Posts Tagged ‘Politikus’
Bukan Siapa, Tapi Apa
Sebentar lagi pemilihan presiden akan berlangsung. Permasalahan utamanya bukan siapa yang jadi pemenang tapi apa yang akan dilakukannya. Program dan sistem yang bagaimana yang bisa membawa keadaan yang lebih baik dari sekarang. Bukannya tidak mau bersukur dengan kondisi sekarang, tapi bisa lihat dan ngerasain sendiri gimana kondisi negeri ini saat ini. Sehebat apapun seorang presiden (jika bisa memenangkan pemilihan itu) dia tidak bisa menjalankan pemerintahannya sendiri, dia musti butuh pembantu-pembantu dan bekerjasama dengan pihak lain untuk itu. Kalau di negeri tetangga biasa disebut eksekutif, legislatif, yudikatif dan lembaga tinggi lainnya. Nha, bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengurusi tetek bengek itu biasa sering disebut poli-tikus (sebenarnya gue lebih seneng nyebutnya negarawan, tapi sayang di negeri ini saat ini rasanya hanya amat sedikit sekali layak disebut seperti itu, lebih pantas politikus2 –jangan salah baca:red). Bisa dilihat, jikalau seorang presiden mempunyai kemampuan sehebat apapun tapi tidak dengan para politikus lainnya, gue setengah tidak yakin negeri ini akan lebih baik lagi. Pol mentok ya segini-segini aja. Untuk itu kalo boleh ngarep dan mengkhayal, gue harap the next president bisa membuat program atau membentuk sebuah lembaga tinggi baru langsung dibawah naungan presiden, mulai dari plan-plan yang bakal dibuat hingga memilih orang-orang di dalamnya presiden sendiri yang nentuin.
Saking hebatnya Belanda dan Jepang jaman dulu, sehingga Soekarno, Syahrir, Hatta, Natsir, Salim and the gang dihidupkan Tuhan dalam waktu yang hampir bersamaan untuk meladeni penjajahan Londo and co dan tidak disisakan untuk kehidupan sekarang. Lembaga yang dibentuk presiden tadi itu bertugas untuk membangkitkan semangat-semangat mereka yang sudah di alam baka itu kepada anak-anak. Karena, anak adalah sumber menghimpun kekuatan masa depan yang sungguh ampuh (itulah mengapa Israel membom Palestine, salah satunya karena ingin memusnahkan anak-anak yang sudah hafidz Al-Quran, mereka kuatir terhadap kekuatan anak-anak itu di masa depan. Naudzubillah… Faktap for it). Pertama mereka menjalankan program cuci otak sehingga anak-anak tidak melulu minded dengan x-Box, PS etc, tidak melulu nggathok termakan tontonan cheeklit, cookies dsb dari Punjabi cs, dan tidak hanya bisa memenangkan olimpiade-olimpiade sains yang hanya sekedar teori tapi dengan eksperimental dan penemuan-penemuan yang down to earth yang jarang terlihat (rasanya dari dulu negeri ini selalu bangga dan bisa unjuk gigi tiap kali ada olimpiade sains, tapi sedikit sekali ketika harus dihadapkan dengan yang experimental dengan penemuan-penemuannya). Kemudian jejali dada mereka dengan kebanggaan akan negeri ini yang pernah mempunyai Teuku Umar, Diponegoro, Soekarno and co, jejali dengan pengetahuan akan negeri ini yang memiliki banyak kelebihan (kekayaan alam, budaya, falsafah dan kepribadian) sehingga mereka bisa merasa ‘sombong’ terhadap Malaysia yang suka memakan milik kita, pun demikian dengan Singapura serta negara-negara lainnya, pertahankan itu meski harus fight ’till death end. Jejali sampai sumpek dada mereka hingga mereka bisa melampiaskannya dengan penuh gairah. Hingga nantinya bisa orgasme dengan perasaan itu.
Tapi ini adalah plan jangka panjang, mereka baru bisa unjuk gigi belasan sampai duapuluhan tahun lagi. Tapi dengan spare waktu yang relatif lama itu diharapkan bisa ada Soekarno angkatan ke-2, Syahrir angkatan ke-2 sehingga bisa terlahir kembali sebagai negarawan sejati bukan hanya seorang poli-tikus sontoloyo yang saling berebut kepentingan untuk dirinya sendiri dan koloninya dengan jiwa nasionalisme yang sempit mereka, bukan nasionalisme yang nasionalis. Dengan demikian beliau-beliau yang sudah di alam baka itu tidak lagi meringis sedih, even menangis, melihat penerusnya yang suka bertingkah aneh dan lucu-lucu seperti sekarang ini. Dengan spare waktu selama itu pula diharapkan para poli-tikus2 itu lah yang menjadi korban seperti di Wanokwari, terkena longsor ketika sedang berlibur ke villa-villa mereka di puncak, tergulung ombak ketika sedang pelesir dipantai, kelelep banjir dadakan (bukannya rakyat biasa yang terkena) dan bahkan kalau perlu dipaksa mati seperti JFK. Meski terdengar SADIS dan TIDAK MUNGKIN, at least 20 tahun lagi negeri ini bisa diharapkan bersih dari hama tikus. Dan setelah ‘lulus program itu’, anak-anak itu besok bisa berperan dengan baik. ^_^
*) Oalah le cah bagus, ngomong opo to iki?? Nggambleh wae, tangi-tangi….
