Posts Tagged ‘Detik detik akhir Adam Air’
Should be Off The Record
Pertama kali denger rekaman detik-detik terakhir percakapan pilot dan co-pilot Adam Air sempet merinding juga. Sumpah, bener. Apalagi pas kata-kata terakhir “Allahu akbar…Allahu akbar!” kemudian boom!!! Kresek kresekk… Gimana ya perasaannya anggota, kerabat dekat korban jika mendengarnya? So sorry. Mending ga usah dengerin saja. Dengar pertama kali pas di acara breaking news salah satu stasiun tv swasta. Bahkan pembawa acara-nya pun (mbak-mbak –red) sempat speechless pas ngomentari percakapan tersebut. Kelihatan sekali mbak itu. Sehari setelahnya pun salah satu radio swasta di Jogja muter adegan percakapan itu (gue yakin se yakin-yakin nya dapet dari internet, emang internet jaman sekarang ini, apa yang enggak coba?). Dan setelahnya, kebanjiran request untuk diputer lagi. Bukannya muter lagu malah muter adegan itu? Wew… Aneh radio itu, padahal tu radio berasal dari salah satu PT –perguruan tinggi- terbaik di negeri ini yang notabene seharusnya tahu lah baik dan buruknya muter tuh adegan. Radio-radio lainnya gue ga denger ikut heboh-heboh dengan adegan itu. Sebagai radiokers (sombong nemen) gue yakin cuma radio satu itu yang heboh dengan masalah itu di Jogja.
Sebenernya pertama kali mau dengar adegan percakapan itu excited juga, tapi setelah mendengarnya sempat mikir juga gue. What the hell, dari mana bisa dapat rekaman itu? Siapa yang pertama ngedarinnya? Kok bisa? Apa tujuannya? Asli apa nggak rekamannya? Bener apa rekayasa? Om Roy, dimana dirimu? Piye menurut Om?
Secara logika yang bisa ngrekam tuh percakapan berarti dari sesuatu yang ada di dalam pesawat itu yang ikut mengalami kecelakaan itu pula. Dan yang bisa melakukan itu pastinya adalah si blackbox. Kotak hitam pesawat itu, yang merekam segala sesuatu kejadian dalam tuh pesawat. Dan kalau benar berasal dari kotak hitam, pertanyaannya, kok bisa? Bukankah rekaman-rekaman asli dalam blackbox adalah bersifat rahasia (Aturan Konvensi Chicago; Tempo –red). Dan barang siapa yang mengedarkannya berarti melanggar kerahasiaan itu, melanggar aturan dan tanggung jawab organisasi penerbangan sipil dunia itu. Blackbox itu, maksud gue, yang berwenang dengan blackbox itu kan KNKT, jikalau benar lagi berasal dari blackbox, berarti ada orang dalam (maaf, bukan bermaksud su’udzon) yang terlibat. Dan ‘orang’ itu pasti ingin pamer, bangga bisa mengedarkan detik-detik terakhir percakapan dalam kecelakaan ‘terhebat’ dalam sejarah Indonesia. Atau bangga dengan semakin buruknya citra penerbangan Indonesia. Apalagi belum lama ini kan ‘lisensi’ larangan terbang maskapai Indonesia ke Uni Eropa diperpanjang. Baguuss, kapokmu kapan! Dan jika berasal dari orang luar. Berarti ada yang salah dengan sistem, dengan hierarki, dengan penanganan, tata kelola dan pemeliharaan dalam manajemen lembaga tersebut. Mungkin oleh sebab itu lah KNKT dan Dephub ramai-ramai menentang peredaran adegan percakapan itu dan mengatakan percakapan itu palsu.
Tapi bagi gue, terlepas percakapan itu palsu ataukah asli, wether the KNKT or Dephub yang salah dan bermasalah (it’s seems like that, isn’t it?), orang yang sengaja mengedarkannya seharusnya ingat dengan orang-orang anggota, kerabat dekat korban kecelakaan tersebut. Orang-orang yang sedang berjuang melupakan –lebih tepatnya mengikhlaskan- tragedi itu? Gue yang bukan kerabat dekat aja sudah merinding plus aneh ngeri ngebayanginnya. Apalagi anggota dan kerabat dekat yang ngedengerinnya. Bagi orang yang terlibat dalam peredaran itu, ini adalah ‘adegan’ duka cita, dab. Bukan seperti adegan percakapan si Ratu Suap dengan pejabat-pejabat gedung bundar, si Urip, bukan adegan si Amin kepergok ngluyur tengah malem, bukan pula seperti adegan si YZ dengan Eva, yang disebar kema-mana. Bukan.