dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘oasis

Morning Glory

with 10 comments

Sudah bukan rahasia lagi kalau gue adalah penyuka musik. ‘Dengarlah, di hembusan angin, di udara, di cahaya, musik ada di sekitar kita. Yang harus kau lakukan hanyalah membuka dirimu. Yang harus kau lakukan hanyalah mendengarkan’. Kira-kira seperti itulah kata August Rush* tentang musik. Tapi ada definisi laen tentang musik buat gue. Musik bisa membawa kita kepada sesuatu atau seseorang kemasa tertentu. Di sini bukan berarti melulu soal lirik-liriknya. Tapi cenderung ke nada-nada yang dihasilkan yang repetitif. Nada-nada yang nyenthel di otak kita yang bebarengan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu. Sekali lagi bukan karena lirik-liriknya tapi karena m – e – m – o – r – y –nya. Kadang ketika mendengar sebuah lagu maka seakan-akan gue seperti melihat lagi ‘video klip-video klip’ lagu tersebut dengan gue sebagai salah satu tokohnya dan peristiwa-peristiwa diseputar lagu itu yang menjadi backgroundnya. Oleh karena itu gue mengatakan kalau musik bisa membawa kita kepada sesuatu atau seseorang kemasa tertentu. Dan kalau ngomongin selera musik, selera gue adalah Brit. Mulai dari musik jaman-jamannya The Beatles, The Who sampe jamannya Arctic Monkeys atau The Kooks. Semua musik-musik mereka adalah bagus. Entah kenapa yang jelas ini hanya kesukaan saja tidak ada alasan khusus selain subjektifitas.


Dan kalau Indonesia punya Indonesia Raya, Padamu Negeri dkk, Jowo punya Gambang Suling, Gundul-Gundul Pacul lan sak liyan-liyane, maka gue punya Oasis sebagai national anthem. Musik dari Oasis lah yang kebanyakan bisa membuat gue melihat video klip-video klip gue sejak gue masih dekil hingga sampai seperti sekarang ini. Kenapa Oasis? Entah kenapa lagi-lagi ini masalah subjektifitas, tapi ada satu alasan yang jelas: dua dari anggota pendiri band tersebut adalah bersaudara, kakak adik, Liam dan Noel Gallagher dan gue sangat suka dengan itu, a brotherhood. Meski hubungan persaudaraan mereka tak ubahnya seperti minyak dan air, dua orang itulah nyawa dan otak dari band itu. Sampai sejauh ini, sejak gue mengenal (belum menyukai –red) mereka 13 tahun lalu, lagu-lagu mereka sudah bisa dibilang national anthem gue. Setiap mereka mengeluarkan lagu-lagu baru, lagu-lagu itu selalu mengiringi peristiwa-peristiwa yang gue alami di masa-masa itu. Tapi sayang, gue agak sedikit terlambat menyukai mereka. Album fenomenal pertama mereka (Definitely Maybe -1994) terlewat begitu saja. Selain karena gue masih kecil sehingga tidak ngeh dengan lagu-lagu barat juga dikarenakan saat itu di Indonesia lagi heboh lagu-lagu dari Amy Search, Slam, Nafa Urbach dkk. Dan album kedua mereka, What’s The Story Morning Glory? -1995 yang membuat gue mengenal mereka -belum sempat suka- dengan Wonderwall, Don’t Look Back In Anger dan Champagne Supernova-nya. Saat itu masih kelas lima/enam SD. Gue masih inget pertama kali ngeliat video klip mereka Woderwall, yang backgroundnya yang item putih dan sephia. Waktu itu pagi-pagi setelah selesai jalan-jalan pagi di hari pertama puasa bersama brotherhood yang lain, gue dan kakak adek gue. Kalau tidak salah diacara salah satu tv swasta, Delta kalau gak salah nama acaranya. Ada yang inget acara itu mungkin?


