Posts Tagged ‘hidup’
A Little Simple Whisper
Di temani secangkir kopi di atas di sebuah balkon, weekend itu dia duduk-duduk bermalasan menikmati pagi hari. Tapi semua tampak tak biasa. Pertama bukan karakternya pagi-pagi dia nikmati dengan bermalasan dengan tatapan nanar. Kedua, senyum mukanya berat ketika beberapa orang yang sedang jalan-jalan menyapanya dari bawah, tidak seramah ketika menghadapi seorang klien. Yang tampak biasa hanyalah beberapa kertas putih berserakan di meja dihadapannya, yang bercetakkan beberapa list company profile nasabahnya. Plus sebuah blackberry yang beberapa kali berbunyi, tapi tak sekalipun dia perhatikan. Yang dilakukannya saat itu hanyalah sekedar mencoba menikmati pagi itu, menghirup udara pagi sambil melihat-lihat aktivitas pagi hari kompleks perumahan itu. Tapi sekali lagi dengan tatapan nanar.
Beberapa tahun yang lalu, sudah melebihi angka sepuluh tepatnya, sebuah idealisme dan mimpi masa depan tertanam mengakar dalam pikirannya.
Tidak, sudah nyampai dasar hatinya mungkin. Ya, mimpi seorang gadis-gadis kecil desa yang terbiasa mendengar cerita-cerita tentang orang urban yang berhasil mewujudkan mimpi di kota besar, cerita-cerita roman fiksional dari novel, sinetron ataupun film metropop yang didapatinya bersama teman-teman seumuran lainnya.
Dan saat itu, sebagai seorang yang baru saja lulus kuliah dan mendapat sebuah pekerjaan yang diimpikannya, di ranah ibukota apalagi, mimpi itu tidak hanya sebatas mimpi utopis masa kecil saja. Mimpi itu akhirnya perlahan tumbuh berkembang menjadi tujuan dan idealisme masa depan yang sudah ter-planing dan ter-sketsa dengan jelas.
Namun kini hatinya berbisik lain. Bertanya. Bertanya kepada dirinya sendiri, bahwa apakah semua yang telah, sedang dan akan dilakukakannya saat itu benar-benar sebuah idealisme hidup yang bisa membuatnya merasa bahagia? Hufff, bahagia. Apalah definisi kata itu? Sudahkah aku bahagia dengan keadaan saat ini? Bisiknya lagi.
Semua yang dialaminya terasa membosankan. Hedonis. Serba extravaganza. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Terjebak. Capek.
Lalu sesaat sebuah pemikiran tentang pencapaian hidup terlintas dibenaknya. Bahwa manusia tidak akan punya batas kepuasan. Jika terus saja dikejar justru akan menjerumuskan. Kata-kata itu muncul di kepalanya tidak hanya sekedar petuah bijak yang selalu didengarnya dari orang-orang tua, pendeta, ataupun seorang motivator andal, tapi benar-benar keluar dari dirinya sendiri. Atau paling tidak, dia sudah bisa meng-amin-i bahwa kata-kata tersebut benar adanya. Ya, kata-kata itu juga pernah diucapkan oleh sahabat lamanya.
Yap, dia teringat dengan sebuah obrolan bersama sahabat lamanya itu ketika bertemu beberapa tahun yang lalu. Obrolan yang cukup lama di sebuah restoran kecil di kota kecil pula, tempat mereka berdua berasal. Saat itu dia awalnya bertanya kepada sahabatnya kenapa dia melepaskan sebuah tawaran besar untuk bekerja di sebuah perusahaan multinasional di ibukota -sebuah hal yang telah diimpikan mereka berdua, untuk kemudian lebih memilih tinggal di daerah dengan akhirnya menjadi seorang abdi negara dan menjadi anggota sebuah LSM.
Dia mencoba memikirkan kembali jawaban sahabatnya itu. Menjadi orang biasa tapi bisa dekat dan lebih berarti bagi orang-orang yang menyayanginya adalah satu-satunya alasan sahabatnya menolak tawaran itu. Tapi bagi dia saat itu, alasan itu sungguhlah tidak masuk akal. Sebuah pemikiran yang sempit, katanya saat itu.
