Posts Tagged ‘Jogja’
Setelah Cukup Lama (Ora Misuh!)
Rasanya bener-bener pengen misuh-misuh! Sudah seminggu terakhir cuaca Jogja benar-benar panas, terik! Tapi bukan itu yang bikin gue misuh-misuh, hanya saja itu membantu untuk melancarkan kata-kata tersebut keluar dari cangkem ini. Siang itu adalah gue naek motor dalam kondisi keburu dari arah eks-Studio Musik Alamanda* bermaksud menyeberang Jl Affandi (dulunya Gejayan), tapi dasar nasib, biasanya yang jam-jam segitu belum terlalu ramai kenapa sudah crowded banget sehingga amat sangat susah untuk menyeberangnya. Tak ada traffic lite, tak ada pula petugas polisi ataupun seorang ‘petugas penyeberangan’ seperti yang biasa ada di depan Quality Hotel dan di pertigaan Jalan Solo arah dari dan ke Seturan, yang membantu menyeberangkan orang-orang yang ingin meyeberang (gue masih penasaran petugas itu benar-benar suka rela membantu apa ada yang membayar ya? Salut pokoknya). Oleh karena itu hanya bermodalkan keberanian sambil berharap akan kesadaran para pengendara agar memberi kesempatan untuk bisa berhasil menyeberang. Sebenarnya gue bisa saja cari amannya dengan ambil ke kiri trus ngikutin kesemrawutan dengan pelan-pelan ambil sisi kanan kemudian di depan Iga Bakar Gejayan baru putar balik. Tapi lacur di sisi kiri gue sudah dipepet oleh sebuah mobil box dan di belakang gue juga sudah banyak yang ngantri untuk menyeberang sehingga mau tak mau harus maju terus. Fuuhh benar kondisi yang tidak menyenangkan ditengah-tengah panas seperti itu. Setelah lama menunggu kesemrawutan agak mereda kami yang sudah hampir LIMA menitan ngantri memberanikan atau lebih tepatnya nekat menyeberang. Dan tiba-tiba cyiiiiiiiiitttt…. dari selatan ada sebuah motor yang ikut-ikutan beradu nekat. Tapi Tuhan masih memberinya kebaikan hati dan kesadaran untuk memberi jalan kami untuk menyeberang dengan segera menginjak pedal rem-nya. Udah tahu banyak orang yang menyeberang di depannya masih saja nekat…
Tidak lama setelah menyeberang lagi-lagi suasana jalanan membikin suhu otak mendidih. Di setiap tepian badan jalan Affandi sebagian besar sudah beralih fungsi jadi lahan parkir sehingga mempersempit jalan dan menambah kesemrawutan, kemacetan, ketidaknyamanan dkk. Maklum di sepanjag jalan Affandi dari ujung utara sampai ujung selatan banyak berdiri Rumah Makan, butik-butik, counter handphone, dan kampus yang mana pasti banyak motor dan mobil yang dengan sok anggun serta sok rapi berhenti berjajar di depannya a.k.a markir. Belum lagi bus-bus kota yang seenaknya saja berhenti dan tancap gas. Setelah dipepet secara halus oleh mobil box dan hampir tertabrak orang yang sama-sama nekat, giliran tepat didepan Studio One gue dipepet paksa oleh sebuah bus kota yang tiba-tiba ambil kiri rem mendadak untuk ambil penumpang. DANCUK, BRENGSEK MATANE ASU! Benar-benar kombinasi yang MENYENANGKAN antara semakin ‘mungilya’ kondisi jalan, semakin banyaknya kendaraan dan psikologi para pengendara yang menjunjung tinggi ‘kebebasan’ sak udele dewe** plus kondisi cuaca yang cepat bikin panas (baik fisik maupun emosi) .
