Posts Tagged ‘domocrazy’
Dodol Basi
Dulu pas gue masih SD masih ada pelajaran PMP atau P4, makna demokrasi adalah sesuatu (dalam hal ini bentuk pemerintahan) dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Semoga sampai saat ini masih iya. Tapi secara umum, saat ini demokrasi lebih dekat kepada sesuatu yang bebas, kebebasan. Dan kata itu acap kali dijadikan suatu kunci “kebolehan”. Selepas reformasi sepuluh tahun lalu, kata itu juga semakin ampuh saja menjadi kunci “kebolehan” itu, dan semakin meluas saja tidak hanya dalam konteks politik, dan bahkan cenderung rediculous. Ketika ada sekelompok orang yang-katanya-beralmamater berteriak-teriak di jalanan sambil membakar apapun yang ada di depannya, nyebutnya demokrasi. Ketika ada beberapa orang komentar macem-macem di banyak media saling kritik saling tuduh tanpa ngasih solusi dan bisanya cuma ngedumel nggambleh melulu (mungkin salah satunya gue yang nulis ini di blog bodo ini), nyebutnya demokrasi. Dan yang paling deket dan gencar-gencarnya dengan pede jaya banyak orang berbondong-bondong mencalonkan diri jadi pemimpin di negeri ini dan wakil raklyat di negeri ini, nyebutnya juga demokrasi. Mereka beramai-ramai seperti mendapat ijin kebolehan untuk mengekspresikan nafsu, tidak peduli latar belakang dan rekam jejak mereka, keahlian skill mereka, terlebih lagi tanggung jawab dan amanah yang akan mereka emban kelak. Dan sepertinya hanya semakin membuat arti pemimpin (apalagi di tingkat negara) semakin menjadi basi saja, make no sense, bukan sebagai figur yang patut diteladani, dianut dan didukung lagi, even in the last: bakal dimaki, dihujat malah. Apa lagi dengan seabrek permasalahan di negeri Indonesia tercinta ini. Emang enak po?
Sudah pada tahu sendiri kan beberapa orang yang dengan pedenya bak seorang aktor dan aktris nampang keren dengan melambai-lambaikan tangan, senyum pepsodent, berpidato dengan suara seanggun mungkin di berbagai stasiun tv, media cetak dan billboard-billboard yang segaban dengan slogan masing-masing. Ada yang membawa nama perubahan, wong cilik, hati nurani, peduli rakyat kecil yang petani, there’s a will there’s a way dkk dan sepertinya hanya kata-kata manis yang utopis, abstrak. Mereka berlomba-lomba tampil semenarik mungkin seperti ikut dalam kontest reality show berebut pooling sms yang masuk. Ada yang kemaren baru saja kalah dari ‘persaingan’ ingin maju bertempur kembali. Ada yang merasa keturunan dari founding fathers sehingga hatinya berontak jika tidak ikut (lagi). Ada lagi yang sudah pernah menjabat kini pengen ngerasaain lagi, ngarep lagi. Kurang puwaass, bu? Ini lagi para artis ikut heboh. Ramai-ramai nyalon jadi pemimpin dan atau wakil (yang katanya) rakyat. Sudah yakin? Sudah siap? Jangan hanya merasa tertantang dan dengan pede jaya maju nyalon pengen membuktikan bahwa ‘gue’ juga bisa memainkan peran itu. Jangan main-main, ini bukan akting kayak di sinetron-sinetron kamu itu, this is real world. Mereka pun juga beralasan demokrasi. Mengaku sebagai anak daerah (hanya karena tiap lebaran pulang kampung -red) merasa terpanggil dan punya hak untuk berpartisi-sapi. Sure?
Yah meski tidak semua dari beliau-beliau yang nyalon seperti itu (syemoga), tapi jika itu adalah atas nama demokrasi maka semua itu menurut gue belum sesuai, I mean the truly meaning of democration, makna yang dipahami anak-anak SD itu. Dan jika ada yang nyalon karena bener-bener alesan demokrasi tapi niat dan caranya masih saja seperti yang sudah-sudah itu, maka menurut gue: dodol. Basi pulak. Eh, perasaan gue beberapa waktu yang lalu abis makan dodol, tapi tidak basi, enak malah. Di mana ya?
*) Tulisan ini murni pendapat pribadi yang sungguh amat sangat subjektif sekali yang disebabkan oleh penulis yang merasa geli dengan para bapak-bapak dan ibu-ibu yang pede jaya nampang keren di TV, media cetak dan billboard-billboard itu, plus fenomena artis yang ingin memerankan tokoh politisi, dan juga gara-gara dodol yang abis gue makan beberapa waktu yang lalu itu T_T. Terakhir, mari kita doakan supaya Dewi Persik segera bertobat. Amin.