Posts Tagged ‘Minal aidzin wal faidzin’
Sayonara, Ramadhan…
“…berpuasa akan jauh lebih baik bagimu kalau kamu sekalian mengetahui” (QS: 2:184)
Ramadhan, what’s the most favourite things in Ramadhan for you? Setiap kali Ramadhan kebanyakan yang paling ditunggu-tunggu adalah akhirnya –its end, yaitu nunggu-nunggu lebaran-nya; gathering with (big) family, liburan –rehat sejenak dari rutinitas, mudik, bisa ngumpul-ngumpul dengan teman, sahabat, orang-orang tersayang –terutama yang sudah berjauhan dengan kita- dengan bejibun makanan di suatu tempat, terima parcel, bagi anak-anak bisa menerima angpau, dan lain sebagainya. Itulah yang (pernah) saia rasakan.
Tapi seandainya gue adalah orang yang permohonannya selalu dikabulkan oleh Gusti Alloh (tapi sayang sekali tidak selalu begitu), maka gue akan memohon dalam setahun agar di buat 12 bulan Ramadhan penuh –tanpa henti, seandainya. Karena, kebanyakan dari kita selepas Ramadhan nyadar atau tidak nyadar kita kembali ke habit semula sebagai seorang ‘manusia biasa’ yang di bulan Ramadhan sebenarnya sudah bisa ‘naik kelas’. Kita gampang lose control lagi, mudah emosian, tidak sabaran, pola keseharian kita jadi tidak teratur lagi. Tapi sekali lagi tidak semua orang, hanya sebagian besar orang, termasuk gue ini. Makanya gue minta permohonan di atas (???).
Coba kita lihat lagi, kebayang rasanya setelah seharian nahan lapar dan haus kemudian setelah maghrib tiba kita minum seteguk air? Begitu nikmatnya. Malam-malam bisa sholat tarawih bareng. Dari sore buka sampe tiba saatnya sahur, terlihat begitu teraturnya pola makan kita. Begitu juga pola keseharian kita. Karena segala sesuatunya terlihat seperti telah ‘diatur’ dengan jatah waktunya sendiri-sendiri yang bisa membuat kita mengkontrol diri kita dengan baik, ‘sesuai waktunya’. Kemudian ketika ingin marah-marah kita ingat kita sedang berpuasa, lalu tidak jadi marah. Ketika kita sedang di suatu jalan melihat cewek dengan body yang bohay, langsung seketika kita mengalihkan pandangan. Ketika yang biasanya cuek-cuek lalu sedikit saja melihat orang sedang butuh bantuan kita tiba-tiba saja terenyuh untuk membantunya –entah terlaksana atau tidak, tapi sudah ada niat dalam hati- dengan mengharap pahala di bulan penuh berkah ini. Ketika di jalanan ada orang yang berkendara dengan seudelnya sendiri dan hampir menabrak kita, kita tidak langsung uring-uringan kepadanya. Sang perokok pun bisa berlatih dengan mudah untuk berhenti. Dengan berpuasa kita serasa didisiplinkan terhadap perilaku kita. Bukankah itu membuat kita menjadi terasa lebih berkualitas?
Mungkin permintaan gue tadi terlalu mengada-ada –sounds stupid, rite? Dan gue yakin Allah SWT lebih tahu daripada umat-Nya yang sok ini. Tapi itu ‘kan cuma perumpamaan saja. Well, gini, dalam sebulan penuh Ramadhan itu sebenernya kita digembleng untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, untuk bisa lebih kuat dalam menghadapi sebelas bulan lainnya. Dan boleh dibilang dalam sebulan sebenernya cukup dalam mengubah kita dari ‘ulat’ menjadi ‘kupu-kupu’ untuk dapat terbang menghadapi alam liar dalam sebelas bulan lainnya. Tapi persoalannya adalah kontrol diri, disiplin diri yang sudah dilatih di bulan Ramadhan itu mudah jebol seketika saat harus dihadapkan lagi dengan habit –kebiasaan lingkungan sekitar kita, lingkungan sosial kita (yang tidak Ramadhan lagi). Kita mungkin masih terbawa (mencoba mempertahankan) sikap kendali diri kita yang kita peroleh di bulan Ramadhan, tapi ketika lingkungan sudah tidak Ramadhanis lagi dengan mudah kita akan terbawa arus lingkungan itu. Dan kita seakan mendapat ‘tiket izin’ untuk melakukan segala sesuatunya yang sebenarnya tidak benar untuk dilakukan menjadi benar. Misalkan saja (bagi para cowok, dan kadang saia sendiri) ketika lagi nongkrong bersama teman-teman di mall lalu ada cewek cuakep plus body buohay berbaju minim lewat di depan kita, maka kita melototinya dan bahkan mungkin bersiul, menggodanya. Oke, pada saat pertama lihat gak apa-apa lah, naluri, insting (berkah malah kan?), tapi selanjutnya jika terus-terusan melototi dan bahkan sampai menggodanya sebenarnya kita sadar apa yang kita lakukan itu (jangan bilang naluri lagi, disini pikiran akal sehat kita sudah turut serta). Kita pure sadar terhadap keputusan atas pilihan yang kita lakukan saat itu: terus memandanginya atau segera mengalihkan pandangan. Tapi disitu kita justru mencari pembenaran –mubadzir lah, naluri lah, siapa suruh pake baju minim?, dan yang paling parah mungkin: ‘kan sudah tidak Ramadhan lagi- atas apa kesalahan yang telah kita lakukan itu menjadi hal yang benar meskipun sudah jelas-jelas tidak benar. Nha, disinilah sebenarnya puasa –apalagi bulan Ramadhan (suasana dan lingkunannya :red) berperan. Kita mendapat rem untuk itu dan menghapus segala pembenaran itu.
Itu tadi hanya secuil kejadian saja, masih buanyak kejadian-kejadian yang serupa yang sebenarnya bisa membuat kita terjerumus turun kelas lagi selepas Ramadhan, tidak lagi menjadi ‘kupu-kupu’ seperti diatas.
Dan sekarang suasana Ramadhan telah berangsur menyusut diganti suasana lebaran yang semakin dekat. Masjid-masjid shof-nya sudah semakin maju saja, antrian kasir di mall-mall dan tempat-tempat perbelanjaan menjadi semakin panjang. Terminal bus dan stasiun KA menjadi penuh-sesak.
D**n it (sensor, masih puasa :red), kenapa ini saia malah ber-ustadz wanna be ya? Sok ceramah, sok tahu, sok alim dan sok suci. Tidak. Tidak. Justru sebaliknya, saia adalah orang yang tak tahu diri yang memerlukan gemblengan lebih lanjut, yang merindukan suasana Ramadhan, yang agak tidak rela karena Ramadhan akan segera pergi diantar gema takbir.
Well, semoga semangat bulan Ramadhan akan selalu ada untuk menghadapi bulan-bulan berikut hingga kita (kalau diijinkan) bertemu Ramadhan berikutnya. Amin. Selamat menyambut datangnya hari Raya Idul Fitri.
*) Sebelumnya mohon maap lahir batin ya buat bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang implisitly sering saia sanjung-sanjung di blog ini. Buat yang mudik selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang lagi. Have a good time….
Minal aidzin wal faidzin….