Tidak sepenuhnya salah sopir bus yang seenaknya sendiri bejek rem mendadak cos mereka ingin segera mengangkut penumpang yang ada sebelum dibajak oleh bus lain, mereka harus kejar setoran dan mereka juga punya anak dan istri di rumah, tapi juga dikarenakan oleh para penumpang yang seenaknya sendiri milih tempat untuk mencegat bus, padahal juga sudah disediakan beberapa buah pemberhentian bus. Tapi mereka lebih memilih seperti di keramaian seperti depan toko-toko yang sudah penuh sesak oleh parkiran didepannya, di perpotongan gang dengan jalan utama (Affandi) yang mana juga pastinya sering banyak kendaraan menumpuk ngantri untuk menyeberang. Buwwaahh… Anehnya, diantara mereka-mereka kebanyakan orang-orang muda dan sebagian besar mahasiswa. Tidak bermaksud nge-judge menyalahkan siapa-siapa, karena gue tahu gue tidak di posisi mereka. Ini sebenarnya masalah klasik, terutama bagi kota-kota besar. Dan kalau ngebahasnya bisa mbulet kemana-mana sok nggambleh berpidato ria ala caleg berkampanye. Ah, malah malah bisa tambah bikin gue misuh lagi. Gue disini hanyalah salah korban dari ketidaknyamanan tersebut. Dan kadang juga salah satu yang punya andil dalam ketidaknyamanan tersebut (bagi orang lain). Kadang ^^
Itu adalah beberapa peristiwa yang (semakin) sering terjadi disepanjang Jalan Affandi sekarang-sekarang ini. Benar atau salahnya gue gak bisa menjamin karena gue ngomong tidak berdasar penelitian ilmiah yang disertai dengan perhitungan-perhitungan statistika. Tapi hanya berdasar pengalaman pribadi saja yang sudah lebih dari lima tahun wara-wiri di jalan tersebut, juga beberapa jalan lain di Jogja yang bernasib sama. Eh, bernasib sama juga???
*) Studio musik itu sekarang kemana ya??? Tutup? Relokasi????
**) Semaunya sendiri.
Obral Buku, Pesta Kambing di Jogja
Ini dia event yang sepertinya paling menarik menjelang akhir tahun 2008 ini. Pameran buku alias cuci gudang buku di Jogja. Ya, dilihat dari judul event-nya sepertinya memang biasa-biasa saja, tidak jauh beda dengan yang dulu. But it doesn’t matter, yang jelas event seperti ini sedari dulu selalu menarik perhatian gue. Maklum sebagai seseorang pengoleksi, penggila dan penyayang buku namun minim dana untuk investasi, acara seperti itu wajib untuk tidak terlewatkan (kebiasaan ketika masih jadi mahasiswa!). Meskipun rata-rata harga buku yang dijual tidak terlalu relatif jauh berbeda alias sama dengan yang di bookstores biasanya, namun jika kita jeli dan sedikit sabar kita akan bisa menemukan sesuatu buku yang lumayan ‘berharga’. Maksudnya bisa menemukan buku yang sudah jarang beredar di pasaran tapi kita bisa membelinya dengan harga yang lumayan miring. Tapi berharga atau tidaknya juga tergantung preferensi individu terhadap buku itu, juga tergantung seberapa pentingnya bagi kita (halah ngomong opo to le!). Dulu ketika gue sudah muter-muter memasuki seluruh bookstores di Jogja mencari buku “Kepada Putra dan Putriku” dari At-Thonthowi yang sudah tidak naik cetak gue nemunya malah di suatu pameran buku. Begitu pula dengan “Burung-Burung Manyar”-nya Mangunwijaya (sekarang ternyata sudah bisa ditemui lagi di bookstore-bookstore) dan beberapa koleksi buku gue yang lain. Buku-buku itu gue dapat dengan harga yang cukup murah dan sebenarnya menurut gue pribadi (yang begitu menginginkannya) malah gue anggap terlalu murah. Maka dari itu gue sangat antusias ketika ada pameran buku. What a luck, what a pleasure…
Dan pameran buku kali ini cukup lumayan unik temanya. Temanya adalah Kambing, usut punya usut ternyata berhubungan dengan bulan ini Bulan Kambing karena menyambut Lebaran Haji yang mana identik dengan kambing. Seperti acara-acara sebelumnya pasti tidak hanya sebatas memamerkan atau sekedar menjual buku, tapi ada juga acara-acara tambahan lainnya seperti talkshow, bedah buku (kabarnya akan menjadi bedah buku terbanyak yang pernah ada), fashion show, festival band, aneka lomba, kuliner dan demo masak (semoga saja tidak hanya kambing menunya) serta pentas seni tradisonal. Dan juga karena bertema Kambing, salah satu bintang tamunya adalah si empunya Kambing itu sendiri, maksudnya Si Kambing Jantan atau yang bernama asli Raditya Dika. Acara ini akan diadakan lima hari berturut-turut di Mandala Bhakti Wanita Tama (ada yang tahu arti nama itu? What a wonderfull and greatfull name, ha?) dimulai tanggal 4 Desember dan akan berakhir pas di hari ketika Kambing-Kambing itu disembelih. Hiii… Ada yang mau ikut?
