in poem, setorie

Tagged with , ,

The Wishingchair

with 7 comments

Kini aku sedang duduk

di sebuah kursi dalam fakta

Tempat terakhir kali kita duduk bersama

tempat kita berpagut, tangis dan tawa

tempat melukis mimpi masa depan

 

Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan

Ternyata hanya kosong, tak ada kamu

Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh

duduk dalam harap

Melengkapi warna lukisan masa depan -kita

Written by dian diam

January 6, 2009 at 3:28 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Cerita Dalam Bilangan 6

with 12 comments

Ya, sudah lebih dari 2190 hari

kita telah saling tahu

meski sekarang belum benar-benar tahu


Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon

kita telah bersama

meski sekarang tak jua bersama


Sebentar,

benarkah sudah selama itu?


Tak terasa

sudah banyak cerita, banyak jalan

telah terlewati


Pernah kita satu jalan

Pernah juga tidak

kamu ke timur dan aku ke barat


Dan sekarang,

kita telah satu jalan -lagi

meski belum satu sepeda


Tak apa lah

Teruslah kita mengayuh saja

hingga sampai tujuan


Jangan tanya sampai kapan itu

Terus saja lihat saja ke depan

dan perhatikan kanan-kiri


Jangan lupa pula

lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’

agar kita tetap satu jalan


Karena jalan dan juga waktu di depan

kadang selayak fatamorgana

Written by dian diam

December 25, 2008 at 3:58 am

Posted in poem

Tagged with ,

Aku Tahu

with 10 comments

Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,

Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah


Lihatlah ke depan,

aku ada untuk melindungimu

Lihatlah ke kanan ke kiri,

aku ada untuk menjagamu

Dan lihatlah kebelakang,

aku akan selalu ada mendukungmu


Karena aku tahu kau percaya untuk aku


Written by dian diam

November 14, 2008 at 4:08 am

Posted in poem

Tagged with ,

Chapter Two

with 10 comments

Malam ini seharusnya dia sudah berada di rumah. Setiap wiken dia biasanya memang pulang. Tapi sejak dia tiba di kost-an tadi sore hujan deras masih saja mendera. Gila, lebat sekali hujan kali ini. Mana angin juga kenceng banget. Fuuh… Tapi dia cuma bisa tersenyum saja. Dan dia tidak ingin menghabiskan satu jam penuh berada di atas motor bututnya di jalan dalam keadaan basah dan kedinginan. Meski dia suka dengan hujan, dengan air, tapi otaknya masih bisa berpikir untuk tidak cukup bodoh untuk melakukannya. Lagipula jalanan pasti juga licin. ‘Yowis Le, rasah bali wae yen udan. Kene yo udan deres…’ kalimat yang terbaca di layar hp-nya, balasan dari Sang Ibu atas pemberitahuannya kalau wiken kali ini tidak bisa pulang.

 

Wiseman dari James Blunt mulai terdengar dari speaker komputernya dalam ruang 3 x 4 meter itu. Suara hujan –yang deras- di luar bergerilnya masuk ke ruangan sehingga cukup menimbulkan noise. Tidak banyak yang bisa dilakukannya dalam ruangan itu. Dia mencoba keluar dari kamarnya di lantai dua, turun kebawah mencari sepenampakan batang hidung untuk sekedar diajak ngobrol. Tapi tidak ada nyawa juga. Di kost-an itu cuma ada empat orang anak kost. Entah pada kemana hujan-hujan begini, malam-malam begini. Di ruang tengah hanya terlihat bapak kost yang menonton televisi. Malas dia untuk nimbrung dengan bapak itu. Paling-paling nanti cuma diajak ngobrol ala Gus Dur ngomentari politikus-politikus yang di tontonnya di tv itu. Sebenarnya lucu juga kalau bapak itu lagi ngomongin mereka, cukup bisa untuk melemaskan otot pipi dan sejenak bisa untuk melepas penat. Tapi kali ini dia lebih tertarik untuk kembali ke kamarnya bersama James Blunt dan kawan-kawannya. Dalam menuju kamarnya dia berpapasan dengan anak perempuan bapak kost yang basah kuyup baru pulang entah dari mana.