Gue mulai bener-bener suka mereka dimulai dari album ketiga mereka, Be Here Now -1997, dengan Stand by Me, Don’t Go Away, All Around The World-nya. Gue inget betul ketika Lady Diana meninggal, lagu Stand by Me dan Don’t Go Away yang lagi nge-hits kerap diputar menjadi background song liputan beritanya. Saat itu kira-kira gue masih duduk di bangku kelas satu SMP dan yang lain asik dengan Malaysia-nan gue sudah sok british padahal bahasa Inggris saja masih nol besar alias masih menganggap arti ‘fuck-off’ tidak jauh beda dengan arti ‘yes’ atau ‘no’. Album pertama mereka ini memang menjadi pengingat masa-masa lugu gue. Masa transisi dari seorang anak kecil beranjak remaja. Betapa bodonya gue, ditaksir, dideketin bahkan mpe dikejar-kejar cewek cakep malah lari menghindar terus, takut. Memang, merasa nyesel itu datangnya belakangan. Heuheu…

Tapi berkebalikan dengan saat album keempat mereka, Standing On The Shoulders of Giant -2000 keluar, gue yang lugu, culun dan dekil sudah berubah 180 derajat. Saat itu pertengahan pertama kelas tiga SMP. Saat itu benar-benar telah menjadi seorang ABG yang suka bertindak dulu baru mikir belakangan; bolos pelajaran, ikut tawuran pelajar dan tindakan bodoh lainnya. Go Let It Out, Sunday Morning Call dan lagu lainnya yang agak psychedellic dari album tersebut sering gue puter kenceng-kenceng di kamar sambil merem saat berasa down karena usaha gue ngedeketin cewek ternyata bertepuk sebelah tangan. Kualat kali.


Tapi tidak berlaku untuk album kelima mereka, Heathen Chemistry -2002 dimana gue dengan sangat sukses berhasil mendekati seorang cewek dan menjadikannya soundtrack ‘perjalanan’ itu. Juga menjadi pengiring terbentuknya persahabatan tiga orang yang sampai sekarang masih terjaga. Musik-musik di album ini benar-benar menjadi pengiring suka duka gue. So much unforgetable moments. Menjadi pengingat saat gue sudah beranjak dewasa. Menjadi pengiring kejadian-kejadian penting dalam hidup gue sehingga membuat gue mulai memandang hidup dengan cara yang berbeda. Bahwa hidup itu perlu diperjuangkan. Bahwa kejadian-kejadian hidup itu pilihan yang tidak serta merta datang ‘blek’ begitu saja. Bahwa keberuntungan itu bisa diperjuangkan. Bahwa memberi dengan ikhlas itu ternyata sesuatu yang sangat memuaskan hati. Bahwa menyia-nyiakan dan membuat sakit makhluk Tuhan yang bernama ‘perempuan’ (terutama oleh para lelaki seperti gue) adalah tindakan pengecut, banci, berengsek bin biadab! Dan juga menyadarai bahwa Tuhan itu sangatlah adil. I miss this era, sooooo much! Ketika mendengar Little by Little, Stop Crying Your Heart Out, Born On Different Clouds, Songbird dan She is Love di album ini, maka gue masih dengan sangat jelas bisa menyaksikan video klip-video klip itu lagi. That was one of my morning glories!!!


Setelah cukup lama jeda, album keenam mereka, Don’t Believe The Truth -2005 keluar juga. Sangat 70’s rock song. Genius one from Noel. Tidak ada video klip serius di era ini. Gue udah masuk masa kuliah. Hanya saja ketika mendengar The Importance of Being Idle dan Turn Up The Sun keinget masa-masa masukin beberapa proposal penelitian ke beberapa perusahaan tour and travel di Jogja tapi ditolak semua. Setelah usaha yang ketujuh kalinya (kalau tidak salah, lupa-lupa ingat) baru bisa lolos. Masa-masa album ini juga adalah masa-masa gue menikmati kesendirian, benar-benar males kalau mendengar kata komitmen. Heuheu…


Dan yang terakhir, mereka baru saja mengeluarkan album ketujuh mereka, Dig Out Your Soul. A brilliant album. F***ing great songs. Sangat psychedellic. Majestic. Dan karena album baru belum banyak yang bisa diceritakan dengan video klip-video klip yang terjadi. Gue masih struggling untuk menyutradara-i-nya. And hoping it will be nice and unforgetable clips video.


