dianDiam

cast your words away upon the wave (The Masterplan)

Posts Tagged ‘yogyakarta

Deras. Dan Deras II.

with 8 comments

 

Senin, 24 November 2008. Ya itu adalah kemarin. I feel that was not my day. Dimulai di pagi hari sudah disambut dengan pemadaman listrik oleh PLN. Dan karena listrik mati itu berarti aliran air di rumah gue juga ikut terganggu. Kenapa harus pas pagi-pagi? Kenapa pas di saat orang lagi sibuk siap-siap untuk beraktivitas? Dan sampai kapan mereka melakukan itu terus (hampir tiap minggu daerah gue dapat jatah, giliran)? Damn it. Dengan begitu karena persediaan air terbatas maka terpaksa harus irit air dan mandi pun tidak bisa puas. Tidak berasa seger. Dan yang lebih menyebalkan lagi, terpaksa BAB pagi itu tidak gue lakukan. Dan itu membuat sepanjang hari tidak berasa nyaman untuk beraktivitas, karena hal itu sudah biasa gue lakukan tiap pagi hari. Akhirnya berangkat ke Jogja dengan perasaan diri yang ‘aneh’.

Sepanjang hari itu kegiatan di Jogja sebenarnya lancar-lancar saja, tapi tidak sampai saat mau balik ke Klaten lagi. Saat itu sekitar pukul dua siang. Jogja yang cukup bersinar (sebentar, bukankah yang bersinar itu Klaten? Jogja Berhati Nyaman? Sleman Sembada? Halah…) tiba-tiba menjadi gelap oleh awan hitam. Tidak lama langsung turun hujan dengan sangat lebatnya. Akhirnya gue terdampar di Kantor Pos Bulaksumur UGM. Sekitar setengah jam lebih disana. Dan hujan sudah tidak lebat lagi, cuma gerimis. Berhubung badan gue sudah berasa gak mau diajak kompromi, dan berteduh di kantor pos itu tidak berasa nyaman plus sudah kepikiran tempat yang nyaman dirumah maka gue niatin pulang pake jas hujan. Apalagi di langit sebelah timur kelihatan cerah. Baru beberapa meter beranjak dari tempat berteduh itu, tiba-tiba hujan langsung menyerbu dengan derasnya lagi. Sial! Dan kalau sudah begini paling males untuk berhenti lagi. Sialnya lagi gue yang berencana lewat jalur utara,lewat Ring Road Utara, tiba-tiba saja berubah haluan. Gue ambil rute biasanya lewat Jalan Solo yang mana pasti banyak macet dan banjir. Gubluk! Benar saja, baru sampai perempatan Sagan tiba-tiba sudah disambut oleh kolam air dadakan. Hujan masih semakin deras. Angin juga semakin kenceng.

Sampai depan GOR UNY, kelihatan di depan air sudah kelihatan menggenang dan banyak antrian mobil yang berjalan melambat. Beberapa orang terlihat menuntun sepeda motornya. Pasti biang keroknya di depan UNY. Mau balik susah karena banyak mobil di belakang, belok ke utara lewat Karangmalang alamak ternyata lebih parah daripada di depan. Terpaksa akhirnya muter lewat selatan ambil Samirono-Jalan Urip Sumoharjo-Klitren-Sapen-UIN dan Jalan Solo. Tapi baru nyampe Klitren (dan tidak kuduga sebelumnya) di depan Balai Yasa PT. KAI air tiba-tiba saja sudah hampir separo motor gue, mesin motor gue sudah kelep, ujung kaki sampai pinggang basah. Berengsek! Tapi untungnya mesin tidak mati. Kontan langsung saja gue potong ke kiri masuk ke halaman rumah orang yang agak tinggian. Berhenti sebentar. Gak mungkin gue terus ke depan. Akhirnya setelah minta maap sama yang punya halaman rumah –yang kebetulan pas gue nyelonong ke halamannya, Bapak itu ada di luar sedang ngliat banjir- gue ambil ke utara lagi. Dan kali ini bener menuju Ring Road Utara meski harus nempuh jalur yang lumayan jauh daripada harus terkena macet plus mati mesin ditengah guyuran hujan dengan kondisi badan yang yang sudah kedinginan dan berasa mau teputus-putus. Baru nyampe demangan tiba-tiba sudah kena banjir lagi.