 

Setiba dalam kamar dia langsung berada di depan komputernya. So far, komputer adalah teman terbaiknya dalam kondisi seperti ini. Dia berpikiran untuk menyelesaikan perhitungan estimasi struktur biaya transportasi yang dibebankan padanya, yang juga belum kelar-kelar. Tapi wiken sebisa mungkin tidak dilakukannya untuk melakukan pekerjaan semacam itu. For him, wiken is a so stupid damn thing if he can’t set him free. Apalagi dengan seabrek detil angka-angka. Mual rasanya. Lalu dia mencoba memulai menulis sesuatu untuk up-date blognya. Lagi-lagi pikirannya stuck. Beralih hanya baca-baca berita di internet. Stone Roses kali ini yang playing di playlist-nya. Tapi noise suara hujan dari luar masih saja dengan enaknya mengganggu dia menikmati lagu-lagu itu.

 

Tiba-tiba dia teringat kalau tadi siang dia dapat paketan dari sahabatnya (lebih tepatnya: mantan kekasih, dia sekarang lebih suka menyebut sahabat ketimbang mantan) yang -sudah- di Jakarta. Setelah tiga tahun lebih mereka di-harus-kan tidak melanjutkan hubungan itu, masing-masing dari mereka masih saling komunikasi satu sama lain. Dan sudah dua bulan lebih ini malah semakin intens. Setelah mengalami peristiwa itu memang mereka sempat hilang sapa, mereka sejenak diam satu sama lain. Waktu pertama kali bertemu lagi, masing-masing dari mereka sudah tidak sendirian lagi. Tapi sekarang dia sendiri lagi, dan lagi –for the 2nd time. Mungkin karena dia merasa sebagai pihak yang pantas disalahkan atas peristiwa itu atau mungkin perasaan dia yang terlalu kuat dan belum bisa menerima peristiwa itu, dia lah yang memulai membangun kembali komunikasi itu, hubungan persahabatan itu lagi. Pada umumnya jarang yang dari pacar menjadi sahabat, kebanyakan malah sebaliknya dari sahabat menjadi pacar. Tapi dia –mereka- tidak terbawa arus pada umumnya itu. Memang pada awalnya sulit, dia merasa sebagai orang paling bodoh di bumi ini untuk melakukan hal itu, bahkan seperti ada kepalsuan dan keterpaksaan yang dipaksakan yang terselip. Tapi seiring waktu keterpaksaannya itu berubah menjadi ketulusan untuk melakukan semua hal jika harus dihadapkan pada dia. Anyhow, anything, anytime.

 