Dan beberapa tahun lagi ketika membuka diri dan mendengarkan lagu-lagu tersebut, maka dengan nada-nada repetitif yang dihasilkan dan telah nyenthel di otak gue, maka gue bakal senyum-senyum sendiri ketika menyaksikan video klip-nya.


All your dreams are made

When you’re chained to the mirror with the razor blade

Today’s the day that all the world will see.

Another sunny afternoon

Walking to the sound of my favorite tune

Tomorrow never knows what it doesn’t know too soon “

Morning Glory (Oasis – 1995)


*) Tokoh utama film yang berjudul sama dengan namanya: “August Rush”, yang menceritakan bahwa musik adalah hal yang tak terpisahkan dalam hidup. Bahkan mempunyai arti penting dalam kehidupan.


Written by dian diam

December 22, 2008 at 6:15 am

Posted in setorie, thought thought and thought

Tagged with

Chapter Two

with 10 comments

Malam ini seharusnya dia sudah berada di rumah. Setiap wiken dia biasanya memang pulang. Tapi sejak dia tiba di kost-an tadi sore hujan deras masih saja mendera. Gila, lebat sekali hujan kali ini. Mana angin juga kenceng banget. Fuuh… Tapi dia cuma bisa tersenyum saja. Dan dia tidak ingin menghabiskan satu jam penuh berada di atas motor bututnya di jalan dalam keadaan basah dan kedinginan. Meski dia suka dengan hujan, dengan air, tapi otaknya masih bisa berpikir untuk tidak cukup bodoh untuk melakukannya. Lagipula jalanan pasti juga licin. ‘Yowis Le, rasah bali wae yen udan. Kene yo udan deres…’ kalimat yang terbaca di layar hp-nya, balasan dari Sang Ibu atas pemberitahuannya kalau wiken kali ini tidak bisa pulang.

 

Wiseman dari James Blunt mulai terdengar dari speaker komputernya dalam ruang 3 x 4 meter itu. Suara hujan –yang deras- di luar bergerilnya masuk ke ruangan sehingga cukup menimbulkan noise. Tidak banyak yang bisa dilakukannya dalam ruangan itu. Dia mencoba keluar dari kamarnya di lantai dua, turun kebawah mencari sepenampakan batang hidung untuk sekedar diajak ngobrol. Tapi tidak ada nyawa juga. Di kost-an itu cuma ada empat orang anak kost. Entah pada kemana hujan-hujan begini, malam-malam begini. Di ruang tengah hanya terlihat bapak kost yang menonton televisi. Malas dia untuk nimbrung dengan bapak itu. Paling-paling nanti cuma diajak ngobrol ala Gus Dur ngomentari politikus-politikus yang di tontonnya di tv itu. Sebenarnya lucu juga kalau bapak itu lagi ngomongin mereka, cukup bisa untuk melemaskan otot pipi dan sejenak bisa untuk melepas penat. Tapi kali ini dia lebih tertarik untuk kembali ke kamarnya bersama James Blunt dan kawan-kawannya. Dalam menuju kamarnya dia berpapasan dengan anak perempuan bapak kost yang basah kuyup baru pulang entah dari mana.

 

Setiba dalam kamar dia langsung berada di depan komputernya. So far, komputer adalah teman terbaiknya dalam kondisi seperti ini. Dia berpikiran untuk menyelesaikan perhitungan estimasi struktur biaya transportasi yang dibebankan padanya, yang juga belum kelar-kelar. Tapi wiken sebisa mungkin tidak dilakukannya untuk melakukan pekerjaan semacam itu. For him, wiken is a so stupid damn thing if he can’t set him free. Apalagi dengan seabrek detil angka-angka. Mual rasanya. Lalu dia mencoba memulai menulis sesuatu untuk up-date blognya. Lagi-lagi pikirannya stuck. Beralih hanya baca-baca berita di internet. Stone Roses kali ini yang playing di playlist-nya. Tapi noise suara hujan dari luar masih saja dengan enaknya mengganggu dia menikmati lagu-lagu itu.

