dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘hidup

A Little Simple Whisper

with 9 comments

Di temani secangkir kopi di atas di sebuah balkon, weekend itu dia duduk-duduk bermalasan menikmati pagi hari. Tapi semua tampak tak biasa. Pertama bukan karakternya pagi-pagi dia nikmati dengan bermalasan dengan tatapan nanar. Kedua, senyum mukanya berat ketika beberapa orang yang sedang jalan-jalan menyapanya dari bawah, tidak seramah ketika menghadapi seorang klien. Yang tampak biasa hanyalah beberapa kertas putih berserakan di meja dihadapannya, yang bercetakkan beberapa list company profile nasabahnya. Plus sebuah blackberry yang beberapa kali berbunyi, tapi tak sekalipun dia perhatikan. Yang dilakukannya saat itu hanyalah sekedar mencoba menikmati pagi itu, menghirup udara pagi sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari kompleks perumahan itu. Tapi sekali lagi dengan tatapan nanar.

 

Beberapa tahun yang lalu, sudah melebihi angka sepuluh tepatnya, sebuah idealisme dan mimpi masa depan tertanam mengakar dalam pikirannya.

 

Tidak, sudah nyampai dasar hatinya mungkin. Ya, mimpi seorang gadis-gadis kecil desa yang terbiasa mendengar cerita-cerita tentang orang urban yang berhasil mewujudkan mimpi di kota besar, cerita-cerita roman fiksional dari novel, sinetron ataupun film metropop yang didapatinya bersama teman-teman seumuran lainnya.

 

Dan saat itu, sebagai seorang yang baru saja lulus kuliah dan mendapat sebuah pekerjaan yang diimpikannya, di ranah ibukota apalagi, mimpi itu tidak hanya sebatas mimpi utopis masa kecil saja. Mimpi itu akhirnya perlahan tumbuh berkembang menjadi tujuan dan idealisme masa depan yang sudah ter-planing dan ter-sketsa dengan jelas.

 

Namun kini hatinya berbisik lain. Bertanya. Bertanya kepada dirinya sendiri, bahwa apakah semua yang telah, sedang dan akan dilakukakannya saat itu benar-benar sebuah idealisme hidup yang bisa membuatnya merasa bahagia? Hufff, bahagia. Apalah definisi kata itu? Sudahkah aku bahagia dengan keadaan saat ini? Bisiknya lagi.

 

Semua yang dialaminya terasa membosankan. Hedonis. Serba extravaganza. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Terjebak. Capek.

 

Lalu sesaat sebuah pemikiran tentang pencapaian hidup terlintas dibenaknya. Bahwa manusia tidak akan punya batas kepuasan. Jika terus saja dikejar justru akan menjerumuskan. Kata-kata itu muncul di kepalanya tidak hanya sekedar petuah bijak yang selalu didengarnya dari orang-orang tua, pendeta, ataupun seorang motivator andal, tapi benar-benar keluar dari dirinya sendiri. Atau paling tidak, dia sudah bisa meng-amin-i bahwa kata-kata tersebut benar adanya. Ya, kata-kata itu juga pernah diucapkan oleh sahabat lamanya.

 

Yap, dia teringat dengan sebuah obrolan bersama sahabat lamanya itu ketika bertemu beberapa tahun yang lalu. Obrolan yang cukup lama di sebuah restoran kecil di kota kecil pula, tempat mereka berdua berasal. Saat itu dia awalnya bertanya kepada sahabatnya kenapa dia melepaskan sebuah tawaran besar untuk bekerja di sebuah perusahaan multinasional di ibukota -sebuah hal yang telah diimpikan mereka berdua, untuk kemudian lebih memilih tinggal di daerah dengan akhirnya menjadi seorang abdi negara dan menjadi anggota sebuah LSM.

 

Dia mencoba memikirkan kembali jawaban sahabatnya itu. Menjadi orang biasa tapi bisa dekat dan lebih berarti bagi orang-orang yang menyayanginya adalah satu-satunya alasan sahabatnya menolak tawaran itu. Tapi bagi dia saat itu, alasan itu sungguhlah tidak masuk akal. Sebuah pemikiran yang sempit, katanya saat itu.

 

Tapi kini…

 

Dia mencoba membangkitkan lagi ingatan setiap obrolan bersama sahabatnya itu. Kata demi kata. Ya, orang yang benar-benar dia sayangi dan menyayangi dia yang jarang ditemukannya kini. Untuk apa semua pencapaian idealisme ini jika orang-orang seperti itu jarang, bahkan hampir tidak ada disekelilingnya. Setiap hubungan yang dijalaninya dengan orang-orang disekitarnya hanyalah sebatas profesionalisme. Jika pun diluar itu, hanyalah sebuah basa-basi yang terkamuflasekan.

