Posts Tagged ‘Toga Mas’
The Girl In The Dirty Shirt
Sudah jadi kebiasaan bagi gue untuk pergi ke bookstore. Entah emang niat pengen beli buku ato cuma sekedar baca saja. Di Jogja ini, bookstore yang paling sering gue kunjungi adalah Toga Mas and Gramedia. Tapi recently the most visited adalah Toga Mas. Selain ‘enak’ dan ‘nyaman’ buat baca, bookstore ini juga memberikan diskon yang lumayan. Terima kasih dah buat Toga Mas, kalau tidak ada kamu pasti gue tidak akan punya banyak koleksi buku ^_^. Tetapi beberapa hari yang lalu setelah sekian lama tidak berkunjung –ceileh berkunjung, bahasamu dab- ke Gramedia akhirnya gue nyempatin diri maen ke Gramedia Jogja, yang di Jalan Sudirman. Entah tidak jelas kenapa tiba-tiba saja pengen ke Gramed, mungkin karena beberapa pertimbangan berikut: satu, karena gue pengen ke toko buku, itu sudah absolutely pastiii, siapa tahu Detective Conan terbaru sudah terbit. Dua, gue ke toko buku-nya tidak ingin beli tapi cuma baca saja. Ketiga dan yang terpenting, gue tidak ingin ke Toga Mas karena sudah keseringan kesana dan itu sudah pasti di apalin sama mbak-mbak dan mas-mas di sana sebagai pelanggan setia, pelanggan setia numpang baca-baca doang. Harga diri gue bisa jatoh! Akhirnya pergi ke Gramed. Tapi ini gue tidak akan menceritakan ngapain saja gue di Gramed, tidak penting banget.
Sudah tidak inget kapan terakhir kali kesini. Tapi setiap gue ke Gramed Jogja yang di Jalan Sudirman ini, gue selalu inget bahwa di depan pintu masuk, tepatnya disebelah atas tempat penitipan tas dan jaket ada seorang gadis kecil usia kelas lima SD (semoga saja bener bisa kelas lima, kenapa gue bisa tahu? Hmm..) yang berjualan koran. Gue pertama kali nyadar dan memperhatikan keberadaan tuh gadis cilik selalu disitu sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, pas gue masih sering berkutat dengan literatur-literatur dan referensi bikin tugas akhir, cukup lumayan sering juga pergi ke Gramed ini. Pas abis gue selese baca-baca di dalam gue hendak pulang. Dan ternyata hujan, tapi waktu itu sudah agak reda tinggal tersisa gerimis kecil-kecil. Tapi kalau nekat pulang sampai di kost-an bisa basah kuyup juga. Apalagi gue paling males pake jas hujan, kecuali dalam situasi darurat, kalo sudah di jalan mending basah kuyup sekalian apa nyari tempat berteduh. Akhirnya gue niatin nunggu sampai bener-bener reda. Gue nunggu celingak celinguk (jawa:liat sana liat sini tanpa tujuan yang jelas dengan tampang bingung) di emperan pinggir tangga naik depan pintu masuk. Akhirnya gue ngeliat seorang gadis kecil bertampang kucel: berkaos kotor, celana pendek dari celana panjang yang di potong sehingga tampak sliwir-sliwirnya, memakai topi dengan sebotol air minum di sampingnya sedang duduk tepat disamping tangga sedang menawarkan koran, majalah dan tabloid kepada orang-orang yang lewat di depannya. Karena dasarnya gue orang yang gampang mello atau apa, gue pas melihat dia berasa sedih terharu empati atau apalah namanya itu. Di saat masih jam sekolah kenapa dia malah jualan koran di sini. Dengan tampang kucelnya dia begitu bersemangat menjajakan koran dan majalahnya, pas hujan-hujan pulak. Pun dengan muka ramah, senyum dan kata terima kasih yang ceria bagi orang yang telah melariskan dagangannya itu.
Sumpah deh, gue waktu itu bener-bener salut ma dia. Gue melihatnya beda ma anak-anak jalanan lainnya (if I may called her like that) yang bisanya cuma bermodalkan tangan menengadah plus tampang sok melas di perempatan lampu merah atau malah para ibu-ibu bermodalkan gendhongan plus kerudung, even balita, dengan muka disusah-susahin yang beroperasi di keramaian-keramaian, kampus-kampus dan juga lampu merah-lampu merah. Dammit, gue lebih respect sama gadis kecil tadi itu. Dan mungkin gue bakal lebih ikhlas ngasihnya. Masalah ikhlas sih sebenernya tergantung niat. Entah yang di kasih itu gembel, anak fakir, yatim, atau siapapun kalo niatnya ngasih tanpa mikir macem-macem bakalan berasa enak ngasihnya. Bakalan berasa ikhlas. Tapi gue pribadi (gue yakin juga bagi kebanyakan orang) jika mau ngasih kepada orang-orang yang sebenarnya mereka mampu untuk menghasilkan tapi males untuk mengusahakannya hanya bermodalkan tampang yang disusah-susahin, bikin gue il-fil untuk ngasihnya. Gue lebih seneng ke Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa.