Tapi kini…
Dia mencoba membangkitkan lagi ingatan setiap obrolan bersama sahabatnya itu. Kata demi kata. Ya, orang yang benar-benar dia sayangi dan menyayangi dia yang jarang ditemukannya kini. Untuk apa semua pencapaian idealisme ini jika orang-orang seperti itu jarang, bahkan hampir tidak ada disekelilingnya. Setiap hubungan yang dijalaninya dengan orang-orang disekitarnya hanyalah sebatas profesionalisme. Jika pun diluar itu, hanyalah sebuah basa-basi yang terkamuflasekan.
Selagi dia mengingat sahabat dan peristiwa yang terjadi sore itu, sebuah bayangan yang tidak biasa muncul di pikirannya kemudian. Ada keinginan suatu saat kembali saja ke daerahnya. Bekerja di sebuah lembaga nirlaba, atau semacam LSM. Dimana goal akhir bukanlah seputar uang dan profit. Ketika kesuksesan tidak lagi melulu diukur dengan jumlah pendapatan yang masuk ke rekening. Sepertinya itu bakal menyenangkan.
Ya, sepertinya bakal menyenangkan jika yang tersisa dalam diri adalah keinginan untuk berbagi, dengan orang-orang tersayang.
Sepertinya menyenangkan jika setiap hari kita menjadi berarti bagi orang lain yang membutuhkan kita, bisa menjadi lebih sosialis.
Sepertinya bakal menyenangkan jika merek sebuah handphone bukan hal yang perlu diributkan.
Sepertinya bakal menyenangkan jika nama yang tertera di baju tidak lagi melulu gucci, versace, jimmy choo ataupun dari seorang desain terkenal lain.
Sepertinya bakal menyenangkan jika sandal dan sepatu tidak lagi berjudul hugo boss, nike dkk tapi sudah berganti menjadi daimatu atau swallow.
Sepertinya bakal lebih menyenagkan jika Jaguar, Mercy ataupun BMW bisa menjadi sebuah mobil angkutan umum yang bisa mengangkut anak-anak desa berangkat sekolah.
Sepertinya menyenangkan jika anak-anak jalanan itu bakalan menjadi orang-orang pandai berkat pengetahuan yang kita kenalkan.
Sepertinya lebih menyenangkan menjadi lebih peka terhadap sesama dan membentuk rasa sukur atas segala nikmat Tuhan.
Sepertinya akan lebih membahagiakan dan menenteramkan hati dengan kesenangan-kesenangan kecil nan sederhana itu.
Aha…
Hufffff…
Tapi itu hanya sebatas bayangan dipikirannya saja. Benarkah seperti itu?
???
Tapi paling tidak hal itu bisa membuatnya tersenyum tipis, manis, disela-sela raut mukanya yang nanar di pagi itu. Dan hal itu juga, setidaknya bisa mempresentasikan secercah asa tujuan baru ketika sebuah idealismenya sudah berada pada ujung titik, dimana seorang manusia bisa menjadi picik dan hilang akal sehatnya.
…
Akhirnya tertujulah kedua matanya di jalanan di bawah, pada seorang manusia mungil lucu dan tergelak tawa di dalam sebuah kereta kecil yang didorong seorang wanita yang biasa dipanggil Ibu.
Oh, Tuhan… Sekali lagi dia berbisik pada dirinya sendiri
Dik
Dik,
Ingat kah dimana pertama kali kita berjumpa?
Di sawah, dik
Tepatnya, di jalan yang membentang ditengah sawah yang
menghubungkan ke-dua desa kita
Masih ingatkah kamu, dik?
Saat itu, aku sedang jalan kaki beranjak pulang dari menuntut ilmu
Yang kata orang, agar kita tidak lagi dibodohi Londo-Londo itu
dan kita bisa mengatur negeri ini sendiri
Ingatkah, dik?