*) Oiya, kenapa milih Kambing ya temanya? Kan lebaran haji tidak cuma kambing saja, masih banyak yang lainnya seperti kerbau, unta atau sapi? (Pertanyaan bodoh!)
The Girl In The Dirty Shirt
Sudah jadi kebiasaan bagi gue untuk pergi ke bookstore. Entah emang niat pengen beli buku ato cuma sekedar baca saja. Di Jogja ini, bookstore yang paling sering gue kunjungi adalah Toga Mas and Gramedia. Tapi recently the most visited adalah Toga Mas. Selain ‘enak’ dan ‘nyaman’ buat baca, bookstore ini juga memberikan diskon yang lumayan. Terima kasih dah buat Toga Mas, kalau tidak ada kamu pasti gue tidak akan punya banyak koleksi buku ^_^. Tetapi beberapa hari yang lalu setelah sekian lama tidak berkunjung –ceileh berkunjung, bahasamu dab- ke Gramedia akhirnya gue nyempatin diri maen ke Gramedia Jogja, yang di Jalan Sudirman. Entah tidak jelas kenapa tiba-tiba saja pengen ke Gramed, mungkin karena beberapa pertimbangan berikut: satu, karena gue pengen ke toko buku, itu sudah absolutely pastiii, siapa tahu Detective Conan terbaru sudah terbit. Dua, gue ke toko buku-nya tidak ingin beli tapi cuma baca saja. Ketiga dan yang terpenting, gue tidak ingin ke Toga Mas karena sudah keseringan kesana dan itu sudah pasti di apalin sama mbak-mbak dan mas-mas di sana sebagai pelanggan setia, pelanggan setia numpang baca-baca doang. Harga diri gue bisa jatoh! Akhirnya pergi ke Gramed. Tapi ini gue tidak akan menceritakan ngapain saja gue di Gramed, tidak penting banget.
Sudah tidak inget kapan terakhir kali kesini. Tapi setiap gue ke Gramed Jogja yang di Jalan Sudirman ini, gue selalu inget bahwa di depan pintu masuk, tepatnya disebelah atas tempat penitipan tas dan jaket ada seorang gadis kecil usia kelas lima SD (semoga saja bener bisa kelas lima, kenapa gue bisa tahu? Hmm..) yang berjualan koran. Gue pertama kali nyadar dan memperhatikan keberadaan tuh gadis cilik selalu disitu sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, pas gue masih sering berkutat dengan literatur-literatur dan referensi bikin tugas akhir, cukup lumayan sering juga pergi ke Gramed ini. Pas abis gue selese baca-baca di dalam gue hendak pulang. Dan ternyata hujan, tapi waktu itu sudah agak reda tinggal tersisa gerimis kecil-kecil. Tapi kalau nekat pulang sampai di kost-an bisa basah kuyup juga. Apalagi gue paling males pake jas hujan, kecuali dalam situasi darurat, kalo sudah di jalan mending basah kuyup sekalian apa nyari tempat berteduh. Akhirnya gue niatin nunggu sampai bener-bener reda. Gue nunggu celingak celinguk (jawa:liat sana liat sini tanpa tujuan yang jelas dengan tampang bingung) di emperan pinggir tangga naik depan pintu masuk. Akhirnya gue ngeliat seorang gadis kecil bertampang kucel: berkaos kotor, celana pendek dari celana panjang yang di potong sehingga tampak sliwir-sliwirnya, memakai topi dengan sebotol air minum di sampingnya sedang duduk tepat disamping tangga sedang menawarkan koran, majalah dan tabloid kepada orang-orang yang lewat di depannya. Karena dasarnya gue orang yang gampang mello atau apa, gue pas melihat dia berasa sedih terharu empati atau apalah namanya itu. Di saat masih jam sekolah kenapa dia malah jualan koran di sini. Dengan tampang kucelnya dia begitu bersemangat menjajakan koran dan majalahnya, pas hujan-hujan pulak. Pun dengan muka ramah, senyum dan kata terima kasih yang ceria bagi orang yang telah melariskan dagangannya itu.