 

Tiba-tiba dia teringat kalau tadi siang dia dapat paketan dari sahabatnya (lebih tepatnya: mantan kekasih, dia sekarang lebih suka menyebut sahabat ketimbang mantan) yang -sudah- di Jakarta. Setelah tiga tahun lebih mereka di-harus-kan tidak melanjutkan hubungan itu, masing-masing dari mereka masih saling komunikasi satu sama lain. Dan sudah dua bulan lebih ini malah semakin intens. Setelah mengalami peristiwa itu memang mereka sempat hilang sapa, mereka sejenak diam satu sama lain. Waktu pertama kali bertemu lagi, masing-masing dari mereka sudah tidak sendirian lagi. Tapi sekarang dia sendiri lagi, dan lagi –for the 2nd time. Mungkin karena dia merasa sebagai pihak yang pantas disalahkan atas peristiwa itu atau mungkin perasaan dia yang terlalu kuat dan belum bisa menerima peristiwa itu, dia lah yang memulai membangun kembali komunikasi itu, hubungan persahabatan itu lagi. Pada umumnya jarang yang dari pacar menjadi sahabat, kebanyakan malah sebaliknya dari sahabat menjadi pacar. Tapi dia –mereka- tidak terbawa arus pada umumnya itu. Memang pada awalnya sulit, dia merasa sebagai orang paling bodoh di bumi ini untuk melakukan hal itu, bahkan seperti ada kepalsuan dan keterpaksaan yang dipaksakan yang terselip. Tapi seiring waktu keterpaksaannya itu berubah menjadi ketulusan untuk melakukan semua hal jika harus dihadapkan pada dia. Anyhow, anything, anytime.

 

Dan kini sudah 3 tahun setelah mereka memulai hubungan baru itu. Dia lebih merasa enjoy dan berkualitas dengan hubungan persahabatan yang mereka jalani sekarang. Bisa pure apa adanya, nothing to lose dan tidak berpikiran jauh-jauh. Ketika Crazy ‘Bout You dari Ten2Five terdengar dia sudah berada di atas tempat tidur meraih tas yang tergeletak di atasnya. Diambilnya sebuah kotak pipih berbalut kertas coklat dari dalam tas. Cukup ringan. Dila, Cipulir V, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tertulis di bagian belakang. Dilepasnya dengan teratur balutan kertas itu, lalu nampak sebuah kotak pipih bening di dalamnya tertulis: Oasis: Befinitely Maybe. Original DVD. Super Deluxe! Sumpah. Seketika dia kaget. Tapi seperti biasa, dia cuma tersenyum, tanpa ekspresi. Gadis bodoh, batinnya, but thanx. Tapi lalu dia jadi penasaran. Kenapa Dila bisa tahu bahwa DVD itu yang selama ini dia cari-cari, dan belum ketemu juga, dan juga gimana cara mendapatkannya? Itu adalah koleksi langka di Indonesia dan  mahal pulak! Di bagian belakang DVD itu tertempel secarik kertas putih dan bertuliskan tangan dengan tinta warna hijau: “Pak, minggu lalu pas gue jalan ke mall tak sengaja lihat barang yang kamu cari-cari pas kita muter-muter Jogja waktu liburan kemarin. Kalau tahu disini ada tak usah capek-capek muter kayak kemaren, Pak. Pake kehujanan pulak. Huu… Semoga barangnya sesuai yang dimaksud soalnya gue belum pernah lihat langsung sih. Tapi gue tak akan lupa ciri-cirinya, maklum sudah ribuan kali kamu sebut, kamu tanyakan ke seluruh pelayan musicstore yang cantik-cuantik itu di Jogja kemarin.  Hahaha… Kalau ada sesuatu seperti itu lagi bilang aja, Pak. Jakarta lebih unggul daripada Jogja. Percaya deh, sudah terbukti kan? Tapi lain kali tidak gratis lho ya.  He… Oiya, itu juga itung-itung sebagai ganti kamu mau gue tebengin muter-muter Jogja dan sepasang ogre kecil Shrek dan Fiona yang kamu kasih kemarin. Though they’re ogre and ugly I  love them. Thanx. PS: Kapan-kapan lagi ya, keliling Jogja denganmu was so nice, Pak! ^_^”

 

Lagi, dia cuma senyum datar. Dia rebahan diatas tempat tidur. Dan hujan diluar sudah tidak sederas sebelumnya, sehingga Drew dengan Unromantic cukup terdengar cukup nyaman karena noise dari luar sudah mulai berkurang. Dibacanya sekali lagi tulisan itu. Kemudian dia ingatannya terbawa ke peristiwa dua bulan yang lalu itu. Ketika itu tiba-tiba dia mendapat telepon teror.