Saat itu, sambil menuntun sepeda kunikmati indah sore
Menikmati angin sawah yang menghembus masuk ke otak ku
setelah seharian penat di penuhi doktrin-doktrin dan idealisme
Dan bersamaan dengan angin sore yang berhembus
Kamu pun lewat dihadapanku, dik
Berjalan telanjang kaki dengan gendongan di punggungmu
Berisi beberapa hasil tanam guna menyambung makan
Rambutmu yang hitam panjang, terikat tak karuan di belakang
beberapa ada yang terlepas dan beruraian tertiup angin
Menutupi rona wajahmu yang bersemi
Ooh…
Dan aku pun terpesona, dik
Kebaya putih membalut tubuh elokmu, sempurna
membuatmu tampak lebih anggun
Membuat mata setiap lelaki tak berpaling pandang
Lalu, kedua mata kita saling bertemu
Dan tiba-tiba tubuh ini layu dan diam
Untung saja aku masih bisa berdiri tegap
Kalau tidak pasti akan kamu tertawakan
Bibir mungilmu pun tersenyum, tipis
Tapi itu sudah cukup membuatku melayang, dik
Oh, Gusti…
Nyatakah ini?
Kalau sampai rumah kuceritakan pada mbok, pasti dia tidak akan percaya
Dan benar saja, dik
Ketika sampai dirumah, keceritakan perihal dirimu pada si mbok
Mbok pun hanya bilang:
“Duh Gusti, sadar to le. Sore-sore kok wis ngelamun di tengah sawah. Jangan-jangan kesambet kowe, le?”
Ah, si mbok…
Tapi apa lacur, aku cuma senyum geli mendengar komentar si mbok
Ingin membantahnya pun tak daya
beginilah rasanya telah jatuh hati…apa mau dikata?
Tapi nyata kan saat itu, dik? Kita benar-benar berjumpa ‘kan sore itu?
Benar ‘kan saat itu kamu berikan senyumanmu padaku?
Sejak saat itu aku selalu teringat mu
Aneh ya, dik? Padahal siapa kamu aku pun tak tahu
Asal-usulmu, bahkan namamu
Tapi sejak saat itu pula, aku juga tak pernah melihatmu lagi
Meski aku selalu melintasi jalan itu tiap sore
Tak pernah lagi…
Hingga aku harus pergi demi sebuah idealisme
Tak pernah lagi…
Tapi aku selalu berdoa kepada Sang Gusti
untuk diberi kesempatan bisa berjumpa lagi dengan mu
Dan doaku pun akhirnya terjawab
Doa yang selalu kuucapkan disetiap sujud terakhirku
Setelah sekian tahun akhirnya kita berjumpa lagi, dik
Setelah idealisme itu berbuah sebuah kemerdekaan
Terimakasih Gusti, telah Kau pertemukan aku lagi dengannya
Namun kondisi tak lagi sama, dik
Kujumpai dirimu dengan keadaan yang menyayat hati
Dirimu yang dulu terlihat anggun kini rapuh tertindih beban hidup
Kulitmu yang segar kini layu
Rambutmu mulai memutih dan rontok sebelum waktunya
Senyummu pun berat
Dan kau pun mulai ceritakan semua padaku
Sudah, dik
Sudah..
Jangan kau teruskan lagi ceritamu
Tak kuasa hati ini merasa
Hanya sesal dan ketidak-ikhlasan yang kudapati
Setelah sore itu harusnya kuperjuangkan saja dirimu, dik
Sehingga kamu tak harus jatuh ke tangan seorang tuan tanah
Dimana dengan dalih menyelamatkan hidup keluargamu
telah kamu relakan hatimu, batinmu, badanmu dan pikiranmu untuknya
Tapi malah keadaan seperti itu yang kau dapat
tak seharusnya dengan apa yang telah kau korbankan untuknya
Benar lelaki bajingan dia, dik
Ah, menyesal aku, dik
Aku lebih memilih memperjuangkan sebuah idealisme
Meskipun itu berbuah sebuah kemerdekaan, tapi apa artinya
jika aku harus mendapati dirimu seperti ini
Dan lihat saja sekarang, Londo-Londo itu masih disini
Malah semakin biadab saja
Tapi Gusti Maha Adil ya, dik?
Tuan tanah keparat itu akhirnya mampus terpanggang oleh mortir Londo
Dan kamu pun terbebas dari siksa nestapa itu…
Dan sekarang,
setelah kita menghabiskan waktu ini bersama
Dengan jiwa yang kelu
kugenggam tanganmu dingin di pembaringan
Dan saat matamu terpejam, sudut bibirmu pun tersenyum padaku
Tipis…
Tapi tulus…
persis saat pertama kali kita berjumpa dulu
Aku pun kini mencoba ikhlas, karena kau telah pergi dengan senyummu itu