Posts Tagged ‘puisi kecil’
The Wishingchair
Kini aku sedang duduk
di sebuah kursi dalam fakta
Tempat terakhir kali kita duduk bersama
tempat kita berpagut, tangis dan tawa
tempat melukis mimpi masa depan
Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan
Ternyata hanya kosong, tak ada kamu
Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh
duduk dalam harap
Melengkapi warna lukisan masa depan -kita
Cerita Dalam Bilangan 6
Ya, sudah lebih dari 2190 hari
kita telah saling tahu
meski sekarang belum benar-benar tahu
Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon
kita telah bersama
meski sekarang tak jua bersama
Sebentar,
benarkah sudah selama itu?
Tak terasa
sudah banyak cerita, banyak jalan
telah terlewati
Pernah kita satu jalan
Pernah juga tidak
kamu ke timur dan aku ke barat
Dan sekarang,
kita telah satu jalan -lagi
meski belum satu sepeda
Tak apa lah
Teruslah kita mengayuh saja
hingga sampai tujuan
Jangan tanya sampai kapan itu
Terus saja lihat saja ke depan
dan perhatikan kanan-kiri
Jangan lupa pula
lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’
agar kita tetap satu jalan
Karena jalan dan juga waktu di depan
kadang selayak fatamorgana
(Some) Lovers Are losing*
Sudah pagi, jangan bermimpi lagi
Lihatlah ke jendela
Kamu sudah salah jalan
Sudah keterlalulan, sudah kejauhan
Putar lah kembali
Tidak kah kamu sadar?
Kamu cuma seonggok mainan
Yang dicari saat dia susah
Dan yang dia tinggalkan saat sudah senang
Kenapa pula mau menjadi layang-layangnya?
Yang seenaknya sendiri di tarik ulur
Turun, turunlah dari situ
Turun dari anganmu
Beloklah dari dari jalurmu ini
Tidak kah kamu merasa?
Kamu tidak paantas untuknya
Eh, bukan
Dia lah yang tidak pantas untukmu
Hei, Bodoh! Kenapa cuma diam saja?
>> “..tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang tak rupawan. Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya..”
Lagu itu terdengar sampai 5 kali di Radio selama perjalanan gue dari Klaten ke Jogja pagi ini. Huuh… Lagi Top Request kali ya? Well, but I like the song. Nice One from Dee. And dasarnya gue aja yang lagi Mello!!! Sotoy!!!
*) A song by Keane, dan sepertinya tidak nyambung dengan puisi bodoh itu.
Aku Tahu
Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,
Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah
Lihatlah ke depan,
aku ada untuk melindungimu
Lihatlah ke kanan ke kiri,
aku ada untuk menjagamu
Dan lihatlah kebelakang,
aku akan selalu ada mendukungmu
Karena aku tahu kau percaya untuk aku
Lelapmu
Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.
Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.
Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…
Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.
Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.
Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…
Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.
Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.
Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.
Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.
Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.
Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…
Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.
Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.
Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.
Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,
terbangun karena kebelet ingin ke toilet,
ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.
Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…
Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,
ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,
ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…
Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,
ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,
dan ketika suara masih parau setengah-setengah…
kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,
“Selamat pagiii…”
Chapter One
This time is useless, these conditions aren’t kind to us
The days have come and gone
Raise and drown our hopes but so fast
And I’m still here standing on the Promised Land,
the place where we used to starts to laughed at 17
watching you there in the Noman’s Land
act as a ‘dramaqueen’, too far away but so close
I faintly saw your laugh were fading out
Heard so many thunder of your weeping
Felt the rains of your tears
Haunted by your fears
—
I’ve given a lot of thoughts to the conversation last night
And those message you wrote me I keep them all
I read it over and over in every single part,
with your ‘P.S. I Love You’ in its every bottom line
you talked about all of your role, even until your mom and dad
And I’ll give a lot of thoughts how to write you back
In every single letter in every single word
But, are you gonna be OK if I don’t know what to say?
Will you sleep well tonight if I come too late?
I know you just pretend its all OK with your white pills
Me either, just pretend that there’ll be someone will take care of you more
But both of you and I just keep walking on this dark cave alone
Deeper and deeper
—
But I know it will end
We know it gettin’ closer but still so far
And we know it should be like the part of our favourite movie
When the boy and the girl walk hand in hand
When the girl grabs the the boy and reach his hand
And says: “Take me away from this pain, our new life’s waiting to begin”
Gambarmu
Kucoba ku cari lagi
beberapa gambarmu,
gambar-gambar kecil itu
saat kamu aku tersenyum,
tersenyum tersipu malu
Bersama
Ah, tak peduli…
gambar siapapun,
kamu sendiri atau bersamaku
yang penting ada kamu di situ
Biar bisa kulihat kamu lagi
Namun sudah kucari di mana-mana
tidak ketemu jua
Ternyata aku baru ingat,
beberapa sudah ku kembalikan padamu,
beberapa sudah kubuang
Arrgghhh…
…………………….!!!
Fuuh…
Boleh aku minta lagi?
Lagi dan lagi
Ketika aku harus kembali
dan mengobati
kenapa itu selalu kamu?
Lagi, lagi dan lagi…
Ternyata
Ternyata,
sudah cukup lama hati tidak menyapa
Dan untuk kesekian kalinya
Semalam,
bersama bulan ku coba mendatangimu
Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”
Uhmmm…
meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,
tapi itu kubawakan khusus untuk kamu
Ternyata,
sudah lama juga kamu ingin datang
juga hanya sekedar ingin menyapa
Bersama bulan juga kah?
Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya
Jika boleh meminta,
cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja
biar bisa kulihat dan kudengar lagi
Dan dengan diterangi sinar bulan,
hmmm…sungguh pemandangan yang cantik
Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja
Ternyata,
kita juga sama-sama ingin saling menyapa
Di saat-saat hal semacam ini,
kenapa selalu bisa bersamaan ya?
Kamu bilang sih kita masih soulmate
Hah, kamu ini
Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?
Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui
sebenar-benarnya
Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,
menyesal juga
Sudah jangan diingat-ingat
Meski kadang, aku juga masih sering teringat
mengingatmu
Dan ternyata,
Sekarang kamu sendiri lagi ya?
Uhmmm…
Ah sudahlah…
*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.
Hanya Ingin Diam
Lelah
Dan sejenak ku diam
Tak ingin melihat
Tak ingin mendengar
Tak ingin memperhatikan
Maaf,
Ku tak ingin di ganggu
dan ku tak ingin mengganggu
Ku tak ingin sakit
dan tak ingin menyakiti
Biar kan ku sendiri
dengan dunia yang ku punya
Maaf,
bukan salahmu
bukan salah siapa-siapa
Aku hanya lelah
karena telah berjalan kejauhan
hingga ku semakin jauh
Lelah…
Ku hanya ingin diam
sejenak