 

“Pak, 3 hari libur nasional kan? Mau kemana?”

“Tidak, rencana cuma mau hunting suatu benda yang penting gak penting, DVD… Ah, gue kasih tahu kamu juga gak bakal tahu. Tumben nanya gitu, Bu?”

 “Hehe, nggak kok. Gue ikut ya besok, Pak? Gue sekarang lagi dirumah. Semalem nyampe. Pengen muter-muter Jogja. Mau ya? Awas kalau gak mau. Terserah deh kemana. Pokoknya gue ngikut. Ok, bos?”

“Hah ma gue? Nggak salah? Gue sih ndak pa pa. Tapi sudah ijin sama si Mas? Ntar bisa berabe belakangan”

“Ah tidak usah dipikir. Pokoknya gue nebeng ya. Kalau ke Jogja I prefer to choose you than him. Haha…”

“Dasar. Kamu kalau sudah pakai pokoknya begitu, susah. Ok lah. Let’s see besok. Tapi kalau ada apa-apa gue gak ingin jadi tersangka. Jamnya besok gue kabarin lagi.”

“Yup, jangan kuatir, no matter. And manut lah pokoke. Thanx, Ar.”

 

Sebenarnya dia sudah punya rencana sendiri untuk hunting DVD itu. Dia ingin mengajak temannya sendiri. Tapi diurungkannya niat itu demi menyenangkan hati sahabatnya yang sudah tidak bertemu muka semenjak merantau ke Ibu Kota hampir setahun yang lalu.

 

Dan ketika No Fruits For Today-nya Sore full the room dia mulai terbangun kembali turun ke dunia lagi setelah beberapa saat terbang pergi ke peristiwa dua bulan lalu; pergi ke saat pertama kali melihat Dila yang belum banyak berubah setelah setahun tidak ketemu, kecuali wajah ayu nan lucu di balik kacamatanya dan kedewasaannya yang bertambah, selain itu semua masih sama hingga dia bisa merasakan kembali hal yang sama saat mereka pertama kali bertemu enam tahun yang lalu, when they were just seventeen; pergi ke saat mengunjungi hampir semua musicstore di Jogja sampai kehujanan dan akhirnya terdampar di warung bakso di Gejayan; dan juga pergi ke saat memenangkan suatu game –yang dia tidak tahu apa namanya- di Timezone dan mendapatkan hadiah sepasang miniatur makhluk ogre Shrek dan Fiona. Dan sejak saat itu sebenarnya perasaan terhadap Dila yang telah disudutkannya bertahun-tahun di suatu titik di hatinya mulai bergerak keluar menyusur meyelimuti semua sisi hati. Ketika dia mulai terbangun hujan deras sepertinya telah berubah menjadi gerimis kecil yang tak berpola.

 

Dari tempat tidur dia membuka jendela kamarnya. Angin langsung bertiup masuk menampar wajahnya membawa aroma jalan dan halaman yang basah karena hujan. Di luar gelap, hanya segelintir orang yang lewat di jalan dibawahnya. Dia lalu menyapu pandangannya ke sekeliling, di kejauhan butiran gerimis yang tak berpola terlihat oleh temaram sinar lampu bewarna kuning di ujung jalan. Suara yang dibuat oleh tukang bakso dan penjual sate keliling mulai terdengar bergantian bertautan. Seorang laki-laki dan perempuan terlihat sedang berjalan berdampingan, si laki-laki menuntun sepeda motornya yang mungkin mogok karena derasnya hujan dan si perempuan berjalan disampingnya masih mengenakan jas hujan. Tidak lama jalan mulai dijejaki beberapa orang dan kendaraan. Dia lalu melihat ke arah kaca jendela kamarnya dan di kaca jendela terlihat wajahnya yang berpendar karena pantulan cahaya dari dalam kamar. Dia sejenak diam mengamati wajah itu. Memikirkan apa yang telah terjadi dengan pemilik wajah itu, dengan perasaan orang itu. Memikirkan apa yang terjadi antara dia dan Dila since the last three years, terutama dua bulan terakhir. Lalu dibuangnya pikiran itu itu jauh-jauh. It’s different now, everything’s changing. Kemudian dia hanya tersenyum.

