dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘puisi kecil

The Wishingchair

with 7 comments

Kini aku sedang duduk

di sebuah kursi dalam fakta

Tempat terakhir kali kita duduk bersama

tempat kita berpagut, tangis dan tawa

tempat melukis mimpi masa depan

 

Sesekali kucoba tengok lagi ke kanan

Ternyata hanya kosong, tak ada kamu

Ku dapati aku hanya sendiri menatapmu jauh

duduk dalam harap

Melengkapi warna lukisan masa depan -kita

Written by dian diam

January 6, 2009 at 3:28 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Cerita Dalam Bilangan 6

with 12 comments

Ya, sudah lebih dari 2190 hari

kita telah saling tahu

meski sekarang belum benar-benar tahu


Ya, sudah sekitar 189.216.000 sekon

kita telah bersama

meski sekarang tak jua bersama


Sebentar,

benarkah sudah selama itu?


Tak terasa

sudah banyak cerita, banyak jalan

telah terlewati


Pernah kita satu jalan

Pernah juga tidak

kamu ke timur dan aku ke barat


Dan sekarang,

kita telah satu jalan -lagi

meski belum satu sepeda


Tak apa lah

Teruslah kita mengayuh saja

hingga sampai tujuan


Jangan tanya sampai kapan itu

Terus saja lihat saja ke depan

dan perhatikan kanan-kiri


Jangan lupa pula

lihat ‘Rambu dan Penunjuk Jalan’

agar kita tetap satu jalan


Karena jalan dan juga waktu di depan

kadang selayak fatamorgana

Written by dian diam

December 25, 2008 at 3:58 am

Posted in poem

Tagged with ,

(Some) Lovers Are losing*

with 16 comments

Hei, bangun bangun! turn-road4

Sudah pagi, jangan bermimpi lagi

Lihatlah ke jendela

Kamu sudah salah jalan

Sudah keterlalulan, sudah kejauhan

Putar lah kembali

 

Tidak kah kamu sadar?

Kamu cuma seonggok mainan

Yang dicari saat dia susah

Dan yang dia tinggalkan saat sudah senang

 

Kenapa pula mau menjadi layang-layangnya?

Yang seenaknya sendiri di tarik ulur

Turun, turunlah dari situ

Turun dari anganmu

 Beloklah dari dari jalurmu ini

 

Tidak kah kamu merasa?

Kamu tidak paantas untuknya

Eh, bukan

Dia lah yang tidak pantas untukmu

Hei, Bodoh! Kenapa cuma diam saja?

 

 

>> “..tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang tak rupawan. Namun kasih ini silakan kau adu. Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya..”

Lagu itu terdengar sampai 5 kali di Radio selama perjalanan gue dari Klaten ke Jogja pagi ini. Huuh… Lagi Top Request kali ya? Well, but I like the song. Nice One from Dee. And dasarnya gue aja yang lagi Mello!!! Sotoy!!!

 

 

 

 

 

*) A song by Keane, dan sepertinya tidak nyambung dengan puisi bodoh itu.

Written by dian diam

November 27, 2008 at 4:15 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

Aku Tahu

with 10 comments

Jangan khawatir jangan lah menangis lagi,

Jika kau takut, jika kau ragu, jika kau lelah


Lihatlah ke depan,

aku ada untuk melindungimu

Lihatlah ke kanan ke kiri,

aku ada untuk menjagamu

Dan lihatlah kebelakang,

aku akan selalu ada mendukungmu


Karena aku tahu kau percaya untuk aku


Written by dian diam

November 14, 2008 at 4:08 am

Posted in poem

Tagged with ,

Lelapmu

with 12 comments

Pasti sudah jam 2 pagi di tempatmu.

Tapi disini malam terasa seakan baru dimulai, entah.

Dan sudah 72000 milisekon sejak terakhir kita ngobrol di telepon tadi…

Hmm, obrolan yang cukup singkat, tapi kau sempat ceritakan semua hari-harimu.

Hari-hari yang melelahkan, kau curahkan semua padaku.

 

Dan kini di tempatmu, di dunia 3×4 metermu itu kau pasti sudah terlelap, nyenyak…

Terlelap nyenyak lepaskan semua lelah dan penatmu.

Rambutmu yang hitam panjang, acak, terurai bebas diatas punggungmu.

Dan kulit pipi kananmu terlipat-lipat oleh sarung bantalmu, karena kau tidur tengkurap menghadap barat.

Ahh, memang sudah kebiasaaanmu tidur seperti itu.

 

Dan di sini berharap, aku bisa masuk ke dunia 3×4 metermu itu.

Menyusulmu, meringkuk di sisi baratmu, menghadapmu…

Menghadap ke arah wajah lucu dan lugumu yang sedang terlelap.

Wajah penuh ekspresi sedang bertualang di ruang abstrak.

 

Tunggu, tunggulah aku ikut masuk dan bertualang ke ruang abstrakmu itu.

Jangan terbangun dulu, terbangun karena suara oleh kucing atau tikus,

terbangun karena kebelet ingin ke toilet,

ataupun terbangun oleh mimpi burukmu.