Sumpah deh, gue waktu itu bener-bener salut ma dia. Gue melihatnya beda ma anak-anak jalanan lainnya (if I may called her like that) yang bisanya cuma bermodalkan tangan menengadah plus tampang sok melas di perempatan lampu merah atau malah para ibu-ibu bermodalkan gendhongan plus kerudung, even balita, dengan muka disusah-susahin yang beroperasi di keramaian-keramaian, kampus-kampus dan juga lampu merah-lampu merah. Dammit, gue lebih respect sama gadis kecil tadi itu. Dan mungkin gue bakal lebih ikhlas ngasihnya. Masalah ikhlas sih sebenernya tergantung niat. Entah yang di kasih itu gembel, anak fakir, yatim, atau siapapun kalo niatnya ngasih tanpa mikir macem-macem bakalan berasa enak ngasihnya. Bakalan berasa ikhlas. Tapi gue pribadi (gue yakin juga bagi kebanyakan orang) jika mau ngasih kepada orang-orang yang sebenarnya mereka mampu untuk menghasilkan tapi males untuk mengusahakannya hanya bermodalkan tampang yang disusah-susahin, bikin gue il-fil untuk ngasihnya. Gue lebih seneng ke Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa.
Sama seperti gadis kecil bertopi tadi, gue sungguh ingin bisa ngasih sesuatu kepadanya. Tapi yang gue lakuin di situ cuma bengong saja. Dan berasa bodoh sendiri. Apa yang bisa gue lakukan? Membeli korannya untuk ikut melariskannya? Tapi yang ada gue cuma mikir mulu. Dan dodolnya gue, pikiran gue terlalu muluk dan terkesan sok. Gue ingin bisa melakukan lebih, tidak hanya sekedar membeli dagangannya tapi sesuatu dalam jangka panjang sehingga dia tidak harus jualan koran dan bisa membuatnya jam-jam segini bisa berada di sekolahan. Lagi-lagi mikir. Konyol juga. Emang gue siapa? Emang dia siapa? Jangan sok deh. Jangan kejauhan mikirnya. Pikirin dulu diri gue. Beresin TA. Lulus. Dapet kerja. Dan bla bla bla bla…STOP!
Akhirnya gue hentikan pikiran-pikiran itu. Mencoba untuk realistis dengan keadaan saat itu. Dan gue pun mendekati gadis itu ingin mengobati beberapa rasa penasaran gue. Iseng-iseng gue bertanya tentang beberapa hal seperti:kok jam segini tidak berada di sekolah? Kelas berapa? Kalau tidak sekolah kenapa? Orang tua kerja apa? Di mana rumahnya? Dan bla bla bla… Akhirnya setelah bertanya-tanya sedikit, jawaban yang gue dapet sungguh diluar dugaan. Even, make me felt more mello. Ketika gue tanya kenapa jam segini tidak sekolah dia jawab sudah pulang, dipulangkan pagi. I got it. Kenapa jualan koran? Dia jawab buat bantu-bantu ibu. Ibunya cuma jual jajanan kecil di sekolah-sekolah. Apalagi saat itu ibunya lagi sakit tidak bisa jualan. How pity you are, little girl. Dan ini yang bikin gue shock, pas gue tanya tentang bapaknya, bapak kerja apa? Dia jawab bapak tidak kerja apa-apa. Kok tidak bekerja? Dia jawabnya tidak langsung, beberapa detik kemudian (dan mungkin mikir dulu mas ini resek amat nanya-nanya mulu), dengan berat dia jawab kalo bapak nya di penjara. Ooh my Godness, shit…sorry my dear. Gue tidak ngelanjutin nanya-nanya. Gue diam bentar. Dia pun juga diam. Selama gue nanya-nanya ini tidak pernah sekalipun dia melihat gue, takut mungkin sama mas-mas yang sok detektif ini. Pikiran gue bereaksi lagi. Itu bapak melakukan apa sehingga sampai dipenjara? Punya anak begini cantik manis pandai dan seharusnya masa depan baik kenapa bisa berbuat bodo yang pada akhirnya bisa menyebabkan masuk bui? Malah tambah bikin susah keadaan. Tapi itu cuma ada dalam pikiranku saja. Gue juga tidak mau nyalahin bapak itu. Bapak itu juga belum tentu salah. Dan gue ngelanjutin ke pertanyaan lain seperti kemana saja jualannya, dari mana dapet barang dagangannya, dari jam berapa sampai jam berapa jualannya, dst.