Kenapa sekarang Jogja banyak banjir kayak gini? Berdasarkan perkiraan gue (alasan yang umum dan klise), banyak disebabkan oleh tidak lancarnya sistem drainase. Salah satunnya gara-gara sampah. Kelihatan sekali. Dari sekian banyak banjir yang gue alami diatas semua airnya bewarna coklat keiteman dan banyak sampah yang terhanyut. Juga semakin padatnya dan terkonsentrasinya kegiatan di kota saja. Semakin banyaknya bangunan baru, kurang resapan. Juga semakin banyaknya pendatang. Semakin padat, terutama para mahasiswa yang suka berpikiran instan. Oleh karena itu semakin banyak konsumsi (permintaan), maka diimbangi lah dengan penawaran oleh para toko-toko baru, fasilitas umum baru, bangunan-bangunan baru itu yang secara logika juga semakin banyak pula sampah yang dihasilkan tapi fasilitas yang per-sampah-an masih-masih saja sama. Diperparah dengan perilaku buang sampah yang kurang dan tata kelola sampah yang tidak sebanding. Penjual semakin banyak terutama para pedagang kaki lima (sumpah, gue pernah nyaksikan dengan mata kepala sendiri sewaktu masih idup di Jogja, sampah-sampah dari mereka langsung dibuang ke sungai!) Sungguh benar-benar alasan yang klise. Tapi bisa saja terlewatkan. Kalau tidak segera mendapat perhatian bisa semakin tinggi nanti air hujan yang menggenang. Eh, tapi lumayan juga, Pak. Yang di depan Ambarukmo sampai pertigaan Janti yang selama ini jadi biang kerok banjir dan macet daerah situ, sudah dibetulkan ‘kan ya? Tapi agak terlambat sedikit, Pak. Benerinnya kok malah pas sudah datang musim hujan? Nambah-nambahin macet saja, Pak. Tidak kemarin-kemarin saat hujan belum datang? Tapi well done aja lah ya, Pak. Keep movin. Yang lain masih banyak yang ngantri. Loh…

Akhirnya sampai juga di Ring Road Utara. Benar-benar bebas banjir dan macet. Dan hujan masih saja deras, dan deras. Musuh gue yang gue kuatirkan adalah mobil-mobil, truk-truk, dan bus-bus yang seenaknya sendiri menyipratkan air dari samping, depan dan bawah sehingga membuat gue basah dan semakin kedinginan. Selain itu adalah badan gue yang semakin lama semakin tidak mau diajak kompromi. Hampir satu setengah jam sejak dari kantor pos nyampai kerumah. Dan itu dibawah guyuran hujan yang deras. Nyampai rumah menjelangr jam empat sore dan ternyata listirk belum nyala juga. PLN sontoloyo! Niat pengen segera nyuci motor, mandi terus nyantai-nyantai harus tertunda. Untung saja Senin itu gue pas puasa jadi masih bisa sabaran nahan emosi. Fuuh… Dan malemnya sumpeh, badan gue kayak hancur lebur + agak demam + batuk mulai menggigil lagi dan sedikit insomnia malahan. Tapi Allah Maha Adil, di malam itu masih ada juga sesuatu yang bisa membuat gue seneng, sedikit melupakan badan yang terasa hancur lebur dan melupakan kesialan hari itu. What is it? Ssst… Dian diam.

 

Written by dian diam

November 25, 2008 at 4:43 am

Deras. Dan Deras.

with 10 comments

Peringatan: jangan baca cerita ini jika anda tidak benar-benar punya waktu luang, tapi baca cerita ini jika anda benar-benar sudah tidak punya bacaan lain, dan bahkan jangan baca cerita ini jika anda belum merasa koran bekas yang jadi bungkus nasi kucing dan tempe pun sudah anda baca, karena cerita ini sungguh tidak penting.

Jumat kemarin, sore hari tepatnya, Yogyakarta hujan dengan lebatnya yang disertai dengan angin ribut. Bukan pertama kalinya. Yapi kali ini UGM yang jadi sasaran utamanya. Dan kali gue menjadi saksinya, bahkan terlibat dalam kejadian-kejadian di dalamnya. Sore itu Jogja gelap, pekat, hawa panas mendera. Angin bertiup kencang seenaknya sendiri tanpa arah. Tapi hujan belum juga menyambangi. Dan orang-orang di luar, di jalanan, kelihatan sekali mereka panik terburu-buru untuk cepat sampai tujuan, takut didahului si hujan.