Dan kini sudah 3 tahun setelah mereka memulai hubungan baru itu. Dia lebih merasa enjoy dan berkualitas dengan hubungan persahabatan yang mereka jalani sekarang. Bisa pure apa adanya, nothing to lose dan tidak berpikiran jauh-jauh. Ketika Crazy ‘Bout You dari Ten2Five terdengar dia sudah berada di atas tempat tidur meraih tas yang tergeletak di atasnya. Diambilnya sebuah kotak pipih berbalut kertas coklat dari dalam tas. Cukup ringan. Dila, Cipulir V, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tertulis di bagian belakang. Dilepasnya dengan teratur balutan kertas itu, lalu nampak sebuah kotak pipih bening di dalamnya tertulis: Oasis: Befinitely Maybe. Original DVD. Super Deluxe! Sumpah. Seketika dia kaget. Tapi seperti biasa, dia cuma tersenyum, tanpa ekspresi. Gadis bodoh, batinnya, but thanx. Tapi lalu dia jadi penasaran. Kenapa Dila bisa tahu bahwa DVD itu yang selama ini dia cari-cari, dan belum ketemu juga, dan juga gimana cara mendapatkannya? Itu adalah koleksi langka di Indonesia dan  mahal pulak! Di bagian belakang DVD itu tertempel secarik kertas putih dan bertuliskan tangan dengan tinta warna hijau: “Pak, minggu lalu pas gue jalan ke mall tak sengaja lihat barang yang kamu cari-cari pas kita muter-muter Jogja waktu liburan kemarin. Kalau tahu disini ada tak usah capek-capek muter kayak kemaren, Pak. Pake kehujanan pulak. Huu… Semoga barangnya sesuai yang dimaksud soalnya gue belum pernah lihat langsung sih. Tapi gue tak akan lupa ciri-cirinya, maklum sudah ribuan kali kamu sebut, kamu tanyakan ke seluruh pelayan musicstore yang cantik-cuantik itu di Jogja kemarin.  Hahaha… Kalau ada sesuatu seperti itu lagi bilang aja, Pak. Jakarta lebih unggul daripada Jogja. Percaya deh, sudah terbukti kan? Tapi lain kali tidak gratis lho ya.  He… Oiya, itu juga itung-itung sebagai ganti kamu mau gue tebengin muter-muter Jogja dan sepasang ogre kecil Shrek dan Fiona yang kamu kasih kemarin. Though they’re ogre and ugly I  love them. Thanx. PS: Kapan-kapan lagi ya, keliling Jogja denganmu was so nice, Pak! ^_^”

 

Lagi, dia cuma senyum datar. Dia rebahan diatas tempat tidur. Dan hujan diluar sudah tidak sederas sebelumnya, sehingga Drew dengan Unromantic cukup terdengar cukup nyaman karena noise dari luar sudah mulai berkurang. Dibacanya sekali lagi tulisan itu. Kemudian dia ingatannya terbawa ke peristiwa dua bulan yang lalu itu. Ketika itu tiba-tiba dia mendapat telepon teror.

 

“Pak, 3 hari libur nasional kan? Mau kemana?”

“Tidak, rencana cuma mau hunting suatu benda yang penting gak penting, DVD… Ah, gue kasih tahu kamu juga gak bakal tahu. Tumben nanya gitu, Bu?”

 “Hehe, nggak kok. Gue ikut ya besok, Pak? Gue sekarang lagi dirumah. Semalem nyampe. Pengen muter-muter Jogja. Mau ya? Awas kalau gak mau. Terserah deh kemana. Pokoknya gue ngikut. Ok, bos?”

“Hah ma gue? Nggak salah? Gue sih ndak pa pa. Tapi sudah ijin sama si Mas? Ntar bisa berabe belakangan”

“Ah tidak usah dipikir. Pokoknya gue nebeng ya. Kalau ke Jogja I prefer to choose you than him. Haha…”

“Dasar. Kamu kalau sudah pakai pokoknya begitu, susah. Ok lah. Let’s see besok. Tapi kalau ada apa-apa gue gak ingin jadi tersangka. Jamnya besok gue kabarin lagi.”

“Yup, jangan kuatir, no matter. And manut lah pokoke. Thanx, Ar.”

 

Sebenarnya dia sudah punya rencana sendiri untuk hunting DVD itu. Dia ingin mengajak temannya sendiri. Tapi diurungkannya niat itu demi menyenangkan hati sahabatnya yang sudah tidak bertemu muka semenjak merantau ke Ibu Kota hampir setahun yang lalu.