 

Sungguh ingin aku menyusulmu, di sisimu, menemanimu…

Sehingga ketika tanganmu menggapai-gapai di atas lipatan seprai kasurmu,

ingin itu aku yang kau sentuh kau rasa,

ada di situ sedang memandangmu, menjagamu, di hadapmu, di sisimu…

 

Dan ketika waktu subuh tiba, ketika mata terbuka,

ketika muka masih kusam, ketika tubuh masih bau keringat,

dan ketika suara masih parau setengah-setengah…

kita dapat saling bertatap mata dan saling menyapa,

“Selamat pagiii…”

 

Written by dian diam

October 11, 2008 at 2:16 am

Posted in poem

Tagged with , ,

Chapter One

without comments

This time is useless, these conditions aren’t kind to us

The days have come and gone

Raise and drown our hopes but so fast

And I’m still here standing on the Promised Land,

the place where we used to starts to laughed at 17

watching you there in the Noman’s Land

act as a ‘dramaqueen’, too far away but so close

I faintly saw your laugh were fading out

Heard so many thunder of your weeping

Felt the rains of your tears

Haunted by your fears

I’ve given a lot of thoughts to the conversation last night

And those message you wrote me I keep them all

I read it over and over in every single part,

with your ‘P.S. I Love You’ in its every bottom line

you talked about all of your role, even until your mom and dad

And I’ll give a lot of thoughts how to write you back

In every single letter in every single word

But, are you gonna be OK if I don’t know what to say?

Will you sleep well tonight if I come too late?

I know you just pretend its all OK with your white pills

Me either, just pretend that there’ll be someone will take care of you more

But both of you and I just keep walking on this dark cave alone

Deeper and deeper

But I know it will end

We know it gettin’ closer but still so far

And we know it should be like the part of our favourite movie

When the boy and the girl walk hand in hand

When the girl grabs the the boy and reach his hand

And says: “Take me away from this pain, our new life’s waiting to begin”

Written by dian diam

September 9, 2008 at 7:44 am

Posted in setorie

Tagged with , ,

Gambarmu

with 3 comments

Kucoba ku cari lagi

beberapa gambarmu,

gambar-gambar kecil itu

saat kamu aku tersenyum,

tersenyum tersipu malu

Bersama

Ah, tak peduli…

gambar siapapun,

kamu sendiri atau bersamaku

yang penting ada kamu di situ

Biar bisa kulihat kamu lagi

Namun sudah kucari di mana-mana

tidak ketemu jua

Ternyata aku baru ingat,

beberapa sudah ku kembalikan padamu,

beberapa sudah kubuang

Arrgghhh…

…………………….!!!

Fuuh…

Boleh aku minta lagi?

Written by dian diam

August 11, 2008 at 7:02 am

Posted in poem, setorie

Tagged with ,

Lagi dan lagi

without comments

Ketika aku harus kembali

dan mengobati

kenapa itu selalu kamu?

Lagi, lagi dan lagi…

Written by dian diam

August 4, 2008 at 7:45 am

Posted in poem

Tagged with ,

Ternyata

with 3 comments

Ternyata,

sudah cukup lama hati tidak menyapa

Dan untuk kesekian kalinya

Semalam,

bersama bulan ku coba mendatangimu

Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”

Uhmmm…

meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,

tapi itu kubawakan khusus untuk kamu

Ternyata,

sudah lama juga kamu ingin datang

juga hanya sekedar ingin menyapa

Bersama bulan juga kah?

Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya

Jika boleh meminta,

cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja

biar bisa kulihat dan kudengar lagi

Dan dengan diterangi sinar bulan,

hmmm…sungguh pemandangan yang cantik

Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja

Ternyata,

kita juga sama-sama ingin saling menyapa

Di saat-saat hal semacam ini,

kenapa selalu bisa bersamaan ya?

Kamu bilang sih kita masih soulmate

Hah, kamu ini

Itu sudah berlalu sepertinya, iya kan?

Berlalu oleh sebab yang belum kamu ketahui

sebenar-benarnya

Tuh, jadi merasa bersalah kan aku,

menyesal juga

Sudah jangan diingat-ingat

Meski kadang, aku juga masih sering teringat

mengingatmu

Dan ternyata,

Sekarang kamu sendiri lagi ya?

Uhmmm…

Ah sudahlah…

*) Untuk ‘Ka mu’ terima kasih obrolannya. It’s a nice time every I talk with you. Be strong yak. Maybe I’m not always be with you. But I’m sure Allah always be with you. Keep yer smile.

Written by dian diam

July 29, 2008 at 11:32 am

Posted in poem

Tagged with ,

Hanya Ingin Diam

without comments

Lelah

Dan sejenak ku diam

Tak ingin melihat

Tak ingin mendengar

Tak ingin memperhatikan

Maaf,

Ku tak ingin di ganggu

dan ku tak ingin mengganggu

Ku tak ingin sakit

dan tak ingin menyakiti

Biar kan ku sendiri

dengan dunia yang ku punya

Maaf,

bukan salahmu

bukan salah siapa-siapa

Aku hanya lelah

karena telah berjalan kejauhan

hingga ku semakin jauh

Lelah…

Ku hanya ingin diam

sejenak

Written by dian diam

July 24, 2008 at 6:10 am

Posted in poem

Tagged with