Saat itu gue hendak pulang ke kota gue. Sehabis Ashar gue lepas dari kost-an –yang sangat dekat dengan komplek tuh kampus, belum ada semenit menaiki motor gerimis sudah terasa. Gue masih ragu apa berhenti berteduh sejenak atau meneruskan perjalanan. Karena tidak konsen dan sedikit bingung gue cuma berkendara pelan-pelan. Tolol! Dan angin pun mengikuti gerimis, dan semakin tak karuan saja. Tepat di depan gue terlihat sekumpulan daun, kertas dan sampah-sampah kecil beterbangan membentuk lingkaran yang berpola kira-kira hampir setinggi rumah. Makin lama-makin gede dan semakin tidak jelas arahnya kemana. Sungguh indah sebenarnya. Jarang-jarang gue melihat seperti itu secara langsung. Tapi berengsek! Tiba-tiba pusaran itu sudah didepan gue. Gue refleks langsung injak rem. Meski memakai helm dan tertutup rapat gue juga langsung menundukkan kepala. Selain suara berisik angin, sekilas terdengar juga beberapa jeritan di belakang. Untung saja di cuma lewat disamping saya. Tapi cukup membuat kaget dan membuat kotor jaket gue. Gerimis semakin cepat, dan bau khas menyengat aspal jalanan panas yang terkena rintik gerimis semakin menusuk hidung.

Dan tiba-tiba, breess, hujan lebat akhirnya datang. Dan gue masih ditengah perjalanan, kanan kiri tidak ada bangunan untuk berteduh. Beberapa milisekon kemudian akhirnya gue terdampar di kampus lama gue, untuk sekedar berteduh atau singgah sebentar memakai alat tempur di medan hujan. Dengan keadaan setengah basah gue diam sejenak ditempat itu, di salah satu bangunan kampus gue dulu. Sejenak juga kilatan listrik di langit ikut merangsang memori bersama anak-anak di tempat itu, di sekitar itu, hadir kembali. Hanya senyum. Hujan pun semakin deras. Dengan cepat air yang menggenangi jalan dan halaman bangunan itu semakin meninggi. Sekitar setengah jam-an lebih gue ditempat itu. Setelah hujan lebat berganti dengan butiran gerimis yang berjatuhan gue niatkan untuk beranjak pergi dari tempat itu, memakai jas hujan pastinya. Lagi pula keadaan gue saat itu sudah setengah basah. Nanggung. Lagi pula juga gue pengin nikmati butiran gerimis yang berjatuhan di jalanan Jogjakarta.

Sesaat memang seperti yang diharapkan. Tak lama berselang ketika baru sampai di pertigaan Jl Affandi, Demagan gerimis itu berubah menjadi hujan lebat lagi. Sial! Tapi karena sudah nyaman diatas motor butut gue –apa cuma males untuk berhenti lagi, gue tetep niatkan lanjut. Di kanan kiri bahu jalan banyak terlihat orang sedang berteduh, melihat kearah langit yang putih keruh kelabu. Berharap agar segera berubah menjadi biru lagi. Mungkin. Di jalanan teman gue selain air hujan cuma beberapa kendaraan tertutup beroda empat. Ketika sampai di Jl Demangan Baru, samping Kolese DeBrito, air menggenangi jalan semakin ke selatan semakin tinggi. Dan antrian kendaraan semakin padat. Sekilas di depan, di ujung jalan ini, di pertemuan jalan ini dengan Jl. Adi sutjipto, terlihat seorang mbak-mbak menuntun motornya, kemudian terlihat seorang lagi, lagi dan lagi. Macet. Mati. Ternyata mesin motor mereka terendam air yang tinggi dijalanan. Akhirnya gue putuskan untuk balik arah muter lewat Papringan menghindari resiko macet dan mesin mati.

Tak lama kemudian sudah sampai di Jl. Adi Sutjipto. Jalanan segede itu yang biasanya ramai terlihat cukup sepi. Tak lama kemudian di depan terlihat antrian kendaraan, macet! Pasti jalan di depan Ambarukmo yang menjadi biang keroknya. Daerah sekitar situ kalau ada hujan lebat pasti terjadi kemacetan, karena selalu banjir. Dan bisa dipastikan juga banyak kendaraan –terutama motor, yang terjebak didalamnya. Gue pernah mengalami hal itu, untung saja tidak sampai mati mesin. Karena sudah mengetahui hal itu, gue muter haluan lagi dan kali ini cukup jauh, kearah selatan lewat Timoho – Plumbon – JEC – Janti – Jl Solo. Ketika lewat di kompleks UIN sebenarnya hujan sudah berganti butiran gerimis lagi, tapi ketika setelah melewati rel kereta api di Jl Timoho tiba-tiba berubah menjadi hujan deras lagi. Memang seenaknya sendiri mereka. Semakin ke selatan semakin deras. Dan diujung jauh selatan Jogja sana terlihat langit cerah tapi ditemani awan hitam yang bergelayut. Berengsek, sialan! Tiba-tiba mobil dari arah depan berjalan dengan cepat dan menyipratkan air dari bawah. Sontoloyo.

