dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘Selokan Mataram

Ada Cerita Dari Orang Sampah

with 7 comments

Tukang sampah. Di daerah sekitar kost-kostan saia ada tempat sejenis tempat pembuangan akhir sampah untuk beberapa wilayah disitu. Karena tempat itu penuh sampah pastinya banyak tukang sampah yang bergumul di tempat itu. Biasanya waktu pagi hari menjelang siang mereka berada disitu, untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Mereka masing-masing menampung ‘pungutan’ mereka dari hasil berkeliling di setiap daerah-daerah. Jumlah mereka cukup banyak. Sekitar hampir sepuluh-an orang. Dari mereka ada berprofesi ganda –lebih tepatnya sambil menyelam minum air- yaitu sebagai pemulung, karena mereka juga mengumpulkan dan memilih-milih beberapa barang untuk dijual kembali. Beberapa yang sudah selesai bertugas mereka pun ada yang beristirahat sebentar dan berbincang-bincang, memarkir gerobak kesayangan mereka dan tidak sedikit pula ada yang mencucinya sekalian, karena disamping tempat pembuangan akhir itu mengalir kali yang orang-orang biasa menyebutnya Selokan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat (gue masih bingung, segitu besarnya kok disebut selokan?).

Dan persis disamping situ ada sebuah jalan yang mana jalan tersebut adalah jalan penting untuk mahasiswa berlalu-lalang –maklum daerah itu adalah kawasan kampus dan kost-kostan mahasiswa. Ketika para tukang sampah sedang beraktifitas disitu kebanyang sendiri gimana suasana disitu, becek dan bau. Dan ketika banyak orang yang sedang berlalu-lalang disitu –kebanyakan para mahasiswa- pastinya mereka akan menutupi hidung mereka, mungkin menggerutu, -tak mau tahu apa yang terjadi disitu, lewat dengan cueknya. Hal yang wajar.

Di suatu tempat dan waktu yang berbeda –sudah cukup lama, saia pernah punya pengalaman tentang seorang tukang sampah. Waktu itu saya lewat sebuah jalan di perkampungan. Jalan tersebut juga salah satu jalan kampus di Ngayogyakarto Hadiningrat yang lalu lintasnya lumayan padat. Saya naik motor berjalan lambat sekali, maklum pas rame-ramenya kampus. Belum lama berkendara tiba-tiba jalan macet. Di depan ada sebuah mobil yang berhenti. Mobil terpaksa berhenti karena ada gerobak sampah yang sedang di isi muatan –sampah tentunya, oleh sopirnya. Karena jalan sempit dan dari arah berlawanan juga ada mobil yang mau lewat maka mau tak mau harus nunggu gerobak itu jalan lagi. Dan terjadilah kemacetan dan antrian, ditambah bau yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah tersebut, keadaan menjadi semakin gak nyaman (kebayang pastinya). Bunyi klakson dan beberapa teriakan dan omelan saling bermunculan, “pim pim pim…”, “oey, cepet. Bau neeh…” dan lain-lain. Seperti pengendara yang disamping saya, dia menggerutu dan menuduh si tukang sampah tersebut sebagai biang kerok keadaan tersebut. Hhmmm, saia hampir ikut-ikutan, tapi saia tetep mencoba tenang, tetep diam di dalam situasi yang sebenarnya memang tidak mengenakkan tersebut.

Tapi yang saia lihat si tukang sampah malahan tetep tenang, cuek aja dengan semua itu. Entah karena sudah terbiasa dan sudah merasa antipati terhadap keadaan seperti itu atau karena sebab lain. Yang jelas kemudian saia malah merasa simpati terhadap si tukang sampah tersebut. I think, he was doing a great job. Selain dia berusaha mencari sesuap nasi dengan pekerjaan kotor tersebut –kotor beneran bukan kotornya para buruan KPK itu- banyak hal yang harus di korbankan (banyak orang merasa jijik, kadang diomeli dll). Bayangkan jika tidak ada orang-orang seperti dia., sampah berada di mana-mana, menumpuk dan bau ada di sekitar kita.

Walaupun nasib orang berbeda-beda dan itu sudah menjadi nasibnya, namun kita juga harus respect karena sudah ada orang seperti dia. Tidak usah berpikir bau dan jijik karena memang begitulah adanya mereka. At least, berterimakasih lah dan bersukur lah karena bukan kita yang ada si posisi dia.

Written by dian diam

October 22, 2008 at 3:27 am