Only God Knows Why
Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.
Dalam per-poli-tikus-an mungkin ungkapan itu benar adanya, tidak hanya sekedar kata-kata saja. Karena memerlukan pengalaman-pengalaman untuk bisa menyusunnya. Perlu pengorbanan dan perjuangan yang keras untuk melakukannya. Memerlukan beberapa orang untuk membuktikannya. Dan salah satunya adalah ZM, seorang poli-tikus dari negeri tetangga –Negeri Ibu Pertiwi (NIP), negeri yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta democrazy tahun depan. ZM adalah mantan wakil ketua lembaga legislatif di negeri NIP itu, pelaku sekaligus korban dalam kerasnya dunia itu.
Iya mantan, dia diberhentikan karena tersandung masalah pencemaran nama baik kepala negara NIP itu. Masih ingat kan sekitar setahun yang lalu ada berita ramai-ramai tentang kepala negara NIP yang digosipkan telah nikah duluan sebelum nikah dengan ibu negara yang sekarang. Nha, itu dia si ZM yang menggosipkannya. Entah gosip itu bener apa tidak, gue tidak akan bahas itu. Tidak tahu kenapa sehingga tiba-tiba saja dia bergosip ria dengan itu. Mungkin berusaha merebut popularitas, kepentingan. Gara-gara itu dia ditendang keluar dari legislatif. Setelah setahun menghilang dari dunia per-poli-tikus-an, kini si ZM itu berusaha kembali lagi. Untuk bisa masuk lagi sudah tentu harus memakai alat, memakai kendaraan, alat itu di negeri NIP biasa disebut parpol. Yang bikin gue make no sense dan berasa geli sendiri sama tuh bapak adalah kendaraan yang dia pakai adalah kendaraan yang dibina, yang dirawat oleh si kepala negara yang dulu pernah digosipkannya, pernah ingin dijatuhkannya itu, bahkan kendaraan yang dulu mengantarkan korban gosip itu menjadi kepala negara. Uoke, deh. Dualisme. Kontradiktif. Lagi-lagi kepentingan.
Semalem pas dalam wawancara di salah satu stasiun swasta negeri NIP, dengan muka mesam mesem seperti anak kecil ketahuan bo’ong dan mata yang kedap kedip kriyip kriyip (oalah Pak,mbok wibawa sitik gitu) dia memberitahukan sedikit banyak mengapa dia melakukan itu (alasan menggosipkan kepala negara dan alasan dia masuk kembali ke legislatif dengan kendaraan itu). Yang bikin gue ketawa (selain tingkah kalunya yang menggelikan) adalah alasannya bahwa si bapak itu mendapat mimpi dari alm ibunya. Dalam mimpinya si ibu melambai-lambaikan tangan kepadanya yang berada di barisan belakangnya si kepala negara. Hah, hubungannya apa? Jaman gini masih percaya superstition? Oke tidak apa-apa gue bisa toleran karena mimpi alm ibunya, tapi mbok ya nyari alasan yang lebih cerdas intelek.
Gue jadi mikir ungkapan di atas tadi menjadi sangat benar. Dan karena semakin banyaknya kepentingan semakin ketat pula persaingan. Lawan jadi kawan, kawan jadi lawan. Tapi caranya itu lho, mbok yo yang keren, yang intelek, logis. Yang kemampuannya di bawah rata-rata sulit untuk bertahan sehingga bisa melakukan berbagai macam alasan, seperti mencari-cari alasan superstition tadi, no intelek anymore, even rediculous dan seperti orang pesakitan dari rumah sakit jiwa. Maap menyebut rumah sakit jiwa, lha wong ketawa-ketawa, senyam-senyum sendiri atas tindakan-tindakan konyol dan tak logis mereka, tapi masih tetep saja dilakukannya dengan bangga. Tapi sayang gagal. Total pulak.
Kenapa ya orang-orang semacam Soekarno, Tan Malaka, Hatta dan Natsir hidup seangkatan? Tidak disisakan untuk generasi sekarang. Only God knows why.