 

Sesaat dia meraih handphone-nya, kembali meyandarkan punggung dan kepalanya di atas kasur. Bersamaan dengan message report di hp nya: “It’s surprised me. Thanx, Bu. Delivered to Dila, October 17th, 2008. 9:27 PM” , I’m Outta Time dari Oasis terdengar:

 

If I’m to fall

Would you be there to applaud

Or would you hide behind them all

‘Cause If I have to go

In my heart you’ll grow

And that’s where you belong

I’m out of time…”

 

 

*) Kisah ini hanya fiktif belaka. Sungguh, jangan terlalu dipercaya. Dibaca saja. Jika ada kesamaan nama, waktu dan tempat itu adalah memang disengaja.

**) Damn it, kenapa gue bisa nulis sedangdut itu ya? Mungkin gara-gara otak gue yang sedikit korslet gara-gara kecapean nempuh rute Klaten-Semarang-Jogja-Klaten beberapa waktu yang lalu. Dan ide untuk menulis ini dengan seenaknya sendiri nongol di otak gue.

***) Ini adalah penjelasan dari Chapter 1. Tapi hanya sebagian kecilnya saja. Ntar kalau otak gue korslet lagi, ada bagian yang lainnya. Dan lagu-lagu Ten2Five, Sore, Dee (Rectoverso) serta album NuBuzz 1.1 yang juga semakin membuat otak gue korslet untuk nulis ini. ^_^

Written by dian diam

November 1, 2008 at 10:05 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

The Shock of The Lightning

with one comment

Well, finally I could listen the most awaited song in the last an half years, after I heard the news that they will release their newest album in Oct 6th, 2008. D’you know them? Uhmm, their song always be my anthem. Oasis. Yeah, The Shock of The Lightning –their first single in their newest album: Dig Out Your Soul, finally play in some radios. But actually, the song itself will be released in Sept 29th, 2008. The first time I listened the song was two days ago, on the radio. And straightly I got the mp3 yesterday. Hehehe…and play it over and over.

The song is so beat up, very powerfull with the high reached voice of Liam Gallagher. Started with the thundering of drum, and then quickly the sweeping guitar of Noel fill the high speed of the song. Very Oasis-ly, very brit-rock, reminds us to their new appearance along time ago. Two thumbs up, Great song (sekali lagi, hormat bungkuk buat mereka)! Oh, can’t wait for the Oct 6th.

-

The Shock of The Lightning lyrics:

-

I’m all over my heart’s desire,

I feel cold but I’m back in the fire,

Out of control but I’m tied up tight,

Come in, come out tonight..

-

Comin’ up in the early morning,

I feel love in the shock of the lightning,

I fall into the blinding light,

Come in, come out, come in, come out tonight..

-

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

It’s all in my mind,

Love is a litany,

A magical mystery,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..

-

I got my feet on the street but I can’t stop flyin’,

My head is in the clouds but at least I’m tryin’,

I’m out of control but I’m tied up tight,

Come in, come out tonight..

-

There’s a hole in the ground into which I’m fallin’,

So God’s speed to the sound of the poundin’,

I’m all into the blinding light,

Come in, come out, come in, come out tonight..

-

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

It’s all in my mind,

Love is a litany,

A magical mystery,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..

-

It’s all in my mind,

Love is a time machine,

Up on the silver screen,

And all in good time, and all in good time,

And all in good time..”

-

*) Watch the Video:

Written by dian diam

September 12, 2008 at 3:36 am