Huh ternyata emang –bisa dibilang- kompleks permasalahannya. Memerlukan banyak pihak terkait untuk mengatasi, at least to reduce, bukan aku saja yang sok ini. Dan lagi-lagi gue dodol cuma bengong lagi. Tapi saat itu gue bener-bener pengen berbuat sesuatu untuk dia dan sepertinya yang emang bisa gue lakukan cuma membeli salah satu dagangannya. Gue beli salah satu tabloidnya. Ternyata gue tidak punya uang pas dan dia ternyata juga tidak punya uang kembalian yang pas. Gue bilang “Ambil aja kembaliannya”. Tapi dia ngotot ingin ngasih uang kembaliannya, dia bilang “Sebentar mas saya carikan, ada kok”, sambil nyebar semua uang ke lantai yang ada di dompetnya trus dikumpulkannya beberapa lembar uang seribuan dan recehnya, dihitungnya satu per satu. Damn, sumpeh, tambah salut gue. Tapi ternyata tidak nyukup juga. Gue jongkok didepannya dan sekali lagi bilang “Sudah ambil saja kembaliannya tidak apa-apa”. Gadis itu pun terdiam. Kemudian melihatku (untuk pertama kali) sebentar dan bilang ”Terima kasih, mas” sambil senyum. Setelah itu gue berlalu dari dia trus pulang.
Sejak saat itu tiap kali gue ke Gramed ini dia masih saja ada disitu. Tidak selalu sih, tapi hampir bisa dipastikan sebagian besar. Dan kalo pas dia tahu aku datang dia selalu ngeliatin aku dengan ekspresi datar. Mungkin dia berpikir: “Bukankah ini mas-mas resek kurang kerjaan yang pernah interogasi aku dulu?” Mungkin. Seperti halnya kemaren, pas gue masuk dia kliatan di situ, masih dengan tampang kucel dengan beberapa eksemplar dagangannya dengan topinya dan sebotol air minum di sampingnya. Tapi setelah gue keluar pengen beli salah satu dagangannya dia sudah tidak kelihatan disitu. Mungkin sedang berkeliling terjun di jalanan menjajakan dangangannya.
*) Tulisan ini sungguh dibuat tidak ingin bermaksud sok merendah, sok meninggi, atau merendah untuk meninggi. Murni hanya sebuah cerita.
The Kooks sounds good…
Flamboyan. Kayaknya semua orang dah pada tahu nama itu. Kalee ini mo post sesuatu tentang nama itu. Yup. Flamboyan. Tapi kali ini yang ingin gw bahas bukan Flamboyan as a flower. Yup bukan tentang bunga yang banyak warna itu. Bukan tentang bunga yang hidupnya suka di tempat yang terbuka dan panas itu. Yup bukan tentang Delonix regia itu. Ini tentang sebuah rumah makan yang bernama seperti itu. Flamboyan. Rumah makan itu terletak di jalan Flamboyan daerah Karangasem (utara Selokan Mataram). Konsepnya sih warung prasmanan gitu. Terakhir kali kesini (sebelum tadi siang) kira-kira, uhmmmm sebulanan yang lalu. Bersama sodara.
Tadi siang dapat kesempatan kesana lagi. Kali ini bersama temen-temen gang kuliah dulu. Berlima. Jarang-jarang kami bisa ngumpul ketemu lagi.