Sama seperti gadis kecil bertopi tadi, gue sungguh ingin bisa ngasih sesuatu kepadanya. Tapi yang gue lakuin di situ cuma bengong saja. Dan berasa bodoh sendiri. Apa yang bisa gue lakukan? Membeli korannya untuk ikut melariskannya? Tapi yang ada gue cuma mikir mulu. Dan dodolnya gue, pikiran gue terlalu muluk dan terkesan sok. Gue ingin bisa melakukan lebih, tidak hanya sekedar membeli dagangannya tapi sesuatu dalam jangka panjang sehingga dia tidak harus jualan koran dan bisa membuatnya jam-jam segini bisa berada di sekolahan. Lagi-lagi mikir. Konyol juga. Emang gue siapa? Emang dia siapa? Jangan sok deh. Jangan kejauhan mikirnya. Pikirin dulu diri gue. Beresin TA. Lulus. Dapet kerja. Dan bla bla bla bla…STOP!
Akhirnya gue hentikan pikiran-pikiran itu. Mencoba untuk realistis dengan keadaan saat itu. Dan gue pun mendekati gadis itu ingin mengobati beberapa rasa penasaran gue. Iseng-iseng gue bertanya tentang beberapa hal seperti:kok jam segini tidak berada di sekolah? Kelas berapa? Kalau tidak sekolah kenapa? Orang tua kerja apa? Di mana rumahnya? Dan bla bla bla… Akhirnya setelah bertanya-tanya sedikit, jawaban yang gue dapet sungguh diluar dugaan. Even, make me felt more mello. Ketika gue tanya kenapa jam segini tidak sekolah dia jawab sudah pulang, dipulangkan pagi. I got it. Kenapa jualan koran? Dia jawab buat bantu-bantu ibu. Ibunya cuma jual jajanan kecil di sekolah-sekolah. Apalagi saat itu ibunya lagi sakit tidak bisa jualan. How pity you are, little girl. Dan ini yang bikin gue shock, pas gue tanya tentang bapaknya, bapak kerja apa? Dia jawab bapak tidak kerja apa-apa. Kok tidak bekerja? Dia jawabnya tidak langsung, beberapa detik kemudian (dan mungkin mikir dulu mas ini resek amat nanya-nanya mulu), dengan berat dia jawab kalo bapak nya di penjara. Ooh my Godness, shit…sorry my dear. Gue tidak ngelanjutin nanya-nanya. Gue diam bentar. Dia pun juga diam. Selama gue nanya-nanya ini tidak pernah sekalipun dia melihat gue, takut mungkin sama mas-mas yang sok detektif ini. Pikiran gue bereaksi lagi. Itu bapak melakukan apa sehingga sampai dipenjara? Punya anak begini cantik manis pandai dan seharusnya masa depan baik kenapa bisa berbuat bodo yang pada akhirnya bisa menyebabkan masuk bui? Malah tambah bikin susah keadaan. Tapi itu cuma ada dalam pikiranku saja. Gue juga tidak mau nyalahin bapak itu. Bapak itu juga belum tentu salah. Dan gue ngelanjutin ke pertanyaan lain seperti kemana saja jualannya, dari mana dapet barang dagangannya, dari jam berapa sampai jam berapa jualannya, dst.
Huh ternyata emang –bisa dibilang- kompleks permasalahannya. Memerlukan banyak pihak terkait untuk mengatasi, at least to reduce, bukan aku saja yang sok ini. Dan lagi-lagi gue dodol cuma bengong lagi. Tapi saat itu gue bener-bener pengen berbuat sesuatu untuk dia dan sepertinya yang emang bisa gue lakukan cuma membeli salah satu dagangannya. Gue beli salah satu tabloidnya. Ternyata gue tidak punya uang pas dan dia ternyata juga tidak punya uang kembalian yang pas. Gue bilang “Ambil aja kembaliannya”. Tapi dia ngotot ingin ngasih uang kembaliannya, dia bilang “Sebentar mas saya carikan, ada kok”, sambil nyebar semua uang ke lantai yang ada di dompetnya trus dikumpulkannya beberapa lembar uang seribuan dan recehnya, dihitungnya satu per satu. Damn, sumpeh, tambah salut gue. Tapi ternyata tidak nyukup juga. Gue jongkok didepannya dan sekali lagi bilang “Sudah ambil saja kembaliannya tidak apa-apa”. Gadis itu pun terdiam. Kemudian melihatku (untuk pertama kali) sebentar dan bilang ”Terima kasih, mas” sambil senyum. Setelah itu gue berlalu dari dia trus pulang.
Sejak saat itu tiap kali gue ke Gramed ini dia masih saja ada disitu. Tidak selalu sih, tapi hampir bisa dipastikan sebagian besar. Dan kalo pas dia tahu aku datang dia selalu ngeliatin aku dengan ekspresi datar. Mungkin dia berpikir: “Bukankah ini mas-mas resek kurang kerjaan yang pernah interogasi aku dulu?” Mungkin. Seperti halnya kemaren, pas gue masuk dia kliatan di situ, masih dengan tampang kucel dengan beberapa eksemplar dagangannya dengan topinya dan sebotol air minum di sampingnya. Tapi setelah gue keluar pengen beli salah satu dagangannya dia sudah tidak kelihatan disitu. Mungkin sedang berkeliling terjun di jalanan menjajakan dangangannya.
*) Tulisan ini sungguh dibuat tidak ingin bermaksud sok merendah, sok meninggi, atau merendah untuk meninggi. Murni hanya sebuah cerita.