dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘Only God Knows Why

Only God Knows Why

with one comment

Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.

Dalam per-poli-tikus-an mungkin ungkapan itu benar adanya, tidak hanya sekedar kata-kata saja. Karena memerlukan pengalaman-pengalaman untuk bisa menyusunnya. Perlu pengorbanan dan perjuangan yang keras untuk melakukannya. Memerlukan beberapa orang untuk membuktikannya. Dan salah satunya adalah ZM, seorang poli-tikus dari negeri tetangga –Negeri Ibu Pertiwi (NIP), negeri yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta democrazy tahun depan. ZM adalah mantan wakil ketua lembaga legislatif di negeri NIP itu, pelaku sekaligus korban dalam kerasnya dunia itu.

Iya mantan, dia diberhentikan karena tersandung masalah pencemaran nama baik kepala negara NIP itu. Masih ingat kan sekitar setahun yang lalu ada berita ramai-ramai tentang kepala negara NIP yang digosipkan telah nikah duluan sebelum nikah dengan ibu negara yang sekarang. Nha, itu dia si ZM yang menggosipkannya. Entah gosip itu bener apa tidak, gue tidak akan bahas itu. Tidak tahu kenapa sehingga tiba-tiba saja dia bergosip ria dengan itu. Mungkin berusaha merebut popularitas, kepentingan. Gara-gara itu dia ditendang keluar dari legislatif. Setelah setahun menghilang dari dunia per-poli-tikus-an, kini si ZM itu berusaha kembali lagi. Untuk bisa masuk lagi sudah tentu harus memakai alat, memakai kendaraan, alat itu di negeri NIP biasa disebut parpol. Yang bikin gue make no sense dan berasa geli sendiri sama tuh bapak adalah kendaraan yang dia pakai adalah kendaraan yang dibina, yang dirawat oleh si kepala negara yang dulu pernah digosipkannya, pernah ingin dijatuhkannya itu, bahkan kendaraan yang dulu mengantarkan korban gosip itu menjadi kepala negara. Uoke, deh. Dualisme. Kontradiktif. Lagi-lagi kepentingan.

Semalem pas dalam wawancara di salah satu stasiun swasta negeri NIP, dengan muka mesam mesem seperti anak kecil ketahuan bo’ong dan mata yang kedap kedip kriyip kriyip (oalah Pak,mbok wibawa sitik gitu) dia memberitahukan sedikit banyak mengapa dia melakukan itu (alasan menggosipkan kepala negara dan alasan dia masuk kembali ke legislatif dengan kendaraan itu). Yang bikin gue ketawa (selain tingkah kalunya yang menggelikan) adalah alasannya bahwa si bapak itu mendapat mimpi dari alm ibunya. Dalam mimpinya si ibu melambai-lambaikan tangan kepadanya yang berada di barisan belakangnya si kepala negara. Hah, hubungannya apa? Jaman gini masih percaya superstition? Oke tidak apa-apa gue bisa toleran karena mimpi alm ibunya, tapi mbok ya nyari alasan yang lebih cerdas intelek.

Gue jadi mikir ungkapan di atas tadi menjadi sangat benar. Dan karena semakin banyaknya kepentingan semakin ketat pula persaingan. Lawan jadi kawan, kawan jadi lawan. Tapi caranya itu lho, mbok yo yang keren, yang intelek, logis. Yang kemampuannya di bawah rata-rata sulit untuk bertahan sehingga bisa melakukan berbagai macam alasan, seperti mencari-cari alasan superstition tadi, no intelek anymore, even rediculous dan seperti orang pesakitan dari rumah sakit jiwa. Maap menyebut rumah sakit jiwa, lha wong ketawa-ketawa, senyam-senyum sendiri atas tindakan-tindakan konyol dan tak logis mereka, tapi masih tetep saja dilakukannya dengan bangga. Tapi sayang gagal. Total pulak.

Kenapa ya orang-orang semacam Soekarno, Tan Malaka, Hatta dan Natsir hidup seangkatan? Tidak disisakan untuk generasi sekarang. Only God knows why.

Written by dian diam

August 21, 2008 at 3:52 am