Oke. Gini ceritanya. Hari ini tadi kan ada ujian masuk salah satu departemen di tanah air kita ini. Maklum as unemployment kesempatan seperti itu pasti dijabanin. Jam sepuluh selese. Lha kebetulan gw juga bertemu temen-temen kuliah dulu. Halah ternyata masih sama nasib kita ya, bro. Rapopo, keep fight!!! Setelah itu berkumpulah di kost-an gw. Ket biyen ratau ganti bascamp to dab? Kost-an gw ngangeni po? Hoek cuih… Emang sih dari dulu anak-anak kalo ngumpul-ngumpul pasti selalu di kost-an gw. Cuma sekedar iseng-iseng nongkrong ga ada kerjaan or kalo pengen kemana pasti kost-an gw juga yang selalu dfijadiin tempat mangkal pertama. Padahal ga ada bagus-bagusnya kost-an itu. Strategis kalee yak?
Sebenernya sih pengen pergi kemana gitu mumpung ngumpul bareng. Karena beberapa hal –males yang utama, and paling utama lagi males biaya- batal. Akhirnya cuma sekedar cerita-cerita di kost-an setelah sekian lama tidak bertemu. Setelah ber chit chat ria (halah) laper juga. Dan kami pun mule mbahas lunch. Maklum sudah kebiasaan dari dulu kalo mo nentuin tempat lunch pada bingung dan saling manut dan ujung-ujungnya gw yang jadiin sasaran akhir. Yach akhirnya gw bawa mereka ke Flamboyan, secara dah cukup lama gw ga makan di situ. Emang, ga pernah sepi tuh tempat. Dan kali ini pun iya. Tambah rame malahan. Apalagi tadi ada acara promosi dari salah satu provider telekomunikasi di tempat itu. Ada bintang tamunya pulak. Meski gw ga tahu siapa tuh bintang tamu. Soalnya artis lokal sih (artis yang gw kenal kan semacam Ian Kasela, Saipul Jamil dan Kangen Band. Hoek hoek…) Dari para bintang tamu itu yang gw kenal cuman si Thomas-nya Geronimo doank sebagai host.
Menu gw tadi siang adalah, as usual, fried nodles + sayur brokoli yang uijo-uijo seger + this my fave, bakwan jagung (the delicious). Dan tentunya dengan segelas jus jambu (the delicious too). Komplit sudah. Setelah milih-milih menu kami pun menikmati makan siang itu. Apalagi ada hiburan gratis. Accoustic-an pulak, wew, getting comfort to lunch. Pas makan jadi inget beberapa orang (cuma dua sih tepatnya) yang pernah makan ma gw di situ. Kapan-kapan kesini lagi yuk. Lumayan juga sih tu band, bisa menghibur. Tapi sayang lagu-lagunya standar banget. Tadi denger SO7, Lobow, d’Masiv (huh ini lagi ini lagi) and satu lagu barat yang ge lupa penyanyinya “Juz Love the Way Tou Are”. Tapi semuanya sounds goog sih soalnya dibawain accoustic-an. Jadi berbeda ma yang biasa-biasanya. Sebenernya mo request lagu. Soalnya mereka juga nawarin siapa yang mo request. Niat dah ada. Tapi ga jadi. Takut mereka ga bisa. Soalnya yang gw request sih semacem Morrisey, The Kooks, or The Deadman Theory. Halah…sok sok-an (ben, coz they’re good). Suasana menjadi lebih asik ketika salah satu SPG mendatangi kami menawarkan produknya. Kesempatan. Dasar. Tapi sayang mbak-mbak itu kurang hot dalam merayu kami.
Yup 30an menit kami disana. Setelah kenyang dan senang kami balik lagi ke kost-an gw. Emang, selalu enak dan penak (jawa:nyaman) kalo makan di Flamboyan. Dan pastiya masih banyak lagi tempat-tempat seperti ini di Jogja. Dan itu kadang tempat-tempat seperti itu yang membuat orang-orang yang pernah ke Jogja -at least pernah stay berapa lama- sulit buat ninggalin Jogja or kalo udah perrrgi, jadi pengen lagi maen ke Jogja.
ATTENTION: This is not an add of Flamboyan. Please, NO.
*) Terus kok judulnya The Kook sounds good? Hubungannya apa? Ga ada. Emang sengaja…