 

Dan ketika No Fruits For Today-nya Sore full the room dia mulai terbangun kembali turun ke dunia lagi setelah beberapa saat terbang pergi ke peristiwa dua bulan lalu; pergi ke saat pertama kali melihat Dila yang belum banyak berubah setelah setahun tidak ketemu, kecuali wajah ayu nan lucu di balik kacamatanya dan kedewasaannya yang bertambah, selain itu semua masih sama hingga dia bisa merasakan kembali hal yang sama saat mereka pertama kali bertemu enam tahun yang lalu, when they were just seventeen; pergi ke saat mengunjungi hampir semua musicstore di Jogja sampai kehujanan dan akhirnya terdampar di warung bakso di Gejayan; dan juga pergi ke saat memenangkan suatu game –yang dia tidak tahu apa namanya- di Timezone dan mendapatkan hadiah sepasang miniatur makhluk ogre Shrek dan Fiona. Dan sejak saat itu sebenarnya perasaan terhadap Dila yang telah disudutkannya bertahun-tahun di suatu titik di hatinya mulai bergerak keluar menyusur meyelimuti semua sisi hati. Ketika dia mulai terbangun hujan deras sepertinya telah berubah menjadi gerimis kecil yang tak berpola.

 

Dari tempat tidur dia membuka jendela kamarnya. Angin langsung bertiup masuk menampar wajahnya membawa aroma jalan dan halaman yang basah karena hujan. Di luar gelap, hanya segelintir orang yang lewat di jalan dibawahnya. Dia lalu menyapu pandangannya ke sekeliling, di kejauhan butiran gerimis yang tak berpola terlihat oleh temaram sinar lampu bewarna kuning di ujung jalan. Suara yang dibuat oleh tukang bakso dan penjual sate keliling mulai terdengar bergantian bertautan. Seorang laki-laki dan perempuan terlihat sedang berjalan berdampingan, si laki-laki menuntun sepeda motornya yang mungkin mogok karena derasnya hujan dan si perempuan berjalan disampingnya masih mengenakan jas hujan. Tidak lama jalan mulai dijejaki beberapa orang dan kendaraan. Dia lalu melihat ke arah kaca jendela kamarnya dan di kaca jendela terlihat wajahnya yang berpendar karena pantulan cahaya dari dalam kamar. Dia sejenak diam mengamati wajah itu. Memikirkan apa yang telah terjadi dengan pemilik wajah itu, dengan perasaan orang itu. Memikirkan apa yang terjadi antara dia dan Dila since the last three years, terutama dua bulan terakhir. Lalu dibuangnya pikiran itu itu jauh-jauh. It’s different now, everything’s changing. Kemudian dia hanya tersenyum.

 

Sesaat dia meraih handphone-nya, kembali meyandarkan punggung dan kepalanya di atas kasur. Bersamaan dengan message report di hp nya: “It’s surprised me. Thanx, Bu. Delivered to Dila, October 17th, 2008. 9:27 PM” , I’m Outta Time dari Oasis terdengar:

 

If I’m to fall

Would you be there to applaud

Or would you hide behind them all

‘Cause If I have to go

In my heart you’ll grow

And that’s where you belong

I’m out of time…”

 

 

*) Kisah ini hanya fiktif belaka. Sungguh, jangan terlalu dipercaya. Dibaca saja. Jika ada kesamaan nama, waktu dan tempat itu adalah memang disengaja.

**) Damn it, kenapa gue bisa nulis sedangdut itu ya? Mungkin gara-gara otak gue yang sedikit korslet gara-gara kecapean nempuh rute Klaten-Semarang-Jogja-Klaten beberapa waktu yang lalu. Dan ide untuk menulis ini dengan seenaknya sendiri nongol di otak gue.

***) Ini adalah penjelasan dari Chapter 1. Tapi hanya sebagian kecilnya saja. Ntar kalau otak gue korslet lagi, ada bagian yang lainnya. Dan lagu-lagu Ten2Five, Sore, Dee (Rectoverso) serta album NuBuzz 1.1 yang juga semakin membuat otak gue korslet untuk nulis ini. ^_^

Written by dian diam

November 1, 2008 at 10:05 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

Lelapmu

with 12 comments

Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.

Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.

Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…

Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.

Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.

 

Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…

Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.

Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.

Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.

Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.

 

Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.

Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…

Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.

Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.

 

Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.

Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,

terbangun karena kebelet ingin ke toilet,

ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.

 

Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…

Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,

ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,

ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…

 

Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,

ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,

dan ketika suara masih parau setengah-setengah…

kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,

“Selamat pagiii…”

 

Written by dian diam

October 11, 2008 at 2:16 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Chapter One

without comments

This time is useless, these conditions aren’t kind to us

The days have come and gone

Raise and drown our hopes but so fast

And I’m still here standing on the Promised Land,

the place where we used to starts to laughed at 17

watching you there in the Noman’s Land

act as a ‘dramaqueen’, too far away but so close

I faintly saw your laugh were fading out

Heard so many thunder of your weeping

Felt the rains of your tears

Haunted by your fears

I’ve given a lot of thoughts to the conversation last night

And those message you wrote me I keep them all

I read it over and over in every single part,

with your ‘P.S. I Love You’ in its every bottom line

you talked about all of your role, even until your mom and dad

And I’ll give a lot of thoughts how to write you back

In every single letter in every single word

But, are you gonna be OK if I don’t know what to say?

Will you sleep well tonight if I come too late?

I know you just pretend its all OK with your white pills

Me either, just pretend that there’ll be someone will take care of you more

But both of you and I just keep walking on this dark cave alone

Deeper and deeper

But I know it will end

We know it gettin’ closer but still so far

And we know it should be like the part of our favourite movie

When the boy and the girl walk hand in hand

When the girl grabs the the boy and reach his hand

And says: “Take me away from this pain, our new life’s waiting to begin”

Written by dian diam

September 9, 2008 at 7:44 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

Gambarmu

with 3 comments

Kucoba ku cari lagi

beberapa gambarmu,

gambar-gambar kecil itu

saat kamu aku tersenyum,

tersenyum tersipu malu

Bersama

Ah, tak peduli…

gambar siapapun,

kamu sendiri atau bersamaku

yang penting ada kamu di situ

Biar bisa kulihat kamu lagi

Namun sudah kucari di mana-mana

tidak ketemu jua

Ternyata aku baru ingat,

beberapa sudah ku kembalikan padamu,

beberapa sudah kubuang

Arrgghhh…

…………………….!!!

Fuuh…

Boleh aku minta lagi?

Written by dian diam

August 11, 2008 at 7:02 am

Posted in poem, setorie

Tagged with ,

Lagi dan lagi

without comments

Ketika aku harus kembali

dan mengobati

kenapa itu selalu kamu?

Lagi, lagi dan lagi…

Written by dian diam

August 4, 2008 at 7:45 am

Posted in poem

Tagged with ,

Ternyata

with 3 comments

Ternyata,

sudah cukup lama hati tidak menyapa

Dan untuk kesekian kalinya

Semalam,

bersama bulan ku coba mendatangimu

Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”

Uhmmm…

meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,

tapi itu kubawakan khusus untuk kamu

Ternyata,

sudah lama juga kamu ingin datang

juga hanya sekedar ingin menyapa

Bersama bulan juga kah?

Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya

Jika boleh meminta,

cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja

biar bisa kulihat dan kudengar lagi

Dan dengan diterangi sinar bulan,

hmmm…sungguh pemandangan yang cantik

Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja

Ternyata,

kita juga sama-sama ingin saling menyapa

Di saat-saat hal semacam ini,

kenapa selalu bisa bersamaan ya?

Kamu bilang sih kita masih soulmate

Hah, kamu ini

Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?

Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui

sebenar-benarnya

Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,

menyesal juga

Sudah jangan diingat-ingat

Meski kadang, aku juga masih sering teringat

mengingatmu

Dan ternyata,

Sekarang kamu sendiri lagi ya?

Uhmmm…

Ah sudahlah…

*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.

Written by dian diam

July 29, 2008 at 11:32 am

Posted in poem

Tagged with ,