 

Selagi dia mengingat sahabat dan peristiwa yang terjadi sore itu, sebuah bayangan yang tidak biasa muncul di pikirannya kemudian. Ada keinginan suatu saat kembali saja ke daerahnya. Bekerja di sebuah lembaga nirlaba, atau semacam LSM. Dimana goal akhir bukanlah seputar uang dan profit. Ketika kesuksesan tidak lagi melulu diukur dengan jumlah pendapatan yang masuk ke rekening. Sepertinya itu bakal menyenangkan.

 

Ya, sepertinya bakal menyenangkan jika yang tersisa dalam diri adalah keinginan untuk berbagi, dengan orang-orang tersayang.

Sepertinya menyenangkan jika setiap hari kita menjadi berarti bagi orang lain yang membutuhkan kita, bisa menjadi lebih sosialis.

Sepertinya bakal menyenangkan jika merek sebuah handphone bukan hal yang perlu diributkan.

Sepertinya bakal menyenangkan jika nama yang tertera di baju tidak lagi melulu gucci, versace, jimmy choo ataupun dari seorang desain terkenal lain.

Sepertinya bakal menyenangkan jika sandal dan sepatu tidak lagi berjudul hugo boss, nike dkk tapi sudah berganti menjadi daimatu atau swallow.

Sepertinya bakal lebih menyenagkan jika Jaguar, Mercy ataupun BMW bisa menjadi sebuah mobil angkutan umum yang bisa mengangkut anak-anak desa berangkat sekolah.

Sepertinya menyenangkan jika anak-anak jalanan itu bakalan menjadi orang-orang pandai berkat pengetahuan yang kita kenalkan.

Sepertinya lebih menyenangkan menjadi lebih peka terhadap sesama dan membentuk rasa sukur atas segala nikmat Tuhan.

 

Sepertinya akan lebih membahagiakan dan menenteramkan hati dengan kesenangan-kesenangan kecil nan sederhana itu.

 

Aha…

 

Hufffff…

Tapi itu hanya sebatas bayangan dipikirannya saja. Benarkah seperti itu?

 

???

 

Tapi paling tidak hal itu bisa membuatnya tersenyum tipis, manis, disela-sela raut mukanya yang nanar di pagi itu. Dan hal itu juga, setidaknya bisa mempresentasikan secercah asa tujuan baru ketika sebuah idealismenya sudah berada pada ujung titik, dimana seorang manusia bisa menjadi picik dan hilang akal sehatnya.

 

 

Akhirnya tertujulah kedua matanya di jalanan di bawah, pada seorang manusia mungil lucu dan tergelak tawa di dalam sebuah kereta kecil yang didorong seorang wanita yang biasa dipanggil Ibu.

 

Oh, Tuhan… Sekali lagi dia berbisik pada dirinya sendiri

 

 

Written by dian diam

March 27, 2009 at 9:57 am

Dik

with 8 comments

 

Dik,

Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?

Di sawah, dik

Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang

menghubungkan ke-dua desa kita

 

Masih ingatkah kamu, dik?

 

Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu

Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu

dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri

Ingatkah, dik?

Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore

Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku

setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme

 

Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus

Kamu pun lewat dihadapanku, dik

Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu

Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan

Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang

beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin

Menutupi rona wajahmu yang bersemi

Ooh…

Dan aku pun terpesona, dik

 

Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna

membuatmu tampak lebih anggun

Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang

Lalu, kedua mata kita saling bertemu

Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam

Untung saja aku masih bisa berdiri tegap

Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan

Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis

Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik

Oh, Gusti…

Nyatakah ini?

Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya

 

Dan benar saja, dik

Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok

Mbok pun hanya bilang:

Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”

Ah, si mbok

Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok

Ingin membantahnya pun tak daya

beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?

 

Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?

Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?

Sejak saat itu aku selalu teringat mu

Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu

Asal-usulmu, bahkan namamu

Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi

Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore

Tak pernah lagi…

Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme

Tak pernah lagi…

 

Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti

untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu

 

Dan doaku pun akhirnya terjawab

Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku

Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik

Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan

Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya

 

Namun kondisi tak lagi sama, dik

Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati

Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup

Kulitmu yang segar kini layu

Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya

Senyummu pun berat

 

Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku

 

Sudah, dik

Sudah..

Jangan kau teruskan lagi ceritamu

Tak kuasa hati ini merasa

Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati

Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik

Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah

Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu

telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya

Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat

tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya

Benar lelaki bajingan dia, dik

 

Ah, menyesal aku, dik

Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme

Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya

jika aku harus mendapati dirimu seperti ini

Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini

Malah semakin biadab saja

Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?

Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo

Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…

 

Dan sekarang,

setelah kita menghabiskan waktu ini bersama

Dengan jiwa yang kelu

kugenggam tanganmu dingin di pembaringan

Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku

Tipis…

Tapi tulus…

persis saat pertama kali kita berjumpa dulu

 

Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu

Written by dian diam

March 19, 2009 at 12:05 pm

Posted in poem, setorie

Tagged with , ,