Di depan kampus UJB gue belok kiri. Sepertinya belum lama lewat sini. Sampai daerah Plumbon hujan masih deras. Jalan daerah situ sempit, maklum jalan perkampungan. Di kanan kiri terlihat beberapa pohon tumbang, dipaksa rebahan oleh angin. Akhirnya sampai juga di Gedongkuning, depan JEC. Menemui jalan raya lagi. Hujan semakin deras. Dan gue sudah berasa kedinginan. Sekilas melihat telapak tangan sudah memutih. Genggaman gas sudah terasa kaku. Sesampainya di jalan raya Janti ternyata tidak sesuai banyangan. Ternyata jalanan juga banjir tergenang air. Tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan. Malah sebenarnya bisa bejek gas sepuas mungkin. Dan karena teman gue dijalan tersebut kebanyakan kendaraan gede yang beroda empat atau lebih, jalannya pun kencang, air pun tidak hanya datang dari atas, dari hujan, tapi juga dari samping, depan, dari mana-mana sepertinya, karena tiba-tiba gue merasa basah semua. Lagi-lagi sial, berengsek, sontoloyo! Tapi apa lacur sudah terasa basah dan dingin, dan gue tetep aja lanjut. Sampai di atas jembatan layang Janti, sejenak gue nengok ke kiri, ke barat, kearah kota Jogja. Dari atas, kota Jogja hilang berselimut putih kelabu. Tak terlihat.

Motor gue akhirnya mengarah ke timur melaju di atas Jl Solo. Hujan masih deras. Tetap. Tapi kelamaan semakin ke timur semakin kecil hujannya. Dan gue pun ber-Valentino Rossi wanna be, meski gue sama sekali tidak suka Rossi. Tapi tiba-tiba gue hilang grip, gue hampir sliding. Dan saat itu gue baru nyadar kalau ban belakang motor gue sudah mulai halus. Akhirnya gagal ber-Rossi wanna be, demi keselamatan. Di pertigaan Maguwoharjo hujan sudah berganti gerimis. Sampai di depan Bandara Adi Sutjipto jalan lagi-lagi banjir. Dan gue terjebak di belakang Atoz warna merah yang dibelakangnya bertuliskan nama; Dila*. Dan tidak nyadar kalau sejak terjebak banjir di depan bandara sampai daerah Kalasan gue terus dibelakang Atoz merah itu. Entah karena emang menjaga kecepatan agar tidak ber-Rossi wanna be, atau cuma gara bengong yang disebabkan tulisan nama di belakang Atoz merah itu. Damn it, kenapa sampai sekarang gue masih adaptif sama nama itu? Akhirnya gue menyadari hal itu, menyadari juga bahwa hujan sudah menghilang selepas Kalasan. Tapi di depan jauh di ujung pandangan di timur awan hitam yang bergelantung masih membayangi. Karena jalanan kering gue beranikan diri untuk menambah kecepatan sampai akhirnya kulewati Atoz merah itu, beserta sebuah nama yang bertuliskan di belakangnya. Tapi dia masih saja membayangi, mengikutiku dari belakang. Seperti (pemilik) nama yang bertuliskan di belakangnya itu selama ini, selama hampir 3 tahun belakangan. Selepas Prambanan gue berhenti sejenak untuk melepas jas hujan, meski ada sedikit keraguan karena di depan keadaan belum pasti aman dari hujan. Dan kota gue masih 10 km lagi, rumah gue ndlesep 5 km di belakangnya.

Sepanjang 10 km itu gue benar-benar ber-Rossi wanna be, berkejaran dengan awan putih kelabu karena saat itu awan masih hitam yang menandakan hujan belum tiba. Tinggal 5 km lagi. Tapi apa daya kekuatan alam lah yang menang. Akhirnya di depan RS Tegalyoso, gue berhenti untuk memakai jas hujan lagi. Dengan cepat awan berubah menjadi putih kelabu, dan itu menemani gue selama 5 km terakhir. Sampai di rumah. Hujan masih saja terus deras. Dan bahkan sampai malam harinya ketika beberapa TV dirumah saya berkata: “Yogyakarta, UGM: Terkena Angin Puting Beliung” hujan semakin bertambah saja. Deras. Dan deras.

*) Bukan nama sebenarnya. Hanya kebetulan mirip saja dan entah kenapa gue suka nama itu. Bukan begitu, Dila? ^_^

Written by dian diam

November 8, 2008 at 5:50 am

Posted in trip

Tagged with ,